‘… Dengan cara Indonesia’

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi gambar oleh Dadang Christanto

 

TIGA PULUH SEPTEMBER lalu, Tuan Luhut, Anda mengatakan bahwa pemerintah tidak berniat meminta maaf kepada para korban pembantaian lima puluh tahun silam. Anda menambahkan, ‘… minta maaf kepada siapa? Siapa memaafkan siapa, karena kedua pihak ada terjadi kalau boleh dikatakan korban.’

Kemudian: ‘Rekonsiliasi kita cari nanti format yang pas dengan cara-cara Indonesia.’

Akhir bulan lalu, menanggapi permintaan negara tetangga untuk membocorkan daftar perusahaan pembakar hutan, Anda juga mengatakan: ‘…kita akan tindak tegas atas pelanggaran yang ada, tapi dengan cara Indonesia…’

‘Dengan cara Indonesia’, Tuan Luhut, nampaknya sudah menjadi mantra buat Anda.

Tapi sesungguhnya, Tuan Luhut, saya sudah tidak tahu apa artinya menjadi Indonesia. Menjawab hal-hal yang lebih kecil tentang asal-usul saya saja, saya masih gagap.

Saking identiknya rezim Suharto dengan Jawa, saya bahkan enggan mengaku terlahir sebagai Jawa kapanpun saya bepergian ke luar pulau. Tuan Luhut, saya juga malas mengaku muslim, bukan saja karena sudah lama saya kehilangan iman kepada segala ihwal supranatural, tapi apa perlunya menjadi muslim di Indonesia ketika kaum apparatchik negara berjualan agama dan menyebarkan kebencian terhadap non-muslim dan sesama muslim?

Sudah lama pula saya kehilangan kepercayaan kepada ‘kelas menengah’ yang diusung para pundit politik sebagai perawat demokrasi. Toh, kelas ini, yang tak mampu naik ke atas lagi takut jatuh ke bawah, lebih banyak bungkam, bahkan nyinyir ketika mereka sebetulnya diuntungkan sesama pekerja yang kebetulan bekerja di pabrik dan bersusah payah memperjuangkan upah serta kondisi kerja yang layak.

Dan ‘dengan cara Indonesia,’ tiba-tiba saja menjadi pertanyaan—kalau bukan lelucon—terbesar dalam hidup saya beberapa hari ini.

Baru-baru ini, dalam kepala saya, Tuan Luhut, ‘dengan cara Indonesia’ adalah wajah Bima Arya, walikota muda berwajah lugu, lulusan kampus tersohor, tapi ternyata cuma politisi medioker yang ikut-ikutan membungkam Syiah dengan dukungan penuh kelompok-kelompok fundamentalis dungu.

Dalam kepala saya, Tuan Luhut, ‘dengan cara Indonesia’ terdengar seperti segerombolan tentara mabuk yang memberondong siswa-siswa SMA di Paniai tahun lalu dan sampai hari ini tak terselesaikan kasusnya.

Dalam kepala saya, Tuan Luhut, ‘dengan cara Indonesia’ sama dengan cara Jawa Pos melempar tudingan ‘preman’ kepada tukang ojek yang ditembak tentara. Seolah-olah semua orang yang dibunuh tentara adalah preman—kalau bukan ‘komunis’, ‘separatis’, ‘teroris’.

Dalam kepala saya, Tuan Luhut, ‘dengan cara Indonesia’ adalah menghabisi nyawa 90 ribu guru di kampung-kampung lima puluh tahun silam. Hanya karena mengajarkan baca-tulis dan berargumen secara rasional di negeri yang mayoritas buta-huruf, lantas negara menggiring mereka ke kuburan massal yang tak terhitung banyaknya?

Sepuluh tahun sebelum Kamboja di bawah Khmer Merah memaklumatkan ‘Tahun Nol’, Tuan Luhut, Angkatan Darat sudah memproklamirkannya.

Angka harapan hidup di Indonesia saat ini adalah tujuh puluh tahun. Orang-orang yang pernah disiksa dan dipenjara tanpa pengadilan ini mayoritas sepuh dan tinggal menunggu galian tanah sedalam enam kaki. Dengan itulah, Tuan Luhut, saya pikir rekonsiliasi ‘dengan cara-cara Indonesia’ begitu akrabnya kita kenal: mengulur waktu sampai korban 1965 mati satu per satu. Tak perlu ada pengungkapan kebenaran, kompensasi, apalagi pelurusan sejarah. Toh, angka harapan hidup sebuah negara beserta aparatusnya bisa berabad-abad sehingga, jika tak ada perubahan yang signifikan, manipulasi sejarah pun bisa dilakukan berabad-abad pula.

Apakah ini, Tuan Luhut, yang Anda maksud ‘cara Indonesia’? Saya harap tidak. Tapi barangkali ‘cara-cara Indonesia’ yang selama ini dipraktikkan tanpa sadar terlanjur meniru sepak terjang Amerika Serikat, Australia, dan Vatikan, yang baru meminta maaf ratusan tahun setelah memusnahkan beberapa generasi penduduk asli di tanah koloni; setelah negeri-negeri ini makmur dan permintaan maaf dirasa tak akan membawa dampak signifikan untuk kelas-kelas politik yang berkuasa.

Tuan Luhut, bagi korban dan kaum tertindas yang tiap hari dihina-dinakan, ‘dengan cara-cara Indonesia’ sama bunyinya dengan ‘keluar kamar jagal kambing, masuk kamar jagal sapi.’

Seorang kawan yang kuliah di luar negeri pada pertengahan 1990-an kerap ditanya teman-teman sekelasnya: ‘Dari Indonesia? Apa sikap Anda untuk Timor-Timur?’ Pada tahun-tahun lainnya, para pelajar-perantau ditanya tentang kematian Munir. Atau Darurat Militer di Aceh. Atau hari-hari ke depan, mungkin mereka akan sekadar ditanya tentang absurditas mutlak bernama ‘Bela Negara’, sebuah program dimana 100 juta penduduk konon akan dilatih untuk berdisiplin oleh sekumpulan pemuda cepak bersumbu pendek, berjiwa labil, kerap indisipliner tapi dipersilakan keliling kota memegang bedil.

Saya pernah dengar kabar, tak sedikit keturunan para pelaku kejahatan lima puluh tahun silam yang bertanya pada bapak-ibunya: di mana kalian pada tahun 1965?

Suatu saat mungkin cucu Anda, Tuan Luhut, duduk sebangku dengan siswa perantauan asal Papua yang bertanya tentang institusi yang sempat membesarkan Anda: ‘Mengapa mereka rampas tanah kami, bunuh ibu-bapak kami?’

Dan dia, seperti saya, tentu akan gagap.

Tuan Luhut, saya hanya bisa berharap agar ingatan tak pernah berjodoh dengan kematian.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus