
Warisan Terkutuk Soeharto
SAAT di meja makan rumah, ayah saya membuka obrolan politik. Ketika itu kami berbincang soal kelompok teroris Islamic State Iraq and Suriah (ISIS) sebagai fenomena

SAAT di meja makan rumah, ayah saya membuka obrolan politik. Ketika itu kami berbincang soal kelompok teroris Islamic State Iraq and Suriah (ISIS) sebagai fenomena

DALAM setiap elaborasi mengenai potensi serta kapasitas gerakan rakyat, problem fragmentasi selalu menjadi problem mendasar yang tak pernah lupa diacu. Konon, kegagalan gerakan rakyat sekarang

Pesta Oligarki masih percaya bahwa demokrasi dapat ditubuhkan menjadi negara melalui prinsip representasi. Padahal, prinsip representasi negara telah nyaris sepenuhnya terintegrasi ke dalam mekanisme oligarki yang mereproduksinya.
MENYIMAK berbagai artikel dan editorial IndoPROGRESS dalam kurun waktu 4 bulan terakhir ini, diskursus utama yang coba dihadirkan adalah soal bagaimana kalangan kiri progresif
Ilustrasi gambar oleh Dadang Christanto 50 TAHUN yang lalu, saya bayangkan ada malam-malam panjang di mana banyak orang diciduk, dibawa diam-diam, untuk kemudian dihabisi.

Cak Tarno dan kedai bukunya. Kredit foto: Cak Tarno Institute (CTI) – WordPress.com KIOS buku itu kecil saja. Lima orang berada di dalamnya, ia sudah
MARILAH kita bayangkan sebuah situasi yang tak jarang kita jumpai. Salah seorang kenalan lama yang baru saja bertemu kembali berdiskusi dengan kita tentang situasi politik dan ekonomi aktual. Dalam tahap tertentu pembicaraan itu, mengetahui bahwa kita adalah Marxis atau bersimpati pada Marxisme, ia kemudian melontarkan pertanyaan yang tipikal: ‘Tapi bukankah analisis Marxis tentang kapitalisme terbukti keliru? Nyatanya, kapitalisme tak niscaya runtuh seperti diprediksi Marx. Malah sebaliknya, sekarang kapitalisme tumbuh subur di mana-mana. Bukannya itu menunjukkan bahwa Marxisme gagal?’

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) SAYA tak gemar suudzon. Drama Ratna Sarumpaet, yang tak kalah recehannya dengan serial televisi Tanah Air kegemaran kalian, konon,

Kredit ilustrasi: University of Bordeaux APA yang ada di bayangan kamu ketika mendengar neurosains? Sebelum mengetahuinya dari dosen dan teman sekampus, saya pasti berpendapat bahwa
SEPI sudah. Tak ada diskusi-diskusi, tak ada canda. Tak ada panutan. Selepas pemakaman A.S. Dharta atau Klara Akustia, anak dan cucu-cucunya terdiam di kamar kecil

Kredit ilustrasi: Ivana Kurniawati/www.ingrum.org لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا

Penyegaran dan “Modernisasi” NU tidak lepas dari keberhasilan PMII. Kader-kader PMII menyebar hampir kesemua lini NU se-Nusantara. Ketaatan kultural terhadap Ulama yang membangun Jam’iyah NU
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.