
Oligarki Terus Berkuasa Selama Gerakan Tetap Rimpang
Hanya kekuatan fisik dan massa yang mampu menciptakan disrupsi dan mengubah perimbangan kekuatan agar lebih berpihak pada rakyat pekerja.

Hanya kekuatan fisik dan massa yang mampu menciptakan disrupsi dan mengubah perimbangan kekuatan agar lebih berpihak pada rakyat pekerja.
PADA bulan Agustus tahun 2012, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), mengeluarkan putusan bahwa bencana Lumpur Lapindo bukan pelanggaran HAM berat. Keputusan Komnas HAM ini diambil berdasarkan pemungutan suara di kalangan komisionernya. Dari 11 orang komisioner, 5 orang (Syafruddin Ngulma Simeulue, Kabul Supriyadhie, Nur Khalis, Munir Mulkhan dan Saharudin Daming) sepakat menyatakan bahwa Lumpur Lapindo adalah kejahatan HAM berat, sementara 6 orang yang lain (Ifdhal Kasim, Yosep Adi Prasetyo, Johny Nelson Simanjuntak, M. Ridha Saleh, Hesti Armiwulan dan Ahmad Baso) menyatakan bahwa Lumpur Lapindo bukan pelanggaran HAM berat (Nugroho, 2012). Tulisan ini, akan melihat argumentasi di balik putusan tersebut.

Semua kegiatan informal, dalam perspektif kulturalis, digambarkan sebagai bentuk “solidaritas”, ”kebersamaan”, “saling berbagi”, dan “kepedulian”. Namun, dilihat dari perspektif kelas, itu adalah ikatan transaksional yang rapuh antara rakyat kecil dengan kelas di atasnya

Ada banyak penjelasan untuk mengkritik kebencian masyarakat Indonesia terhadap Rohingya. Namun, dokumen birokrasi yang sudah menjadi “fetish” adalah perihal yang jarang dibicarakan secara serius.

Pandemi menguak wajah terburuk kapitalisme: neoliberalisme

Tidak ada kelas pekerja dalam wacana geopolitik yang bercorak nasionalis dan militeris. Oleh karena itu ia mesti diartikan secara produktif.

Respon untuk Oki Alex Sartono dan Yoga Prayoga PENDIDIKAN adalah medan pertarungan ideologi yang menentukan masa depan sebuah komunitas. Dua tulisan terakhir di IndoPROGRESS

Bertambahnya permasalahan keuangan, utang dan beban dalam reproduksi sosial nyatanya berkaitan erat dengan berbagai bentuk kekerasan yang dialami oleh perempuan dan kelompok marjinal lainnya.

Kapitalisme di Indonesia lebih ditopang oleh tatanan kekacauan ketimbang oleh liberalisme ekonomi, politik dan hukum; dan ini yang membuat gagasan-gagasan teknokratik propasar tidak pernah dominan.

BUKU ini tergolong klasik dalam kepustakaan ekonomi Marxis. Die Akkumulation des Kapitals ditulis Rosa Luxemburg dengan agak tergesa-gesa pada akhir 1912 hingga awal 1913. Edisi terjemahan Inggrisnya baru muncul pada 1951 berkat kerja keras Agnes Schwarzschild. Edisi terbitan ulang tahun 2003 ini mengikuti edisi 1951. Selain masih tetap mencatumkan pengantar dari ekonom Inggris Joan Robinson yang ada di edisi 1951, edisi 2003 ini ditambah dengan kata pengantar dari ekonom Polandia Tadeusz Kowalik.

BEBERAPA hari lagi kaum muslim akan merayakan hari raya Idul Fitri. Hari yang dinanti-nanti oleh jutaan muslim sedunia setelah menjalankan puasa selama sebulan penuh di

Dua aspek yang cukup menonjol dalam praktik agraria di Indonesia, yang akhirnya mengakibatkan ketidakadilan, adalah partisipasi yang manipulatif dan konsep penguasaan tanah oleh negara.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.