Doktrin Ketetapan Allah dan Masa depan Papua

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)

 

UMAT Kristen pada umumnya memahami bahwa sebelum sesuatu terjadi di dalam sejarah, semuanya sudah ditetapkan terlebih dahulu dalam kekekalan oleh Allah. Itu sebabnya respons terhadap keyakinan ini membuat orang kristen diperintahkan untuk menjalani hidup dalam sikap mengucap syukur senantiasa Kepada Allah (Bandingkan 1 Tesalonika 5:18).

Kearifan khas kristiani ini rupanya dituangkan secara khusus di dalam banyak formula pengakuan iman Kristen Protestan di sepanjang sejarah. Salah satunya dalam pengakuan iman Baptist London II 1689, bab 3. Pengakuan iman ini mengatakan :

“Sebelum sesuatu diciptakan Allah, Ia menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi menurut kehendakNya sendiri dan tanpa dapat diubah, bersifat kekal, mutlak, bijaksana dan suci. Ketetapan Allah itu menurut pertimbangan kehendakNya sendiri tanpa pengaruh dari luar sama sekali. Berkenaan dengan penetapan itu, dalam pengertian apapun Allah bukanlah pencipta dosa dan Ia tidak ikut bertanggung jawab atas dosa bersama orang berdosa. Ketetapan Allah tidak pula melanggar kebebasan manusia untuk mengambil keputusan sendiri atau bertindak. Demikian juga kebebasan sarana-sarana lain tidak diabaikan. Kebijaksanaan Allah dinyatakan oleh ketetapan itu. Dan dalam terwujudnya segala yang direncanakan dan menjadi tujuan Allah itu ternyata pula kekuasaanNya dan kesetiaanNya.

Dari teks pengakuan iman ini, secara sederhana kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada satu hal pun yang terjadi dalam sejarah tanpa berasal dari keputusan dan ketetapan Allah. Mulai dari jatuhnya sehelai rambut sampai sebuah revolusi penggulingan kekuasaan, hanya dapat terjadi di dalam rencana dan ketetapan Allah.

Lantas apakah kita dapat menyimpulkan bahwa seorang kristen, khususnya protestan menjalani hidup secara deterministik? Karena segala sesuatu telah ditetapkan marilah kita menjalani hidup sebagai robot dan membiarkan apapun yang terjadi, berjalan begitu saja.

Jawabannya tentu tidak.

Dogma mengenai ketetapan Allah atas segala peristiwa dalam sejarah tidak menempatkan Allah sebagai pencipta dosa. Penetapannya atas segala sesuatu terjadi dalam sebuah skema besar bahwa entah itu kebaikan maupun tragedi hadir sebagai potongan-potongan kejadian yang menyusun tujuan akhir sejarah yang akan memuliakan Allah. Sebuah akhir yang sering disebut parousia, dimana kejahatan akan dikalahkan, kebaikan akan menang, dan segenap ciptaan akan disatukan dengan Allah (bandingkan Roma 8 :28 dan Kolose 1 :16).

Maka jika kejahatan hadir di dalam sejarah, umat Kristen sedianya menyadari bahwa itu bukanlah tujuan akhir dari sebuah situasi sejarah. Adanya kejahatan dalam sejarah (yang ditetapkan Allah), dihayati sebagai panggilan bagi umat Kristen untuk berbagian dalam upaya untuk menanggulanginya.

Umat Kristen secara unik menghayati perannya dalam lini masa sejarah sebagai rekan sekerja Allah, yang dipanggil mewujudkan koreksi dan pembaharuan di dalam jalannya peradaban (bandingkan 1 korintus 3 :1-9).

Secara unik, ide tentang Allah yang menetapkan segala sesuatu dalam sejarah memberi bekal pengharapan bahwa kejahatan, sekalipun sesaat terlihat menang, dia tidak akan menang selama-lamanya. Allah mereka-rekakan yang jahat itu untuk membalik keadaan. Sebagaimana ungkapan Yusuf kepada saudara-saudaranya yang jahat, yang telah membuangnya ,

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakan untuk kebaikan – Kejadian 50 :20.

Kesulitan memahami dogma ini secara proporsional

Sebagai orang asli Papua, saya menyadari salah satu halangan terbesar orang-orang Papua untuk mengambil bagian dalam perjuangan melawan penindasan dan kelaliman di tanahnya adalah karena pemahaman yang fatalistik pada dogma ketetapan Allah ini.

Sikap-sikap pasrah, dan masa bodoh terhadap penindasan di kalangan orang Asli Papua, tak tersangkali kerap mendapat sokongan dari pemahaman yang tidak utuh terhadap doktrin ketetapan Allah. Tentu sangat gegabah jika kita meyakini bahwa Tuhan menetapkan penindasan terhadap bangsa Papua tanpa bertanya kemudian, mengapa Dia ijinkan hal itu terjadi?

Orang asli Papua hanya akan menemukan jawabannya ketika mereka mau tahu dan peduli dengan nyawa yang melayang sia-sia di tangan aparat militer, kemiskinan yang dilestarikan secara sistemik dan berbagai hal buruk lainnya sebagai salah satu fragmen dari ketetapan Allah dan bukan seluruh kehendak Allah bagi umatNya. .

Allah yang mengijinkan penindasan, adalah Allah yang sama yang memanggil orang Papua untuk meresponsnya dengan tindakan mewujudkan ketetapan Tuhan yang lain di dalam sejarah, yaitu dengan melawan ketidakadilan yang terjadi. Sebagaimana yang dikatakan dalam Amsal 21 :3

Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN dari pada korban (bakaran).

Menurut saya inilah titik buta teologis (blindspot) yang sering diabaikan dari banyak umat Kristen Papua. Tak heran jika kekeliruan pemahaman teologis ini sering berujung pada sikap apatis dan sinis dari sesama orang Papua terhadap perjuangan saudara sebangsanya.

Lantas bagaimana memahami doktrin ketetapan Allah ini secara tepat?

Pertama-tama perlu dipahami secara teologis bahwa meskipun benar bahwa menilai penindasan yang terjadi berasal dari ketetapan Allah, namun memperjuangkan keadilan adalah juga hal yang secara simultan harus kita jalani sebagai cara kita tunduk kepada kehendaknya.

Sikap menolak meletakkan destinasi final kehendak Allah pada satu titik sejarah adalah cara terluhur menghormati ketetapan Allah. Bagaimanapun Alkitab menasehatkan kita untuk mawas diri di hadapan rencanaNya, karena ketetapan Allah di dalam sejarah itu tak terselami ( Bandingkan Mazmur 139 :17).

Tunduk kepada kehendak dan ketetapan Allah bagi orang asli Papua adalah terlibat menjadi rekan sekerja Allah yang memperjuangkan keadilan di tanah Papua.

 

Ketetapan Allah sebagai dialektika sejarah

Maka bukanlah sebuah kesalahan, jika karena menjadi rekan sekerja Allah, kita melawan struktur kekuasaan yang mapan hari-hari ini.

Yesus Kristus sang Bintang Daud adalah teladan kita menghayati ketetapan Allah. Yesus sadar bahwa penangkapannya oleh penguasa saat itu ada di dalam ketetapan Allah, tetapi pada saat yang bersamaan Yesus juga sadar, tindakan represif kepadanya adalah kejahatan yang akan diganjar oleh Allah.

Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. -Markus 14 :21

Sebagai umat kristen Papua, kita meyakini perjalanan bangsa Papua di dalam segala duka dan airmatanya berbagian di dalam ketetapan Allah. Di sisi lain kita juga wajib sadar bahwa situasi hari-hari ini itu bukan suratan takdir yang final bagi kita.

Allah yang membawa bangsa Papua pada situasi yang berduka seperti hari ini adalah Allah yang juga menghendaki kesejahteraan, keadilan dan kemerdekaan bag bangsa Papua. Inilah pemahaman yang dialektis terhadap sejarah yang perlu dikenakan sebagai lensa memahami ketetapan Allah.

Apa implikasi teologis dari pemahaman sejarah yang dialektis bagi orang Papua hari-hari ini?

Sekurang-kurangnya pemahaman ini dapat menjadi landasan kita untuk membangun landasan etis-teologis dalam perjuangan. Sebagaimana kita tahu, lembaga gereja dan keumatan di negeri ini lebih banyak menekankan ide soal kepatuhan kepada lembaga Negara dalam kadar yang mendekati kemutlakan alih-alih membawa suara kenabian yang jernih[1].

Seolah ketetapan Tuhan untuk rakyat Papua sama dan sebangun dengan semua pendapat Negara .

Kabar baik dari injil adalah Allah yang sama yang menciptakan dunia dan menetapkan segala drama penindasannya, adalah Allah yang hadir di dalam Yesus Kristus, untuk membawa berita pembebasan kepada segenap ciptaan (bandingkan Lukas 4 :18).

Justru karena injil kita tidak berhenti pada satu situasi sejarah dan sekedar meratapinya. Karena injil kita mempertanyakan mitos pembangunan, slogan NKRI harga mati, dan berbagai penindasan lain yang bersembungi di balik pemahaman yang keliru soal ketetapan Allah. Karena injil kita memiliki optimisme bahwa perjuangan menegakkan keadilan, kesejahteraan dan kemerdekaan bagi bangsa Papua ada di dalam restu ketetapan Allah.***

 

Gideon M. Adii adalah anggota Aliansi Mahasiswa Papua -Jakarta asal Jayapura, Jemaat Gereja komunitas Anugerah Reformed Baptist Salemba

 

————-

[1] http://www.tribunnews.com/nasional/2017/07/31/undang-pgi-jokowi-bahas-soal-pembangunan-di-papua

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus