
Nusantara: Jejak Panjang Kolonialisme Belanda
Kebijakan politik etis justru membina banyak individu yang pada akhirnya akan menantang kekuasaan kolonial dan membayangkan masa depan di luar imperium.
HomeKolonialisme

Kebijakan politik etis justru membina banyak individu yang pada akhirnya akan menantang kekuasaan kolonial dan membayangkan masa depan di luar imperium.

Melalui lensa konseptual kekerasan kolonial dan pengalaman historis orang Yéi, tampak jelas bahwa masa lalu dan masa kini merupakan satu kesatuan kontinuum dari praktik kolonial yang sama. Kesinambungan inilah yang pada akhirnya membuka jalan bagi keruntuhan sebagian, bahkan seluruh, kehidupan dan kebudayaan Yéi-nan di Selatan Papua.

Bisa dikatakan bahwa ulasan Mughis tentang state of disorder adalah salah satu karya terbaik dari varian analisis politik yang cenderung menyesatkan dalam memahami sejarah ekonomi-politik Indonesia.

Rangkaian kunjungan para agamawan Indonesia ke Israel adalah praktik perdamaian imperial. Dialog ini sebenarnya bukanlah dialog antaragama, melainkan dialog antarkuasa yang melanggengkan penjajahan.

Ada beberapa kata kunci untuk memahami dengan benar apa yang sebenarnya dilakukan oleh Israel terhadap Palestina, yakni pembersihan etnis, genosida bertahap, kolonialisme-pemukim, dan politik apartheid.

Cara pandang kolonial terhadap binatang mewarisi berbagai bentuk kekerasan, tidak hanya pada binatang itu sendiri tetapi juga manusia. Oleh karena itu kita harus mempertanyakan ulang cara memandang binatang.

Marx sama sekali bukan eurosentris, tidak pula hanya terpaku pada konflik kelas. Ia juga selalu memihak kaum tertindas untuk melawan penindas mereka.

Ketika teroris sudah menuduh korbannya sebagai teroris, cuma orang sinting yang masih membela mereka. Agar terhindar dari golongan orang-orang sinting itu, mari kita tegaskan bahwa dari sungainya sampai lautnya, Palestina akan merdeka!

Pengakuan bahwa 17 Agustus 1945 adalah hari kelahiran Republik Indonesia yang sebenarnya telah menyebabkan masalah pelik di Belanda. Pengakuannya juga ternyata cuma setengah hati.

Eksploitasi satwa liar untuk memenuhi kebutuhan pasar sudah terjadi sejak dulu kala. Buku dari Budi Gustaman memberikan gambarannya.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.