1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 253

Paling Sering Dibaca

Robekan Terakhir Kalender

DI NUSANTARA, tentu saja waktu, sebagaimana yang kita kenal sekarang, datang bersama kolonialisme. Jika mengikuti waktu tradisional yang bergantung pada alam maka penjarahan yang dilakukan kompeni tidak berjalan maksimal. Pengaturan waktu a la modern pun diperkenalkan. Tentu tidak tanpa perlawanan. Sisa-sisa perlawanan atasnya masih bisa kita endusi dalam frase ‘waktu karet’ alias ngaret. Demikian pula penanggalan yang kita kenal sekarang. Untuk kerja, liburan, hari-hari raya, kita berpegang pada penanggalan Romawi, sedangkan penanggalan tradisional tinggal sebagai ramalan-ramalan nasib hidup. Tentu saya tidak bermaksud bernostalgia dan mengajak kita untuk kembali pada penanggalan tradisional itu.

Meneropong Indonesia Dari Montreal

Pelarangan Buku, Demokrasi di Tanah Rencong, dan Menagih Keadilan di Bumi Timor Leste 18 MARET 2010. SIANG itu langit terlihat mendung. Montreal, kota kedua terbesar

Edisi XXXIII/2015

Daftar Isi: Indonesia dalam Indo: Menghargai Semua Untuk Hindia Bedah Buku: Di Balik Marx, Sosok dan Pemikiran Friedrich Engels Dinamika Kelas Dalam Perubahan Agraria Mengembalikan

LKIP Edisi 30

Kritik – Musik dan Mesin: Futurisme dalam Perkembangan Musik Kliping – The Very Best of Fluxcup Karya – Karya-Karya The Popo Catatan Kawan – 50

Roti dan Etika

SANGAT sering, ketika Anda kehabisan ide menulis, menimba inspirasi dari tulisan orang lain bisa sangat membantu. Itulah yang kini terpaksa saya lakukan. Selain itu, tentu

Jokowi, Rupiah dan Rezim Masa Lalu

SEJAK pemerintahan baru terbentuk, nilai tukar rupiah terus melanjutkan tren penurunannya yang sudah berlangsung sejak sementer II 2011. Namun tren penurunan belakangan ini paling ekstrem

Edisi I/2012

SAAT ini, kita menyaksikan adanya kebangkitan politik kelas di Indonesia. Belum lama ini, untuk pertama kalinya pada masa pasca-reformasi, gerakan rakyat berhasil menahan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Perlawanan yang luar biasa ini sampai mempolarisasi (memecah hegemoni) kekuatan-kekuatan politik dari kelas yang berkuasa di parlemen. Kemudian, kita juga melihat kecenderungan penyatuan serikat-serikat buruh reformis yang besar ke dalam sebuah ’blok gerakan buruh’ yang bernama Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI). Perlawanan terhadap ’akumulasi primitif’ di wilayah-wilayah agraris oleh kaum tani, masyarakat adat dan warga yang dirampas tanahnya pun semakin menajam dan keras.

Lagi, Pelajaran dari Irlandia

PADA hari Sabtu, 27 November lalu, Dublin, ibukota Irlandia, diguncang demonstrasi massal. Sekitar 50 sampai 100 ribu orang turun ke jalan, memrotes paket dana talangan besar-besaran terhadap perbankan yang tengah mengalami krisis. Dana talangan terhadap perbankan itu, dianggap tidak adil karena justru yang paling membutuhkan adalah rakyat pekerja, sebab merekalah yang paling menderita akibat krisis. Ya, dalam beberapa pekan terakhir ini, negara kecil yang bersebelahan dengan Inggris itu, telah menarik perhatian dunia karena krisis ekonomi yang menderanya.

Krisis Irlandia ini memberi pertanda bahwa krisis ekonomi Eropa belum pulih, bahkan cenderung meluas ke negara-negara Eropa Timur. Dan seperti biasanya, IMF, Bank Dunia, dan negara-negara Eropa Barat memandang krisis ini sekadar krisis likuiditas keuangan, sehingga obat pencegahnya adalah kucuran dana talangan (bailout) sebesar $112 miliyar. Dan seperti biasanya pula, jangan berpikir bahwa dana sebesar itu akan dirasakan manfaatnya oleh rakyat pekerja, terutama bagi 400 ribu pengangguran. Bahkan sebaliknya, sebagai imbalan dari dana “penyelamatan” ini, rakyat Irlandia diharuskan untuk berhemat di segala sisi. Misalnya, jaminan kesejahteraan sosial dipotong sebesar 4 persen, pembiayaan sektor publik dipotong sebesar 16 persen, dan pemaksaan upah minimum dan pajak retribusi kepada rakyat pekerja.

Persentase Kemiskinan Turun?

Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan bangga mengatakan bahwa angka kemiskinan tahun ini sudah turun. Karena itu, katanya, bila pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai tujuh persen di

Edisi XVIII/2014

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya sudah melakukan abstraksi secara spontan. Sedari anak-anak, kita sudah belajar melakukan abstraksi. Bilangan 2, misalnya adalah abstraksi dari pola kuantitas bermacam hal yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, seperti dua batu, dua kursi, dua daun, dan seterusnya. Untuk mendapatkan konsep dua, pikiran kita mengesampingkan benda-benda material dimana pola kuantitas itu melekat, sehingga didapatkan suatu konsep kuantitas murni tertentu yang kemudian kita beri nama ‘dua’ atau lambang bilangan Hindu-Arab ‘2.’ Tentu saja proses pemahaman atas bilangan 2 tidak sesederhana di atas. Ada juga misalnya proses komparasi dengan pola kuantitas lain yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, seperti 1, 3, 4, dan seterusnya, yang berjalan dalam pikiran kita, sehingga kita mendapatkan sense of position dari bilangan 2 dalam urutan bilangan yang ada. Tapi, ada proses abstraksi di situ. Dan tanpa kita sadari, kita sudah melakukan hal ini sejak kanak-kanak.

Pemilu dan Depresi Ekonomi

SEBULAN menjelang Pemilihan Umum (Pemilu), dunia dinyatakan resmi berada dalam resesi. Pertumbuhan ekonomi global pada awal tahun 2009 yang semula diprediksi hanya tumbuh setengah persen,

Politik Optimis

PEMILU yang baru lalu memberikan tontonan menarik yaitu akrobat para politikus. Pasangan presiden dan wakil presiden yang berjuang bersama selama lima tahun berpisah; PKS bergabung

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.