
Mengapa Sulit Minta Maaf?
DALAM memandang genosida 1965, kita secara sederhana bisa menggunakan dua perspektif. Pertama, perspektif hak asasi manusia (HAM); dan kedua melihatnya dari perspektif ekonomi politik (ekopol).

DALAM memandang genosida 1965, kita secara sederhana bisa menggunakan dua perspektif. Pertama, perspektif hak asasi manusia (HAM); dan kedua melihatnya dari perspektif ekonomi politik (ekopol).

Ilustrasi oleh Jonpey SETIAP Kamis, sejumlah orang berkumpul di depan istana presiden dengan busana serba hitam dan payung hitam. Mereka adalah orang-orang yang menolak

Kredit ilustrasi: righttothecitymtl.wordpress.com SENANG sekali rasanya memerhatikan usaha-usaha mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih inklusif. Termaktub dalam berbagai agenda internasional dan nasional, “inklusivitas” menjadi mantra yang

Buku Farjoun dan Machover ini secara umum berupaya mengatasi ketidakpuasan yang muncul dalam menjawab apa yang disebut sebagai ‘problem transformasi’ dalam tradisi ekonomi politik Marxian. Problem transformasi, secara sederhana, berkaitan dengan perdebatan untuk memahami hubungan antara nilai kerja dengan harga pasar yang dipahami secara sama (equal). Dalam kapitalisme, ekspresi paling nyata dari keuntungan dapat dilihat dalam bentuk harga. Semakin besar harga yang diapropriasi oleh kapitalis bisa dipastikan bahwa kapitalis tengah meraup keuntungan besar. Namun, pada sisi produksi, ekspresi atas besaran produksi komoditas, menurut Marx, pada mulanya hanya dapat dilihat pada satuan nilai kerja. Dalam celah konseptual inilah perdebatan problem transfomasi mengemuka.

SEIRING dengan penguasaan dunia kehidupan oleh kapitalisme, seluruh aspek kehidupan harian kita saat ini telah dirampas oleh kapital demi imperatif mendasar pada dirinya sendiri: mengubah

“DALAM jarak singkat antara masa ketika aku pertama kali menumbuhkan jenggot dan hari ini, ketika jenggotku mulai kelabu, telah terjadi lebih banyak perubahan dan transformasi

Kredit foto: http://welkermedia.com/daily/world-social-forum/ Tanggapan Untuk Roy Murtadho SAYA akan membuka dengan tiga pertanyaan yang merumuskan refleksi saya terhadap iklim politik Indonesia pasca Reformasi hingga

PERDEBATAN tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 (MP3EI) kembali marak belakangan ini. Tak pelak lagi, salah satu sebabnya adalah karena dalam momentum

Gambar oleh Alit Ambara (Nobodycorp) BEBERAPA waktu lalu, menteri sosial Khofifah Indarparawansa mengatakan bahwa rencana penetapan Soeharto sebagai pahlawan sudah final dan akan diumumkan

PEMBACA pasti pernah mendengar pertanyaan teka-teki populer ini: ‘mana dulu, ayam atau telur?’ Sepintas pertanyaan ini tak punya jawaban. Apalagi konteksnya obrolan buang-buang waktu di

Kredit ilustrasi: www.pinterest.com AKSI Bela Islam Super Damai tanggal 2 Desember 2016 kemarin, atau yang lebih populer disebut dengan aksi 212, punya dimensi menarik

Lukisan karya Ignatius Dicky Takndare berjudul, Khanikla Mey Moyo Yarate Ate. Kredit foto: Sanjaya Indarto KATA Max Binur,[1] siklus seni dan budaya manusia Papua
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.