1. Beranda
  2. /
  3. Harian Indoprogress
  4. /
  5. Page 81

Harian Indoprogress

Hongxuan memperlihatkan bahwa Islam dan Marxisme bukan sekadar pernah bersentuhan, tetapi juga membangun berbagai bentuk kompromi, mulai dari sintesis teoretis hingga strategi retoris yang menekankan kesamaan tujuan: melawan kolonialisme, kapitalisme, dan imperialisme.
Bagaimana jika teori justru bertolak belakang dengan kenyataan yang tersaji di luar pikiran? Apakah teori harus berubah agar menyesuaikan diri dengan kenyataan, atau justru kenyataan yang berbeda itu diabstraksikan lalu dilampaui keberadaannya di dalam ranah pemikiran?
Jika pada masa lalu represi terhadap warga dilakukan secara terbuka melalui komando teritorial seperti Kodam atau Korem, kini praktik serupa dijalankan melalui rezim hukum kedaruratan dan satgas ad hoc.
Kebijakan politik etis justru membina banyak individu yang pada akhirnya akan menantang kekuasaan kolonial dan membayangkan masa depan di luar imperium.

Harian Indoprogress

Boikot, Kemewahan Siapa?

Kredit ilustrasi: emtv.com.pg   JUJUR harus saya katakan, saya pertama kali menyadari arti penting boikot usai membaca buku ketiga dari Tetralogi Buru “Jejak Langkah” Pramoedya

Jalan Berliku Para Elite Papua

Eliezer Jan Bonay di rumahnya di Kota Wijhe, 31 Desember 1988. Kredit foto: John Rumbiak/ Suara Papua Nomor 5, Maret/April 1990/dokumentasi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda

Gerilya Kapitalisme di tengah Masyarakat Pertanian

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)   KELAYAKAN Indonesia dalam menyandang identitas sebagai negara agraris kini tengah dalam ujian berat. Pertanyaan-pertanyaan dan keraguan-keraguan akan hal ini

Doktrin Ketetapan Allah dan Masa depan Papua

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)   UMAT Kristen pada umumnya memahami bahwa sebelum sesuatu terjadi di dalam sejarah, semuanya sudah ditetapkan terlebih dahulu dalam kekekalan

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.