Marxisme dan Neurosains

Print Friendly, PDF & Email


Kredit ilustrasi: University of Bordeaux


APA yang ada di bayangan kamu ketika mendengar neurosains? Sebelum mengetahuinya dari dosen dan teman sekampus, saya pasti berpendapat bahwa itu adalah semacam ilmu pengetahuan eropa. Karena euro dan sains, lalu huruf n-nya kira-kira apa ya? Intinya tidak semua orang mengetahui neurosains. Bukan karena tidak gaul atau kurang update. Tapi memang ilmu ini belum menjadi salah satu bahasan utama di masyarakat kita, khususnya Indonesia. Padahal kajian ini cukup seru dan penting. Pernahkah kalian tahu jikalau jantung kita itu dikendalikan oleh bagian otak yang bernama medulla oblongata? Atau kesadaran dan tidur kita dikendalikan oleh bagian otak yang bernama thalamus? Lewat neurosains inilah hal-hal aneh tersebut dibahas. Apa Anda tertarik? Atau tidak sama sekali? Kalau tidak tertarik lebih baik lanjut lagi scroll Twitter atau Instagram Anda.

Taruna Ikrar, seorang ahli neurosains dalam dan luar negeri, dalam pengantarnya di buku Ilmu Neurosains Modern (2015) mengatakan bahwa ilmu neurosains merupakan perkembangan dari biologi, yang mana secara khusus mempelajari fungsi dan struktur otak sebagai bagian struktur yang membentuk mahkluk hidup. Pada intinya, neurosains ialah ilmu yang membahas tentang otak dan relasinya dengan bagian-bagian tubuh lain. Untuk lebih lengkapnya barangkali Anda bisa langsung membaca buku beliau. Lantas untuk apa saya mengetik tulisan ini kalau Anda hanya diajak membaca? Baiklah, di sini saya ingin membahas beberapa hal menarik dari mempelajari neurosains, dapat dikatakan sebagai fun fact-nya. Tidak banyak namun beberapa akan saya ceritakan di sini. Di antaranya sebagai berikut.

Kalian yang dulu bersekolah SMA memilih jurusan IPA dan gak pernah bolos saat kelas lab pasti sudah paham betul dengan bentuk otak. Ya jadi seperti itulah bentuknya, kalau penasaran bisa nonton film Mars Attack. Berwarna abu-abu kalau batok tengkorak kita dibelah, berbuku-buku dan unik tentunya. Tapi otak kita tidak sebesar otak alien di Mars Attack itu, volume otak laki-laki rata-rata sekitar 1.300 sampai 1.500 cm dan otak perempuan rata-rata 1.200-1.350 cm kubik. Berat otak orang dewasa rata-rata 1,4 Kg. Di benda yang bernama otak itu terdapat sel-sel otak yang sering disebut neuron. Ada sekitar 100 miliar neuron yang bekerja hampir bersamaan di dalam kepala kita. Kata beberapa ahli, kapasitas otak kita menyimpan memory atau ingatan berkisar 1 hingga 10 terabite, dengan rata-rata kapasitas 3 terabite. Hal tersebut dengan asumsi bahwa 1 neuron mampu menyimpan 1 bit. Atau bahkan lebih dari itu? Mungkin tergantung penggunaan.

Otak kita merupakan bagian tubuh yang bertanggung jawab atas bergeraknya beberapa organ tubuh lainnya. Gerakan tangan, kaki, kepala, mata kita merupakan aktivitas fisik yang mampu kita kendalikan atau kita sadari. Selain itu terdapat pula hal-hal yang beroperasi  sendiri  tanpa perlu kesadaran kita, contohnya seperti jantung, paru-paru, hati, usus, ginjal dan lain-lain. Otak kita pun ternyata bertanggungjawab dalam mencium bau kentut, merasakan panasnya penggorengan atau mengangkat barbel. Maka para ahli membagi dua jenis sel saraf kita menjadi sel saraf motorik dan sensorik. Motorik mengirim impuls dari saraf pusat ke otot atau bagian tubuh lainnya, sedangkan sensorik sebaliknya mengirim impuls dari reseptor ke saraf pusat. Informasi tersebut disebarkan dengan sinyal-sinyal listrik dan kimia yang membentuk sinaps lalu ditransfer dengan neurotransmitter melalui neuron-neuron melintasi sistem saraf tepi lalu ke sistem saraf pusat dan sebaliknya. Lalu seperti apa sistem saraf pusat itu? Tak lain berada di dalam tengkorak kepala kita masing-masing.

