Menyikapi “Putaran Pembangunan”
SETELAH melewati enam hari perundingan eksklusif dan tertutup (13-18 Desember 2005), keputusan mengenai adanya Ministerial Declaration sebenarnya mengejutkan seluruh pihak. Apalagi bila diingat bahwa, terutama
SETELAH melewati enam hari perundingan eksklusif dan tertutup (13-18 Desember 2005), keputusan mengenai adanya Ministerial Declaration sebenarnya mengejutkan seluruh pihak. Apalagi bila diingat bahwa, terutama

Tanggapan Untuk Angga Septiano DALAM tulisannya di Qureta.com berjudul “Kasus Pemerkosaan dan Peliknya Cara Berpikir Masyarakat”, Angga membahas perihal kasus pemerkosaan yang menimpa Yuyun
: Sumiati binti Salan Mustapa 1. Di dusunku tak ada kail dan jala penghidupan. Apalagi kolam susu sumber nafkahku. Itu cuma syair punya Koes

MUSIBAH dan bencana bukan hal yang dapat ditiadakan dalam kehidupan masyarakat dalam sepanjang sejarah. Demikian pula yang kita alami dan saksikan di penghujung akhir tahun
LAHIR di Jakarta, besar di Karawang, kerja dan kuliah, menjadi ketua Kohati (Korps HMI-wati), aktif di FSPEK-KASBI dan kini juga kader PRP. Sekalimat tersebut barangkali
Utang Negara-negara Utara Kepada Negara-negara Selatan Utang Eksternal Negara-negara Berkembang Selatan telah membayar kembali utang eksternalnya kepada Utara. Pernyataan ini perlu kita kumandangkan kuat-kuat. Cerita

Karya – Umbrella Movement: Ketika Pelajar Hong Kong Bergerak Menuntut Demokrasi di Jalanan Catatan Kawan – Hai Ogawa Liputan – Agam Wispi: Tentang Menjadi Eksil, Puisi
Permoelaan Saudara-saudara sekalian, kawan-kawankoe sefaham, salam dan bahagia dan kegembiraan hati dari saudara-saudara Istri Sedar saja sampaikan pada kamoe sekalian. Walaupoen soal jang kami haroes
Tentang Strategi Kiri Tanggapan Terhadap Stevel Ellner ARTIKEL Steve Ellner, berargumen bahwa tiga strategi anti-neoliberal kiri muncul di benua kita pada tahun 1990an. Strategi tengah
WACANA ‘Sekolah Minggu’ diluncurkan dengan gambaran tentang bagaimana secara historis sekolah formal di Indonesia tidak bisa terlepas dari konteks masyarakat yang melingkupinya. Pada jaman kolonial, sekolah formal di Indonesia didirikan sebagai mesin produksi Ambteenar Pemerintah Hindia Belanda. Mengutip Pramoedya, sekolah formal kala itu hanya melahirkan manusia bermental ‘jongos dan babu.’ Rupanya, kondisi semacam itu diwariskan sampai sekarang, ketika sekolah formal berada dalam sistem masyarakat kapitalis-industri. Sekolah formal kemudian berfungsi memperkuat sistem itu. Gagasan ini terbukti dengan kemunculan ‘buruh kerah putih’ yang berfungsi sebagai sekrup mesin produksi masyarakat kapitalistik. Alih-alih membebaskan muridnya, sekolah formal justru memperkeruh masalah dengan memunculkan ketidakadilan dan mempertegas segregasi kelas sosial dalam masyarakat.
BENCANA Tokyo beberapa hari belakangan ini, begitu menyita perhatian warga dunia. Gempa 8,9 skala richter yang berujung pada ledakan beberapa reaktor Nuklir Fukushima Daiichi, menambah
“”Bila kita hendak mengentaskan kemiskinan, kita harus berikan kekuasaan, pengetahuan, tanah, kredit, teknologi, dan organisasi pada si miskin” Hugo Chavez, 2005. Sejak tahun 1998, para
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.