Lord Luhut

Luhut
Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi oleh M. Awaludin Yusuf, “I will paint living people who breath and feel and suffer and love”.


MAU tahu mengapa Luhut Binsar Panjaitan tidak takut virus Corona? Luhut, pasalnya, tak akan terinfeksi virus Corona. Virus Corona yang akan terinfeksi Luhut kalau mereka coba-coba mendekatinya.

Lelucon sejenis itu tengah merebak untuk alasan yang sudah kelewat gamblang. Kekuasaan Luhut terdemonstrasikan dengan telanjang hari-hari ini. Menyebut sekadar dua contoh yang masih segar di ingatan, ia mencabut kebijakan penghentian bus dari Jakarta, mengoreksi pernyataan Menteri Sekretaris Negara dan Juru Bicara Presiden terkait mudik. Kedua-duanya terkait kebijakan yang akan menentukan nyawa banyak orang. Kedua-duanya tak terkait dengan bidang kementerian yang diampunya.

Pemandangan ini bukan cerita baru. Luhutlah yang sejak awal menjembatani Jokowi dengan partai-partai oposisi di parlemen, tak peduli apa jabatannya pada saat itu. Dialah yang mengatur kunjungan-kunjungan luar negeri Jokowi, ditunjuk sebagai penanggung jawab Konferensi Asia Afrika 2015, gelaran internasional akbar pertama Jokowi, menjadi dirigen pengegolan RUU Pengampunan Pajak. Kantor Staf Presiden didirikan agar ia dapat mendampingi Jokowi dalam rapat-rapat. Kemenko Kemaritiman menjadi Kemenko Kemaritiman dan Investasi supaya Luhut, yang sudah menjabat sejak sebelumnya, dapat mengawasi program-program prioritas nasional dan kebijakan lainnya.

Baca juga: ‘… Dengan cara Indonesia’

Sejak sebelumnya pun di antara orang-orang di Kemenkomaritim, saya dengar, pikiran bahwa pimpinan mereka menangani semua permasalahan negara berkembang wajar.

“Semua diurus Pak Luhut.”

“Semua memang idealnya diurus di sini karena kita negara maritim.”

***

Dari mana kita dapat mulai menggambarkan Luhut agar enigmanya tersebut menjadi masuk akal? Mungkin dari fakta dialah penyokong Jokowi yang paling awal dan yang paling mempercayai potensinya.

Dalam cerita yang mungkin Anda tahu, Prabowolah yang mengusung Jokowi menjadi calon gubernur dalam Pilkada DKI Jakarta 2012, titik mula segalanya. Prabowo melakukannya agar diusung PDIP dalam pilpres 2014. Keadaan berkembang di luar kendalinya saat kepopuleran Jokowi justru melejit sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sisanya adalah sejarah.

Dalam cerita yang dibagikan Luhut kepada Tempo, dialah yang menawarkan kepada Jokowi kesempatan untuk maju di pilkada tersebut. Dialah pula yang percaya Jokowi akan menjadi presiden selepas kemenangannya di Pilkada DKI Jakarta. “Begitu [Jokowi] menang pilkada, saya bilang [kepadanya], ‘Siap-siaplah jadi calon presiden,” ujar Luhut ketika diwawancara Tempo pada 2016.

Keyakinan ini sangat berarti. Kalau Anda ingat konstelasi politik saat itu, kubu Megawati jelas waswas dengan melambungnya kepopuleran Jokowi. Media tak kunjung henti menyorotnya. Setiap kebijakan hingga kesehariannya menjadi bahan berita. SBY, presiden saat itu, hilang dari pikiran khalayak lantaran segenap perhatian tersedot ke Jokowi.

Elite-elite PDIP secara konsisten bilang, Jokowi perlu menyelesaikan tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta terlebih dulu. “Saya rasa belum waktunya [Jokowi dicalonkan],” ujar Taufik Kiemas, suami Megawati dan Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP. Wanti-wanti ini gampang dibaca. Ia adalah peringatan bahwa yang akan diusung oleh PDIP tak lain dari Megawati, yang hanya sempat mencicipi jabatan presiden untuk tiga tahun.

Pada titik ini, jajak pendapat berkali-kali dihelat. Serangkaian jajak pendapat ini senantiasa menunjukkan elektabilitas Jokowi ada di awan-awan. PDIP terus-menerus disuapi persepsi betapa bebalnya mereka seandainya mereka tetap mencalonkan Megawati. Partai-partai lain digoda secara terbuka untuk mengusung Jokowi.

Sponsor serangkaian jajak pendapat tersebut? Benar—Luhut. Luhut mengakui ia membiayainya selain juga menjadi penyokong barisan tim relawan Jokowi. Dan silakan terka siapa yang berada di sisi Jokowi ketika ia mengumumkan kemenangannya dalam pilpres 2014.

Baca juga: Sexy Killers, Batu Bara dan Oligarki

Andil Luhut melapangkan jalan untuk Jokowi tak berhenti selepas 2014. Dialah yang melobi Golkar dari meloloskan anggaran di DPR hingga menggiringnya berbalik haluan mendukung pemerintahan ketika Jokowi tak bisa mengharapkan dukungan PDIP, yang ketua umumnya saja blak-blakan menyebutnya “petugas partai”. Dialah yang memastikan komunikasi tetap terjalin antara pemerintah dengan Gerindra, dan bukan tak mungkin yang menggaet Prabowo masuk ke kabinet mengingat kedekatan lamanya dengan Prabowo.

Sementara, untuk hubungan Jokowi dengan Luhut, keduanya pertama kali bertemu di 2007. Luhut mencari mitra bisnis yang bisa mengelola kayu gelondongan PT Adimitra Lestari, anak perusahaan grup Toba miliknya. Anak buah Luhut mendatangkan Jokowi yang adalah teman sekolahnya. Jokowi dan Luhut pun berkongsi mendirikan PT Rakabumi Sejahtera. Lima puluh satu persen sahamnya dimiliki keluarga Jokowi dan 49 persen dipegang Luhut.

***

Dengan sejarah yang semacam itu, Luhut takkan sungkan wira-wiri sekehendaknya di koridor-koridor pemerintahan Jokowi. Menurut penuturan seorang pejabat Istana pada 2015, Luhut tak pernah menunggu perintah untuk mengatasi persoalan yang dihadapi Jokowi. Jokowi juga tidak butuh memberikan instruksi yang eksplisit kala menugasi Luhut.

Luhut akan mengatakan Jokowi mengambil keputusannya sendiri. Presiden tidak dipengaruhi oleh siapapun. Namun, jujur saja, apa yang tampak dari relasi keduanya? Relasi antara presiden dan menterinya? Saya akan bilang Anda belum sarapan bila Anda mengira relasi mereka sewajarnya relasi presiden dan menteri.

Pandemi Korona bukan cuma menguak birokrasi yang carut marut, menteri-menteri yang tak mumpuni, serta Juru Bicara Presiden yang komunikasinya memprihatinkan dan pengalaman paling utamanya mungkin cuma menjadi buzzer. Ia juga menyingkap bagaimana Luhut mengerahkan kewenangan-kewenangan defactonya untuk menambal kerombengan-kerombengan tersebut. Para pejabat dilangkahinya, kerja-kerja mereka diambil alih olehnya dan, kejutan, tak ada yang memprotesnya.

Dan pada momen-momen paling tragikomik, ketrengginasan Luhut menjadikan Jokowi tampak seperti pengamat politik alih-alih presiden. Jokowi menyampaikan imbauan. Pemerintahan mencetuskan kebijakan yang bertentangan dengan imbauan Jokowi.

Luhut yakin Corona tak tahan dengan cuaca panas Indonesia? Hal ini menjelaskan mengapa pemerintah pusat tak merestui kebijakan karantina yang akan menyembelih ekonomi dan menyebabkan anggaran negara berdarah-darah. Luhut ialah yang mukanya dipertaruhkan dalam kesepakatan investasi dengan negara-negara lain? Tak heran Indonesia berlama-lama dalam keengganannya menghalau lalu lalang mancanegara.

Sebagaimana penulis-penulis yang optimistis, Anda bisa bertaruh bahwa Corona akan mendatangkan kolaborasi global atau masyarakat berbasis produksi yang berfaedah. Namun, bila saya diminta bertaruh, saya akan mempertaruhkan uang saya di apa-apa yang tercetus oleh kingmaker kita itu. Mereka akan ditunaikan lebih cepat dibanding skenario-skenario masa depan lainnya. Luhut mulai mengisyaratkan Corona adalah “flu ringan” sebagaimana Jair Bolsonaro? Bersiap-siaplah diminta untuk kembali bekerja seakan tidak pernah ada wabah yang berjangkit dan mendapati lalu lintas mancanegara dibuka dengan leluasa lebih cepat dari negara mana pun.

Satu meme Luhut yang marak dibagikan hari-hari ini adalah Luhut duduk di atas Iron Throne, singgasana untuk penguasa tujuh kerajaan di Westeros. “King Luhut,” tulis takarirnya, “the First of His Name, King of the Andals, the Rhoynar, and the First Men, Lord of the Seven Kingdoms, and Protector of the Realm.”

Rujukan Game of Thrones ini tak bisa lebih keliru. Luhut tak pernah duduk di atas takhta itu sendiri. Orang lain yang didudukannya di sana. Ia mencukupkan diri dengan mentahannya saja—kekuasaan.

Ia adalah Lord Tywin Lannister. Sosok yang tak pernah bertakhta. Sosok yang paling berkuasa.***


Geger Riyanto, Mahasiswa Ph.D. Institut Antropologi Universitas Heidelberg

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus