“Zhaharal Fasadu Fil Barri wal Bahri”

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: BUSET Indonesian Magazine in Australia

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Ruum: 41).

 

ALLAH menciptakan manusia untuk menjadi “khalifah” di muka bumi. Secara tata bahasa, “khalifah” bukan hanya berarti pemimpin, tetapi juga “pengganti” atau “perwakilan” Allah di muka bumi. Maknanya, menurut para ulama, adalah pengelola isi bumi. Tugas utama manusia adalah untuk memastikan keberlangsungan bumi terus berlanjut, bisa terwarisi hingga generasi berkutnya, dan memberikan keadilan bagi semua makhluk di muka bumi.

Tapi manusia juga tempatnya salah dan lupa. Kadang kesalahan dan kealpaan ini dilakukan secara kolektif, terorganisir melalui klaim-klaim tentang “pertumbuhan ekonomi”, atau terorganisir dan dilindungi oleh aparatur keamanan dan senjata. Kadang kesalahan dan keaplaan ini juga dilegitimasi oleh simbol-simbol keagamaan yang populer bagi masyarakat. Oleh sebab itulah, Allah memberikan peringatan-peringatan dalam Al-Qur’an – agar manusia berpikir (Al-Baqarah: 44); agar manusia sadar dari berbuat kerusakan (Ar-Ruum: 41); agar manusia berbuat kebajikan bagi sesamanya (Al-Baqarah: 177).

Beberapa pekan terakhir, kita dikejutkan oleh rentetan bencana gempa bumi dan Tsunami di berbagai daerah: Lombok, Palu, Donggala, dan beberapa daerah yang lain –meskipun di tiga daerah di atas dampak bencana termasuk yang paling parah. Kita segera disibukkan oleh aksi tanggap bencana dan penggalangan bantuan. Proses pemulihan diprediksi berjalan panjang. Hingga sekarang, proses tanggap darurat masih terus dilakukan.

Apakah yang salah? Banyak pembicaraan di media-media sosial mengaitkan bencana ini dengan banyak hal. Dari soal kajian tentang potensi likuifaksi dan kerawanan bencana yang sudah diprediksi di tahun 2012 dan 2014, hingga yang ngawur mengaitkan ini dengan masalah politik. Yang kedua tentu tidak usah didiskusikan karena jelas-jelas keliru, tapi yang pertama (dan masalah semacamnya) tentu jadi pikiran kita: mengapa kita abai dengan peringatan ‘preventif’ selama ini?

Syahdan, Allah mendiskusikan gempa dalam banyak tempat di Al-Qur’an. Banyak cerita gempa ini yang memang terkait dengan diabaikannya peringatan dari para Nabi dan Rasul seperti kisah kaum ‘Ad dan Tsamud. Tentu ini benar. Tapi ada satu hal yang kadang terlupa ketika membaca ayat-ayat tersebut: bahwa kisah semacam kaum ‘Ad, Tsamud, atau peringatan Allah tentang Haman dan Qaruun juga menceritakan satu hal: diabaikannya peringatan tentang potensi bencana.

Cerita tentang Nabi Saleh dan Kaum Tsamud, yang diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf: 73-79 berikut cukup memberikan kita sedikit gambaran,

(73). “…dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhammu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih”,

(74). Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.

(75). Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka, “Tahukah kamu bahwa Shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya.”

(76). Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.”

(77). Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan, dan mereka berkata, “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).”

(78). Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.

(79). Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata, “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.”

Ayat ini memberikan kita sebuah ‘petunjuk’ bahwa peringatan yang disampaikan oleh Nabi Saleh bukan hanya soal beriman kepada Allah (yang tentu ini sangat penting dan adalah “esensi” dari setiap petunjuk yang diberikan oleh Nabi dan Rasul) tetapi juga soal potensi bencana yang muncul. Kaum Tsamud “membangun istana di tanah-tanah yang datar” dan memahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah”. Dalam konteks masyarakat di masa itu, memahat gunung untuk dijadikan rumah bisa jadi serupa dengan aktivitas pertambangan, dan ada potensi gempa dan longsor yang mungkin memberikan korban jiwa jika orang-orang yang tinggal di sana membangun rumah di wilayah lembah yang dikelilingi oleh gunung.

Potensi itu tidak diindahkan oleh kaum Tsamud. Bahkan, simbol pengindahan itu dilakukan dengan melakukan pembangkangan terhadap Nabi Saleh secara terbuka –dengan menyembelih unta Nabi Saleh tersebut. Pembangkangan yang ditambah dengan pengindahan terhadap risiko bencana tersebut berakibat pada gempa dan longsor yang meluluhlantakkan kaum Tsamud dan kota yang mereka bangun di lembah tersebut.

Tentu cerita tentang Kaum Tsamud ini tidak bisa secara serampangan dikaitkan dengan tragedi bencana yang selama ini terjadi. Tapi kita bisa memetik pelajaran: bahwa jangan-jangan, bencana terjadi karena ‘kerusakan’ yang dilakukan oleh manusia sendiri karena mengabaikan risiko bencana. Allah telah mengingatkan dalam Surah Ar-Rum yang saya kutip di atas, bahwa kerusakan di muka bumi terjadi karena tangan manusia, dan bencana ditampakkan oleh Allah agar manusia sadar.

Kajian-kajian kebencanaan telah banyak dilakukan oleh para peneliti. Namun, sebagaimana kasus yang terjadi, ternyata kajian ini berhenti di meja kerja pemerintah. Yang terjadi justru adalah pembangunan yang terus-menerus dilakukan tanpa memperhatikan dampak lingkungan dan risiko bencana, atas dalih pertumbuhan ekonomi. Kepentingan pemodal, bisnis, pengembang didahulukan di atas kepentingan masyarakat yang lebih luas. Kepentingan kelas menengah ke atas untuk mobilitas ke luar kota didahulukan daripada kepentingan petani atau risiko bencana karena tempat persinggahan kendaraan umum dibangun di daerah yang rawan Tsunami.

Akibatnya, ketika terjadi gempa, kita menyesal di kemudian hari. Dan kemudian menyalahkan banyak hal, tanpa sadar bahwa ini terjadi juga karena ulah kita –yang memiliki ‘kekuasaan’ dan kemampuan untuk mengelola tapi tidak melakukannya untuk kepentingan orang banyak. Yang kita lakukan justru hanya melayani kepentingan mereka yang punya kekuatan, modal yang besar, dan mereka yang punya ‘privelege’ karena koneksi kepada elite. Atau, sebagaimana difirmankan Allah, ini juga terjadi karena kita “berbuat kerusakan di darat dan laut”.

Bencana, dengan demikian, mesti dipahami secara berbeda. Ia bukan hanya soal ‘azab’ atau ‘ujian Allah’. Ia juga adalah peringatan bagi para birokrat untuk membuat perencanaan dengan pertimbangan lingkungan dan hak-hak masyarakat miskin. Ia juga peringatan untuk para walikota, gubernur, anggota DPR, dan Presiden untuk mendahulukan kepentingan 99% daripada kepentingan 1%. Ia juga peringatan bagi para ilmuwan untuk tetap produktif menulis, meneliti, dan memberikan analisis yang berpihak pada kepentingan masyarakat luas.

Dan ia juga adalah peringatan bagi kita –para warga negara—untuk bersikap kritis jika ada kebijakan pemerintah yang keliru dan mengabaikan masalah lingkungan atau hak-hak warga. Tak peduli siapa yang memerintah, dari partai apa dia berasal, atau apa agamanya.***

 

Ahmad Rizky Mardhatillah Umar adalah mahasiswa PhD di The University of Queensland – UQ, Australia

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus