Selera Seni dan Kelas-Kelas Sosial

Print Friendly, PDF & Email

Marxist Art, Mexico City | by nunavut. Kredit foto: Flickr

 

BEBERAPA bulan lalu, terjadi sebuah obrolan antara saya dan seorang kawan yang bergelut di ranah musik independen. Ia, yang memang datang dari kelas menengah dengan akses terhadap informasi yang baik, bersikeras bahwa selera seni tidak ada korelasinya dengan kondisi ekonomi seorang individu. Saya, pada saat itu, merasa ada sesuatu yang salah dari pernyataan yang ia lontarkan. Saya bertanya-tanya: bila memang demikian, mengapa kita memberi label sosial yang berbeda-beda pada aliran-aliran seni? Mengapa kalangan yang belajar musik klasik mayoritas masih berasal dari kelas menengah ke atas? Mengapa juga hanya segelintir orang yang akhirnya mengakses dan merelasikan diri mereka dengan musik independen?

Tulisan ini merupakan usaha saya untuk menjawab pertanyaan: apakah benar bahwa bagaimana seseorang atau sekelompok masyarakat memproses karya seni tidak merefleksikan kondisi material-historis yang mereka lalui? Bila iya, dapatkah kita melihat pembeda kelas-kelas sosial dari karya seni yang masyarakat nikmati?

 

Estetika Marxis: Pengondisian Kesenian Melalui Realitas Material-Ekonomis

Secara garis besar, filsafat kesenian yang diajukan Marx merujuk pada bagaimana realitas material-ekonomis sebagai kegiatan masyarakat yang tak terelakkan mampu mengintervensi ruang-ruang kebudayaan, yang di sini saya khususkan sebagai kesenian. Marx (Suryajaya, 2016: 534) mengungkapkan bahwa modus produksi kehidupan material mengondisikan proses kehidupan sosial-politik-intelektual secara umum. Sehingga, bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaannya, namun justru keberadaan sosial lah yang menentukan kesadarannya (Marx, 1859). Dari sana, disimpulkan bahwa kesadaran yang digunakan individu untuk memproses kesenian terkonstruksi oleh realitas yang dihadapinya. Marx (Suryajaya, 2016: 535) pula membagi dua dimensi perkembangan masyarakat secara umum: perubahan material-ekonomis dan perubahan suprastruktural-ideologis, yang di dalamnya terdapat kesenian. Marx juga mengajukan bahwa terdapat hubungan dua arah antara realitas material-ekonomis sebagai pengondisi kebudayaan dan fungsi sosial yang inheren dari kesenian sebagai instrumen perjuangan kelas (Suryajaya, 2016). Maka, dapat dikatakan bahwa estetika yang diajukan Marx sebenarnya fleksibel.

Lebih lanjut, seorang pengemuka Marxisme lain, Karel Kosík dalam Dialectics of The Concrete (Magnis-Suseno, 2013: 182-183) mengkritik anggapan yang berkembang setelahnya bahwa perkembangan manusia dalam semua dimensi ditentukan oleh realitas material-ekonomis. Anggapan ini mereduksi manusia sekadar ke dalam kegiatan ekonomis dan, karena itu, justru gagal untuk memotret totalitas konkret yang mengakui manusia dari keseluruhan dimensi yang melingkupinya. Ketika mengatakan bahwa keseluruhan kehidupan sosial didasari oleh realitas material-ekonomis, maka tidak serta merta berarti bahwa basis material mendeterminasi dimensi-dimensi lain, serta bahwa dimensi-dimensi tersebut hanya menjadi cerminan atau ekstensi realitas material-ekonomis (Magnis-Suseno, Ibid). Melainkan, perhatian dipusatkan pada proses di mana subjek memproduksikan dan mereproduksikan realitas sosial, sedangkan ia sendiri diproduksi secara historis, sekaligus direproduksikan di dalamnya (Magnis-Suseno, Ibid).

Mungkin, yang cenderung bertolak belakang dari ide estetika Marxis pada umumnya adalah bahwa Kosík masih memungkinkan ruang bagi humanisme universal untuk tumbuh dalam suprastruktur kebudayaan. Ia beranggapan bahwa seni yang benar membuka kebenaran sejarah: mereka mengonfrontasikan manusia dengan realitasnya sendiri. “Bait Yunani, katedral Abad Pertengahan, dan istana Renaisans semuanya mengungkapkan realitas, tetapi mereka sekaligus membentuknya.” (Kosík, 1976: 73). Seni, melalui pendekatan ‘dialektis’ yang diungkapkan Kosík, tetap memiliki hakikat kemanusiaan yang mutlak secara universal yang muncul baik dalam bentuk pengandaian umum, maupun sebagai hasil spesifik sejarah. Inilah mengapa kita tetap dapat menikmati karya-karya seni dari masa yang begitu lampau, karena di dalamnya terdapat nilai universal yang tidak bertentangan dengan realitas yang melingkupinya (Magnis-Suseno, 2013).

Sehingga, yang perlu diingat dari estetika Marx: Marx tidak mengatakan bahwa realitas material-ekonomis dan, lebih jauh, realitas politik direfleksikan secara vulgar dalam kesenian. Marx tidak bermaksud untuk mereduksi kesenian sekadar sebagai implikasi dari ‘perkara ekonomi’ belaka. Yang dimaksudnya, realitas material-ekonomis merupakan titik tolak yang dapat memberi kemungkinan bagi suprastruktur kesenian.

 

Bourdieu: Selera dan Stratifikasi Kelas Sosial

Seperti yang telah diungkapkan oleh beberapa pemikir Marxis sebelumnya bahwa basis material dapat menciptakan kondisi tertentu dalam aspek kesenian, Pierre Bourdieu mengekstensi konsekuensinya secara sosiologis: latar belakang ekonomi kelas-kelas sosial yang berbeda dengan keadaan yang melingkupinya akan membentuk perbedaan dalam selera kultural masyarakat, di mana salah satunya adalah selera seni.

Bourdieu mempertanyakan: mengapa sangat banyak produsen kebudayaan di era pasca-Romantik merasa begitu puas ketika karya mereka gagal untuk dijangkau secara inklusif? Produk kebudayaan di era tersebut berusaha untuk menutupi dirinya dengan spiritualisme yang sangat sulit untuk ditembus dari pendekatan rasional (Bourdieu, 1996: xvi – xvii). Karya seni ‘kelas atas’di era ini mempersempit segmentasinya ke dalam segelintir kalangan elite yang begitu peka perasaannya sehingga mampu menikmati irrasionalitas karya-karya tersebut. Fenomena ini menyiratkan eksklusivitas di dalamnya, yang dalam situasi ini seakan-akan menempatkan karya seni pada posisi tidak mampu dijangkau oleh rasionalitas semua orang (Suryajaya, 2016).

Bertolak dari mistisme tadi, Bourdieu merumuskan konteks sosio-historis yang melahirkan gagasan mistifikasi karya seni, yaitu asal-usul dan struktur sosial yang melatarbelakangi seniman dan publik seninya. Ia merumuskan tiga faktor pendekatan ilmiah: 1) penempatan karya seni dalam relasi kuasa dan perkembangannya dari waktu ke waktu, 2) pemeriksaan struktur internal karya seni, 3) analisa karya seni dalam lintasan sosial yang membentuk seniman dan publik seninya (Bourdieu, 1996: 214). Dari sana, individualitas dalam karya seni akan lepas ketika kita dapat mengetahui realitas sosio-historis macam apa yang melatarbelakangi tumbuhnya eksklusivitas tersebut.

Bourdieu juga membuat relasi antara kegiatan kultural dan proses penerimaan kesenian dengan tingkat pendidikan yang sangat korelatif dengan kelas sosial yang melatarbelakanginya. Bourdieu mengungkapkan bahwa kita tidak hanya melihat melalui mata, tetapi juga melalui pikiran (Bordieu, 1984). Saat karya seni telah sampai di muka publik, maka bagaimana publik memproses dan, lebihnya, menginterpretasikannya akan sangat bergantung pada bagasi pengetahuan mereka, yang mana terbentuk melalui distribusi pengetahuan kesenian, yang nyatanya masih berlangsung asimetris.

Saya melihat bagaimana distingsi kelas sosial serta tercermin pada generasi Y dan Z. Musik komersil populer identik dengan kelas menengah, yang mana menjadi mayoritas di Indonesia, dengan akses mereka terhadap media yang baik. Sedangkan, sebagian di dalam kelas menengah ke atas dengan akses pada pengetahuan kesenian mampu merelasikan diri mereka dengan musik independen dan underground, yang diberi legitimasi oleh masyarakat umum sebagai ‘musiknya orang-orang berselera atas’. Di sisi lain, terdapat dangdut, musik berbasis India yang pada awalnya dibawakan oleh orkes Melayu yang sejak tahun kemunculannya pada tahun 70an dianggap merepresentasikan ‘musik rakyat’ (Setyawan, 2017: 75).

Hingga saat ini, kita masih dapat melihat bagaimana mayoritas kelas menengah menyubordinasikan dangdut dari musik yang mereka konsumsi, memberi dangdut label ‘norak’ dan menjadikan dangdut sebagai kambing hitam dalam beberapa polemik, yang tak jarang turut dilanggengkan oleh framing media umum (Setyawan, 2017). Misal, kita sangat sering mendengar pembenaran yang dilontarkan oleh kelas menengah mengenai betapa maraknya pelecehan seksual dalam ranah dangdut, saat musik ‘kebaratan’ yang dikonsumsi oleh kelas menengah dituduh mempertontonkan sensualitas dengan vulgar (Setyawan, 2017: 79 – 81).

 

Konstruksi Simbol

Lebih lanjut, Slavoj Zizek mengekstensi ide estetika Marxis ke dalam konteks kapitalisme kontemporer. Zizek (Suryajaya, 2016: 680) menempatkan pembicaraan mengenai kebudayaan kontemporer dalam konteks analisis atas subjek hasrat. Zizek mengungkapkan bahwa subjek selalu terstruktur oleh hasrat, sementara hasrat sendiri dibentuk oleh mekanisme simbolis bahasa. Zizek mengungkapkan bahwa apa yang kita inginkan merupakan intervensi simbolik yang diproduksi oleh kapitalisme kontemporer. Tatanan simbolik membentuk subjek manusia kontemporer, karena subjek tak lain adalah himpunan makna yang terkandung dalam individu, sedangkan makna itu sendiri dihasilkan melalui pergulatan dalam ranah simbolik, maka subjek adalah bentuk tatanan simbolik (Suryajaya, 2016: 681). Maka, dapat dismpulkan bahwa dalam konteks kapitalisme dewasa ini, faktor ekonomis kemudian berdampak pada bagaimana kita mentransformasikan selera seni ke dalam tatanan simbolik.

Ketika seseorang mengonsumsi musik cutting edge dan jazz sebagai simbol ‘kaum yang berpendidikan’, mungkin terdapat keinginan terselubung dalam dirinya yang mendambakan pengakuan sosial sebagai individu kultural dengan akses pengetahuan seni yang baik.

 

Kesimpulan

Saya tidak dapat menyangkal bahwa dalam konteks kapitalisme kontemporer, usaha untuk melihat korelasi antara selera seni dan kelas sosial menjadi lebih rumit. Terdapat beberapa faktor lain selain kondisi material-ekonomis yang dapat menjadi pengecualian: tingkat pendidikan yang kini telah lebih dijamin dan dialokasikan dengan lebih menyeluruh kepada banyak lapisan kelas sosial, serta kemungkinan adanya sisi ‘humanisme’ yang secara universal terdapat pada semua manusia sehingga kita tetap dapat merelasikan diri dengan berbagai karya seni dengan latar belakang berbeda-beda.

Meski demikian, tidak dapat dengan naif kita mengelak bahwa seluruh dimensi dalam kehidupan masyarakat memang terkonstruksi secara sosial. Masih dapat diamini bahwa kesadaran manusia adalah produksi realitas material-ekonomis serta sosio-historis yang mengiringinya. Begitu pula dengan kesenian. Kesenian, disangkal atau diterima, merupakan wajah dari pergulatan sosial yang melingkupinya. Dan, bagaimana masyarakat kemudian memproses karya seni akan bergantung pada banyak aspek yang melatarbelakanginya.***

 

Widya Rafifa Salsabila adalah mahasiswa tingkat satu program sarjana Departemen Politik dan Pemerintahan, FISIPOL Universitas Gadjah Mada

 

 

 

Kepustakaan

Bourdieu, Pierre. 1984. Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Cambridge: ———-Harvard University Press.

Bourdieu, Pierre. 1996. The Rules of Art: Genesis and Structure of Literary Field. Stanford: Stanford University Press.

Kosík, Karel. 1976. Dialectics of The Concrete: A Study on Problems of Man and World. Dordrecht/Bonston: D. Reidel Kursbuch.

Marx, Karl. 1859. A Contribution to the Critique of Political Economy. Moscow: Progress Publishers. Diakses di https://www.marxists.org/archive/marx/works/1859/critique-pol-economy/index.htm pada 5 September 2018.

Setyawan, Aris. 2017. Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya. Yogyakarta: Warning Books & Tan Kinira Books.

Suryajaya, Martin. 2016. Sejarah Estetika. Jakarta: Gang Kabel dan Indie Book Corner.

Magnis-Suseno, Franz. 2013. Dari Mao ke Marcuse: Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus