1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 240

Paling Sering Dibaca

Edisi XLI/2016

Daftar Isi: Anarkisme dalam Narasi Perlawanan Global Memori Kolektif, Perspektif Korban dan Marwah Peradaban Wawancara Antonius Made Tony Supriatma   AKSES terhadap informasi serta platform-nya yang

Korengan

SEBUAH kafe di sudut Jakarta. Bocah lelaki sepuluh tahun, berkaus kumal, badan kurus legam dengan kaki korengan menggelesot di dekat pintu masuk. Kepalanya separuh rebah

Menegaskan Yang Ilmiah dari Yang Utopis

Tanggapan untuk Airlangga Pribadi dan M. Fajar TULISAN saya sebelumnya Mengilmiahkan Yang Utopis, memperoleh tanggapan yang berbobot dari Airlangga Pribadi (di sini). Demikian pula, artikel

Edisi XXII/2014

Daftar Isi Edisi Ini: Kapital dan Ketimpangan Abadi Globalisasi Neoliberal, Kemiskinan, dan (Lalu Apa?) Solusinya   POLITIK memang tidak selalu mudah. Bekal ideologi tanpa ada

Hasrat Seks Tidak Perlu Pornografi

DALAM upaya melindungi moralitas bangsa, pemerintah kita rupanya masih mempraktikkan P4, yaitu: Pelarangan, Penindasan, Pencekalan, dan Penggerebekan. Karena itu, ditengah riuhnya isu-isu pornografi, pemerintah kita

Anak-Anak Thatcher

MUSIM dingin 1978-79 adalah masa yang kurang bersahabat untuk orang-orang Inggris. Musim dinginnya bukan hanya dingin dan bersalju, tapi juga kurang bagus buat ekonomi. Toko

Edisi VI/2013

TAHUN 1637, seorang matematikawan cum pengacara Perancis, Pierre de Fermat, mengajukan satu teorema tersulit dalam sejarah perkembangan teori angka. Teorema ini dikenal sebagai teorema terakhir Fermat (Fermat’slasttheorem). Teorema ini menyatakan bahwa tidak ada tiga integer positif a, b, dan c yang dapat memberikan solusi pada persamaan an+bn=cn bagi setiap nilai integer n yang lebih besar dari dua. Teorema ini sendiri merupakan perluasan dari teorema segitiga Phytagoras dengan derajat problematisasi yang lebih tinggi. Banyak matematikawan tersohor dunia seperti Carl Frederich Gauss, Leopold Kronecker, Sophie Germain, Georg Cantor, berupaya membuktikan teorema ini. Sayangnya, para matematikawan tersohor ini tidak mampu untuk memecahkan teorema terakhir Fermat. Bahkan seorang filsuf empirisis seperti Karl Popper, sempat berujar bahwa teorema ini lebih tepat dikatakan sebagai konjektur, suatu proposisi yang keliatan logis namun tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Walau begitu, situasi itu berubah ketika teorema ini berhasil dipecahkan pada tahun 1995 oleh Andrew Wiles, seorang matematikawan Inggris yang mengajar di Universitas Princeton, AS. Wiles membuktikan teorema terakhir Fermat dengan menggunakan perhitungan representasi Galois terhadap konjektur Taniyama-Shimura, yang kemudian memberikan ekuasi logis terhadap teorema Fermat itu sendiri.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.