
Cak Tarno
Cak Tarno dan kedai bukunya. Kredit foto: Cak Tarno Institute (CTI) – WordPress.com KIOS buku itu kecil saja. Lima orang berada di dalamnya, ia sudah

Cak Tarno dan kedai bukunya. Kredit foto: Cak Tarno Institute (CTI) – WordPress.com KIOS buku itu kecil saja. Lima orang berada di dalamnya, ia sudah

Kredit foto: Kumparan.com Tulisan berikut ini penulisan kembali pernyataan sikap bersama Aliansi Masyarakat untuk Keadilan (AMUK), BEM Seluruh Indonesia (BEM SI), Gerakan Buruh Bersama Rakyat

Penafsiran awal dari (Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844) KETIKA pertama kali terbit pada tahun 1932, Manuskrip Ekonomi-Filsafat tahun 1844 menjadi salah satu materi utama pertentangan antara

SEJAK rezim Orde Baru (Orba) berkuasa pada 1965, hubungan antara Agama dan Marxisme dikonstruksikan seperti air dan api, terpisah dan saling meniadakan. Dalam konstruksi Orba,

DALAM artikel Muhammad Ridha[1] yang membahas ihwal kelanjutan diskursus kelas menengah menciptakan satu kesimpulan menarik, bahwa sesungguhnya kelas menengah Indonesia merupakan konstruksi politik dari paham

Kredit foto: democracyandclasstruggle.blogspot.com Tanggapan atas tulisan Bagus Anwar yang berjudul “8 Tesis Politik Alternatif”. KAMPANYE politik alternatif selalu mengemuka tiap 5 tahun sekali, persis seperti

Jurnal Indoprogress III/ Januari 2013 Krisis ekonomi 1997 memberikan pemahaman kepada rakyat Indonesia bahwa rezim ekonomi politik otoriter Orde Baru Soeharto yang saat masih berkuasa,

Kredit ilustrasi: Putu Deoris TIDAK ada satupun orang waras di Indonesia yang menyangkal bahwa apa yang dilakukan oleh Setya Novanto (SN) sekarang ini adalah

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) ADA dua idiom yang tengah santer di kuping kita hari-hari ini. “Kecil” dan “Insignifikan.” Gerakan kiri, katanya, “kecil” dan

(Sekedar Renungan Menjelang 50 Tahun Tragedi 65) Aku seorang kapiten mempunya pedang panjang kalau berjalan prok prok prok aku seorang kapiten! LAGU ini sering

Islam mendorong kita untuk berpengetahuan, memahami kontradiksi dalam sistem sosial, ekonomi, dan kesehatan kita, dan mendorong penyelesaian masalah secara ilmiah.
MARILAH kita bayangkan sebuah situasi yang tak jarang kita jumpai. Salah seorang kenalan lama yang baru saja bertemu kembali berdiskusi dengan kita tentang situasi politik dan ekonomi aktual. Dalam tahap tertentu pembicaraan itu, mengetahui bahwa kita adalah Marxis atau bersimpati pada Marxisme, ia kemudian melontarkan pertanyaan yang tipikal: ‘Tapi bukankah analisis Marxis tentang kapitalisme terbukti keliru? Nyatanya, kapitalisme tak niscaya runtuh seperti diprediksi Marx. Malah sebaliknya, sekarang kapitalisme tumbuh subur di mana-mana. Bukannya itu menunjukkan bahwa Marxisme gagal?’
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.