
Tentang Pasang Surutnya Badai Itu: Riwayat Pers Kiri di Indonesia (Bagian I)
Jalan yang kutuju amat panas, Banyak duri pun anginnya keras Tali-tali mesti kami tatas Palang-palang juga kami papas Supaya jalannya SAMA RATA Yang berjalan

Jalan yang kutuju amat panas, Banyak duri pun anginnya keras Tali-tali mesti kami tatas Palang-palang juga kami papas Supaya jalannya SAMA RATA Yang berjalan

SALAH satu penyebab kemiskinan di dunia adalah fakta terjadinya land grabbing (perampasan tanah). Istilah Land Grabbing pertama kali dikemukakan oleh sebuah lembaga pertanian GRAIN di

Kredit ilustrasi:lampost.co PASCA mundurnya Suharto gerbong kereja reformasi segera berlari kencang. Transisi dari rezim Orde Baru (Orba) menuju reformasi turut mengubah motif perpolitikan, salah satunya
Ilustrasi oleh Alit Ambara Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya. Maka pastilah bangsa itu akan musnah (Milan Kundera) Kau boleh bakar kebun

Gambar oleh Alit Ambara (Nobodycorp) BEBERAPA waktu lalu, menteri sosial Khofifah Indarparawansa mengatakan bahwa rencana penetapan Soeharto sebagai pahlawan sudah final dan akan diumumkan


PERDEBATAN tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 (MP3EI) kembali marak belakangan ini. Tak pelak lagi, salah satu sebabnya adalah karena dalam momentum
PROTES-protes heroik mahasiswa anti-komunis di bawah Orde Baru, kerap disebut gerakan mahasiswa. Aliansi segitiga tentara, teknokrat dan mahasiswa mengawali demonstrasi turun ke jalan untuk menumbangkan
MELANJUTKAN artikel sebelumnya, kita akan berbicara tentang ekonomi-politik suara. Politik suara bukanlah tatanan kodrati yang ada sejak manusia hidup di muka bumi. Politik suara adalah produk sejarah. Politik menjadi persoalan pengorganisasian suara manakala produsen politik, yakni massa, telah kehilangan aksesnya pada sarana produksi politik. Separasi historis antara produsen politik dan sarana produksi politik tak lain adalah penceraian antara massa dan kekuatan politiknya. Hasil dari separasi historis ini ialah munculnya suara, yakni kapasitas politik umum yang dihitung berdasarkan jumlah individu abstrak yang menyusunnya. Lebih tepat lagi, dengan diubah menjadi suara, kapasitas politik massa mengalami fragmentasi menjadi kapasitas politik individual. Formasi politik suara tak lain adalah formasi kepemilikan-privat atas kapasitas politik. Ketika massa direduksi menjadi suara, di saat itulah modus politik komoditas mengemuka. Semua kerja dan produk kerja politik bertransformasi menjadi komoditas politik yang seukur satu sama lain karena dilandasi oleh besaran homogen yang sama—suara.

Buku Farjoun dan Machover ini secara umum berupaya mengatasi ketidakpuasan yang muncul dalam menjawab apa yang disebut sebagai ‘problem transformasi’ dalam tradisi ekonomi politik Marxian. Problem transformasi, secara sederhana, berkaitan dengan perdebatan untuk memahami hubungan antara nilai kerja dengan harga pasar yang dipahami secara sama (equal). Dalam kapitalisme, ekspresi paling nyata dari keuntungan dapat dilihat dalam bentuk harga. Semakin besar harga yang diapropriasi oleh kapitalis bisa dipastikan bahwa kapitalis tengah meraup keuntungan besar. Namun, pada sisi produksi, ekspresi atas besaran produksi komoditas, menurut Marx, pada mulanya hanya dapat dilihat pada satuan nilai kerja. Dalam celah konseptual inilah perdebatan problem transfomasi mengemuka.

Lukisan karya Ignatius Dicky Takndare berjudul, Khanikla Mey Moyo Yarate Ate. Kredit foto: Sanjaya Indarto KATA Max Binur,[1] siklus seni dan budaya manusia Papua

“That we all are onward, onward, speeding slowly, surely bettering”
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.