Remahili: “Sebuah Ekspresi Kemanusiaan Terhadap Tanah dan Manusia Papua”

Lukisan karya Ignatius Dicky Takndare berjudul, Khanikla Mey Moyo Yarate Ate. Kredit foto: Sanjaya Indarto

 

KATA Max Binur,[1] siklus seni dan budaya manusia Papua – kalau mereka tidak melakukan aktivitas kebudayaan mereka, mereka akan merasa kekosongan dan ada sesuatu yang hilang dalam diri mereka. Setiap anak-anak Papua yang lahir itu jiwa seninya sudah ada, tinggal bagaimana diolah dan dikembangkan.

Di era seni yang kontemporer saat ini, tak banyak kita ketahui tentang karya seni yang benar-benar membicarakan persoalan-persoalan yang mendasar tentang Papua. Bahkan, rata-rata karya seni yang sering ditampilkan di berbagai tempat di Indonesia, secara eksplisit mendeskripsikan pembiaran terhadap persoalan-persoalan yang terjadi terhadap tanah dan manusia Papua. Sehingga dari waktu ke waktu tidak ada respon yang positif dari bidang seni sehingga perkembangannya berjalan begitu saja.

Nah, kali ini beda. Bunga rampai itu tumbuh dalam dua perupa muda Papua[2]: Ignatius Dicky Takndare, putera kelahiran Sentani, 6 Juni 1988 dan Albertho Wanma, putera kelahiran Biak, 9 Agustus 1986. Bagaimana kesenian mampu berkolaborasi dan bertransformasi dengan persoalan-persoalan nyata, adalah problem utama mereka berdua. Ini merupakan persoalan kemanusiaan yang diekspresikan dalam karya seni lukis dan patung. Duet pameran ini diselenggarakan[3] pada 15 Oktober – 23 Oktober 2016 di Bentara Budaya, Yogyakarta.

Untuk mengetahui sejauhmana perkembangan, latar belakang, harapan dan pesan kedua perupa ini, Mikael Kudiai mewawancarainya untuk Papua Bicara. Berikut wawancara lengkapnya:

 

Bagaimana Anda melihat perkembangan seni, terutama seni patung dan lukis di Papua?

Albertho Wanma: Seni dan budaya di Papua merupakan sesuatu yang sakral dan sangat bernilai. Jadi saya pikir seni itu tidak akan pernah hilang, tetapi dia akan terus bertumbuh dan bergerak terus secara perlahan. Lalu perkembangan seni yang sekarang? Saya pikir perkembangan seni di Papua sudah mulai melihat peluang ini bahwa betapa pentingnya seni dan budaya dengan mengikuti perkembangan teknologi. Misalnya seni musik yang dulunya mereka bermain dengan ukulele, gitar dan tifa, sekarang sudah dengan musik-musik modern dengan mengadopsi instrumen dan lirik dari luar. Tetapi saya pikir itu bukan sebuah masalah. Ini sesuatu yang harus kita terima.

Seni rupa di Papua yang mungkin pergerakannya masih belum terasa dibandingkan seni yang lainnya, saya pikir pasti banyak kawan-kawan dan anak-anak muda yang secara diam-diam terus berkarya. Jadi menurut saya seni rupa itu akan terus berkembang.

Ignasius Dicky Takndare: Yang jelas bahwa seni di Papua merupakan bagian dari manusia Papua itu sendiri. Misal seperti orang Biak, dorang (mereka) punya pepatah yang mengatakan bahwa, kami tidak bernyanyi berarti kami mati. Jadi artinya seni itu sudah bagian dalam kehidupan sehari-hari. Nah, seni rupa sendiri mulai berkembang, misal kita bisa lihat Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) sudah dibangun di Jayapura, banyaknya sanggar-sanggar seni yang sudah dibangun, dan masih banyak lagi.

Yang jelas dan paling terpenting adalah anak-anak muda sekarang sudah melihat seni sebagai suatu pilihan profesional. Jadi kita punya banyak sekali anak-anak muda yang memiliki potensi yang sangat luar biasa dalam bidang seni. Yang menjadi persoalannya adalah dorang belum memilih seni sebagai pilihan profesional. Maksudnya belum banyak anak-anak muda yang benar-benar mau konsisten dalam bidang itu.

