
Pengalaman Menjadi Petugas KPPS Pileg 2014
Ilustrasi oleh Timoteus Anggawan Kusno Pemilihan Umum Legislatif 9 April 2014 kemarin adalah acara perhelatan di mana saya didaulat menjadi petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan

Ilustrasi oleh Timoteus Anggawan Kusno Pemilihan Umum Legislatif 9 April 2014 kemarin adalah acara perhelatan di mana saya didaulat menjadi petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan

SAYA akan mengawali pemaparan saya tentang agama dan ideologi ini dengan cerita tentang dua peristiwa. Yang pertama, reaksi seorang teman, mahasiswa teologi, ketika mendengar cerita

DOB sesungguhnya tidak inklusif dan partisipatif karena bias kepentingan elite. Bagi orang Papua, pemekaran tak ubahnya siasat Jakarta untuk memecah belah.

Di masa Hindia Belanda ada tiga masalah polisi: korup, sewenang-wenang, serta menjadi alat politik penguasa. Tak banyak yang berubah setelahnya.

Generalisasi atas ekspresi politik kelas menengah yang didasarkan pada kondisi-kondisi objektif historis berpijak pada bukti-bukti empiris yang meragukan

Siapa yang diemansipasi melalui otomasi? Siapa yang menikmati hasil kerja robot dan teknologi pengganti manusia?

Kerja-kerja penelitian masyarakat agraria berbasis kelas (ekonomi-politik) ini perlu digencarkan untuk menandingi wacana dominan tentang kelembagaan dan populisme agraria saat ini

Soeharto berhasil menemukan jalan bedilnya sebelum berusia 20 tahun. Perang dan revolusi lalu membuat derajatnya melesat tinggi.

APABILA kita mendengar nama “Gerwani/Gerakan Wanita Indonesia”, segera saja fantasi kita melayang pada sebuah film fiksi yang wajib ditonton anak-anak sekolah antara dekade 1970-1980an, film

“Estetika bukanlah disiplin ilmu. Estetika adalah sebuah gaya berpikir yang lahir di era Revolusi Prancis, juga dengan gayanya yang khas, cara berpikir ini mempertanyakan (menggoncang) tatanan hierarkis”
Di saat hiruk-pikuk dan gegap-gempita ucapan belasungkawa, transaksi politik dan proses saling dukung mendukung, serta manuver-manuver politik menjelang ajang pemilu, kita menyaksikan betapa semakin langkanya pemberitaan mengenai rakyat miskin yang meninggal karena kelaparan, buruh yang mengalami ketidakadilan kerja, kaum tani yang dirampas haknya, hingga kelompok minoritas keagamaan yang terusir dari rumah ibadah dan kampungnya sendiri. Tuduhlah saya sebagai seorang romantik, namun saya pikir kita patut kesal terhadap keadaan ini. Karena itu selama koran, televisi dan media masih melaporkan pertumbuhan dan bukannya kesenjangan ekonomi, naik-turunnya harga saham dan bukannya harga-harga kebutuhan pokok, upacara dan penghargaan para pejabat dan bukannya pelanggaran atas hak-hak sipil dan politik warga biasa dan menganggap kemiskinan serta pelanggaran HAM sebagai statistik belaka, maka kita patut kesal – dan karenanya kita, rakyat jelata, perlu menulis sejarah kita sendiri.

SUKSESNYA rekonsolidasi kekuasaan elite, melalui dibentuknya sekretariat gabungan (setgab), yang dipimpin oleh ketua umum partai Golkar, Aburizal Bakrie, telah menyebabkan larisnya teori Kartel Politik sebagai
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.