Kami, Putra dan Putri Milenial…

Print Friendly, PDF & Email

 Kredit ilustrasi: esensiana

 

MILENIAL lebih benderang, berpengetahuan, cerdas. Mereka fasih dengan teknologi-teknologi termutakhir. Mereka terbuka pikirannya dan sigap mempelajari hal-hal baru. Di tangan merekalah akan teranyam masa depan yang lebih canggih, lebih baik, lebih cerah.

Katanya.

Kata siapa? Deddy Corbuzier, Najwa Shihab—mereka-mereka yang mencari nafkah dengan kata-kata manis dan menawan.

Tunggu dulu. Saya tak bermaksud sinis. Saya baru saja mau bilang, ada yang benar dari kata-kata tersebut. Masa depan, benar, akan diciptakan oleh milenial. Mau diciptakan oleh siapa lagi? Jokowi yang menemukan resep awet muda dan dicintai rakyat sepanjang masa? Fadli Zon yang tahu-tahu berhasil mengudeta rezim dan mencangkokkan DNA Prabowo ke dalam dirinya?

Milenial punya kelenturan yang mengagumkan? Benar. Saking lenturnya, mereka dapat bekerja sebagai pengunjuk rasa bayaran di siang harinya, penjaga Alfamart di malam harinya. Mereka dapat bertahan, katakanlah, terlepas delapan dari sepuluh pekerjaan mereka tidak menggaji mereka atau mereka mesti merangkap desainer, penulis, pemasaran media sosial, dan agen pulsa demi menyambung hidup di perusahaan yang pelit.

Akan tetapi, bakal meniti masa depan yang cerah lewat kreativitasnya? Itu relatif.

Najwa dan Deddy, para baby boomer penjaja petuah-petuah optimistis, mungkin merujuk kepada para punggawa startup unicorn ketika mereka membayangkan milenial-milenial penentu masa depan bangsa. Nadiem Makarim, sebut saja, siapa yang tak mau menjadi dirinya saat ini? Bisnisnya terurut di antara perusahaan-perusahaan pengubah dunia. Namanya digadang-gadang sebagai salah satu pengusaha paling bersinar Indonesia. Ia dianggap memudahkan kehidupan para penggunanya, memperbaiki nasib para mitra pengemudinya, dan jumlah mereka tidak sedikit.

Masa depan Nadiem cerah? Pasti. Go-Jek ambruk lantaran skema bisnisnya keliru dan pundi-pundi investasinya ternyata ada batasnya, katakanlah, usulan-usulan bisnis baru dan edgy Nadiem tetap akan dipercaya investor. Kalau-kalau tidak ada yang berani bertaruh padanya pun, saya percaya, ia akan diangkat sebagai penasihat presiden. Sekurang-kurangnya, ia akan dipekerjakan di KSP (Kantor Staf Presiden)—andai besok-besok lembaga ini masih ada.

Atau mungkin juga para baby boomer yang takjub itu merujuk ke Awkarin. Sosok yang andal menggugah khalayak, terlepas ia melakukannya dengan tipu-tipu, kibul-kibul, dan skandal-skandal. Awkarin tak berasal dari keluarga berpengaruh. Umurnya baru genap berusia dua puluh tahun belaka. Namun, keberadaannya mempengaruhi banyak orang. Saya pergi ke gunung bersama mantan pacar saya saja, anak-anak kecil yang tak kami kenal ricuh “Awkarin! Awkarin!” Padahal mantan saya itu merasa dirinya lebih mirip Anne Hathaway.

Masa depan Awkarin cerah? Kemungkinan besar. Bila ia tetap tekun mengakali khalayak media sosial sebagaimana yang diminta algoritmanya dan yang sudah ia lakukan selama ini.

Hanya saja, bagaimana dengan sembilan puluh juta warga Indonesia lainnya yang namanya bukan Nadiem atau Awkarin? Apakah mereka bukan milenial? Udin, bukan Nadiem, tak sanggup berpikir sekreatif sosok yang namanya beda-beda tipis dengannya itu. Namun, pekerjaan Udin pun adalah memindai kode produk, menaruh barang-barang ke raknya, serta mengucapkan “selamat datang di Tawonmart” setiap kali pembeli datang. Selincah apa pun akalnya, lelaku paling kreatif yang dapat dilakukannya hanyalah menyemir rambutnya dan berharap satu-dua pembeli cantik memerhatikannya.

Udin tak cukup berani mengambil kesempatan bisnis yang dapat merealisasikan “kemilenialannya?” Udin, perkaranya, tak tahu kapan lagi kesempatan kerja terhatur di hadapannya. Dunia kerja menganggapnya tidak mempunyai keahlian, gelar, atau koneksi yang patut diperhatikan—hal-hal yang jelas bukan salahnya. Meminjam uang untuk usaha, dengan bunga yang masuk akal setidaknya, bukan pilihan mengingat riwayat kreditnya yang nol besar.

