O, Pembangunan Masokhis
PRIVATISASI. Para aktivis mengutuknya. Para pakar mengkritiknya, kerap disertai emosi yang meluap-luap. Para pegawai di instansi bersangkutan cemas dan tersayat-sayat ketika ia datang. Tak berlebihan
PRIVATISASI. Para aktivis mengutuknya. Para pakar mengkritiknya, kerap disertai emosi yang meluap-luap. Para pegawai di instansi bersangkutan cemas dan tersayat-sayat ketika ia datang. Tak berlebihan
KAMPANYE kandidat gubernur Jakarta baru saja usai. Beragam spanduk berisi janji-janji sudah diturunkan. Di balik janji-janji itu kita masih bisa membaca, tidak ada yang berubah
Sastrawan besar -bahkan dapat dikatakan termasuk terbesar yang pernah dimiliki Indonesia- dan progresif, Pramoedya Ananta Toer telah meninggalkan kita tepat satu hari sebelum Hari Buruh

PADA Desember 2010, Tunisia, sebuah negara di kawasan Timur Tengah, diguncang oleh perubahan revolusioner. Pemerintahan diktator yang telah berkuasa puluhan tahun berhasil digulingkan oleh gerakan

Kampus harus tetap menjadi ruang bebas untuk berpikir dan berdiskusi tanpa adanya tekanan dari luar, termasuk militer.

Proyek revolusi tidak memusuhi aparat sebagai manusia, tetapi menantang mereka sebagai bagian dari struktur penindas.
BERTOLT Brecht dalam In Praise of Communism, menyebut komunisme sebagai ‘it’s just the simple thing. That’s hard, so hard to do:’ suatu hal yang sangat sederhana, (namun) sangat, sangat sulit untuk dilakukan.
Pernyataan Brecht seakan relevan dalam pengalaman kekinian kita. Ketika kini universalisasi kapitalisme dalam rupa neoliberalnya menciptakan banyak kontradiksi sosial di mana-mana, seharusnya tercipta kemudahan bagi kita dalam mengorganisasikan perlawanan, lalu mengeliminasi sistem sosial kapitalis ini. Bahwa rakyat yang tertindas oleh kapitalisme akan mudah berjuang bersama-sama dalam rangka menciptakan masyarakat yang lebih baik. Kenyataannya, Brecht benar: ‘sangat, sangat sulit untuk dilakukan.’ Perjuangan menuju masyarakat yang adil di luar kapitalisme, kini justru menghadapi situasi paling rumit dan kompleks yang tidak pernah ada presedennya. Tidak heran, jika bagi beberapa kalangan, perjuangan untuk menghancurkan kapitalisme merupakan kemustahilan. There is no alternative.
Ilustrasi oleh Andreas Iswinarto JOKOWI kembali melakukan kocok ulang kabinetnya. Hasilnya dapat dinilai sangat buruk. Bagi kita yang menghendaki adanya perubahan politik yang mendasar,
JURNAL Socialism and Democracy, dalam edisi terbarunya (Juli, 2010), menurunkan dua artikel yang sangat menarik dari Raúl Zibechi (Autonomy or New Forms of Dominations?) dan Dario Azzelini (Ten Years of Transformation in Venezuela). Kedua artikel ini memang dimaksudkan untuk merayakan sepuluh tahun Revolusi Bolivarian di Venezuela, yang dipimpin Hugo Chavez, pada Desember 2008 lalu. Keduanya juga memotret hubungan antara gerakan sosial dan pemerintahan kiri di kawasan Amerika Latin saat ini.

Seperti agama, sepak bola pun punya dua wajah. Pada gairah dan euforia di sana selalu tersisip kesadaran politis dan perlawanan.

Bagi Zohran Kwame Mamdani, politik yang sehat tidak dimulai dari “berapa banyak orang menonton,” melainkan dari “berapa banyak orang merasa didengar.”
Ilustrasi gambar oleh Andreas Iswinarto BELUM lama ini jagad sosial media digemparkan keributan di jalanan raya Jakarta antara pengemudi yang bekerja untuk kartel angkutan
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.