
Lord Luhut
Pada momen-momen paling tragikomik, ketrengginasan Luhut menjadikan Jokowi tampak seperti pengamat politik alih-alih presiden

Pada momen-momen paling tragikomik, ketrengginasan Luhut menjadikan Jokowi tampak seperti pengamat politik alih-alih presiden

Kredit foto: radiobudiluhur.com PADA tahun 1944, pemikir anti-kolonial Karibia, Eric Williams, menulis karya klasiknya Capitalism and Slavery. Buku itu berargumen bahwa kekayaan melimpah yang dipompa

Artikel ini hendak menjelaskan secara singkat apa itu politik identitas dan menunjukkan perbedaannya dengan politisasi identitas

Inilah refleksi saya sebagai peneliti bidang ilmu sosial dan ilmu politik selama 7,5 tahun di sebuah lembaga riset milik pemerintah.

Saya merekomendasikan tujuh buku yang memiliki daya gedor untuk melenyapkan legitimasi Orde Baru tentang komunisme dan PKI. Buku-buku yang saya pilih berusaha menawarkan pembacaan sejarah komunisme Indonesia yang apa adanya tanpa penambahan sana-sini—bersih tanpa tangan nakal Orde Baru.

Pendahuluan Politik identitas dewasa ini kian menjadi tantangan teori-teori kebudayaan. Dengan mengendurnya pertarungan ideologis antara liberalisme dan sosialisme dengan keruntuhan Uni Soviet, kini panorama kebudayaan

TIDAK lama lagi kaum buruh Indonesia akan melakukan Mogok Nasional. Salah satu tuntutan utama mereka adalah kenaikan upah. Ada yang menuntut kenaikan upah minimal 50 persen; ada juga yang menuntut kenaikan upah 60 persen. Wajar jika kaum buruh menuntut kenaikan upah tinggi, karena selama ini kontribusi mereka terhadap ekonomi Indonesia terus meningkat, sementara upah riil mereka stagnan. Upah murah memang merupakan sebuah masalah kronis di Indonesia. Pertanyaannya, apa penyebab dari upah murah di Indonesia?

PESAN utama buku ini hendak menjelaskan bagaimana cara kerja imperialisme kapitalis di era neoliberal.. Harvey memulai penjelasannya dengan membahas ‘semua tentang minyak’ dan membandingkan ‘nasib’ Venezuela dengan Iraq dalam ‘Kisah Dari Dua Negara Produsen Minyak.’ Selanjutnya, ia berkisah mengenai keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam kapasitasnya sebagai negara neoliberal yang menginvasi negara lain dengan menggunakan logika kekuasaan teritorial (territorial logic of power) dan logika kekuasaan kapitalis (capitalist logic of power).

Apa yang terjadi di dalam Partai Buruh? Bagaimana kondisi internal mereka? Apakah benar ini hanya alat elite serikat? Apakah kita bisa berharap para mereka? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dalam artikel ini.
TULISAN ini merupakan catatan tentang politik kebudayaan liberal pasca 1965 dan peran yang dimainkan Goenawan Mohamad di dalamnya. Motivasi awalnya datang dari pembacaan atas penelitian Wijaya Herlambang dalam bukunya, Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film. Dalam tulisan ini, saya akan (1) menguraikan data-data baru tentang tema terkait yang didapat dari buku Wijaya maupun dari penelusuran saya secara langsung ke Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, (2) menjelaskan bagaimana anatomi gagasan dari politik kebudayaan berbasis eksistensialisme Camus, (3) menunjukkan peran Goenawan Mohamad sebagai makelar kebudayaan dalam membentuk selera intelektual Indonesia, dan (4) memperlihatkan kaitannya dengan konsolidasi kapitalisme di Indonesia pasca 1965.
Pengantar NEOLIBERALISME, yang sering dipertukarkan dengan fundamentalisme pasar (market fundamentalism) (J. Stiglitz, 2006), menjadi kata yang populer saat ini. Menjelaskannya tidak mudah, tetapi kalau ada

Jika orang lain bisa, saya juga bisa, mengapa pemuda-pemuda kita tidak bisa, jika memang mau berjuang (Abdoel Moeis, pengurus besar Sarekat Islam dan anggota Volksraad)
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.