Étienne de Saint-Étienne dan Pesona Konservatisme

Print Friendly, PDF & Email

“DALAM jarak singkat antara masa ketika aku pertama kali menumbuhkan jenggot dan hari ini, ketika jenggotku mulai kelabu, telah terjadi lebih banyak perubahan dan transformasi radikal ketimbang dalam jarak sepuluh generasi, dan kita semua merasa: ‘Ini keterlaluan!’ … Semua jembatan yang menghubungkan hari ini, hari kemarin dan hari sebelum kemarin telah runtuh.” Dengan pengamatan itulah Stefan Zweig membuka memoar yang dituntaskannya tak berapa lama sebelum ia bunuh-diri di Rio de Janeiro, pada bulan Februari 1942. Dalam memoar bertajuk Dunia Hari Kemarin (Die Welt von Gestern) itu, ia menguraikan kesan-kesannya tentang dunia semenjak kelahirannya sebagai warga negara Kekaisaran Austro-Hungaria pada tahun 1881 sampai dengan tahun 1942, beberapa saat sesudah Hitler menganeksasi Austria.

Zweig adalah tipikal intelektual liberal Austria pada masanya: seorang Yahudi yang menerbitkan beberapa novela, menulis artikel tentang musik, berdiskusi dengan Freud, mencibir gerakan Marxis Prusia dan keprimitifan budaya Jerman dibanding Austria, memandang takhayul-takhayul volkisch dengan sebelah mata dan memuja-muja ‘politik akal sehat’ dan ‘nalar publik’. Sebagai seorang intelektual Yahudi yang hidup di zaman kemunculan konservatisme Nazi, Zweig tentu jauh dari pandangan-dunia konservatif. Namun di berbagai bagian memoarnya kita bisa menangkap kesan-kesan konservatif. Yang paling benderang mungkin adalah caranya menatap masa lalu. Die Welt von Gestern menghadirkan masa lalu sebagai ideal yang kepunahannya ke dalam masa kini perlu diratapi. Bagi Eropa di awal abad ke-20, “masa lalu” berarti Eropa yang aristokratik. Namun bagi Zweig yang modernis, aristokrasi itu bukanlah aristokrasi darah, melainkan semacam ‘aristokrasi intelek’, yakni suatu tata sosial yang dipimpin oleh elit kebudayaan di mana massa dan kitsch berada pada satu kategori yang sama. Ia seorang liberal yang begitu menjunjung aristokrasi akal sehat dan, justru karena itu, mewarisi sejumlah ciri dari konservatisme sehari-hari: elitisme, nostalgia dan sejenis puritanisme.

Mengapa konservatisme punya daya pikat bagi seorang intelektual liberal seperti Stefan Zweig? Apa yang membuat konservatisme sinambung dengan liberalisme? Apa sebenarnya konservatisme itu?

***

Tradisi, keluarga, agama, tanah air—empat hal itulah yang biasanya muncul dari mulut setiap konservatif. Keempatnya hampir selalu dipersepsi dalam kerangka nostalgia, seperti mimpi tentang sebuah musim panas yang jauh ketika semua orang belum mengenal dosa, semua orang tahu diri dan belum mengerti arti kata ‘kritik’. Di sana, dibayangkan ada suatu hierarki kodrati yang menstruktur semua makhluk dan benda-benda seturut derajat kemiripan dengan citra-Nya: manusia terpilih, manusia kurang terpilih, hewan-hewan amfibi, binatang tak bertulang punggung, pohon-pohon, batu-batuan, berbagai jenis benda cair dan gas. Lalu seorang konservatif membayangkan Roh Tuhan melayang-layang di atas scala naturae, melampaui hiruk-pikuk dunia, kemudian beralih-rupa ke dalam sesosok Bapak Transendental, duduk tenang di hadapan meja putih: menuliskan Kitab Suci.

Étienne de SaintÉtienne, seorang pemikir obscure yang aktif di pertengahan abad ke-20, menggambarkan itu semua dalam dua jilid risalah filsafat yang kini terlupakan, Roti dan Anggur (Le Pain et le Vin; 1954). Pada jilid pertama, ia mengumbar seluruh khayalan Katolik konservatif tentang tatanan dunia yang semestinya. Dengan gaya berfilsafat yang begitu sastrawi (tipikal sarjana filsafat Prancis), SaintÉtienne melukiskan konstitusi filosofis atas dunia melalui penafsiran ulang kisah penciptaan di Kitab Kejadian. Ia menghadirkan penciptaan dunia sebagai momen pewahyuan yang diturunkan Tuhan pada kenyataan. Di situ, Tuhan adalah sesosok pengarang Ilahiah yang menuliskan ketentuan dasar—semacam AD/ART—alam semesta di ruang kosong dan dengan itu membuat alam semesta ada (lihat Bab 1 buku tersebut yang berjudul Dieu comme un auteur). Beberapa dari ketentuan itu adalah “tidak ada Tuhan selain Aku”, “hormatilah nama Tuhanmu”, “hormatilah orang yang lebih tua”, “belalah negaramu”, “jangan berteman dengan orang homo”, “jangan membaca Das Kapital”, “makanlah menggunakan tangan kanan” dan berbagai ketentuan lainnya. Ketentuan ini berlaku universal dan pelanggaran terhadapnya berarti dosa. Dengan begitu, SaintÉtienne memilah seluruh benda dan peristiwa di alam semesta ini ke dalam dua kategori besar: dosa dan bukan dosa. Keduanya berfungsi seperti lajur debet-kredit dalam sebuah tata akuntansi Ilahi atas hal-ihwal. Dengan cara itu jugalah SaintÉtienne memberikan landasan kokoh, atau apa yang ia sebut “fundamentum inconcussum”, bagi konservatisme.

Pada jilid kedua, ia pungkasi ontologi Katoliknya dengan teori tentang emansipasi politik. Di sana, misteri ekaristi beralih jadi misteri agung ‘persekutuan kaum beriman’ (congregatio fidelium) dalam menumpas para pendosa: kaum komunis, aktivis kemerdekaan Aljazair, kaum homoseksual, para fisikawan, Darwinis dan ilmuwan alam sekuler. Ia membayangkan suatu armageddon, suatu puputan penghabisan seperti dikisahkan dalam Kitab Wahyu, antara orang-orang saleh dan “nabi-nabi palsu”. Kunci kemenangan dalam perang besar ini, menurut SaintÉtienne, terletak pada konsep subjektivitas yang ia tawarkan dalam risalahnya. Baginya, seperti juga bagi Heidegger, sejarah filsafat modern tak lebih daripada sejarah transformasi manusia sebagai subjek, dari apa yang mulanya hamba (subjectum) menjadi pihak berdaulat (subiectum). Di situ terjadi hubris atau ‘kualat’: manusia yang sejatinya hamba Allah malah menyombongkan diri sebagai subjek mandiri. SaintÉtienne mau membalik sejarah seribu tahun itu. Keseluruhan teori emansipasinya didasarkan pada konsepsi subjek sebagai hamba Allah. Dengan begitu, ia mengantisipasi teori subjeksi yang banyak didiskusikan para inteligensia Paris era 1960-an dan sesudahnya sekaligus membawa teori itu pada konsekuensi terjauhnya: sebelum dipanggil sebagai subjek ideologi, subjek kapital maupun subjek tanda-tanda, manusia pertama-tama dipanggil sebagai subjek Allah. Dalam perang penghabisan, tulis SaintÉtienne, “hanya Tuhan yang dapat menyelamatkan kita”.

Risalah itu ditutup dengan sederet lampiran yang mengetengahkan dimensi-dimensi filosofis dari laku hidup beriman. Misalnya, membuat tanda salib ia tafsirkan sebagai gestur “pelampauan atas metafisika” (surmonter le métaphysique), merapal doa rosario sebagai laku “penyangkalan praktis terhadap materialisme dialektis” (dénégation pratique du matérialisme dialectique) dan menerima sakramen pertobatan sebagai “prasyarat pertama emansipasi radikal” (la premier exigence de l’émancipation radical). Dalam lampiran-lampiran itu, kita dapat mengenali konsistensi sikap SaintÉtienne terhadap musuh-musuh bebuyutannya: Marxisme, sekularisme, modernisme. Ketiganya senantiasa ditampilkan sebagai momok yang keberadaannya menyinggung perasaan umat Allah. Konsepsi perubahan sosial yang ditawarkan SaintÉtienne memang bertolak belakang dengan ketiga musuhnya. Ia membayangkan perubahan sosial dengan mengakarkannya pada penelusuran etimologis dari kata ‘tobat’ yang dalam bahasa Yunani Koine disebut metanoia dan dalam bahasa Latin disebut conversio. Dalam bahasa kuno itu, pertobatan melibatkan ‘pembalikan’ atau ‘pergeseran pikiran’ (meta + noeō), yakni peralihan pandangan dari dunia material ke tatanan rohani hal-ihwal. Maka dari itu, masuk akal bila kemudian SaintÉtienne mengartikan emansipasi sebagai suatu gerakan moral, suatu pergeseran pandangan hidup, meninggalkan kedurjanaan saeculum, kekacauan modernitas dan kembali pada tatanan kodrati yang ditetapkan Tuhan pada kenyataan. Konsepsi perubahan dalam konservatisme SaintÉtienne, dengan demikian, betul-betul merupakan anathema dari Marxisme.

Filsafat Étienne de SaintÉtienne tampak begitu fantastis bagi kita yang hidup di zaman sekarang. Pandangannya lebih terasa seperti halusinasi budayawan reaksioner dalam novel Nazi Literature in the Americas ketimbang seperti opini filsuf betulan. Dalam sebuah wawancara di majalah Minute, ia terang-terangan menyebut dirinya “filsuf kontra-revolusioner”. Ia membanggakan tradisi besar konservatisme Prancis—suatu genealogi tua yang merentang dari Jacques Mallet du Pan, Joseph de Maistre, Vicomte de Chateaubriand, Vicomte de Bonald, Henri Vaugeois, Charles Maurras hingga SaintÉtienne sendiri.

Keluarga, negara dan agama bagi SaintÉtienne adalah seperti tritunggal Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Ketiganya adalah momen-momen berbeda dari satu substansi yang sama (les moments hypostatique). Ketiganya diikat oleh apa yang disebutnya sebagai “tradisi suci” (la tradition sacrée), yakni tradisi yang ditetapkan oleh Allah sewaktu Ia menciptakan langit dan bumi. Tradisi itu berfungsi sebagai cetak biru tatanan masyarakat kodrati, dalam arti yang kurang lebih sepadan dengan AD/ART alam semesta. Dibaca melalui prisma itu, “keluarga” adalah tradisi suci yang mengejawantah dalam hubungan darah, “negara” adalah tradisi suci yang mengejawantah dalam hubungan sosial, sementara “agama” adalah tradisi suci yang mengejawantah dalam hubungan antara manusia dan Penciptanya. Ketiganya, dengan demikian, adalah momen-momen berbeda dari tradisi yang sama. Dosa, kesalehan, laknat dan keselamatan ditentukan dari apakah manusia memegang teguh tradisi suci itu atau tidak.

Satu aspek signifikan yang mencirikan pandangan filsafat SaintÉtienne di samping penekanannya pada tradisi ialah peran yang ia berikan bagi agen yang menjadi motor perubahan sosial. Selaras dengan pandangan-dunia konservatifnya, ia menggambarkan agen perubahan itu dalam sosok gembala, yaitu seorang atau segelintir cendekiawan saleh yang berhasil mengebawahkan iptek pada imtak dan dengan kebijaksanaannya menggembalakan masyarakat ke jalan yang ditentukan Allah. Filsafatnya, pada arti tertentu, dapat disebut sebagai ‘filsafat pastoral’. Gembala yang dibayangkannya adalah sosok elit, semacam padri, dengan moralitas lurus, wawasan kultural yang adiluhung dan kemampuan berbicara dalam bahasa akar rumput dan bahasa roh. Dalam hal ini, SaintÉtienne banyak berhutang pada Plato sebagai pemikir pertama yang menteorikan landasan filosofis bagi konservatisme. Hal ini makin diperkuat oleh fakta bahwa SaintÉtienne menulis buku komentar sepanjang empat jilid atas dialog Politeia. Di sana, ia memuji “keberanian sang filsuf dalam menegaskan apa yang barangkali merupakan kebenaran tertinggi dalam politik, yakni bahwa segelintir orang memang ditakdirkan lebih unggul dan memiliki kompetensi lebih untuk memimpin massa rendahan” kemudian menyayangkan kenapa Plato, dalam dialog Nomoi, menjadi agak lunak dengan mengakui konstitusi campuran yang memadukan aristokrasi dan demokrasi—“nerakanya politik” (Démocratie—c’est l’enfer de la politique), kecamnya. Tak heran bila SaintÉtienne memodelkan aristokrasi pastoral ini pada sosok seperti Nabi Musa, filsuf-kaisar Marcus Aurelius dan Paus Bonifacius VIII. Berkenaan dengan Nazi, pandangannya pun konsisten, yakni bahwa “Hitler pada dasarnya seorang Katolik” dan bahwa kekalahan Nazi disebabkan oleh “kelemahan iman orang Jerman pada umumnya”. “Di lubuk terdalam hati saya, saya tetaplah seorang Pétainiste,” kata SaintÉtienne pada wartawan Minute.

***

Lantas apa yang membuat konservatisme macam itu mempesona banyak orang waras? Yang jelas, dari kasus SaintÉtienne, kita dapat menyimpulkan bahwa konservatisme bukan perkara—dan tak dapat diciutkan pada—anti-intelektualisme. Sosok SaintÉtienne sendiri mencerminkan intelektualitas yang tidak remeh-temeh; ia memiliki kepekaan pada teks-teks filsafat Klasik, ketelatenan menelusuri evolusi makna kata sepanjang ribuan tahun, serta kegesitan intelektual untuk mengurai problem-problem filsafat kontemporer yang pelik. Ia sama sekali tak bisa dikesampingkan sebagai sekadar “intelektual bodrex” atau seorang buta huruf yang antusias. Hal yang sama berlaku juga pada para pemikir konservatif kaliber dunia: Chateaubriand, Edmund Burke, Ernst Jünger, Carl Schmitt dan Leo Strauss. Bahkan Goebbels menulis novel, naskah drama dan disertasi tentang konsep teater romantik Wilhelm von Schütz. Pesona konservatisme, singkatnya, bukanlah pesona kebodohan. Akar gejalanya lebih dalam ketimbang itu.

Konservatisme mensyaratkan latar sejarah sosial dan ekonomi-politik tertentu, itu jelas. Tak ada Reich Ketiga tanpa Perang Dunia I, kekacauan sosio-politik Republik Weimar dan kontradiksi kapitalisme. Itu sudah banyak diteliti dalam kajian-kajian tentang gerakan ekstrem Kanan. Di sini, saya akan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, tepatnya dari aspek subjektifnya. Bagaimana konservatisme bekerja dalam alam pikir dan suasana hati orang-orang? Konservatisme memikat orang dengan cara yang serupa seperti halnya fiksi memikat pembaca. Kita seperti diajak masuk ke dalam dunia baru dengan panorama yang fantastis tapi sekaligus juga mudah dipercaya. Kita dengan mudah percaya pada, dan bahkan berempati dengan, sosok seperti Nyai Ontosoroh, Pengeran Hamlet, Toru Watanabe, serta pasangan petani Isak dan Inger. Begitu pula dengan konservatisme. Kita dibuat percaya pada ideal-ideal tradisionalitas, diajak menangguhkan kritisisme terhadap prasangka rasial dan takhayul religio-politik yang ada di dalamnya. Semua ini terjadi bukannya tanpa nalar. Yang lebih tepat untuk dikatakan adalah bahwa di sini, nalar memperoleh signifikansi baru. Secara estetis, ini adalah jenis nalar yang membuka diri terhadap berbagai halusinasi Ilahiah, kegilaan-kegilaan kudus yang paling mengerikan, gelora yang mengharu-biru akan Sang Maha Asing. Dari perspektif konservatif, ini samasekali tidak irasional, ini justru cerminan dari nalar yang telah di-upgrade melalui iman dan takwa.

Kita lihat di sini, pesona konservatisme berasal dari fakta bahwa ia memiliki struktur yang menyerupai fiksi. Konservatisme adalah fiksi tentang tradisi, agama, keluarga dan negara yang tumbuh dari latar sejarah sosial dan ekonomi-politik yang tertentu. Kritik terhadapnya tak bisa diwujudkan dalam bentuk kritik historis, sosiologis dan ekonomi-politik saja; kritik terhadapnya mesti juga menjawab tantangan fiksi. Sebab misteri yang menyelubungi pesona konservatisme adalah misteri yang menstruktur fiksi itu sendiri.

Misteri konservatisme adalah misteri Étienne de SaintÉtienne.***

 7 Juni 2016


comments powered by Disqus