90 Tahun Sumpah Pemuda: Pemudanya Ada, Sumpahnya Hilang

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Forum Lytogame

 

SUMPAH Pemuda, salah satu momen penting dalam perjuangan Bangsa Indonesia menuju kemerdekaannya. Tanpa Sumpah Pemuda, maka semangat persatuan Bangsa Indonesia tidak akan pernah terwujud. Meskipun Sumpah Pemuda bukanlah usaha pertama kali Bangsa Indonesia untuk mempersatukan keberanekaragamannya, tetapi Sumpah Pemuda tetap menjadi satu langkah penting Bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Salah satu momen pergerakan pemersatu bangsa ini lahir tepat pada 28 Oktober 1928, yang berarti sudah sembilan puluh tahun usianya kini. Sebenarnya, proses terjadinya Sumpah Pemuda tidak sekali jadi. Sumpah Pemuda adalah hasil dari dua kali pertemuan para pemuda Indonesia kala itu yang terlibat dalam Kongres Pemuda I (30 April 1926 – 2 Mei 1926, di Jakarta) dan Kongres Pemuda II (27 – 28 Oktober 1928, di Jakarta), yang pada akhirnya dalam Kongres Pemuda II terciptalah Sumpah Pemuda. Namun, sayangnya, dengan usia yang begitu tua, semangat membara para pemuda Indonesia dalam Kongres Sumpah Pemuda I dan II kala itu juga ikut menua seiring perkembangan jaman, sehingga semangat persatuan pemuda-pemudi Indonesia kala itu yang bergelora tidak sampai kepada generasi berikutnya, terutama generasi milenial. Lantas apakah semangat Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak sejarah persatuan Bangsa Indonesia akan punah di kemudian hari dan hanya akan menjadi dongeng bagi generasi Bangsa Indonesia ke depannya?

 

Sejarah Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda tidak serta merta terjadi begitu saja. Proses terciptanya Sumpah Pemuda ini terjadi begitu panjang dan berliku, semua ini berkat kerja keras pemuda-pemuda Indonesia yang kala itu bermimpi untuk bersatu dalam kebhinnekaan khas Indonesia, akibat dari kesadaran akan sebangsa setanah-air dan mulai mengenal paham nasionalisme. Sebut saja perkumpulan pemuda-pemuda yang paling terkenal dan paling sering disebut dalam buku pelajaran Sejarah di sekolah adalah Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, dan Jong Ambon. Sayangnya, buku-buku pelajaran Sejarah di sekolah lebih sering menyebutkan perkumpulan-perkumpulan atau organisasi pemuda yang berlatar belakang pada suku, faktanya ada juga perkumpulan-perkumpulan atau organisasi-organisasi pemuda yang berlatar belakang pada agama yang hadir dalam Kongres Pemuda I maupun II, seperti Jong Islamieten Bond juga perkumpulan pemuda-pemuda Katholik.

Kongres Pemuda I diadakan di Jakarta 30 April 1926 – 2 Mei 1926. Kongres Pemuda I diketuai oleh Mohammad Tabrani, yang dihadiri oleh wakil-wakil dari perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun (perkumpulan pemuda-pemuda yang satu asal dari Tanah Sunda), Jong Islamieten Bond, Studerende Minahassers, Jong Bataks Bond dan Pemuda Kaum Theosofi. Tujuan utama kongres ini adalah untuk membentuk dan membina perkumpulan-perkumpulan pemuda dalam ‘satu komando’, dengan maksud memajukan paham persatuan dan kebangsaan serta mempererat hubungan antara sesama perkumpulan-perkumpulan pemuda kebangsaan.

Sedangkan Kongres Pemuda II dilaksanakan pada 27 – 28 Oktober 1928, juga di Jakarta. Kongres Pemuda II diketuai oleh Sugondo Joyopuspito dan dihadiri sekitar 750 orang lebih. Kongres Pemuda II melahirkan sumpah yang lazim kita kenal dan sebut sebagai Sumpah Pemuda, dan dalam kongres ini juga terjadi sebuah peristiwa memorabilia, yaitu untuk pertama kalinya lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ dikumandangkan di depan khalayak ramai, yang diperdengarkan melalui alunan biola oleh sang pencipta yaitu Wage Rudolf Supratman. Peristiwa pengumandangan lagu ‘Indonesia Raya’ ini sebenarnya cukup beresiko dan berbahaya kala itu, karena Kongres Pemuda II dijaga ketat oleh aparatur Pemerintah Belanda yang sewaktu-waktu dapat membubarkan kongres ini. Namun dengan semangat persatuan dan kebangsaan yang begitu membara, pemuda-pemuda ini tidak kehabisan akal untuk tetap mengumandangkan ‘Indonesia Raya’ dalam Kongres Pemuda II, karena lirik dan alunan lagu ‘Indonesia Raya’ memiliki energi akan semangat persatuan dan kebangsaan, sehingga dapat memicu dan menambah semangat persatuan dan kebangsaan para anggota Kongres Pemuda II. Maka munculah ide untuk mengumandangkan lagu ‘Indonesia Raya’ dengan biola tanpa dinyanyikan dalam kongres itu, sehingga aparat-aparat Pemerintah Belanda yang mengawasi tidak akan mencurigai hal tersebut, karena mereka menganggap bahwa menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’ adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap Pemerintahan Belanda.

Satu hal yang menarik mengenai imbas dari lahirnya Sumpah Pemuda adalah lahirnya Kongres Perempuan Indonesia (22 – 25 Desember 1928, di Jogjakarta). Kongres ini lahir bukan untuk menyaingi kongres para pemuda yang sudah menghasilkan Sumpah Pemuda, tetapi justru untuk semakin menguatkan kekuatan dari Sumpah Pemuda yang diciptakan dan dideklarasikan pada 28 Oktober 1928 oleh para pemuda yang ikut serta dalam Kongres Pemuda II. Disamping itu juga, Kongres Perempuan Indonesia itu menyuarakan kesetaraan serta kesejahteraan wanita muda dan kaumnya kala itu, sehingga pada tanggal 22 Desember, kita sebagai Bangsa Indonesia, memperingati Hari Ibu.

 

Sumpah Pemuda Riwayatmu Kini

Kembali pada pertanyaan “Apakah semangat Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak sejarah persatuan Bangsa Indonesia akan punah di kemudian hari dan hanya akan menjadi dongeng bagi generasi Bangsa Indonesia ke depannya?” Melihat kondisi Indonesia saat ini, saya agak meragukan konsistensi serta keberhasilan para pemuda milenial atau pemuda Indonesia masa kini untuk tetap menyalakan obor semangat persatuan dan kebangsaan para pemuda hasil Kongres Pemuda II. Kita akan secara mudah berkata bahwa “Semua ini akibat dari era globalisasi yang terus menerus menggerus identitas sebuah bangsa, utamanya Bangsa Indonesia.” Tetapi di balik itu semua ada banyak faktor yang menyebabkan semangat Sumpah Pemuda menjadi redup.

Kita sering secara ‘serampangan’ mengatakan bahwa era globalisasi adalah faktor utama dari meredupnya semangat Sumpah Pemuda, namun kita tidak seharusnya menyalahkan secara penuh era globalisasi sebagai penyebab meredupnya semangat Sumpah Pemuda. Ada banyak faktor yang saling berkaitan dan saling memengaruhi satu sama lain sehingga membuat Sumpah Pemuda menjadi redup akhir-akhir ini.

Yang pertama, hilangnya minat para ‘Indonesia Muda’ akan pelajaran Sejarah. Saya memiliki anggapan bahwa belajar sejarah berarti belajar tentang segala hal dari masa lalu, salah satunya peristiwa, dan dari peristiwa masa lalu itulah akan mulai terbentuk identitas suatu objek (dalam hal ini adalah Indonesia sebagai sebuah bangsa). Jika kita tidak dapat meminati pelajaran Sejarah, utamanya Sejarah Indonesia, lantas bagaimana kita bisa tahu sejarah dan identitas bangsa kita?

Yang kedua adalah tidak adanya kemauan untuk mencari atau menggali lantas memaknai semangat dari suatu peristiwa sejarah. Hal ini biasanya berawal dari kurangnya minat untuk belajar Sejarah. Contohnya adalah ketika kita memperingati Sumpah Pemuda, maka kita akan mengikuti suatu kegiatan yang berhubungan dengan Sumpah Pemuda sebagai wujud rasa hormat kita untuk memperingati lahirnya Sumpah Pemuda, yang saya pikir tanpa adanya Sumpah Pemuda mungkin Indonesia tidak akan bersatu seperti sekarang. Terkadang orang-orang banyak yang mengikuti kegiatan (utamanya kegiatan untuk memperingati hari-hari besar nasional) sebagai sebuah ‘aktivitas formal’ belaka tanpa memaknai semangat yang terkandung dalam peristiwa yang kita peringati tersebut. Sehingga yang terjadi adalah kita hanya akan sebatas tahu dan paham sebuah peringatan ‘Hari A’ sebagai suatu hari untuk memperingati ‘peristiwa A’

Yang ketiga adalah berkurangnya tekad dan semangat para pemuda Indonesia untuk sebangsa, setanah air dan sebahasa satu. Ini muncul seiring dengan hilangnya keinginan untuk belajar serta memaknai semangat suatu peristiwa sejarah. Di samping itu hal ini juga muncul karena sikap apatis para pemuda dan pemudi Indonesia terhadap kondisi bangsanya sendiri.

 

Kesimpulan

Dari pengamatan yang saya lakukan, sungguh ironis memang kondisi Indonesia sekarang. Dimana para pemudanya tidak memiliki kesadaran dan semangat untuk bersatu dalam kehidupan berbangsa seperti yang digemakan oleh para pendahulunya. Namun, kita juga tidak bisa menggeneralisir bahwa semua pemuda Indonesia tidak memiliki semangat Sumpah Pemuda. Saya percaya bahwa setidaknya tidak sedikit anak-anak muda Indonesia yang memiliki semangat itu, sehingga Sumpah Pemuda pada akhirnya tidak menjadi sebuah dongeng ‘menyenyakkan’ bagi generasi penerus Bangsa Indonesia.

Kini saatnya Indonesia harus berbenah diri, terutama dalam dunia pendidikan. Karena dari dunia pendidikan lah generasi-generasi penerus bangsa terus-menerus dicetak. Apa yang perlu dibenahi dalam dunia pendidikan? Yaitu kurikulumnya yang harus condong membentuk pemuda-pemuda yang memiliki kesadaran untuk berbangsa dan bertanah air. Lebih spesifik lagi, yang harus dibenahi yaitu cara pengajaran guru-gurunya, terutama guru Sejarah. Bagaimana guru Sejarah dapat mengajarkan Sejarah dengan cara yang tidak menjenuhkan dan membosankan, karena dengan begitu para siswa dapat menerima pelajaran Sejarah dengan baik terutama bab mengenai Sejarah Indonesia, dengan begitu menurut saya siswa dapat memahami sejarah bangsanya, menemukan dan memahami semangat berbangsa para pahlawan lalu meneruskan semangat itu. Jujur, dulu saja kurikulum pendidikan yang didapatkan pemuda-pemuda Indonesia pada periode 1928 dan sebelumnya tidak ada sama sekali dalam kurikulum tersebut unsur-unsur untuk cinta tanah air, memiliki kesadaran berbangsa satu, dan menciptakan nasionalisme (karena kebanyakan para pemuda Indonesia bersekolah di luar negeri), tetapi para pemuda itu secara mandiri bisa memunculkan semangat cinta tanah air hingga pada akhirnya dapat menciptakan Sumpah Pemuda dan gerakan-gerakan lainnya yang mendukung kemerdekaan Indonesia.

Kompleks dan sulit memang apabila kita berbicara tentang pembenahan diri dalam konteks berbangsa. Karena banyak faktor dan hal-hal yang saling berkaitan, yang membutuhkan pemikiran dan pertimbangan-pertimbangan yang benar-benar matang untuk menciptakan suatu kebijakan, dalam hal ini kebijakan untuk membenahi lunturnya semangat Sumpah Pemuda dan nasionalisme para ‘Indonesia Muda’. Tetapi setidaknya, dengan membenahi pendidikan di Indonesia, juga tidak mungkin kita bisa membenahi permasalahan lunturnya semangat Sumpah Pemuda dalam kehidupan pemuda-pemuda Indonesia. Karena pendidikan adalah dasar pembentukan individu, kelompok atau bahkan peradaban.***

 

Jonathan Nicolaous Erlangga adalah mahasiswa Prodi Sejarah Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta

 

Kepustakaan:

R.Z. Leirissa, dkk., Sejarah Pemikiran Tentang Sumpah Pemuda, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Jakarta, 1989.

Sagimun M.D., Peranan Pemuda Dari Sumpah Pemuda Sampai Proklamasi, PT Bina Aksara, Jakarta, 1989.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus