Cak Tarno

Print Friendly, PDF & Email

Cak Tarno dan kedai bukunya. Kredit foto: Cak Tarno Institute (CTI) – WordPress.com


KIOS buku itu kecil saja. Lima orang berada di dalamnya, ia sudah nampak sesak. Ia bertempat di lahan sisa sebuah warnet antara stasiun Universitas Indonesia dan jalan raya Margonda. Hari itu, sekitar 20 orang membeludakinya. Orang-orang ini datang untuk diskusi akbar perdana yang digelar di sana—“Cinta versus Manuver.”

“Cinta itu manuver,” tegas Daniel Hutagalung. Daniel tidak percaya dengan cinta. Yang ada, baginya, tak lain dari hasrat.

Bagus Takwin, lawan diskusinya, percaya bahwa cinta itu ada. Cinta ialah prosedur untuk meraih kebenaran. Aten, nama panggilan Bagus Takwin, merupakan pembaca Alain Badiou dan ia mengulang pandangan sang filsuf bahwa cinta merupakan peristiwa eksistensial. Cinta akan mengeluarkan subjek dari cangkang sempit sudut pandangnya sendiri.

Diskusi sengit bergulir dua jam. Ia, seingat saya, tak berujung konklusif. Menjelang akhir, Aten mengambil gitar dan menyanyikan lagu cinta untuk menggoda Daniel. Kawan-kawan yang gemar menghabiskan waktu di kios buku memang sejak sebelumnya acap menggoda Daniel. Ia dianggap bersikeras menampik keutamaan ontologis cinta lantaran statusnya yang masih sendiri belaka.

Diskusi yang digelar di hari kasih sayang tersebut akan diingat sebagai awal berdirinya Cak Tarno Institute. Cak Tarno Institute, tentu saja, bukan institut dalam pengertian yang lazim. Orang-orang melekatkan nama tersebut kepada paguyuban diskusi di kios Cak Tarno—dan menobatkan sang pemilik kios, Sutarno, sebagai rektornya—dengan niat memarodikan lembaga-lembaga intelektual yang ada.

Namun, orang-orang juga akan mendapati bahwa paguyuban dan kios ini lebih berarti dibanding banyak lembaga intelektual lain. Sepanjang empat belas tahun berikutnya, kios Cak Tarno menjadi tempat berkumpul serta bertukar gagasan sarjana, mahasiswa, penulis, aktivis, pemikir bebas. Saya kehilangan hitungan berapa kali kios kecil tersebut berjubel dengan mereka yang terpikat diskusinya. Diskusi-diskusinya, tak jarang, terlalu berharga untuk dilewatkan.

Satu waktu di 2017, diskusi Cak Tarno Institute menghadirkan empat kandidat doktor antropologi Jepang yang meneliti Indonesia. Buat saya, yang ingin mengetahui kecenderungan intelektual antropologi di negara lain dan membangun pertukaran jangka panjang yang produktif dengan mereka, ajang ini mutlak harus saya hadiri.

Pada kesempatan lain di tahun yang sama, diskusi di Cak Tarno Institute diisi oleh Makhfud Ikhwan yang waktu itu baru saja memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa. Para pembaca novelnya datang dan mendengarkannya bercerita perihal proses kreatifnya. Mereka terus mendengarkannya dengan antusias bahkan hingga beberapa jam selepas diskusi ditutup. Kesempatan semacam diskusi ini, saya tahu, begitu berharga untuk mereka.

Cak Tarno—dalam beberapa kesempatan dibantu juga oleh teman-teman yang bersemangat—mengelola diskusi-diskusi ini secara berdikari. Kami berkali-kali menggoda Cak Tarno dengan menuduhnya menggelar diskusi demi meningkatkan pamor dan penjualan toko bukunya. Tapi, kami sejujurnya tahu, Cak Tarno berkorban tak sedikit untuk kesinambungan paguyuban ini.

Dan kami orang-orang yang bersyukur untuknya.

***

“Kapan mau isi diskusi lagi, Ger?”

Kata-kata itulah yang jamak pertama kali terbatin bila saya mengingat Cak Tarno. Acap, bila saya menghabiskan waktu senggang di kios Cak Tarno, Cak Tarno akan menanyakan kepada saya apa yang sedang saya tekuni, apa yang sedang saya baca, apa yang sedang saya tulis. Ujung-ujungnya, ia akan meminta saya mengisi diskusi di kiosnya.

Banyak, saya kira, yang mengisi diskusi karena diminta Cak Tarno secara gamblang seperti itu—termasuk nama-nama yang sudah melanglang buana di bidangnya. Cak Tarno tak mempunyai apa-apa untuk ditawarkan kepada para pemateri. Akan tetapi, konsistensi Cak Tarno mengelola paguyubannya menjadikan Cak Tarno Institute memikat dan diperhatikan. Dan orang akan menyanggupi permintaan Cak Tarno untuk mengisi dan menyusun makalah diskusi hanya karena ini adalah “Cak Tarno Institute.”

Saya masih ingat dengan diskusi yang pertama kali saya antar di sana. Saya membawakan makalah yang hendak saya presentasikan di sebuah simposium di National University of Singapore. Saya gugup dan tak berkutik. Bukan saja karena makalah saya masih compang-camping. Cak Tarno Institute, di mata saya sebagai mahasiswa semester-semester awal, punya citra yang angker.

“Ger, kalau kamu pakai teori realis, bukannya cara membingkai analisismu terbalik?”

“Um…”

Kata-kata tak bisa tertutur oleh lidah saya. Saya merasa sangat bodoh waktu itu.

Tentu saja, citra angker tersebut tak bertahan. Saya mulai menyadari dan menghargai kapasitas saya sendiri membaca serta menata pikiran, dan proses berpantulan gagasan di kios buku Cak Tarno punya andil dalam terbangunnya kepercayaan diri ini. Di buku pertama saya, Peter L. Berger: Perspektif Metateori Pemikiran terbitan LP3ES, saya menyebutkan Cak Tarno Institute sebagai salah satu afiliasi saya. Saya tahu, Cak Tarno Institute lebih lazim disebut candaan ketimbang lembaga yang punya ujud. Namun, paguyuban ganjil inilah yang secara nyata membantu kematangan intelektual saya alih-alih lembaga-lembaga lain berbadan hukum dan bergelimang pendanaan.

Cak Tarno, saya dengar, senang dengan pencantuman tersebut.

Kebahagiaan itu hanya satu dari antara banyak kebahagiaan Cak Tarno. Kebahagiaan serupa acap didapatkan Cak Tarno dari penggetol diskusi maupun pengunjung kios lain. Mereka mengakui jasa Cak Tarno tak tergantikan dalam penulisan karya akademiknya—baik karena merekomendasikan mereka bacaan yang tepat maupun menggelarkan forum diskusi untuk menguji tesis mereka. Orang-orang tak enggan memperkenalkan Cak Tarno dan kerjanya ke dunia yang lebih luas. Namanya berulang kali diangkat sebagai sosok yang inspiratif.

Salah satu liputan tentang dirinya yang dibangga-banggakannya adalah artikel Kompas yang menggambarkannya sebagai pengisi ruang kosong. Dalam wawancara dengan Kompas tersebut, Cak Tarno menceritakan apa yang dilakukannya sebagai usaha mengisi ruang kosong. Ruang kosong, seingat saya, adalah idiom Ernesto Laclau yang didengar Cak Tarno dalam salah satu diskusi di paguyuban.

Saya tak terlalu peduli apakah Cak Tarno menggunakan istilah tersebut setia dengan pengertian awalnya. Setelah terbitnya wawancara tersebut, Cak Tarno, selama beberapa saat, tak henti menggadang dirinya sebagai “pengisi ruang kosong.” Dan Cak Tarno, sejak itu, nampak lebih serius memandang apa yang dilakukannya sebagai tanggung jawab eksistensial.

Dan sudahkah saya mengulang fakta yang diangkat terus-menerus oleh media hingga klise? Cak Tarno, yang menganjurkan bahan bacaan dan teori kepada dosen serta mahasiswa, tak pernah lulus SMP? Ya, izinkan saya mengulangnya, ia tak lulus SMP. Namun, Cak Tarno pun selalu berusaha keras mencerap gagasan-gagasan yang bergulir di diskusi paguyubannya. Itulah bekalnya kala ia merasa harus menyarankan buku tertentu kepada mereka yang bergelut dengan beban-beban akademik.

Suatu hari, saya melintasi kios buku Cak Tarno. Cak Tarno, saya jumpai, tengah bersama seorang mahasiswa.

“Jadi, itu dia yang dibilang Bourdieu sebagai modal sosial,” jelas Cak Tarno. “Modal sosial itu membantu orang mengepul modal-modal lainnya.”

Sang mahasiswa bergeming. Ia mendengarkan Cak Tarno dengan serius. Cak Tarno terus menceritakan apa yang ia pahami tentang teori Bourdeiu dan, lantas, menyarankan buku-buku yang bisa dibaca oleh sang mahasiswa bila ingin memahaminya lebih jauh. Saya terhibur. Saya merasa pernah mendengar penjelasan Cak Tarno barusan. Dalam sebuah diskusi Cak Tarno Institute, kalau saya tidak keliru mengingat.

***

Dalam empat belas tahun keberadaannya, baik kios Cak Tarno maupun gelaran rutin diskusi Cak Tarno Institute beberapa kali berganti tempat. Semua perpindahannya dikarenakan harga lahan di Kota Depok yang kian tak terjangkau.

Terakhir, Cak Tarno menempati sebuah kios di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Namun, berada di sebuah perguruan tinggi yang banyak dari antara mahasiswa dan akademisinya mengenal kiprah Cak Tarno, tak menghindarkannya dari logika neoliberal yang tengah melaju dengan gigi tertingginya. Perguruan tinggi, dalam logika ini, mesti mencetak untung sebesar-besarnya dengan memberdayakan semua propertinya sebagai modal usaha. Setiap hal yang dimilikinya adalah aset. Aset harus menghasilkan uang.

Tiga tahun berselang setelah kios Cak Tarno pindah ke FIB UI, harga sewa kios naik hingga nyaris dua kali lipat. Kios-kios di lingkungan UI tidak pernah kosong dalam waktu yang lama. Hal tersebut, agaknya, menjadi pertimbangan pihak universitas untuk mengerek biaya sewa. Mereka, boleh jadi, merasa masih terlalu bermurah hati dengan harga sewa yang dibebankannya saat ini kepada para penyewa.

Dampaknya? Cak Tarno terancam tak bisa meneruskan kiosnya. Ia terancam tergantikan oleh kedai kopi startup yang kocek modalnya, tentu, lebih tebal ketimbang kios buku. Kocek modal Cak Tarno adalah dari penjualan buku yang jumlahnya tak mungkin benar-benar spektakular. Kocek modal kedai kopi startup, bisa jadi, dari kantong papa yang tak ada batasnya. Dan bila penggusuran ini terjadi, ia akan menjadi skandal yang memalukan. Sangat memalukan.

Ada alasan mengapa kios buku Cak Tarno tak bisa dan tak boleh disamakan dengan kedai kopi startup. Kios buku Cak Tarno maupun Cak Tarno Institute telah mengamalkan berbagai peran yang seharusnya, lebih dari siapa pun, diamalkan perguruan tinggi. Ia menjadi lokus pertukaran gagasan, arena yang didatangi para pekerja pengetahuan untuk mengepul masukan, mengukuhkan argumentasi, maupun mencatat dan mengetahui apa yang dikerjakan oleh koleganya.

Saya tidak sepenuhnya menampik ritual-ritual terhormat yang rutin dihelat perguruan tinggi, tentu. Akan tetapi, apa yang digelar di Cak Tarno Institute pun lebih terhormat ketimbang berderet konferensi di Indonesia yang menjanjikan penerbitan bersertifikasi Scopus dan belakangan berhamburan peminat. Para pemateri, sekurangnya, tak sekadar datang untuk membabarkan makalah sepanjang sepuluh menit dan mendapatkan pertanyaan yang melenceng atau kelewat umum dari sesi tanya jawab yang tak lebih dari lima menit. Mereka yang datang ke diskusi adalah audiens yang, berkat konsistensi diskusi ini, terkondisikan untuk berkutat di koridor tema yang diperbincangkan. Dan dia yang menggelarnya, Cak Tarno, adalah seseorang yang tidak mencari apa-apa dari rutinitas ini kecuali melanggengkan paguyuban yang bermakna buatnya.

Dan tentu saja, adalah penting ada sebuah forum dapat digelar tanpa perlu memikirkan kerumitan-kerumitan teknis menghelatnya. Diskusi Cak Tarno Institute dapat diadakan tanpa memusingkan penyiapan proposal, sumber daya materiil, alokasi waktu, atau prosedur administratif yang perlu diikuti. Berkatnya, ia menjadi ruang yang cukup lentur untuk diskusi-diskusi dadakan yang sulit disiapkan oleh perguruan tinggi.

Apakah paparan saya mulai terlalu rumit? Mungkin, saya ceritakan saja pengalaman berkesan terakhir saya dengan Cak Tarno dan perguruan tinggi.

Suatu hari, Universitas Indonesia harus mencari kandidat staf pengajar perempuan berusia belia untuk diajukan sebagai kandidat penerima beasiswa. Yayasan Gerda Henkel akan membiayai studi S3 dua akademisi potensial dari Indonesia di bidang humaniora di Eropa, dan yayasan yang tak mempunyai kantor di Indonesia ini mengandalkan UI untuk mencari kandidatnya. Kantor Hubungan Internasional UI pun mencari kandidat dengan mengirimkan surel pemberitahuan kepada ketua-ketua departemen. Hasilnya? Sepanjang lima bulan, nihil. Tidak ada satu kandidat pun melamar ke mereka. Dan saya, sebagai kandidat pertama yang hanya dapat diproses lamaran beasiswanya bila UI mengirimkan satu lagi kandidat, menjadi terkatung-katung.

Apa yang saya lakukan setelah mengetahui bahwa pencarian panjang UI tak berbuah apa-apa? Terka saja: saya mendatangi kios buku Cak Tarno. Cak Tarno langsung memperkenalkan saya kepada satu nama yang potensial untuk menjadi kandidat—seorang pengajar muda di Program Sastra Belanda yang baru saja merampungkan S2-nya di Universitas Leiden. Ia pernah mempresentasikan tesisnya tentang perkembangan sastra anak di Hindia Belanda di kios buku Cak Tarno, dan Cak Tarno mengenalnya dari kesempatan tersebut.

Setelah saya memberitahukan program Yayasan Gerda Henkel kepadanya, sang pengajar pun mengirimkan lamarannya ke UI. Beberapa bulan dan beberapa saringan kemudian, ia dinobatkan sebagai penerima beasiswa Yayasan Gerda Henkel. Ia dapat melanjutkan S3-nya di Eropa. Saya juga.

Pesan moralnya? Dengan bantuan Cak Tarno, pencarian saya tak membutuhkan waktu lima bulan. Jauh lebih singkat dari itu bahkan. Sebagai narahubung ke jejaring akademisi humaniora, Cak Tarno adalah narahubung yang lebih mumpuni dibandingkan saluran komunikasi formal perguruan tinggi. Dan tentu saja, ia tak memperolehnya dari kerja semalam. Daya jamah Cak Tarno di dunianya adalah akumulasi dari apa yang digeluti dan dibinanya dalam waktu yang panjang.

Sayangnya, apa yang dilakukan Cak Tarno adalah kerja-kerja yang tak terhitung dalam satuan nilai yang dipahami rezim perguruan tinggi neoliberal. Tak peduli Cak Tarno memberikan banyak hal untuk tujuan yang sama dengan yang, konon, menjadi cita perguruan tinggi, pada akhirnya ia tetap saja pedagang kecil yang tak bisa membayar uang sewa gedung kampus. Apa yang perlu dihargai, bagi perguruan tinggi neoliberal, adalah tetek bengek birokratis dan sertifikasi, kemitraan yang segera mendatangkan uang atau kedai kopi kocek papa yang menyewa gedungnya. Produksi pengetahuan dan terbangunnya kolegialitas? Belum tentu.

Sebuah institut yang namanya terdengar seperti lawakan warung kopi? Tidak—tentu saja.

Sebulan silam, Cak Tarno meminta saya mengisi sebuah diskusi. Saya, yang ketinggalan informasi seperti biasa, waktu itu tak sadar bahwa kiosnya terancam tutup. Saya menyanggupi permintaan tersebut tapi belum sempat merealisasikannya karena satu dan lain hal.

Kini, saya khawatir, saya tidak akan pernah berkesempatan merealisasikannya.***


Geger Riyanto, Mahasiswa Ph.D. Institut Antropologi Universitas Heidelberg

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus