
Kulit Putih, Kesan Cantik dan Pendisiplinan Tubuh Perempuan
Judul buku : Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional Penulis : L. Ayu Saraswati Tahun terbit : 2017, Cetakan kedua: 2019 Penerbit

Judul buku : Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional Penulis : L. Ayu Saraswati Tahun terbit : 2017, Cetakan kedua: 2019 Penerbit

Kohei Saito membuka kembali diskusi tentang krisis antroposen dari kacamata marxisme. Krisis adalah konsekuensi tak terelakkan dari sistem ekonomi politik sekarang: kapitalisme. Ia pun mengusulkan tawaran solusi. Tapi, apakah cukup?

ADA banyak hal yang diajarkan masyarakat kepada kita tentang apa yang kodrati dan apa saja yang tidak. Dua di antaranya ialah perkawinan dan keluarga. Dari

Pemerintahan Prabowo akan melanjutkan apa yang ada sekarang, mengupayakan stabilitas dengan mengakomodasi banyak kelompok. Namun tetap ada potensi instabilitas di dalamnya, termasuk dari perlawanan masyarakat.
KALAU ADA teori Marx yang paling mengundang perdebatan, tidak salah lagi, itulah teori tentang Negara. Debat ini mungkin tak perlu muncul, kalau saja Marx sempat

Pembungkaman wacana kiri yang didukung dengan sebuah pengkeramatan religius akhirnya mempermudah penetrasi ideologi kapitalisme neoliberal di Indonesia. Potensi Pancasila sebagai benteng terhadap ideologi kapitalisme neoliberal menjadi terbengkalai karena begitu kuatnya pentabuan religius terhadap pemikiran kiri.

Rakyat tidak mempunyai pilihan partai politik yang bisa menjadi saluran aspirasi mereka untuk beroposisi, termasuk Partai Buruh yang menyatakan mendukung Prabowo-Gibran. Kekosongan tersebut harus diisi dengan pembangunan partai politik yang akan menjadi alat perjuangan terhadap rezim yang baru.

“Saya merekomendasikan tujuh buku yang wajib dibaca dan dibedah, agar sedapat mungkin mengubah pandangan yang bias dan kabur menjadi kokoh dan fokus. Saya kira tujuh buku ini kiranya menjadi moda terakhir yang dapat menjadi senjata agar generasi “Indonesia Emas” tidak benar-benar menjadi kaleng rombeng.”

Waktu kerja dan persepsi “produktivitas” sejatinya merupakan cara kapitalisme mengontrol kita agar terus bergerak sebagai alat produksi

Mengapa perlawanan masyarakat justru melemah?

Dalam kerangka neokolonialisme, negara-negara yang ditaklukkan tetap berdiri secara formal, lengkap dengan institusi-institusi lokalnya yang berfungsi menjaga keutuhan sosial masyarakat. Namun kedaulatan mereka sesungguhnya telah terpecah-pecah. Pengerukan kekayaan ke luar negeri dan campur tangan terhadap dinamika politik dalam negeri berlangsung atas seizin dan keterlibatan para birokrat politik domestik sendiri.

Memikirkan kembali perjalanan studi doktoral selama satu tahun membuat saya semakin menyadari banyak hal. Bahwa pekerja kampus sama seperti pekerja lain; betapa pentingnya kerja perawatan; pembangunan tak merata; dan mendesaknya iklim akademik yang sehat
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.