Pemerintah Gagal, Rakyat Menderita
Seratus tahun kebangkitan nasional yang kita peringati 20 Mei kemarin, seharusnya diisi dengan perayaan dan parade yang penuh sukacita. Namun, apa hendak dikata, menjelang seabad
Seratus tahun kebangkitan nasional yang kita peringati 20 Mei kemarin, seharusnya diisi dengan perayaan dan parade yang penuh sukacita. Namun, apa hendak dikata, menjelang seabad
IRONIS, absurd. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan permasalahan buruh migran di Indonesia. Begitu banyak masalah yang muncul tapi, tidak ada tindakan konkrit ke

PENGALAMAN ‘bulan madu’ pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat serta stabil, tengah berada di persimpangan jalan. Hingga saat ini, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sudah
Foto diambil dari jakartagreater.com DALAM buku Membedah Tantangan Jokowi-JK, saya menulis bahwa pasangan ini mewarisi sebuah negara yang sangat buruk kondisinya. Tahun ketika Jokow-JK
SALAH satu fakta menarik dari Pemilu 2009 ini, adalah banyaknya aktivis progresif yang bergabung dengan partai politik (parpol) elite atau mendukung figur elite politik tertentu.

Ilalang Zaman adalah band multigenre yang menuliskan lagu-lagu yang mengangkat permasalahan-permasalahan sosial, antara lain berhubungan dengan kritik terhadap media korporat (“Persetan Media”, “Jurnalis Palsu”), common sense (“Apa yang Kita Rayakan?”), dan penindasan (“Sesaji Raja untuk Dewa Kapital?”, “Kalimantan”, “Palestina”, “Jangan Diam”, “Papua”). Nama Ilalang Zaman dipilih karena dinilai merepresentasikan gagasan yang diusung para personelnya dalam lagu-lagu mereka. Seperti ilalang dalam arti sebenarnya—gulma bagi tanaman mapan—Ilalang Zaman pun beritikad untuk menjadi gulma bagi kemapanan di zaman mereka hidup. Kini, Ilalang Zaman tengah menggarap album indie perdananya.
DI SEBUAH gedung fakultas hukum suatu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur, pernah ada pencuri tertangkap basah di siang hari bolong. Seperti lazimnya, dia dipukuli
Saat Aku Pulang JALAN berbatu dalam sepi yang memuntahkan kantuk, mungkin tak akan ada lagi di desa ini. Desa yang untuk pertama kalinya merayakan tujuh
Beginilah kira-kira wajah pemberitaan yang kita konsumsi sehari-hari. Perempuan dipolitisasi tubuhnya, diatur gerak-geriknya, dan dianggap wajar untuk diperkosa. Bahkan, anggapan ‘perempuan sebagai barang’ pun masih kentara di zaman ini. Terakhir, kasus korupsi seolah tidak menarik jika tidak dibumbui perempuan cantik. Duh, sungguh formula film laga kelas B Hollywood.
Maka, wajar jika kita harus terus mengulang kisah ini di setiap bulan Maret. Seabad silam, dalam sebuah Konferensi Internasional Pekerja Perempuan tahun 1910, Clara Zetkin, salah seorang pemimpin Partai Sosial Demokrat Jerman, mengusulkan ide Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day). Sejak tahun 1913, hari tersebut dirayakan setiap tanggal 8 Maret. Saat ini, di hampir 27 negara, termasuk Afganistan, Kamboja, China, Kuba, Laos, Madagaskar, Rusia, dan Vietnam, tanggal 8 Maret merupakan hari libur nasional. Namun, apa gunanya jika terus mengulang perayaan dan kenangan, sementara di saat yang sama, penindasan pada perempuan terus juga direproduksi; penindasan-penindasan yang sama namun dengan kemasan yang berbeda—bak Sisiphus yang selalu mendorong batu yang lantas menggelinding lagi ke bawah. Apakah kita sadar, kita adalah Sisiphus dalam kasus ini?
TAK lama lagi, kita akan bertemu dengan tanggal 21 Mei. Pada tanggal itu, 12 tahun lalu, gerakan massa besar-besaran yang bertemu dengan momentum krisis ekonomi,

DALAM sejarah politik dunia, hampir tak ada bukti kuat dan meyakinkan yang menunjukkan bahwa sebuah aksi teroristik bisa menjatuhkan pemerintah atau rezim yang berkuasa. Aksi-aksi

PADA 15 Mei 2016, Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (SPRI) menggelar Kongres Rakyat Lawan Penggusuran di Kolong Tol Ir. Wiyoto Wiyono, Penjaringan, Jakarta Utara. Acara yang
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.