Sistem saraf pusat itu sendiri terdiri dari dua hemisfer kiri dan kanan yang mana terbagi jadi bagian-bagiannya lagi: frontal lobe, parietal lobe, occipital lobe dan temporal lobe. Lalu ada juga cerebellum (otak kecil), brainstem (batang otak) dan sumsum tulang belakang. Sistem saraf pusat inilah yang menyebarkan informasi ke sel saraf perifer atau tepi tadi dan disebarkan ke saraf motorik dan sensorik. Dalam sistem saraf pusat tersebar dan bekerja cepat serta bersamaan layaknya super komputer.

Coba sekarang Anda bayangkan sungguh menakjubkannya hal-hal yang Anda lakukan setiap hari. Misalkan bangun tidur sebelum alarm berbunyi dan sadar kalau kita masih bernafas, perut keroncongan saat mengetik di kantor, gatal di hidung yang tidak kunjung hilang dan lain-lainnya. Apalagi untuk hal-hal yang kamu sadari, contohnya mengetik untuk membalas chat gebetan sembari menikmati makan siang, memindahkan persneling mobil sambil berkendara dan teleponan dengan boss, atau menimang anak digendongan sembari masak indomie dan lain-lain. Silahkan bayangkan sendiri. Sekarang coba gerakkan jempol kaki lalu jempol tangan Anda, nah lalu bersyukurlah karena otakmu masih ada dan sistem sarafmu masih tersambung.

Anda yang sedang mengerjakan skripsi atau menyelesaikan deadline pekerjaan pasti sering sekali kelaparan tengah malam. Itu karena otak membutuhkan 20% energi dari Resting Metabolic Rate atau nilainya rata-rata 1.300 kkl/hari. Lumayan membikin lapar tapi tidak akan membuat kalian kurus. Dari sana kita bisa melihat contoh dari interaksi antara otak dengan lingkungan, otak butuh asupan energi dan makanan yang kita makan menyediakan energi. Selain makanan, oksigen juga diperlukan otak. Oleh karena itu jika Anda sering sakit kepala, barangkali kalian kekurangan oksigen atau belum makan atau belum gajian.

Sejak kita balita hingga dewasa, otak kita mengalami banyak perubahan karena interaksi antara otak dengan lingkungan sekitar. Perubahan kuantitas (ukuran, bentuk) dan kualitas (kapasitas, kemampuan) tentunya selalu terjadi. Ini yang disebut para ahli dengan plastisitas otak. Itu bisa terjadi karena kita sehari-hari berhadapan dengan dunia di luar kita. Namun bagian bawah otak yang mengontrol fungsi dasar seperti pernafasan dan denyut jantung kurang fleksibel ketimbang dengan bagian korteks yang mengendalikan pikiran dan perasaan. Meski begitu, opini yang berkembang di kalangan masyarakat kita jika orang tua kesulitan untuk mempelajari hal baru itu merupakan mitos, sebab penelitian akhir-akhir ini menyatakan jika plastisitas otak terus berkembang sepanjang waktu.

Apa yang terjadi di sekeliling kita tercerap melalui indera (mata, hidung, telinga, rangsangan) ditransfer melalui neuron ke lobus temporal lalu ke hippocampus dan tersimpan menjadi memory di kortex. Karena itulah kita mampu mengevaluasi hal-hal yang akan terjadi di hadapan kita. Lantas apa hikmahnya dari mempelajari neurosains?

Kita bisa membuktikan minimal satu saja kebenaran dari tesis cara berpikir Marxisme yang selama ini kita bincangkan. Hal ini kita temukan di dalam neurosains, bukti-bukti bahwa pikiran atau ide memiliki basis materialnya di dalam tubuh manusia, hal ini sejalan dengan materialisme. Yaitu bahwa materi mendahului ide-ide. Saat menanggapi rangsangan dari lingkungan, otak manusia menjadi sumber munculnya ide-ide inovasi hingga revolusioner. Hal inilah juga yang membuktikan terjadinya proses dialektis, proses perubahan kuantitas menjadi kualitas dan sebaliknya, dari yang material mampu berubah menjadi non-material dan juga sebaliknya. Melalui keadaan yang sulit saat leluhur manusia kesusahan mencari makan. Keadaan seperti itu merangsang otaknya untuk berpikir keras hingga mereka akhirnya berpikir untuk mengakali alam dengan mendomestifikasi hewan dan mengembangkan pertanian. Hingga kini, untuk mempermudah hidupnya manusia mengembangkan komputer dan program-program hingga artificial intelligence. Apa yang tadinya hanya ada di film Back to Future kini pun bisa menjadi kenyataan. Apa yang bentuknya ide menjadi material, begitu pula sebaliknya terus menerus saling memengaruhi.

Mulai sekarang kita sadar bahwa otak manusia merupakan salah satu bagian penting dalam organisasi tubuh kita. Kita juga mesti paham bahwa otak merupakan pusat komando dari berbagai organ-organ di tubuh kita. Bagian-bagian dari otak ini bisa kita lihat saat kepala kita masuk ke dalam alat yang dinamakan MRI atau Magnetic Resonance Imaging. Melalui MRI, tak hanya bagian-bagian otak saja yang dapat diketahui, namun jaringan otak neuron di dalam otak pun dapat diketahui. Kita bisa melihat bagaimana sinaps saling menghubungkan neuron, contohnya ketika otak berpikir tentang belajar neurosains dengan cara membuat powerpoint maka terdapat bentuk menyala di bagian otak frontal lobe. Begitu juga ketika kalian belajar bersepeda atau main skate board, bagian otak cerebellum akan menyala-nyala terang. Menandakan bahwa bagian-bagian otak selalu bekerja sesuai fungsinnya namun tetap berkoordinasi dengan bagian otak lainnya dan sistem saraf di seluruh bagian tubuh. Otak pun tidak berdiri sendiri, ia mengandalkan pasokan darah dari jantung dan juga pembakaran metabolisme tubuh.

Selain itu yang tak kalah seru ialah pentingnya pemahaman interdisipliner dalam mempelajari otak dan sistem saraf di tubuh manusia. Ternyata neurosains tak mampu berdiri sendiri tanpa adanya ilmu-ilmu lain seperti kedokteran, psikologi, bahkan ilmu sosial seperti sosiologi dan antropologi. Contohnya, neurosains membutuhkan perkembangan lebih lanjut dan fakta-fakta seperti keragaman fisiologis atau bahkan gejala-gejala penyakit otak dari bidang ilmu kedokteran, membutuhkan fakta keragaman fungsi atau malfungsi otak dari psikologi dan bahkan membutuhkan kajian mengenai pengaruh masyarakat atau kultur di dalam perkembangan otak manusia. Neurosains pun dengan demikian bisa kembali memberikan sumbangsih yang cukup besar kepada ilmu-ilmu tersebut. Misalnya penjelasan menyeluruh mengenai evolusi cara berpikir Homo sapiens, penyembuhan kekurangan atau gejala penyakit otak dan saraf, memetakan cara berpikir manusia secara mendetil hingga pengaplikasian artificial intelligence untuk membantu kehidupan manusia sehari-hari. Sejauh ini terima kasih kepada sains dan teknologi, beserta tatanan masyarakat kapitalisme yang merupakan landasan prasarat bagi perkembangan kedua aspek tersebut.

Seiring dengan kemenangan bentuk masyarakat kapitalisme ini, maka semakin teranglah dunia yang selama ini tertutupi kabut-kabut ketakutan dan takhayul. Setelah kita memahami sifat dan perkembangan otak kita, kita pun diajak untuk memanfaatkannya dengan bijak. Jangan patah semangat, sebab teknologi dan sains selalu bagaikan pisau. Pisau tersebut mampu berubah sifat di tangan siapa pun. Apabila sedang digunakan oleh Chef Ramsey pasti untuk memasak, tapi ketika digunakan oleh Danjen Kopassus kita sudah paham betul untuk apa. Oleh karena itu mari kita update bacaan dan tontonan kita, niscaya Marxisme (jika memang benar kebenarannya) akan selalu ada di dalam setiap aspek selama kapitalisme masih menjadi mode produksi dominan di dunia. Di tulisan ini saya berusaha mengajak pembaca untuk iseng-iseng atau kepo-kepo mengenai otak dan neurosains. Niscaya bermanfaat ketika kalian berusaha mengenal diri kalian sendiri dan juga gebetan kalian masing-masing tentunya.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus