
#KaburAjaDulu: Kita Memang Disingkirkan Perlahan
Proyek ekonomi-politik yang menutup akses kesejahteraan memang memaksa rakyat untuk pergi.

Proyek ekonomi-politik yang menutup akses kesejahteraan memang memaksa rakyat untuk pergi.
Tahun 2004, 2005 dan 2006 adalah tahun anomali bagi petani padi Indonesia. Tercatat, produksi beras mengalami kenaikan, dan di awal tahun pemerintah menyatakan bahwa impor
ANALISA EKONOMI POLITIK DALAM rangka menyambut 60 tahun hubungan Indonesia-Cina, majalah Tempo edisi 26 April, menurunkan Liputan Khusus dengan tema “Memburu Investasi”. Dalam laporan panjang itu, terungkap
HANYA karena selebaran brosur tempel, hubungan Indonesia-Malaysia beberapa hari belakangan jadi gonjang-ganjing. Musababnya terletak pada apa yang diiklankan brosur tersebut. Tak seperti brosur-brosur tempel di
Tak jelasnya perlindungan, upaya pemerintah yang minim dalam menyediakan akses pelayanan bagi BMI, tak adanya pengaturan bagi BMI tak berdokumen, dan birokrat-birokrat yang kurang empatik ini akhirnya berakumulasi dan memuncak pada insiden Jeddah. Pemerintah yang tak terbiasa menyediakan pelayanan secara sistematis bagi BMI, akhirnya kelimpungan ketika ribuan BMI tak berdokumen hendak mengurus Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) untuk memperjelas statusnya. Pemerintah yang mengandalkan skema pemadam kebakaran—menunggu kasus dulu baru bergerak—merasa telah melakukan yang terbaik dengan menambah staf, relawan, dan loket untuk melayani pengurusan SPLP. Padahal kenyataannya, tindakan ‘terbaik’ pemerintah ini masih jauh dari akomodatif bagi BMI. Pemerintah hanya membuka loket pengurusan SPLP di Riyadh dan Jeddah, sehingga loket di dua kota ini dipadati BMI dari Makkah, Madinah, Taif, Khamis, Musaid, Najran, Baha, Tabuk dan Jizan. Saat terdapat ribuan BMI mengantre di kantor KJRI untuk mengurus dokumen pemutihan izin tinggal, KJRI malah tutup dan tidak melayani pengurusan dokumen, dengan alasan sedang memproses dokumen yang sudah masuk. Hal ini membuat para BMI khawatir tidak dapat memanfaatkan masa amnesti yang diberikan pemerintah Saudi yang tinggal 23 hari lagi (VOA Indonesia, 2013).
Lucu selentingan cerita di
dusun saya Porong Sidoarjo
rumah, sawah, jalan, pekarangan
semua karam kena lumpur
harta dunia yang peninggalan orang tua
juga karam
ketika lumpur sudah tidak
bisa diajak kompromi
jagad batara dewa
…

Orang berseliweran. Bergegas. Mengejar jalanan, menghindari aksi diam bumi; membiarkan macet terjadi di mana-mana. Bergegas menjemput payung di rumah agar bisa kehujanan uang di hujan kali ini. Bergegas mengejar kereta petang, semoga bisa bebas dari berjejal-jejal tubuh penuh keringat. Bergegas menyilih macet, bergegas mengejar kopi panas, bergegas mengejar…. Begitu banyak orang bergegas-gegasan di trotoar, di seperempat badan jalan. Angin setubuhi awan, jatuhlah hujan. Berlomba-lomba mereka lari ke bumi menciumi aspal. Orang-orang mulai berlari, payung-payung mengembang, jalanan mulai penuh, halte pun sumpek.

BUNG Joko, Pagi ini saya membaca pidato pertama Bung sebagai Presiden Republik Indonesia. Tentu lebih bergigi ketimbang pidato SBY. Saya senang Bung yang lebih banyak

Teori – Nasionalisme Sebagai Teknologi Pengaturan Kliping – Partisipasi Nan Gembira Catatan Kawan – Jokowi Sebagai Biang Hipster Karya – Berantas Pelacuran Karya – Terbalut
Kau lahir dari rahimku yang memar, anak ku ketika tentara-tentara itu membuka lebar selangkangan dan harga diriku mencabik dan menghamburkan cairan birahi melampiaskan nafas jalang
DIA BARU SAJA menenggak habis bir Tequila di tangan kirinya, ketika aku tiba dan bergabung bersamanya di sebuah meja. Di sana ada beberapa kawan, tempat
Memahami Gerakan Perlawanan Publik untuk Pendidikan Murah PADA AKSI MENENTANG G20-TORONTO lalu, saya mengenakan kain merah bersegi empat-berpeniti emas itu. Sejak itu pula ikon ini
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.