1. Beranda
  2. /
  3. Harian Indoprogress
  4. /
  5. Page 82

Harian Indoprogress

Hongxuan memperlihatkan bahwa Islam dan Marxisme bukan sekadar pernah bersentuhan, tetapi juga membangun berbagai bentuk kompromi, mulai dari sintesis teoretis hingga strategi retoris yang menekankan kesamaan tujuan: melawan kolonialisme, kapitalisme, dan imperialisme.
Bagaimana jika teori justru bertolak belakang dengan kenyataan yang tersaji di luar pikiran? Apakah teori harus berubah agar menyesuaikan diri dengan kenyataan, atau justru kenyataan yang berbeda itu diabstraksikan lalu dilampaui keberadaannya di dalam ranah pemikiran?
Jika pada masa lalu represi terhadap warga dilakukan secara terbuka melalui komando teritorial seperti Kodam atau Korem, kini praktik serupa dijalankan melalui rezim hukum kedaruratan dan satgas ad hoc.
Kebijakan politik etis justru membina banyak individu yang pada akhirnya akan menantang kekuasaan kolonial dan membayangkan masa depan di luar imperium.

Harian Indoprogress

Selera Seni dan Kelas-Kelas Sosial

Marxist Art, Mexico City | by nunavut. Kredit foto: Flickr   BEBERAPA bulan lalu, terjadi sebuah obrolan antara saya dan seorang kawan yang bergelut di

Fragmen Ketersingkiran di Pedalaman Teluk

Air meti (surut) pada siang hari yang mendung membuat speedboat harus didorong (foto: I Ngurah Suryawan)   FEDELES Manibui, sekretaris Kampung Korano Jaya, Distrik Manimeri,

Sebelum Bertesis, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)   SEBAGAIMANA acap kali terjadi menjelang kontes elektoral, kalangan gerakan sosial dan progresif di Indonesia kembali disibukkan oleh sebuah ‘pertanyaan

Membangun Infrastruktur untuk Siapa?

Warga Celukan Bawang menolak pembangunan PLTU. Kredit foto: Metrobali.com   SEHARI sebelum ulang tahun kemerdekaan lalu, Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Denpasar memberi kado pahit

Tentang “Publik”-nya Kebohongan Publik

Kredit ilustrasi: Megapixl   KONON, Ruang Publik adalah ruang deliberasi, yaitu ruang di mana orang mengartikulasikan kepentingan dan aspirasinya dalam suasana demokrasi. Problemnya kemudian adalah

IMF dan Ilusi Pembangunan

Kredit foto: Wrong Kind of Green   SATU dimensi yang tidak saya suka dari teori-teori liberalisme ekonomi adalah dimensi ketimpangan (inequality) yang mengakar dan tak

“Zhaharal Fasadu Fil Barri wal Bahri”

Kredit ilustrasi: BUSET Indonesian Magazine in Australia “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka

Dari Massa Mengambang Ke Konsumen Fetisis

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)   TERNYATA kita itu konsumen pemilu belaka. Sejak UU Nomor 23 Tahun 2003 Tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.