1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 268

Paling Sering Dibaca

Belajar Sampai Ke Cina?

ANALISA EKONOMI POLITIK DALAM rangka menyambut 60 tahun hubungan Indonesia-Cina, majalah Tempo edisi 26 April, menurunkan Liputan Khusus dengan tema “Memburu Investasi”. Dalam laporan panjang itu, terungkap

Edisi XVI/2013

Daftar Isi Edisi Ini: Antonio Gramsci tentang Krisis dan Kebangkitan Kapitalisme Global Zely Ariane: “Kita Seharusnya Bisa Melakukan lebih, Melawan Lebih!” Perjuangan Upah dan Kapitalisme

TKI On Sale: Bukan Hanya Soal Brosur Tempel

HANYA karena selebaran brosur tempel, hubungan Indonesia-Malaysia beberapa hari belakangan jadi gonjang-ganjing. Musababnya terletak pada apa yang diiklankan brosur tersebut. Tak seperti brosur-brosur tempel di

7-ELEVEN

Jadi begini. 7-Eleven yang akan saya bicarakan ini memang baru ada di Jakarta. Kota-kota besar yang lain barangkali masih menunggu giliran untuk dikunjunginya. Di Jakarta, bisa dikatakan, 7-Eleven masuk ke sebuah kota yang sesungguhnya sudah punya hampir semua hal. Yang saya maksudkan bukan semata perihal fasilitas, tetapi juga strata sosial. Sebuah ilustrasi mungkin bisa menggambarkan hal itu. Cobalah sesekali, di malam minggu, Anda jalan-jalan di sekitaran Jalan Sudirman, Jakarta. Jika Anda beruntung, Anda akan melihat mobil Ferrari, sepeda motor butut, sepeda kayuh, bahkan vespa yang dimodifikasi berbentuk pondok-pondokan di sawah, ada di atas satu ruas jalan yang sama di dalam radius sepenangkapan mata Anda. Dan Jakarta pun memungkinkan, seorang penulis yang saya lupa siapa, pernah menuliskan perihal ini dengan menarik: seseorang menyeruput kopi di sebuah gedung bertingkat dan ketika ia memandang ke bawah ia akan melihat seseorang yang lain sedang menyeruput kopi pula. Perbedaan antara keduanya adalah kopi yang ada di lantai ke sekian itu seharga setengah gaji orang yang sedang menyeruput kopi di bawah sana.

Perangkap Pertumbuhan Rendah

Dalam Rapat Kerja dengan Anggota Panitia Ad Hoc II dan IV Dewan Perwakilan Daerah, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi 2007

Marah

Sebuah cerpen AKU sudah berkali – kali memikirkan ini sendiri ataupun berdiskusi dengan teman-teman yang lain sesama seniman di organisasi tempat aku belajar dan bernaung

Edisi XXXIV/2015

Daftar isi: Kiri yang Berumah di Awan Anwar ‘Sastro’ Ma’ruf: Gerakan Sosial Harus Membangun Partai Politik Sendiri   MENULIS adalah bekerja untuk keabadian, demikian tulis

Statistik Ekonomi yang Membingungkan

“Wah, sekarang sudah ramai ya! Sepeda motor dan mobil kini berseliweran di desa ini,” kata seseorang yang sudah lama tidak pulang ke kampung halamannya kepada teman lamanya di kampung itu. Temannya lalu mengiyakan, dan bersyukur bahwa kampungnya kini sudah maju. Bahkan, kadang-kadang jalanan macet.

Di mana-mana di Indonesia, kepadatan lalu lintas juga meningkat. Kata orang, ini pertanda kemajuan perekonomian. Di kota besar seperti Jakarta, kemacetan menjadi bahasa setiap saat. Kita pun sering mengeluhkan kemacetan ini. Padahal, menurut “ilmu” tadi, kemacetan ini pertanda makin banyaknya kendaraan bermotor di Indonesia. Kemudian, makin banyaknya kendaraan bermotor adalah pertanda makin majunya perekonomian. Maka, kalau suatu ketika kita terjebak dalam kemacetan yang parah di Jakarta, daripada marah-marah menghabiskan tenaga, kita ucapkan syukur saja bahwa ekonomi Jakarta ternyata telah tumbuh dengan pesat.

Tentang Batas

MENANGGAPI pengajuan Judicial Review UU PNPS No.1/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama, reaksi yang sangat keras dan menggebu-gebu muncul dari Menteri Agama Suryadharma Ali. Bukan hanya berkomentar secara nyinyir terhadap pengajuan itu, ia juga sangat berkepentingan dan menyiapkan segala energinya menghadapi proses ini. Konon, bahkan beliau mengumpulkan ormas-ormas Islam, termasuk ormas yang anti-demokrasi, untuk menyiapkan perlawanan terhadap upaya memperjuangkan kesetaraan warga negara.

Terkait dengan respon Menteri Agama dan Menteri Hukum dan HAM, ada dua hal menarik yang perlu ditanggapi, terutama menyangkut batas. Tentu pernyataan ini perlu ditanggapi bukan karena kedua menteri tersebut adalah manusia beragama. Tentu karena mereka adalah pejabat negara, yang berbicara atas nama pemerintah. Dus, pernyataan mereka ada dalam koridor relasi antara warga dengan pemerintahnya, antara masyarakat dengan negara.

Kalau Mau, Pasti Tidak Impor Beras

Tren akhir tahun muncul lagi, impor beras. Walau yang menentang tidak sedikit, kebijakan ini jalan terus. Bahkan telah menjadi siklus tahunan. Babak impor beras 210.000

Pertanian, Batu Sandungan WTO

ORGANISASI Perdagangan Dunia (WTO), untuk kesekian kalinya, kembali gagal mencapai kesepakatan pada pertemuan G4 di Postdam, Jerman (Juni 2007). Dan seperti pada kegagalan sebelumnya, penyebabnya

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.