LKIP Edisi 22

Print Friendly, PDF & Email

Karya – Umbrella Movement: Ketika Pelajar Hong Kong Bergerak Menuntut Demokrasi di Jalanan
Catatan Kawan – Hai Ogawa
Liputan – Agam Wispi: Tentang Menjadi Eksil, Puisi Eksil, dan Indonesia (Bagian 3 – Habis)
Liputan – Seusai Pesta Buku Frankfurt: Cerita, Tips, dan Pengamatan
Kliping – Perkembangan Politik Kekiri Lambat atau Tjepat Pasti Membawa “Perut Bergeser Kekiri”

 

NOVEMBER identik dengan bulan pahlawan. Ketika bicara pahlawan, orang Indonesia biasa tergoda membahas nasionalisme. Dan ketika membahas nasionalisme, acuan abadinya adalah sekeping tanah peninggalan administrasi Belanda yang terus dibayang-bayangi ‘Hantu Asing.’ Bagaimana tidak dihantui kalau mengekspos pelanggaran HAM zaman Suharto, langsung dicap antek asing; ingin kawin beda agama disahkan, disemprot agen kafir asing; minta militer ditarik dari Papua, disangka agen Aussie. Untung saja, belum ada akademisi kiri yang diteriaki ‘Mafia Caracas’—kalaupun ada, syukur alhamdulillah, karena bisa jadi itulah antitesis Mafia Berkeley dan Mafia Ohio.

LKIP edisi November ini mengajak Anda melepas kacamata kuda dan melancong ke luar, dari Frankfurt hingga Hong Kong. Jangan salah: saat ini kami masih di Indonesia dan batal mengasingkan diri gara-gara Prabowo kalah.

Kawan kami Ronny Agustinus baru saja mengunjungi Pameran Buku Frankfurt. Pengalaman itu ia tuangkan dalam laporan panjang di Rubrik Liputan. Problem dunia perbukuan di negara yang menomorsekiankan akses pengetahuan publik (baca: Indonesia) memang rumit, apalagi untuk buku-buku Kiri, yang penerbitnya gampang bubar. Tapi toh, kita tidak sendirian. Ada banyak penerbit kecil yang mampu bertahan, bahkan berinovasi, dalam situasi-situasi super darurat seperti perang sipil. Catatan Ronny juga menggarisbawahi keragaman penerit-penerbit kiri di luar Indonesia beserta produk-produknya—sebuah amatan yang menyegarkan iman dan akal. Rubrik Liputan juga menampilkan sambungan wawancara Hersri Setiawan dengan alm. Agam Wispi. Dua bagian awal dari wawancara ini sudah kami publikasikan pada terbitan Agustus 2014 dan Mei 2014. Pada bagian ini kita akan menemukan pandangan Agam Wispi tentang Indonesia ketika ia sudah hidup sebagai orang eksil.

Protes di Hong Kong meledak mulai September lalu. Gerakan ini menuntut universal suffrage, untuk memilih dan mencalonkan diri pada jabatan pemimpin tertinggi di Hong Kong, terlepas dari calon-calon yang ditunjuk Partai Komunis Tiongkok yang sudah bangkrut itu. Namun di saat Republik Rakyat Tiongkok kian kapitalis dan menggerus hak-hak berserikat pekerja, respons sebagian orang Kiri yang menganggap protes tersebut ditunggangi oleh Barat sangat konyol lagi menyedihkan. Kalaupun didonori Paman Sam, sudah semestinya sejak dulu kawan-kawan ini protes ke Lenin karena Lenin menerima segepok duit dari intel Jerman agar pasukan Tsar berhenti berperang. Maka, dalam Rubrik Karya, kami pun menyuguhkan esai foto dari Sindhu Pertiwi tentang Umbrella Movement di Hong Kong.

Pada Rubrik Kliping kami menghadirkan sebuah tulisan karya Ir. Sakirman yang pernah dipublikasikan di Harian Rakjat, Juli 1965. Judul tulisan tersebut, “Perkembangan Politik ke Kiri Lambat Atau Tjepat Pasti Membawa ‘Perut Bergeser ke Kiri’”, sepertinya punya daya humor yang tinggi. Itulah alasan pertama kami mempublikasikannya kembali. Kita pun akan melihat analisis Sakirman tentang kebutuhan taktik gerakan kiri kala itu yang harus benar-benar melihat keadaan dirinya dari luar rumah dan dari dalam rumah.

Pada Rubrik Catatan Kawan kami hadirkan catatan pengalaman menonton, berdiskusi, dan mendengar dari Umi Lestari. Bagaikan tiga pengalaman berbeda yang dijalin oleh sebuah tema yang sama; perkara tanah.

Akhirul kalam, selamat membaca.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus