
Reforma Agraria Perkotaan dari Bawah atau Reforma Agraria Setengah Jalan?
Bertahan dari penggusuran belum cukup untuk mewujudkan reforma agraria perkotaan tanpa pelembagaan hak dan perubahan struktur penguasaan tanah.
HomeArtikel

Bertahan dari penggusuran belum cukup untuk mewujudkan reforma agraria perkotaan tanpa pelembagaan hak dan perubahan struktur penguasaan tanah.

Konsolidasi politik Indonesia pada 1950-an hingga awal 1960-an, kebangkitan PKI dan mobilisasi massa, hingga upaya Sukarno menempatkan Indonesia sebagai kekuatan antikolonial di tengah Perang Dingin.

Perjalanan intelektual Airlangga Pribadi adalah pencarian politik pembebasan untuk melampaui demokrasi liberal dan relasi kuasa oligarkis. Ia menghubungkan kritik ekonomi-politik, gerakan sosial, dan penafsiran atas Marhaenisme Soekarno.

Eksploitasi, perbudakan, dan perdagangan manusia terhadap buruh migran bukan sekadar akibat lemahnya penegakan hukum, melainkan bagian dari struktur ekonomi-politik kapitalisme yang menempatkan buruh sebagai komoditas dan negara turut melegitimasi serta menikmati akumulasinya.

Dalam kondisi ketika sektor formal tidak mampu menyediakan pekerjaan yang memadai, sektor informal menjadi pilihan untuk bertahan hidup di tengah dinamika kota yang bergerak cepat.

Pendudukan Jepang juga membuka ruang bagi mobilisasi dan pendidikan politik yang kelak turut mendorong lahirnya Republik Indonesia.

Alih-alih memperlakukan “kaum tani” sebagai kategori tunggal yang homogen, kedua penulis menelusuri bagaimana diferensiasi kelas di perdesaan membentuk perbedaan penekanan isu di antara organisasi tani.

Hari ini, kapitalisme negara yang predatoris bersama aliansinya memproduksi berbagai narasi untuk mengalihkan perhatian publik.

Paradigma pembangunan baru tidak boleh mengulangi model lama yang mengorbankan alam dan manusia demi keuntungan. Ia harus berusaha mengambil unsur-unsur baik dari pengalaman masa lalu sekaligus mengelola hubungan antara alam dan manusia secara hati-hati demi kepentingan masyarakat.

Para kapitalis memonopoli alat produksi, di saat manusia membutuhkan alat produksi untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya. Akibatnya, sebagian besar masyarakat harus menjual tenaga kerjanya kepada kapitalis untuk bisa hidup.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.