Belakangan saya perhatikan banyak pergolakan yang terjadi di Papua sampai kita bicara tentang perihal identitas, dan orang mulai sadar bahwa seni merupakan salah satu cara dan jalan untuk berbicara tentang persoalan Papua dan mempertahankan identitas kita.

Saya perhatikan perkembangan yang terjadi juga masih sporadis, artinya bahwa kami masih bekerja sendiri-sendiri dan bergerak belum serentak. Kami berpikir bahwa pelan-pelan tapi pasti itu akan berkembang dan menjadi sebuah pergerakan seni rupa yang besar untuk Papua.

 

Apa yang melatarbelakangi Anda melakukan pameran seni dengan tema Remahili?

Ignasius Dicky Takndare: Latar belakang atau motivasi kami melakukan pameran dengan tema Remahili itu menjadi sebuah kewajiban kita sebagai perupa. Dalam tanda petik bahwa pemain bola harus bermain bola, pemain bulu tangkis harus bermain bulu tangkis, penyanyi harus bernyanyi, kami perupa juga harus pameran.

Mengapa kami memilih tema pameran ini adalah Remahili? Ada banyak faktor, misal istilahnya yang orang bicarakan tentang pelestarian budaya dan lainnya. Nah, ini sebenarnya salah satu cara melestarikan budaya dengan bagaimana kita menghadapi dunia dari luar yang ada datang ke dalam diri orang Papua itu sendiri.

Remahili itu adalah sebuah budaya atau tradisi di masyarakat Sentani, Papua. Suku-suku lain di Papua juga pasti ada dengan sebutannya masing-masing. Remahili yang berarti ratapan itu adalah kebiasaan-kebiasaan atau budaya ketika ada sanak keluarga meninggal dunia, saudara-saudara dan kawan-kawannya datang dan meratapi bersama keluarganya sambil bernyanyi dan meratapi kepergian saudara dan keluarga mereka.

Nah, Remahili ini spirit atau semangatnya kami ambil. Jadi pameran kami tidak membahas Remahili itu seperti ini atau itu, tetapi Remahili ini, semangat, spirit, jiwa dan ratapannya kami ambil untuk metafora penggambaran bahwa pameran ini adalah sebuah Remahili tersendiri untuk meratapi kondisi situasi dan persoalan seputar kemanusiaan. Jadi Remahili adalah sebuah ratapan terhadap masalah kemanusiaan di atas tanah Papua.

Albertho Wanma: Jadi, kalau olahragawan berarti dia harus bertanding di lapangan. Kalau perupa, dia harus melakukan pameran. Jadi yang menjadi latar belakang kami berdua melakukan kegiatan pemeran ini adalah karena kami dua adalah perupa, maka harus buat pameran.

Dengan berpameran, yang menjadi harapan keinginan, kegelisahan kita dengan suara-suara yang kita mau sampaikan itu bisa terealisasi lewat ruang-ruang seperti ini. Maka dari itu, kami berdua memakai wadah dan cara seperti ini kemudian bisa menyuarakan aspirasi-aspirasi persoalan Papua. Saya pikir hal ini yang melatarbelakangi, mengapa kami berdua membuat pameran Remahili ini.

Ignasius Dicky Takndare: Dan salah satu motivasinya adalah ya, ini respon dan sikap kami secara pribadi maupun kelompok tentang masalah Papua. Artinya, kalau ko (Anda) peduli dengan Papua, apa yang ko mau bikin dengan menyikapi persoalan Papua ini. Kalau kami dua lewat pameran seni.

 

Bagaimana Anda memaknai karya-karya Anda?

Ignasius Dicky Takndare: Jadi secara garis besar, karya itu muncul dari pikiran dan hati. Dari kegelisahan diri kita masing-masing. Apa yang muncul dari diri kita adalah kita sendiri. Lukisannya Dicky berarti dia adalah sosok Dicky, dan karya patungnya Bertho adalah sosok Bertho. Sama seperti kata-katamu itu menjelaskan, ko itu siapa.

Dari karya-karya ini kita bicara. Artinya bahwa ini adalah ungkapan dari hati dan pikiran kita sendiri. Dalam hal ini, seni itu adalah sebuah suara, istilahnya orang sastra bilang kata-kata, penyanyi bilang nyanyian, pemain sepak bola dorang bilang dorang punya gaya main. Kami punya itu lewat seni ini.

Albertho Wanma: Seni rupa yang kita tampilkan di sini adalah sebuah pengalaman empiris yang keluar dalam bentuk-bentuk pameran seni. Nah, kebetulan saya seni patung, karya-karya seni di sini, lahir dari pengalaman, ide, gagasan, lalu melahirkan sebuah proses kreatif itu.

 

Bagaimana Anda mendesktipsikan karya-karya Anda, misal satu karya patung atau lukis?

Albertho Wanma: Nah, karya seni yang bentuknya peluru ini saya beri nama Romamun. Romamun dalam bahasa Biak berasal dari kata Mamun atau Mun yang artinya adalah membunuh. Kalau sudah Romamun berarti berkembang menjadi kata sifat, yang artinya segala sesuatu yang bisa menimbulkan bahaya yang mengancam. Misalnya kalau kita menyelam ke dalam laut terus ada ikan besar yang berbahaya, itu mereka bilang itu adalah Romamun. Nah bahasa seperti ini menjadi judul dalam patung peluru itu.

Kalau kita perhatikan seperti peluru, ini terdiri dari beberapa material: ada batu, kayu dan tembaga dan benda-benda lain seperti kunci, gembok dan lain sebagainya yang bisa mewakili atau bisa mengomunikasikan apa yang disampaikan.

Nah, batu di sini artinya potensi alam, kayu artinya hasil bumi, dan tembaga yang artinya material logam yang ada di Papua, yang ternyata sumber daya alam yang, kata orang, melimpah tetapi justru menjadi Romamun buat masyarakat Papua sendiri.

Ignasius Dicky Takndare: Misal karya salib. Di atas kepalanya terpasang alasan mengapa Dia dihukum. Cuma di atas salib itu saya tulis, Papua Yaswar Au yang dalam bahasa Biak artinya “Papua saya mencintaimu”.

Salib itu tidak secara langsung berbicara tentang sosok Yesus, tetapi secara implisit berbicara tentang orang Papua sendiri. Artinya, Anda harus seperti Dia. Seperti Dia yang berani bicara yang benar, berani suarakan kepentingan rakyat kecil, tetap mengasihi, dan berani melawan birokrasi pemerintahan yang menindas. Banyak anak-anak Papua yang harus sama seperti Dia. Bahkan mati karena apa yang dibela. Papua Yaswar Au.

Jadi di atas kepalanya mengapa tertulis dia harus di hukum, karena dia (kitorang anak Papua) cinta Papua.

 

Pameran Anda kan cukup baru. Apa harapan-harapan Anda ke depan seusai membuat pameran ini?

Ignasius Dicky Takndare: Harapan paling utama adalah jelas orang harus bisa ingin tahu, kenapa anak Papua melakukan Remahili? Kenapa mereka meratap? Ada apa di balik ratapan itu? Apa yang mereka ratapkan?

Nah, karya-karya ini menjadi stimulasi dan mungkin dengan ini orang ingin belajar atau mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di Papua. Sebenarnya, di Papua itu ada masalah apa? Apakah sekadar masalah Freeport? Apakah sekeadar masalah alam? Dan lain sebagainya.

Jadi, kami ingin mengajak orang untuk melihat Papua sebagai sebuah masalah kemanusiaan. Dan itu bukan hanya sekadar masalah orang Papua, tetapi itu masalah kemanusiaan – masalah kita bersama.

Orang Papua perlu hidup damai dan rukun – kau juga perlu hidup rukun. Jadi masalah orang Papua itu masalah kemanusiaan – masalah kita bersama.

Albertho Wanma: Ketika kita berbicara tentang Papua, orang dengar tentang Papua, sesuatu yang muncul di benak mereka adalah honai, koteka, rumbai-rumbai, sagu, papeda, dan lain sebagainya. Kenapa saya bilang seperti ini? Ketika orang dengar tentang Papua, yang muncul di situ adalah seni dan budaya.

Makanya harapan saya adalah betapa pentingnya bidang ini diperhatikan dan diprioritaskan. Orang tidak kenal Papua dengan teknologi. Orang tidak kenal Papua dengan bidang-bidang yang lain. Harapan saya ya, seni dan budaya harus diperhatikan dan diprioritaskan, terlepas dari tema pameran ini. Supaya diperhatikan dan terlestari teman-teman yang punya potensi di bidang ini.

Ignasius Dicky Takndare: Terus harapan juga terhadap teman-teman, saudara-saudara, adik-adik yang punya potensi di bidang seni juga, ketika dorang (mereka) tahu kami sedang bergerak seperti ini, dorang juga harus bikin seperti ini dengan dorang punya gaya, keindahan, dan cara tersendiri dalam bentuk pameran dan lain-lainnya. Jadi kita semua bergerak dengan kesenian. Itu sangat sehat buat saya.

Albertho Wanma: Dengan pameran ini juga, kami mau menunjukkan kepada masyarakat di Yogyakarta bahwa anak-anak Papua jangan selalu diidentikkan dengan hal-hal yang negative, seperti kriminal, kasar dan lain sebagainya. Kita orang Papua juga punya sesuatu yang baik dan positif yang bisa dikerjakan di sini.

 

remah

Sebagian dari karya Dicky Takndare dan Albertho Wanma, yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta,
15-23 Oktober 2016. Foto diambil dari www.tabloidjubi.com

 

Yang menyaksikan pameran Anda kan tak hanya orang Papua, juga ada orang non Papua. Apa harapan Anda mengenai hal ini?

Ignasius Dicky Takndare: Kalau saya secara pribadi, kembali ke konsep humanis atau kemanusiaan itu sendiri. Bahwa orang semakin dewasa harus menyadari kalau masalah kemanusiaan ini tidak terbatas atau tertekan dalam suatu kumpulan etnis, atau latar belakang yang sama, tetapi ini masalah kemanusiaan – masalah kita bersama.

Yang paling terutama, warga Yogyakarta bisa menerima ini sebagai suatu yang sangat sehat. Pameran itu sangat sehat. Terlepas dari semua pandangan yang orang pikirkan tentang Papua. Pameran itu sesuatu yang sangat sehat, sangat sehat. Sangat sehat.

Kalau mereka, misalnya, katakanlah menyoroti anak Papua atau masyarakat Papua dengan hal-hal yang negatif, apakah pameran itu sesuatu yang negatif? Tidak to? Pameran itu sesuatu yang sangat sehat.

Jadi kita tidak bisa memaksa orang untuk mengikuti satu paham. Misalnya, paham kirinya orang Papua seperti apa? Orang ini seperti apa? Tetapi kami berdiri di atas sudut pandang kemanusiaan. Dan itu seusatu yang netral. Kemanusiaan itu milik semua orang, terlepas dari semua orang punya pandangan masing-masing.

Artinya, kalau kita lihat dari apa yang telah kami lewati, Bentara Budaya sudah memberikan tempat, kami juga dapat bantuan dari dinas kebudayaan, kami percaya bahwa warga Yogyakarta membuka diri untuk hal-hal yang sehat seperti ini. Kami merasa senang karena sebagian warga Yogyakarta sempat hadir, seperti Romo Sindhunata, S.J, Andrew dari Anti Tank, dan lain-lainnya. Dan ini menurut kami sangat luar biasa.

Apa yang kami berikan dapat menjadi ketenteraman dan memberikan warna tersendiri dalam seni di Yogyakarta. Di Yogyakarta kami sudah dengar, anak-anak Kalimantan bisa membuat Gawei Dayak, dan lain-lainnya. Kita anak-anak Papua harus mempunyai kegiatan yang sehat seperti itu juga.

Albertho Wanma: Sebelum pameran ini kami selenggarakan dan undangan dan poster tersebar di mana-mana, saya pikir pasti imajinasi teman-teman yang sudah melihat undangan tersebut, terutama orang non Papua, yang terpikirkan dalam benak mereka pasti seni-seni tradisi. Seperti parade budaya, lukisan-lukisan yang berbaur motif-motif, pentas-pentas budaya, dan lain sebagainya, karena ini yang sering muncul di beberapa tempat di Yogyakarta.

Tetapi ketika mereka datang dan menyaksikan langsung pameran ini, ternyata berbeda sekali dengan apa yang mereka pikirkan sejak awal.

Jadi yang saya mau katakan bahwa seni rupa itu berkembang, mulai dari seni tradisional hingga yang kontemporer. Seni rupa yang kami buat di sini adalah seni rupa yang kontemporer dan lebih ke arah profesional.

Lalu yang saya mau sampaikan lagi adalah kita juga bisa. Kita juga bisa berkembang. Kita juga bisa bersaing di era kontemporer seperti itu. Teman-teman juga pasti punya potensi.

Seni rupa kontemporer itu sebuah perkembangan seni, dimana kita bisa menyampaikan kegelisahan kita, apa yang kita pikirkan tanpa dibatasi oleh institusi atau kelompok dan individu. Karena seni rupa kontemporer sifatnya universal dan bebas yang sangat netral. Jadi kita bergerak melalui seni rupa yang kontemporer, karena seni-seni tradisi itu justru terbatas ruang geraknya.

Saya pikir ini hal yang positif sekali ketika teman-teman datang, orang-orang datang melihat langsung pameran ini dan mengatakan, kok orang Papua bisa memunculkan seni yang realis, simbolis, yang berbeda dengan gambaran atau apa yang mereka sangka sebelumnya. Itu sesuatu yang positif.

Ignasius Dicky Takndare: Terlepas dari itu, ketika orang melihat hasil karya-karya kami, pasti akan memunculkan banyak tanggapan, dan memang, masalah di Papua juga banyak tanggapan dan respon yang berbeda-beda. Ada yang bicara, “ah pasti ini anak-anak garis kiri”, atau politik, atau segala macamnya. Terserah itu tanggapannya orang. Tetapi di sini kami ingin tegaskan bahwa Remahili kami di Bentara Budaya pada tanggal 15-23 Oktober 2016 itu bukan suara politik. Ini suara kemanusiaan. Sama sekali bukan suara politik, walau pun akan ada tanggapan yang berbeda, tetapi kami tidak permasalahkan itu, terserah mereka melihat apa yang kami tampilkan di sini. Yang pertama, terpenting adalah warga non Papua bisa melihat ini sebagai bentuk apresiasi seni; dan yang kedua, bisa memaknai suatu aktivitas yang sehat.

 

Menurut Anda, apa yang harus dilakukan oleh generasi muda Papua dalam hal seni di tengah-tengah persoalan Papua yang cukup kompleks saat ini?

Ignasius Dicky Takndare: Kami berharap harus terus berkarya, jangan berhenti berkarya. Seniman-seniman muda, tua di Papua dan di luar Papua jangan berhenti berkarya, sekali lagi. Masalah arus globalisasi yang sangat besar datang di Papua, kita seniman merespon hal ini dengan cara seni, bagaimana kita menghidupi budaya dengan tidak meninggalkan budaya kita sendiri di arus globalisasi ini. Ini suatu pekerjaan yang cukup berat, tetapi saya pikir anak-anak Papua pasti bisa. Harapan dari saya ya, kita harus tetap berkarya. Pilihannya cuma dua, ketika menghadapi arus globalisasi, berhenti berkarya atau mau tetap berkarya. Itu saja.

Albertho Wanma: Dalam konteks pameran ini, saya pikir ini merupakan suatu momentum yang positif sekali untuk pergerakan kita ke depan dalam bidang seni. Kita harus terus berkarya dan berkembang terus dengan mengikuti perkembangan arus globalisasi. Karena kita tidak bisa sembunyi dari itu.

 

Di tengah-tengah arus globalisasi yang cukup besar, apa sikap dan harapan Anda untuk generasi muda untuk tetap mempertahankan budaya, dalam hal ini seni di Papua?

Ignasius Dicky Takndare: Nah, itu lagi yang saya mau katakan bahwa, apa yang terjadi di Papua itu harus dibicarakan supaya keluar dan dikenal orang lebih luas. Kalau kita diam, terus orang lain yang bicara, itu sangat berbahaya. Nanti dorang yang bicara terus dan orang Papua jadi penonton saja. Ini sangat bahaya bagi generasi muda. Terus berkarya supaya orang tahu Papua dari orang Papua sendiri. Itu lebih baik.

Albertho Wanma: Jadi, sebagai seniman-seniman muda, kita punya tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkannya. Kalau bukan kita yang kerja, jangan marah kalau orang lain yang bekerja dan menghancurkan kitorang.

 

Apa pesan Anda untuk anak muda Papua sekarang dalam bidang seni dan bidang-bidang lainnya?

Ignasius Dicky Takndare: Saya secara pribadi ingin berpesan kepada anak-anak muda bahwa bikin sesuatu untuk Papua dengan ko punya cara sendiri. Bikin sesuatu yang berguna. Terus jangan lupa dengan ko punya tradisi atau budaya leluhur itu jangan sekali-kali ko lupakan itu. Itu salah satu pondasi yang sangat kuat untuk melawan arus-arus yang datang dari luar.

Albertho Wanma: Dalam sebuah buku, saya lupa judulnya, dijelaskan bahwa ada beberapa pilar penting yang menopang sebuah kekuasaan atau sebuah Negara, salah satunya seni. Berangkat dari konteks ini, satu ajakan yang sering saya sampaikan kepada teman-teman, khususnya anak-anak muda yang saya ketemu di jalan, dan dimana-mana yang saya sering ngobrol, saya sering bilang sama mereka bahwa Papua itu orang lihat macam lahan basah. Kita punya sumber daya alam orang lain sudah ambil dan curi, dorang sudah eksploitasi di mana-mana. Semua hal dorang sudah ambil. Seni ini yang mungkin belum terlalu berpotensi untuk diambil, sehingga orang belum lihat hal ini. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, sudah mulai terlihat bahwa seni juga sudah mulai dijadikan sebagai lahan basah yang siap untuk diambil juga.

Ini satu ajakan yang penting sekali, jangan, jangan sampai bidang ini hancur seperti kitorang punya kekayaan lain yang orang sudah ambil dan mencurinya. Jadi ajakan yang penting, mari kitorang selamatkan kitorang punya seni yang cukup kaya ini. Seni apa pun itu. Seni pertunjukan, rupa, teater, dan lain sebagainya. Kitorang harus jaga sama-sama melestarikannya demi kitorang punya masa depan Papua.

 

Ada hal-hal lain yang ingin Anda sampaikan?

Ignasius Dicky Takndare: Kami di Yogyakarta, kami berpesan supaya, buat anak-anak Papua yang punya potensi seni atau punya ketertarikan dalam seni rupa khususnya, kalau bisa bertemu kami, mari sudah. Kita punya banyak hal yang harus kitorang buat sama-sama. Secara sehat dalam ranah seni. Artinya, semakin banyak anak-anak Papua yang bisa kita ajak bersama-sama fokus di bidang seni, akan semakin baik.

Albertho Wanma: Supaya Papua itu berkembang dan maju, kitorang harus punya banyak tenaga profesional yang heterogen, bukan homogen saja. Kenapa saya katakan seperti ini? Supaya teman-teman dan adik-adik yang baru selesai dari pendidikan SMA, jangan cari aman atau tempat pendidikan yang tidak bisa mendidik diri kita sendiri. Kalau ko punya potensi melukis, sampaikan sama ko punya orang tua, bahwa dengan seni ko bisa hidup.

Saya punya satu guru SMA di Biak, dia sering bilang kepada saya bahwa pilih lah profesi yang langka. Kalau ko bisa jadi ahli kimia, ko harus benar-benar fokus dalam bidang itu. Jangan hanya jadi polisi atau tentara yang nantinya akan balik bunuh kitorang punya sudara sendiri. Kasih tahu orang tua, bahwa saya punya potensi yang bisa mencerdaskan dan mengembangkan apa yang saya mau. Kalau teman-teman yang punya potensi di bidang seni, kasih tahu orang tua dan teman-teman semua, bahwa dengan seni saya bisa hidup. Ketika banyak generasi muda yang muncul dengan profesi-profesi yang ingin diteladani, saya pikir Papua akan unggul di bidang-bidang demi Papua yang lebih baik. Saya pikir seperti itu. ***

 

————-

[1] Lihat: https://www.youtube.com/watch?v=-4OQ4jhoodQ dikutip pada 17 Oktober 2016

[2] Lihat: https://drive.google.com/file/d/0B5l0HlzQiOBcU1Fuckd0XzlTZUk/view dikutip pada 16 Oktober 2016

[3] Lihat: https://www.youtube.com/watch?v=lZElj7Ac7g8 dikutip pada 17 Oktober 2016

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065 atas nama Vauriz Bestika. Terima kasih..

Kirim Donasi

comments powered by Disqus