Awkarno, bukan Awkarin, tak punya pikiran yang terbuka. Ia berteriak-teriak “ganyang PKI” terlepas PKI sudah diberangus dengan keji beberapa dekade silam. Ia meneriakkan takbir dan gebuk sewaktu harus berunjuk rasa di lain hari dengan jubah. Ia akan manut melempar batu atau molotov ke musuh politik patronnya bila sang patron menginginkannya.

Apakah Awkarno bukan milenial? Ia sepenuhnya milenial. Seperti kembarannya, Awkarin, ataupun sosok kondang lainnya seperti Young Lex. Hanya saja, Awkarno tak tahu bagaimana ia dapat meyambung hidup kalau bukan di atas pundak patronnya—broker yang punya jejaring ke para politisi, penerima pesanan-pesanan menciptakan isu hingga huru-hara, dan pereguk dana-dana misterius partai politik.

Kenyataan pahit, yang tak pernah mau diakui terkait milenial, adalah generasi ini merupakan generasi yang boleh jadi sangat rentan. Pertama-tama, jumlah mereka membeludak. Mereka merupakan bagian dari apa yang dibangga-banggakan oleh para teknokrat sebagai bonus demografis. Berikan mereka pendidikan ultra-prestisius, momen viral yang sama langkanya dengan menang undian, koneksi dengan konglomerat yang murah hati maka jadilah mereka orang-orang seperti Nadiem atau Awkarin. Lebih-lebih, banyaknya jumlah milenial berarti banyaknya orang yang berpotensi diraup menjadi pengguna, mitra, atau penontonnya.

Kebanyakan, sayangnya, tak diberkahi dengan kesempatan semacam itu.

Salah satu potret kebanyakan milenial yang tak beruntung? Anggota ormas pengecer kekerasan, ambil saja. Saya berani menjamin, di samping elite-elitenya, nyaris semua dari anggota ormas saat ini adalah milenial. Dalam temuan risetnya yang dipublikasikan pada 2003 saja, misalnya, Stein Kristiansen menemukan Amfibi, ormas terbesar di NTB, memiliki 80 persen anggotanya berusia di bawah empat puluh tahun. Gerakan Pemuda Ka’bah, ormas Islam yang sohor di Yogyakarta, 90 hingga 95 persen anggotanya berusia di bawah tiga puluh tahun dan tak punya pekerjaan tetap.

Bagaimana mereka terlibat di dalamnya pada awalnya? Grace Tjandra Leksana melansir penyelidikan terhadap Forum Betawi Rempug. Hasilnya, para anggotanya, yang juga berusia belia tentunya, bergabung dengan sukacita karena adanya kesempatan bekerja yang disediakan ormas. Mereka yang ingin bekerja di perusahaan setempat baru bisa diterima setelah FBR, yang bercitra mengintimidasi, memasukkannya ke dalamnya. Menyitir kata-kata heroik dari pimpinan Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur, ormas dengan kiprah serupa dengan FBR, “kalau kami yang melakukannya [memperjuangkan orang miskin], mereka mendengarnya.”

Maka, jika Anda merasa ormas bertumbuh subur saat ini, kenyataan tersebut tak jauh-jauh dari fakta tidak semua milenial kita menikmati kebebasan berkreasi secuil pucuk teratasnya.

“Ah, Bung Geger ini mengambil potret yang paling moreng! Tidak adil buat kami para cebong pembela rezim yang teraniaya! Pertama, kondisi sekarang dipastikan berbeda ketimbang saat penelitian, penelitian barusan dihelat. Kedua, Jokowi kan sudah membangun infrastruktur, menurunkan angka pengangguran, blusukan ke seantero negeri, mencegah kehancuran Westeros, menyelamatkan dunia.”

Pertanyaannya, apa pilihan buat kebanyakan milenial yang jumlahnya menakjubkan, berada di sebuah negeri di mana skema kerja gurem di mana-mana, peluang-peluang industrialisasi luput, pekerjaan yang lebih langgeng mengutamakan insan-insan senior yang dianggap lebih membutuhkan? Kesempatan terbesar yang tersedia buat mereka, artinya, adalah menjadi tenaga kerja yang tak bernilai, tergantikan, dan acap tidak terhormat. Pilihan mereka cenderung hitam-putih. Bekerja atau tidak bekerja sama sekali.

Dus, pilihan Anda saat mau membicarakan wajah kebanyakan milenial bukanlah antara Nadiem atau Udin melainkan Udin, buruh gerai ritel, Awkarno, pengunjuk rasa bayaran, atau Tika, desainer grafis yang lebih beruntung tetapi acap tidak tidur, dibentak-bentak bos, dipermainkan dengan keinginan-keinginan ajaib klien, tidak terlindung jaminan kesehatan.

Dan ada satu fakta menarik yang boleh kita cermati. Peserta unjuk rasa terbesar dalam sejarah Indonesia yang tersurvei dalam satu jajak pendapat enam puluh persennya berusia 20-an dan paling besar berasal dari kelas menengah bawah. Gerombolan si cebong bisa mengatakan, ini berarti anak muda yang tidak punya pekerjaan yang jelas adalah anak muda yang tidak toleran. Namun, bukankah ini juga bisa berarti bahwa milenial punya kekalutan memperoleh kejelasan-kejelasan sosial-ekonomi? Bahwa perasaan ketidakamanan mereka menemukan pelampiasannya lewat demonstrasi religius? Dan bahwa rasa frustasi mereka berujung masuk akalnya kebencian terhadap sosok yang dianggap mewakili elite ekonomi yang mengisap mereka?

Atau kita bisa beralih ke fakta yang lebih sederhana. Mengapa milenial, yang katanya gandrung bertualang itu, berjubel-jubel menyerbu setiap kesempatan untuk bekerja sebagai pegawai negeri sipil yang janji-janjinya adalah kehidupan yang menjemukan, tanpa tantangan, namun aman sepanjang NKRI berdiri itu?

Perhatikan kata kunci yang disebut terakhir: keamanan.

Keamanan menjadi dahaga milenial. Kerentanan menggentayangi mereka. Saya bahkan belum berbicara ihwal hantu yang kasat mata di penglihatan semua orang saat ini: tempat tinggal. Tanah tidak akan bertambah kecuali misi bombastis Mas Elon, yang lebih mungkin sekadar omong besar pengerek harga saham, tahu-tahu berhasil. Jumlah penduduk di Indonesia, tempat di mana setiap orang yang belum menikah wajib lapor, setiap pasangan yang belum punya anak wajib dicibir, terus bertambah. Yang berarti? Milenial kelas menengah bawah akan menghabiskan sebagian besar pendapatannya hanya untuk hunian dalam pasar oligopoli yang mencekik.

Jangankan bereksperimen startup, yang sosok-sosok paling suksesnya mengeloni rahasia dapurnya rapat-rapat dan menjajakan cuap-cuap motivasional abstrak sebagai kiatnya, memikirkan berhenti dari pekerjaan yang perlahan membunuh saja terasa mustahil di hadapan cicilan atau sewa rumah milenial.

Akan tetapi, tidak, kerentanan-kerentanan ini harus tembus pandang bak ubur-ubur dan kerajaannya kala membicarakan milenial. Apa yang nampak gagah menjulang dari generasi ini di mata para pemerhati ahlinya ialah enigmanya belaka. Milenial menyimpan kreativitas tak terukur untuk mendikte masa depan. Milenial punya potensi tak terbatas untuk menggiring bangsa ini melaju ke arah yang lebih baik. Dan di hari Sumpah Pemuda ini, saya jamin, segenap klise tersebut adalah yang terhatur ke hadapan linimasa Anda.

Sayangnya, segenap klise tersebut tak sekadar keliru. Ia juga tak bertanggung jawab.

Milenial sejatinya terukur. Insan-insan terbaiknya adalah mereka yang optimal mengeksploitasi membeludaknya jumlah insan segenerasinya yang rentan sebagai tenaga kerja aktual, seperti sang pendiri Go-Jek, atau tenaga kerja digital, seperti para seleb medsos dan fakir perhatian lainnya. Milenial juga terbatas. Insan-insan kebanyakannya adalah mereka yang sedang dan akan dipatahkan oleh hidup. Mereka yang dituntut kreatif selagi dijejalkan fakta bahwa kesempatan berkreasi merupakan kemewahan milik segelintir.

Dan kita, yang menyibukkan diri dengan definisi-definisi berkilapan milenial, sejatinya memandang mereka via cara para teknokrat memandang mereka. Mereka adalah potensi pertumbuhan ekonomi—tak usahlah kita hiraukan nestapanya. Mereka adalah aset strategis yang menggiurkan buat negara ini—tak perlulah kita perhatikan ketenangan eksistensial mendasarnya.

Dus, pilihan Anda di hari ini ada dua. Pertama, Anda bisa berkutat dengan klise-klise menjemukan seputar milenial di hari Sumpah Pemuda. Kedua? Mari ejakan bersama saya secuplik bait yang lebih jujur, apa adanya untuk hari yang istimewa ini. Satu… dua…

 

Kami
Putra dan putri milenial
Mengaku bertanah air satu
Tanahnya nyicil dua puluh tahun
Airnya keringet kami yang dihambur-hambur.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus