
Wahyu Sebagai Misi Pembebasan Kaum Tertindas
Kredit ilustrasi: BibleWalks.com RELASI mengenai wahyu dan nalar adalah salah satu tema penting dalam percakapan mengenai teologi. Pertanyaan utama tema ini adalah natur dari

Kredit ilustrasi: BibleWalks.com RELASI mengenai wahyu dan nalar adalah salah satu tema penting dalam percakapan mengenai teologi. Pertanyaan utama tema ini adalah natur dari

Imunitas sosial ekologis akhirnya merosot. Sebaliknya, imunitas oligarki-korporasi meningkat pesat. Imunitas ini termasuk menguatnya kekebalan tubuh kekuasaan oligarki baik dengan memobilisasi kekerasan terorganisir atas nama pandemi maupun diskursus the new normal.

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) DI TULISAN sebelumnya, penulis sudah cerita soal pangkal kontradiksi antara ciri kualitatif tenaga kerja dan kebutuhan akan kuantifikasinya di
SAYA membaca tulisan Franz von Magnis SJ a.k.a. Franz Magnis Suseno, SJ yang diforwardkan oleh seorang teman. Tulisan itu dimuat di Kompas (24/3/2012). Dalam tulisan

PERTENGAHAN tahun 2017 lalu, majalah The Economist menyatakan bahwa di era ekonomi digital ini, data adalah sumber daya yang baru. Ia bahkan digadang sebagai “minyak

Kredit foto: Nasional Tempo.co (1) TAHUN 2011, media-media di New York dihebohkan oleh satu skandal. Dominique Strauss-Kahn, seorang pejabat di International Monetary Fund (IMF),
SEMENJAK berkobarnya revolusi di Amerika Latin yang dipimpin rakyat Venezuela, ide sosialisme kembali bangkit dari tidurnya. “Sosialisme Abad ke 21” begitu bunyinya, sebuah frase yang

“Keadilan tidak ada kaitanya dengan apa yang terjadi di ruang sidang; keadilan adalah apa yang keluar dari ruang sidang itu.” (Clarence Darrow) KINI hukum jadi
Wartawan-cum sastrawan. Buku kumpulan cerita pendeknya “Kuda Terbang Mario Pinto,” memperoleh penghargaan Kathulistiwa Literary Award sebagai karya sastra terbaik. Buku kumpulan cerpen terbaru Linda adalah
PERBEDAAN filsafat Marx dari Hegel, seperti sudah kita saksikan dalam artikel sebelumnya, dapat dipilah ke dalam posisi realisme imanen dan realisme transenden. Bagi Hegel, sifat-sifat dan relasi antar hal dapat ada terpisah dari halnya, sementara bagi Marx, sifat-sifat dan relasi tersebut hanya ada di dalam halnya. (Sedikit catatan tentang terminologi. Istilah ‘realisme’ yang digunakan di sini jangan dikacaukan dengan istilah yang sama yang dipakai dalam perdebatan epistemologis tentang hubungan antara pikiran dan kenyataan. Para pemikir Yunani Antik dan Eropa Abad Pertengahan tidak mempersoalkan ada/tidaknya kenyataan di luar pikiran kita sebab, bagi mereka, kenyataan sudah jelas dengan sendirinya ada dan independen dari pikiran. Persoalan ada/tidaknya kenyataan di luar pikiran adalah topik yang khas Modern, antara lain dimulai sejak Descartes. Istilah ‘realisme’ yang digunakan di artikel ini sepenuhnya berkaitan dengan status ontologis dari sifat dan relasi—dua hal yang disebut sebagai universalia. Realisme Klasik dan Abad Pertengahan berkenaan dengan ontologi, sementara realisme Modern berkenaan dengan epistemologi). Pertanyaan utama kita di sini adalah: apakah relevansi dari posisi realisme imanen Marx bagi konsepsinya tentang dialektika? Apakah perbedaan pengertian Marx dan Hegel tentang universalia ikut menyumbangkan sesuatu terhadap perbedaan mereka dalam hal dialektika?
SEPERTINYA, perseteruan antara Nahdlatul Ulama (NU)—yang direpresentasikan dengan kiai-kiai khittah 1926—dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) —baik kiai yang—dalam frasa sinis Azyumardi Azra— ‘political oriented’ maupun

Surabaya, Desember 1996 DENGAN toga pengacara yang tampak kedodoran, tubuh kecil dengan rambut merah itu melangkah ringan memasuki ruang persidangan Pengadilan Negeri Surabaya. Melewati kami
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.