Hai Ogawa

Print Friendly, PDF & Email

I.

Alit berkata bahwa ia akan pergi ke bioskop seorang diri.

Karena Banu harus menyiapkan banyak hal untuk pembukaan pameran, sedari pagi ia sudah pergi dari hotel. Dari jendela, Alit melihat jalanan Cikini begitu panas. Musim kemarau yang enggan beranjak, pikirnya.

Begitu sepi! Hanya sedikit orang berlalu-lalang dan hanya ada satu orang yang mengantri di konter tiket. Alit menuliskan namanya di buku tamu siang itu. Sekiranya hanya ada belasan orang yang akan menonton bersamanya. Mengecek ponselnya, jam menunjukkan pukul 12.05. Perempuan itu pergi ke toilet sebentar, merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan bekas memakai topi pemberian pacar. Begitu keluar dari toilet dan menuju lobi, salah seorang temannya menyambangi dengan muka tergesa-gesa.

“Filmnya dah dimulai loh, Mbak.”

Studio 1 Cinema XXI, Taman Ismail Marzuki. Hanya ada beberapa kepala menyembul dari kursi. Ia pun mengambil tempat duduk di barisan ketiga dari belakang. Mungkin sudah jalan sepuluh menit, pikirnya. Samping kanan dan kiri dari tempat duduknya kosong. Hanya ada dua orang di ujung kanan barisnya.

Melihat ke layar lebar, ibu-ibu berpakaian tebal duduk bersama dengan bapak-bapak membicarakan strategi pertahanan. Hitam-putih. Tampaknya latar waktu dalam film yang ia lihat adalah musim dingin. Orang-orangnya memakai baju berlapis dan juga kerudung untuk menghangatkan kepala. Perempuan itu merasa begitu dekat dengan orang-orang yang ada di dalam film. Kamera mengizinkan perempuan itu untuk mengikuti percakapan yang ada dalam film.

Begitu dekat, sampai ia bisa melihat kantong mata orang-orang dalam film. Begitu dekat, sampai ia bisa melihat bentuk rokok yang dihisap bapak-bapak.

Begitu dekat, sampai ia diizinkan untuk melihat percakapan intim ketika sang ibu memilihkan helm atau kain tebal ke anak perempuannya. Begitu dekat, sampai ia bisa menangkap apa yang disampaikan orang-orang dalam film: mereka ingin menghalau pemerintah dan korporasi yang akan mengambil tanah leluhur mereka untuk dibuat bandara internasional terbesar di Jepang.

“Ini tanah kami.”

“Kalau ini memang tanah kalian, mana sertifikatnya?”

“Masak iya kami musti bawa sertifikat ketika keadaan seperti ini?”

Begitu jauh. Perempuan itu melihat polisi huru-hara mendatangi area di mana benteng-benteng Aliansi Anti-Bandara didirikan. Mereka datang bergerombol, memakai penutup kepala, dan membawa tameng. Pemberitahuan dari pusat informasi Aliansi Anti-Bandara meraung-raung meminta supaya polisi, pemerintah, dan korporasi yang hendak mengambil tanah mereka supaya angkat kaki. Serangan pertama gagal. Polisi bisa dihalau mundur. Orang-orang penjaga benteng mulai membenahi apa yang sudah hancur, sambil menyimpan kecemasan.

Kedatangan polisi huru-hara tak bisa diprediksi. Tapi, yang pasti, mereka datang di akhir musim dingin pada Februari – April tahun 1971 saat udara sedang tak bersahabat. Aliansi Anti-Bandara yang terdiri dari masyarakat sekitar Narita, petani yang lahannya terancam tergusur, dan mahasiswa maupun pendukung, musti baku hantam dengan polisi maupun orang bayaran pihak pemerintah dan korporat. Sekiranya ada beberapa serangan yang dilancarkan pihak pemerintah dan korporat ke orang-orang yang hendak mempertahankan tanahnya. Mereka meringsek memasuki benteng, menaiki tank yang menyemburkan air ke massa anti-bandara.

Shinsuke Ogawa mungkin tidak akan mengira bahwa empat puluh tahun kemudian filmnya akan diputar di Jakarta. Ia lahir di Jepang pada 1935 dan ditahbiskan sebagai tokoh yang mendefinisikan film dokumenter Jepang bersama dengan Noriaki Tachimoto. Ogawa aktif membuat film dokumenter sejak akhir 1950-an hingga awal 1990-an. Film Ogawa yang diputar pada Sabtu 13 September 2014 ini adalah Narita – Kaum Tani dari Benteng Kedua (1971) dan sorenya disusul dengan Narita – Desa Heta (1973). Kemarin, film pertama dari trilogi Narita, Jepang – Musim Panas di Sanrizuka (1968) telah diputar di bioskop yang sama. Inilah film-film awal Ogawa yang menjadi penanda pro-Ogawa.

Memang, Alit tak sempat melihat film pertama dari Ogawa tersebut. Tapi itu bukan masalah baginya. Ia tetap duduk sembari mengikuti narasi yang berkembang dari Narita-Kaum tani dari Benteng Kedua yang diputar siang ini.

“Kenapa mukamu sedingin itu? Kamu tidak tahu ini tanah kami.”

“Sudahlah, kamu pulang dan biarkan kami dan tanah kami tetap seperti ini. Ini hidup kami.”

Seorang perempuan berkata kepada polisi huru-hara yang hendak meringsek masuk ke benteng. Kamera berada di posisi yang sama dengan ibu tersebut. Alit terpaku. Wajah polisi yang mendengar suara perempuan berwajah pucat itu bergeming. Ia tetap diam sembari memasang perisai besi. Perempuan itu tetap bertanya, “Mengapa?” dan meminta polisi huru-hara untuk pergi. Sedangkan di sisi lain, di sebuah pondok tidak jauh dari tempat ibu itu berdiri keributan terjadi. Petugas dan polisi yang berhasil menyambangi pondok memaksa untuk masuk ke dalam pondok, memaksa siapa pun yang ada di dalam untuk keluar

Kenapa mereka memaksa untuk masuk padahal di dalam pondok itu hanya ada anak-anak? Tak ada penjaga dari pihak anti-bandara. Hanya ada kamerawan dan asistennya di sana. Ketegangan antara polisi dan kamerawan tak terhindarkan. Apa yang kamu lakukan jika kamu wartawan atau peliput netral menghadapi hal seperti itu? Akankah kamu diam, merekam tindakan polisi yang masuk ke dalam pondok? Tetapi kamerawan itu tidak netral. Ia berdiri di sana, bertindak sebagai penjaga pondok, menghalau supaya polisi tidak bisa masuk dan memaksa mereka untuk pergi karena di dalam pondok itu hanya ada anak-anak. Kamerawan Ogawa bertindak cepat supaya anak-anak di dalam pondok tidak mengalami kekerasan dari polisi huru-hara yang nantinya akan memaksa mereka pergi dari pondok itu.

 

II.

Siapa yang bisa memiliki tanah? Sejak kapan hak kepemilikan atas tanah ada? Sebelum ada sistem sertifikasi tanah, bagaimana cara orang-orang menunjukkan “ini tanahku” dan “itu tanahmu”? Mengapa orang membutuhkan tanah?

Fajri pernah mengajak Alit pergi ke sebuah rumah di Kulon Progo. Saat itu menjelang sore. Sepanjang perjalanan Alit merasa senang ia bisa melihat pohon-pohon besar. Sesampai di tempat tujuan, Alit melihat anak-anak yang sedang menggambar sayur dan buah-buahan di banner bekas yang nantinya akan mereka pasang di sepanjang jalan. Rumah yang Alit dan Fajri kunjungi cukup besar, ruang tamunya luas. Saat itu banyak orang yang berkumpul, baik masyarakat setempat maupun mahasiswa-mahasiswa yang beberapa di antaranya adalah teman Alit. Mereka sedang membuat papan pengumuman yang meminta supaya penguasa dan korporasi tidak membuat tambang pasir dan bandara di Kulon Progo.

Perjuangan yang lama. Seingat Alit, tiga tahun yang lalu ia sudah bersinggungan dengan teman-teman yang ikut membantu pergerakan di Kulon Progo tersebut. Alit tidak masuk dalam struktur organisasi mereka, tetapi dari cerita Fajri, Alit bisa mengikuti perkembangan keadaan di sana. Alit ingat, salah satu petani di sana, Pak Kijo, pernah masuk bui karena dianggap menghasut masyarakat untuk melakukan aksi menolak keputusan pemerintah daerah dan provinsi. Sekarang Pak Kijo memang sudah bebas dari bui, tetapi teror tetap membuntuti. Kabar terakhir, pemilik rumah yang Alit kunjungi dengan Fajri dipanggil oleh aparat karena dianggap menghina penguasa lewat coret-coretan yang ia buat sepanjang jalan menuju Pantai Sadranan.

Tiga tahun yang lalu pula, saat mengikuti kontes kecantikan dan bertemu dengan perwakilan dari dinas pariwisata, Alit menanyakan perihal kasus penolakan tambang besi dan pembuatan bandara di Kulon Progo. Bukankah warga tani di sana sudah memiliki sertifikat dan secara adat mereka sah pemiliknya? Toh, tertulis bahwa hak milik “penguasa ground” di luar Istana akan menjadi milik warga yang bisa memanfaatkannya. Ketika muncul wacana pembuatan bandara untuk memajukan pariwisata dan adanya kandungan biji besi yang sangat baik di sekeliling pantai di Kulon Progo, undang-undang pun diubah. Semua “penguasa ground” akan ditarik kembali oleh penguasa. Ketika penjelasan ini Alit bicarakan ke dinas, pihak dinas berkelit. Konon, para petani di Kulon Progo sudah dihasut dari pihak Jakarta dan mereka diberi senjata untuk melawan.

Kamera ikut bergoyang ketika bentrokan antara massa anti-bandara dan polisi huru-hara terjadi. Tidak seperti penenteng kamera lainnya yang berada di luar arena bentrokan supaya bisa mendapatkan gambaran yang netral, kamerawan Ogawa malah ikut arus massa anti-bandara. Ia berdiri tepat di  dalam barisan petani dan dari kameranya, Alit melihat polisi huru-hara, pihak korporasi, dan pencari berita yang ada di luar baris petani. Bukannya mencari tempat yang aman untuk mengambil gambar, kamera tetap berada di dalam bentrokan tersebut.

Di satu titik Alit teringat perjuangan waga Karawang untuk mempertahankan tanah mereka pada pertengahan 2014 ini. Pihak pemerintah Karawang berkata bahwa tanah seluas sekian hektar tak ada yang menghuni sehingga pihak pengembang bisa memiliki dan membangun rumah-rumah lagi. Suatu kesengajaan. Jelas sekali ada yang menghuni dan hidup dari tanah itu, tetapi kenapa pemerintah bersikukuh itu tanah kosong? Warga yang terancam hak hidupnya melakukan aksi blokir jalan sehingga alat berat tidak memasuki tanah mereka. Polisi huru-hara pun menerjunkan sekian personel untuk menggagalkan aksi yang dilakukan bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak yang terancam hak hidupnya. Mereka kalah oleh aparat. Alit tak tahu nasib mereka kini seperti apa.

Di saat yang bersamaan, Rembang bergejolak. Lagi-lagi, pemerintah yang dibisiki kaum yang katanya peneliti, berusaha mengambil hak hidup masyarakat Rembang. Tanah mereka akan dijadikan tempat pembuatan semen. Sama seperti di Tangerang, masyarakat Rembang melakukan aksi penolakan pembuatan pabrik semen tersebut. Pemerintah bersama aparat berusaha menghalau aksi. Gubernur yang baru saja terpilih ternyata tidak menepati janji untuk mengayomi warganya

Seperti inikah bentrokan yang mungkin akan dialami masyarakat Kulon Progo yang menolak tambang besi  dan pembuatan bandara? Pipi Alit basah. Massa anti-bandara berubah menjadi orang-orang yang ia kenal. Ada Pak Kijo, Mas Pemilik rumah, Fajri, dan teman-teman Alit. Bagaimana nasib mereka nanti? Jelas konflik di Kulon Progo sama seperti konflik Narita di film yang ia lihat sekarang. Atas nama pembangunan, pemerintah dan korporasi menggunakan aparat untuk mengambil hak warga sipil. Konflik Narita sendiri berlangsung pada 1960-an hingga 1970-an. Sekarang Bandara Narita sudah berdiri megah. Akankah nasib Kulon Progo sama seperti Narita?

Shinsuke Ogawa_ilustrasi untuk HAI OGAWA

III.

Marah di Bumi Lambu. Alit menontonnya beberapa saat yang lalu saat adiknya pulang dari Seminari. Film Marah di Bumi Lambu juga akan diputar di Arkipel, festival film dokumenter dan eksperimental yang juga memutar film-film Ogawa ini.

Film yang memihak. Baik Marah dan film Ogawa yang Alit tonton sekarang adalah film dokumenter yang mengangkat konflik tanah antara warga sipil dan negara dan aparatus. Jika Ogawa mengangkat perjuangan petani Sanrizuka yang mempertahankan tanah mereka supaya tidak diambil untuk dibuat bandara, maka film Marah karya Hafiz Rancajale yang diluncurkan pada Mei 2014 ini mencoba merekonstruksi peristiwa Bima Berdarah 2011, ketika warga mempertahankan tanah mereka yang akan diambil untuk dibuat tambang emas terbesar setelah Freeport.

Menonton Marah, Alit merasa bahwa para narasumber yang diminta menceritakan kembali pengalaman terjun ke dalam aksi demo menolak tambang emas seolah-olah sedang curhat dengan kamerawan dan pewawancara. Mereka mengizinkan orang-orang di belakang kamera mendengarkan kisah mereka yang traumatis. Mereka juga menunjukkan bukti-bukti berupa pakaian yang berlubang karena peluru dan foto anggota mereka yang tertangkap. Ada kepercayaan yang dititipkan kepada mereka yang berada di belakang kamera.

Kedekatan antara warga di Lambu dengan mereka yang di belakang kamera juga terlihat ketika Hafiz mendatangi dapur yang digunakan saat peristiwa Bima Berdarah berlangsung. Dapur sangat sederhana dalam pandangan orang kota. Ibu yang bertugas memberikan makanan kepada mereka yang turun di jalan menggunakan kayu untuk memasak. Selain itu, mereka yang di belakang kamera juga diizinkan untuk mengikuti persiapan pernikahan salah satu mahasiswa yang dulunya juga berjuang bersama warga di Lambu. Bukankah dapur dan pernikahan adalah hal yang intim? Bagaimana mereka yang bisa di belakang kamera bisa diizinkan untuk mengikuti keintiman warga Lambu tersebut?

Tetapi kedekatan itu juga tidak begitu dekat. Alit melihat ada beberapa gambar yang diulang-ulang untuk menekankan apa yang berusaha direbut oleh pemerintah dan tambang. Gambar tanah yang akan ditambang dimunculkan berulang-ulang, entah untuk meyakinkan ke penonton atau memang si pembuat film masih berjarak dengan warga. Pun ketika menunjukkan kekerasan di mana kantor kecamatan menjadi sasaran kemarahan warga lokal yang tidak terima tanahnya akan dijual. Aksi bentrok warga dan aparat sendiri diambil dari dokumentasi peristiwa Bima Berdarah. Alit merasakan kehati-hatian di sana. Karena film ini merupakan bagian dari rekontruksi dan penuturan masa lalu disebut sebagai aksi rekontruksi ingatan, maka Hafiz selaku sutradara terlihat hati-hati dalam merangkai rekonstruksi tersebut. Alih-alih menunjukkan bentrokan antara aparat dan warga dengan frontal, ia mengaburkan gambar bentrokan tersebut—entah untuk memperhalus peristiwa yang traumatis itu atau inilah keberjarakan Hafiz dengan masa lalu warga Lambu yang mengalami dan menjalani peristiwa tersebut.

Kamerawan Ogawa masuk ke sebuah gua. Gelap dan sempit. Di depan kamera, salah satu petani yang membangun benteng pertahanan ini menjelaskan apa yang ada di sana. “Ini tempat tidur kami. Ada beberapa kamar yang kami buat. Ini adalah tempat buang hajat. Agak bau, makanya kami buat lubang supaya udara bisa masuk. Kami bawa selimut supaya kami tidak kedinginan di bawah sini.”

Alit merasa petani Sanrizuka sangat mempercayai kamerawan dan Ogawa. Mereka mengizinkan kamera mengikuti mereka rapat strategi atau pergi dari satu benteng ke benteng yang lain. Bahkan kamera juga ikut kecewa dan bersedih ketika salah satu satu benteng Sanrizuka diserang. Kamerawan dan pembuat film sudah dianggap sebagai bagian dari pergerakan petani Sanrizuka. Kelompok mahasiswa yang menjadi pendukung petani Sanrizuka juga pun juga melakukan hal yang sama. Mereka mengizinkan kamera untuk mengikuti kegiatan mereka saat hendak membuat lubang bawah tanah.

Kepercayaan petani Sanrizuka semakin terlihat pada film Narita – Desa Heta (1973). Film ketiga yang berkisah tentang petani Sanrizuka ini diputar tepat setelah Narita – Kaum Tani dari Benteng Kedua. Selama jeda, Alit makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan menonton film Ogawa di Festival Arkipel.

Dalam film ini kamera bisa memasuki tiap rumah petani Sanrizuka usai pengambilan tanah oleh pihak pemerintah. Setiap hari, petani Sanrizuka diteror oleh aparat yang bisa memasuki rumah mereka dan mengambil anak-anak mereka yang dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam peristiwa aksi anti-bandara pada 1971. Menunggu dan marah. Menunggu dan bersabar. Menunggu dalam teror.

Kamera Ogawa mengikuti setiap rapat warga. Mereka berdiskusi apa yang harus dilakukan selanjutnya ketika setiap hari mereka melihat anak-anaknya diambil paksa oleh aparat. Wajah-wajah yang tegar. Wajah-wajah yang menanti. Ketidakpastian menyelimuti.

Belum pula film selesai, Alit segera beranjak. Ia ambil tas dan topinya lalu menuju ke lobi. Orang-orang sudah banyak yang berdatangan. Sekarang malam Minggu, jadi mungkin akan banyak orang yang menghabiskannya untuk menonton film-film komersial yang sedang tayang pikirnya. Kepergian Alit bukan karena film itu terlalu lama durasinya. Alit hanya tidak bisa bersabar. Ia tak sanggup melihat kegelisahan warga.

Aku bisa menerima yang datang tapi tak bisa merelakan yang pergi, pikir Alit.

IV.

“What are you looking at?”

“Only people.”

Alit berkata kepada perempuan yang mendekatinya saat ia sedang melihat ke arah parkir depan TIM dari balkon Dewan Kesenian Jakarta. Alit menyodorkan tangannya, berkenalan dengan H dari YIDFF, Yamagata International Documentary Film Festival, yang khusus datang untuk Arkipel. Ia bercerita kepada H bahwa ia baru saja menonton Ogawa. H tersenyum dan memaklumi keputusan Alit yang keluar bioskop saat film belum selesai.

“I read in Wikipedia that YIDFF was inspired by Ogawa film. Is that right?”

“No. Ogawa was the founder of YIDFF. You know. After Sanrizuka he went right away to Yamagata to make documentary of peasants for years. Then in 1989, the first YIDFF was held.”

“I see.”

Percakapan Alit dan H berhenti ketika teman H, K, menyambangi mereka. K berbunga-bunga. Ia baru saja menyaksikan JKT48. Walaupun ia tidak mengerti bahasa Indonesia, K mengikuti konser tersebut karena lagu-lagu JKT48 sama dengan AKB48 dari Jepang.

Tangan Alit merogoh tasnya sendiri. Ia ambil bungkus rokok mild, mengambil satu batang dengan jari-jari kecilnya, mencari-cari korek. Rokok sudah terjepit di bibirnya. Lipstiknya sudah pudar. Ia memantik korek, menyalakan rokok, lalu mengembuskan isapan pertama. Sinar senja jatuh di jalanan depan Taman Ismail Marzuki. Alit sesekali tersenyum saat orang-orang yang ia kenal keluar-masuk salah satu ruangan di DKJ.

Lalu bagaimana nasib Fajri, Pak Kijo, Anne, Cahyo, dan mereka yang bergerak di  penolakan tambang? Memang gerakan ini sudah berjejaring dengan beberapa gerakan petani di Jawa dan Sumatera, namun teror pengambilan tanah secara paksa masih menghantui. Alit tak mau membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia sudah cukup marah ketika menyaksikan perampasan tanah di Rembang dan Karawang. Ditambah dengan di daerah lain? Alit belum bisa apa-apa. Ia hanya bisa menyaksikan.

Kemudian, bayangan lubang-lubang besar di tanah Kulon Progo, di Rembang, di Bima, menggelayuti matanya.

___________________

*Umi Lestari adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanatadharma.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus