Edisi XX/2014

Print Friendly, PDF & Email


Daftar Isi Edisi Ini:

  1. Penghancuran Buku dalam Sejarah Umat Manusia oleh Rio Apinino (Review)
  2. Perjuangan Kelas Melalui Reklaiming Hak Atas Kota! oleh Dicky Dwi Ananta (Review)

 

 

PADA tanggal 8 Maret lalu, Perempuan di seluruh dunia merayakan hari kemerdekaannya. Tidak terkecuali di Indonesia. 8 Maret adalah hari yang menandakan dimana perempuan adalah juga kelompok yang sangat revolusioner, yang tidak hanya terkungkung di bawah tempurung rumah tangga, yang sekadar berkutat dengan urusan dapur, sumur, dan kasur. 8 Maret adalah sebuah proklamasi bahwa perempuan adalah setara dengan laki-laki, memiliki hak yang sama di bidang sosial, ekonomi, politik, dan budaya.

Dan proklamasi kesetaraan itu, dalam sejarahnya, tidak hanya berlangsung secara pasif tapi juga aktif, bahkan revolusioner. Seperti ditulis oleh LBH APIK, di zaman Yunani Kuno, Lysistrata menggalang gerakan perempuan agar melakukan mogok berhubungan seksual dengan pasangan (laki-laki) mereka untuk menuntut dihentikannya peperangan; dalam Revolusi Prancis, perempuan Paris berunjuk rasa menuju Versailles sambil menyerukan ‘kemerdekaan, kesetaraan dan kebersamaan’ menuntut hak perempuan untuk ikut dalam pemilu. Pada 8 Maret, perempuan-perempuan buruh pabrik di Rusia, turun ke jalan-jalan berdemonstrasi menuntut kepada rezim diktator Tzar untuk menyediakan kepada rakyat ‘roti dan perdamaian.’ Demonstrasi buruh perempuan itu, tulis Leon Trotsky, membuat revolusi yang semula hanya bisa diramalkan kini menjadi demikian nyata.’

Namun, sejarah menunjukkan bahwa posisi perempuan dalam masyarakat mengalami pasang-surut, seturut perkembangan ekonomi dan politiknya. Bentuk-bentuk penindasan terhadap perempuan juga semakin bervariasi. Akibatnya, hingga kini kekerasan terhadap perempuan tetap marak di mana-mana; diskriminasi dan  lemahnya kemajuan agenda perempuan secara politik menjadi persoalan yang seolah tak juga menemukan arahnya. Demikian juga posisi perempuan secara ekonomi masih sangat lemah. Secara kultural, khususnya di Indonesia, upaya-upaya mengurung perempuan dalam lingkup dapur-kasur-sumur, juga semakin menguat. Jika orde baru menggunakan tangan-tangan birokrasi dan militer untuk mengurung perempuan, kini upaya itu dilakukan melalui instrumen legal-keagamaan yang puritan dan represif.

Dalam kondisi ini, maka peringatan hari Perempuan Internasional 8 Maret, selayaknya dimaknai sebagai momen untuk merevitalisasi kesadaran kaum perempuan, bahwa perempuan  kedudukannya setara dengan laki-laki. Bahwa perempuan tidak hanya seorang ibu rumah tangga, tapi juga seorang pembebas, seorang revolusioner yang sangggup mengubah masyarakat dan dunia.

Di lain pihak, bagi gerakan perempuan, 8 Maret juga mesti menjadi momen untuk mengevaluasi kembali teori, metode, dan strategi-taktik perjuangan selama ini. Pertanyaan sederhana bisa diajukan, mengapa gerakan perempuan masih begitu lemah dan terfragmentasi dengan tajam? Tentu saja bukan berarti tanpa kemajuan. Hanya saja, kemajuan gerakan perempuan dalam banyak hal, nyatanya juga belum mampu menghasilkan teori feminis baru yang bisa memecahkan problem klasik dalam gerakan perempuan selama ini: terpisah dari persoalan kelas atau terintegrasi dengan perjuangan kelas.

Banyak feminis, seperti Maria Mies dan Silvia Federici, berusaha memecahkan kebuntuan persoalan itu dengan memunculkan kembali wacana-wacana politik dalam gerakan perempuan selama ini dengan perspekrtif yang lebih segar. Namun, apakah itu cukup? Bukankah gerakan perempuan di Indonesia juga seharusnya bisa menghasilkan rumusan-rumusan baru demi kemajuan agenda politik perempuan di Indonesia?

Untuk itu kehadiran Left Book Review (LBR) IndoPROGRESS, dimaksudkan untuk menjadi salah satu media yang dapat mendorong kemajuan politik dalam gerakan perempuan, dengan menghadirkan ulasan-ulasan teori feminis yang tengah berkembang dan memantik diskusi secara lebih luas. Harapannya agar bisa mendorong hadirnya wacana-wacana baru sekaligus mendorong keterlibatan para feminis secara lebih luas.

Demikianlah dalam edisi Maret ini, LBR menghadirkan review buku Fernando Baez oleh Rio Apinino, yang bercerita tentang sejarah penghancuran buku dari masa ke masa. Melalui Baez, kita dibertiahu bahwa salah catu cara terbaik untuk menindas rakyat adalah dengan menghancurkan akses mereka kepada ilmu pengetahuan. Lalu ada review buku David Harvey berjudul Rebel City, oleh Dicky Dwi Ananta yang beruppaya untuk memproblematisir problem kota dalam hubungannya dengan perjuangan kelas dan krisis kapitalisme itu sendiri.

Selamat membaca!***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus