Mahasiswa Baru, Ubahlah Kampusmu

Jika orang lain bisa, saya juga bisa, mengapa pemuda-pemuda kita tidak bisa, jika memang mau berjuang (Abdoel Moeis, pengurus besar Sarekat Islam dan anggota Volksraad)

Pada usia delapan belas tahun keyakinan kita adalah bukit tempat kita berdiri memandang; pada umur empat puluh lima tahun ia adalah gua tempat kita bersembunyi (F Scott Fitzgerald)

Ketenangan yang membuat kita terlena mungkin lebih berbahaya daripada ribut yang membuat kita terus terjaga (Billi S Pilim)

Untuk memahami dunia dengan cara berbeda, kita harus bersedia untuk mengubah sistem keyakinan kita, membiarkan masa lalu berlalu, memperluas rasa kekinian kita, dan melarutkan rasa takut dalam pikiran kita (William James)

KALIAN dipanggil generasi Z. Sebutan untuk ciri anak muda yang pragmatis, kreatif dan paham teknologi. Katanya generasi kalian itu suka berpetualang, tak loyal pada satu pilihan dan selalu suka mencoba hal baru. Sungguh ini ciri yang menakjubkan. Jika benar seperti itu pasti kuliah akan penuh dengan pengalaman yang mengaggumkan. Tak gampang kalian didoktrin tentang kelulusan. Tak mudah kalian diperintah untuk patuh. Bahkan mungkin juga tak gampang dosen mengajar kalian. Sebab ruangan kelas pasti diramaikan oleh pertanyaan. Kelas disibukkan oleh debat dan silang pendapat. Jujur jika seperti itu aku ingin kembali lagi jadi mahasiswa. Di sana bisa muncul api pergerakan karena kampus bergolak lewat debat, kesangsian, dan pertanyaan. Karena yang ada bukan ketertiban tapi keberanian untuk menyatakan kebenaran.

Hanya aku kuatir kalian tak seperti itu. Karena kampus bukan ladang indah untuk menanam ide-ide radikal. Kini tempat itu memang lebih bagus dan mengaggumkan. Kulihat ruangan kuliah penuh fasilitas. Taman kampus berhias bangku dan bunga. Tiap jalan masuk kampus dijaga oleh satpam yang siap siaga. Belum lagi dosen yang penampilanya keren. Di antara mereka ada yang bermobil mewah dengan jabatan akademik tinggi. Tak hanya itu ada kelas International yang pengantarnya bahasa asing. Aktivitas mahasiswa pun komplit dan tinggal milih. Kamu bisa ikut lomba apapun di kampus sekarang ini. Lomba pidato, lomba wirausaha, hingga olah raga. Singkatnya kampus menjanjikan bukan hanya gelar tapi juga kegiatan yang membuatmu merasa istimewa. Iklan kampus saja sudah serupa dengan tempat wisata: deretan mahasiswa yang riang tertawa gembira.

Tentu semua itu tak gratis. Bayaran kuliah tak lagi murah seperti dulu. Tentu kamu paham ongkos jadi mahasiswa itu besar dan banyak sekali. Di fakultas kedokteran angkanya mengejutkan. Di fakultas tekhnik juga. Di fakultas hukum apalagi. Di fakultas MIPA hal yang sama terjadi. Semua itu menuntut bayaran tinggi. Maka orang tuamu menuntut hal yang sama: bereskan kuliah secepatnya karena biaya kuliah yang gila. Kamu pun punya pendapat yang serupa: kuliah mahal maka jangan buat banyak perkara. Ikuti saja perintah dosen dan patuhi saja aturan yang ada di dalamnya. Itu sebabnya kampus lalu meluncurkan mimpi tentang keberhasilan seorang mahasiswa: kuliah tertib, tinggi nilai dan cepat selesai. Keyakinan absolut itu kalian percaya padahal tak banyak bukti mendukungnya.

Sebut saja nama orang yang berhasil karena kuliah rutin. Jika masih sulit katakan siapa orang berhasil karena nilai kuliah yang tinggi? Mungkin jika kusebut nama ini kalian semua pasti tak asing lagi. Bill Gates, Steve Jobs dan Mark Zurckenberg. Tiga-tiganya setahuku bukan anak yang rajin kuliah. Ketiganya kurasa juga bukan anak yang meraih Indeks Prestasi (IP) tinggi. Diantaranya malah hobi membolos. Tiga-tiganya tak ada yang di- wisuda. Tapi sumbangan mereka atas kemajuan zaman tak ternilai. Gara-gara mereka kurasa kamu mengenal dunia maya. Mereka dinamai nabi teknologi. Di tangan merekalah lahir generasi Z. Tauladan mereka bukan kekayaan tapi petualangan yang gila. Secara antusias mereka meneguhkan sikap sebagai anak muda: menyangsikan keyakinan umum, melawan segala bentuk kemapanan dan memihak pada ide-ide gila. Jujur bukan hanya mereka yang mengawali keberanian itu. Para pendiri Republik jauh-jauh hari menyalakan sikap yang sama.

Jika kamu kenal Soekarno tentu kamu akan terpesona. Pria muda ini tak kita ketahui berapa lama selesaikan kuliahnya. Malahan kita tak tak mengerti rajin tidaknya ia kuliah. Yang jelas semasa mahasiswa dirinya diadili. Sewaktu mahasiswa ikut gerakan politik yang militan. Hingga pemerintah kolonial mengawasi lalu menangkapnya. Juga Hatta yang selalu meyakini kalau melawan kolonialisme adalah kewajiban. Meski kuliah di Belanda tak mau ia ikuti semua aturannya. Saat memilih pulang ia kemudian mencoba menghidupkan kesadaran rakyat akan ancaman imperialisme. Pria yang santun ini kelak akan berdiri di samping Soekarno membaca proklamasi. Sjahrir malah tak mau tamatkan kuliah. Dikenal sebagai pria romantis, pemberani dan cakap diplomasi. Di tanganya ide sosialisme itu hidup. Paling langka, pintar dan berani adalah Tan Malaka. Menulis banyak buku kemudian menjadi buron dimanapun ia berada.

Mereka itulah generasi Z. Bukan kepintaran dalam mencapai nilai tinggi tapi keberanian untuk bersikap beda. Saham mereka tak bisa dinilai dengan buku biografi semata. Di tangan mereka bangsa ini berdiri di atas kehormatan dan martabat. Tan Malaka memberi gagasan yang hingga hari ini belum mampu dicapai: Merdeka 100%. Tuntutan mereka bukan menjadi sarjana tapi orang yang berjuang untuk tegaknya nilai keadilan, kedaulatan dan kehormatan. Jika kamu lihat patung-patung megah di sekujur Ibu Kota itu ide besar dari Bung Karno. Kalau kamu pernah dengar Koperasi itu adalah gagasan Hatta. Bayangkan sebuah ide itu bertahan bahkan ketika para pencetusnya sudah tiada. Kini waktunya kamu berpikir untuk bisa menjadi seperti mereka bukan sekadar jadi sarjana. Sebab merekalah yang membuat kita bangga tinggal di negeri ini. Karena mereka kita bisa punya sejarah yang bisa membuat kagum bangsa-bangsa lain.

Sejarah mahasiswa dari dulu hingga kini tak lain adalah kekuatan pengubah. Perubahan itu bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk bangsa. Mungkin ini terdengar heroik dan kuno, tapi bagi generasi Z petualangan adalah identitasnya. Bukan kepatuhan apalagi kepercayaan buta. Maka jika dirimu adalah wakil dari generasi baru rintislah sesuatu yang beda dari sekitarmu. Tugasmu adalah mengubah keyakinan buta akan peran mahasiswa. Tidak untuk memenangkan lomba apalagi jadi kaya raya. Tidak pula selesai secepatnya atau mendapat gelar setinggi-tingginya. Itu peran seadanya dan amat sederhana. Mari lipat baju rapimu dan simpan HP mu: terjunlah ke arena pergulatan sosial yang menantang dan menjanjikan. Di sana kamu akan bertemu dengan rakyat yang rindu keadilan dan politisi brengsek yang buat kegiatan palsu. Hadapi mereka dengan riang dan jangan takut melawan resiko. Hidup yang tak dipertaruhkan adalah hidup yang tak layak dijalani.

Itu sebabnya kuajak kamu untuk mengubah kampusmu. Jangan biarkan bangunan megah itu menipumu. Hanya membuatnya patuh dan menjadikanmu robot. Rebut hari ini dengan mengubah kelas jadi letusan banyak pertanyaan. Ajari dosenmu untuk mendidik tidak hanya dengan modal menakut-nakuti atau merasa pintar sendiri. Debat mereka jika keliru dan luruskan jika diberi keyakinan palsu. Kuliah bukan tempat untuk menata hati. Kuliah bukan pula tempat para prajurit yang hanya menyatakan siap dan terima saja. Kuliah adalah belajarnya orang dewasa dan berakal: protes itu wajar dan diskusi itu wajib. Lawan kebijakan kampus yang membebanimu. Jangan takut protes jika itu bersangkut paut dengan perkara benar dan prinsip. Keberanian itu bukan modal mahasiswa tapi itulah ciri mahasiswa. Maka ikrarkan dalam dirimu kalau kuliah bukan seperti tamasya. Datang, bayar dan nikmati pelajaran. Kuliah adalah merengguk pengalaman berharga untuk bertarung merebut hal yang terhormat dan mulia.

Nilai itu adalah kedaulatan yang kini sudah perlahan-lahan menghilang. Itu adalah gagasan besar yang lama tak dibicarakan. Itu adalah keadilan yang sudah lama diabaikan. Itu adalah pengetahuan yang kini digantikan oleh keyakinan buta. Rangkuman nilai-nilai itu telah lama lapuk hanya jadi omongan dan tulisan. Bukan karena tak ada yang mau menghidupkannya tapi karena banyak orang jahanam ingin mengenyahkannya. Mereka merusak kedaulatan dengan mencuri apa saja. Koruptor sebutan terhormat. Harusnya mereka dipanggil maling di mana saja. Itu karena pandangan culas beredar dengan cara gila. Dinamailah Pansus hanya untuk mengobrak-abrik KPK. Malah ada milisi yang dengan brutal merusak kegiatan diskusi, menutup pameran lukisan hingga membubarkan acara nonton bersama. Katanya itu komunis dan lainya bilang itu sesat. Harusnya kampus memberi perlindungan bukan malah kalah oleh intimidasi. Mustinya kampus menjamin kebebasan bukan menjebloskan keberanian. Jika kampus berjalan dengan cara memeras dan menekan mahasiswanya: itu bukan ladang belajar tapi ladang judi.

Karena yang dipertaruhkan adalah uang bukan pengetahuan. Yang bermain adalah jabatan bukan kecerdasan. Yang hidup adalah titel bukan karya. Mungkin itu yang membuat dosenmu tak kaya pengetahuan tapi kaya harta benda. Mungkin itu sebabnya jabatan rektor jadi rebutan ketimbang diserahkan pada siapa yang bersedia. Mungkin itu yang membuat mereka ingin jadi pejabat ketimbang jadi pengajar. Jangan kecewa kalau kampus tak memberi kamu rasa keingintahuan. Jangan pula marah jika kampus tak memberi kuliah yang menakjubkan. Jangan juga sedih jika kampus tak memberi kamu keberanian untuk menentang kemapanan. Dulu hingga sekarang kampus hanya untuk bertemu, berjumpa dan melatih dasar keyakinan. Tapi sekarang memang beda situasinya: kampus bisa menciptakan robot keyakinan buta dan lapisan anak muda yang percaya pada apa yang didengar ketimbang apa yang dibaca.

Bayangkan kampus masih mempertahankan tradisi ceramah di depan kelas. Carl Weiman, peraih nobel Fisika 2001, mengatakan itu cara paling kuno. Itu cara sebelum buku ditemukan. Ini metode belajar satu arah. Bisa menciderai sel-sel saraf di otak. Bahkan cara ini menghinamu. Dianggap kamu anak lugu yang tak tahu apa-apa. Kamu itu generasi Z yang jadi pelaku teknologi. Ciri generasimu itu cepat, tanggap, dan kritis. Kemampuanmu yang terbuka, aktif dan selalu berjejaring membikin kuliah beginian tak cocok sama sekali. Maka saat kampus berpusat pada dosen ceramah: itu yang melahirkan mahasiswa penyuka masa lalu. Otak mereka tak terbang menuju tantangan tapi sikap berlindung dan melindungi diri sendiri. Otak mereka berisi kekuatiran, kecemasan dan selalu takut melihat hal-hal baru. Jenis mahasiswa semacam ini muncul di banyak kampus belakangan ini.

Mereka adalah mahasiswa yang memiliki keyakinan diktator. Menganggap dirinya paling benar dan merasa semua gagasan yang tak sesuai sebagai sesat dan bahaya. Ciri itu makin lengkap karena dosen punya keyakinan yang hampir sama: percaya bumi itu datar dan meyakini hidup mahasiswa hanya berpusat pada sarjana, berkeluarga dan mati bahagia. Bahkan ciri itu makin menyala karena kampus bagi gelar akademik tertinggi untuk pejabat dan orang ternama. Sampai kita tak tahu mana orang yang punya pengetahuan dan mana yang sesungguhnya gila akan gelar. Ciri itu makin menggila ketika kampus berorientasi menciptakan mahasiswa kaya ketimbang mahasiswa kreatif dan bijaksana. Kalau kampus jadi rusak kulturnya maka pengetahuan bukan untuk diperdalam, diamalkan dan mengubah keadaan. Pengetahuan hanya jadi lampiran sebuah gelar, tragedi yang melahirkan korban dan ilmuwan yang merusak kehidupan.

Memalukan memang menyaksikan dosen-dosen yang membela pabrik semen. Jadi saksi ahli untuk perkara korupsi. Mau-maunya menjadi penceramah bahaya komunis tanpa argumentasi normal. Bahkan hobi sekali menipu mahasiswa dengan berkata demonstrasi tak ada gunanya sama sekali. Kacaunya lagi, ada kampus yang halamannya bisa dipakai pameran senjata. Rangkaian pendapat dan tingkah konyol itu muncul tak didasarkan pada pengetahuan tapi pikiran sempit dan buntu. Tak lagi mereka membuka diri untuk menjemput pengetahuan baru. Tak mungkin mereka berlaga dalam debat pikiran yang terbuka. Bagi mereka ukuran semua hal adalah dirinya sendiri. Khususnya posisi dan kepentingan ekonominya. Kalau yang semacam itu terbit di banyak kampus maka kuliah bukan mendirikan pengalaman baru tapi mengulang kebodohan lama. Sebab yang dipertahankan adalah kepentingan kuno ketimbang masa depan yang terbuka. Itulah masalahnya di kampusmu hari ini: barisan penjaga kemapanan yang merasa kampus bukan taman pengetahuan tapi penjara tempat anak-anak muda musti tertib seperti serdadu.

Jangan takut oleh persoalan dan jangan cemas oleh masalah. Dari dulu anak muda selalu punya soal serupa. Menghadapi lingkungan yang bahaya dengan orang yang punya pikiran tak sama. Maka tinggalkan kepercayaan palsumu tentang gelar. Berfikirlah tidak untuk dirimu sendiri. Beranjaklah pada potensi dan kesempatan yang kini ada. Kuliah memang tidak untuk tinggal dan duduk di kelas saja. Kuliah hanya pengantar untuk membawa kamu berpetualang kemana-mana. Kuliah hanya awal untuk menguji keberanian dan keyakinan. Maka ingatkan dirimu agar kampusmu tak menjadi penjaramu. Yakinkan bahwa dirimu tinggal di sini untuk sementara maka buatlah perubahan sebisa-bisanya. Perubahan yang membuat kampus tak lagi jadi tempat wisata dan belajar bukan dengan ceramah semata. Ingatlah banyak orang hebat lahir di kampus tidak dengan modal kepatuhan tapi keberanian untuk melawan keadaan. Selamat datang mahasiswa baru. Hari ini kamulah yang akan memutuskan akan jadi apa dirimu di masa depan. Semoga kamu tak sesat mengambil posisi!***

 

Artikel ini semula adalah bahan orasi untuk pembukaan mahasiswa baru di sejumlah kampus dan dipakai untuk disebar luaskan oleh panitia penerimaan mahasiswa baru, baik di UGM, Univ Taman Siswa, Universitas Muhammadiyah, UIN Malang, Untirta Banten dan khususnya untuk bahan sama pada Ikatan Mahasiswa Kedokteran.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065 atas nama Vauriz Bestika. Terima kasih..

Kirim Donasi

comments powered by Disqus