Teknopolitika Kemudahan Hidup

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrator: Alit Ambara (Nobodycorp)

 

KERAP kali kita meyakini bahwa teknologi itu memudahkan hidup. Puluhan ribu ratus juta variasi versi keyakinan tidak susah kita temukan menjelma dalam slogan dan rayuan-rayuan iklan perkakas, piranti, dan aplikasi hi-tech yang mengepung kita hari-hari ini. Bahkan saya merasa dungu kalau harus membuktikan betapa umumnya ungkapan ini dengan memberikan tautan sana-sini.

Namun demikian, apabila kita mau ambil waktu, rileks, dan mencoba menimang-menimang ulang ungkapan ini—bahwa “teknologi memudahkan hidup”—kira-kira apa benar demikian? Jika memang benar, tapi kehidupan siapa yang dimudahkan dengan/oleh teknologi? Bapak saya yang hobi memasak memang dimudahkan hidupnya dengan microwave, namun lain soal kalau tentang android yang ia beli setelah mendengarkan gumaman penjual mengenai spesifikasi gawainya. Saya yakin bapak saya bukan satu-satunya makhluk generasi kelahiran 50-an yang sedikit-sedikit menelepon anak-anaknya sekadar untuk minta diberi tahu bagaimana mengganti wallpaper, atau mengganti foto profil medsosnya. Rekan kerja saya yang kelahiran 70-an pun juga dimudahkan dengan teknologi kendaraan bermotor, namun di sisi lain, bayangkan betapa terperanjatnya saya saat mendapati beliau meng-uninstall Office 2016 untuk dikembalikan ke Office 2007 bahkan hanya dalam tiga hari setelah beliau memuji-muji kecanggihan fitur 2016 saat pertama kali diajari! Alasannya: “ribet mas, nggak paham saya.” Jelas bagi bapak dan rekan kerja saya, kemudahan hidup yang ditawarkan teknologi ini sifatnya ambigu.

Merespon cerita ini, Anda mungkin akan segera teringat hasil penelitian Pew Research Center yang terkenal mengenai Jurang Generasi dalam penggunaan teknologi digital, antara apa yang disebut generasi Baby Boomer (BB), X, Y dan Z. Lalu Anda akan menyimpulkan bahwa bapak dan rekan kerja saya berada pada generasi yang berbeda dengan saya; saya (di kategori Y) lebih bisa mempraktikkan ungkapan bahwa teknologi itu memudahkan hidup ketimbang mereka berdua (di kategori BB dan X). Memang, secara umum, anggapan ini seringkali benar: generasi old lebih terbiasa dengan teknologi analog ketimbang digital dibandingkan generasi Y (15-35 thn) dan Z (<15 thn). Apalagi memang secara historis, persebaran teknologi komunikasi dan informasi, khususnya versi digital, awani (cloud) dan artifisial, relatif baru dimulai pada tahun 1980-an, semakin deras di 1990-an, dan semakin menjadi di 2000an. Generasi yang sering dilabeli “kolot” oleh para milenial ini umumnya harus menerima nasib dijadikan bulan-bulanan teknologi dan harus berusaha keras untuk up-to-date (yang seringkali usahanya hanya mampu mengundang komentar “nice try”[1] saja dari para milenial).

Memang, terma ‘milenial’ ini sangat bias kelas menengah dan khususnya yang hidup di perkotaan. Karena ternyata banyak juga generasi Y dan Z yang gaptek (gagap teknologi) dan kudet (kurang update). Hal ini dikarenakan faktor-faktor seperti keadaan ekonomi dan lingkungan sosial, di antaranya. Seorang pemuda 21 tahun yang hidup jauh di pelosok negeri hampir bisa dipastikan tidak faham fitur boomerang dalam Instagram. Begitu pula dengan generasi Z yang terlahir di keluarga pengemis dan gelandangan.

Namun, permasalahan teknologi dan kemudahan hidup ini tidak hanya sampai di persoalan cakupan empiris dari label-label generasi. Perkaranya, bapak dan rekan saya ini seolah tidak diizinkan untuk abstain dari teknologi digital ini dan hidup tenang dengan alam analognya. Akan ada orang seperti saya dan teman-teman saya yang mengeluhkan kompatibilitas dokumen yang dikerjakan di Office 2007 dengan 2016; akan ada keluarga bapak saya yang memaksanya untuk tergabung di ribuan jutaan galaksi grup medsos dan grup messenger. Alhasil, mereka terpaksa harus bersusah payah untuk hidup lebih mudah.

Bersusah payah memutakhirkan kemampuan untuk bisa mengoperasikan teknologi yang memudahkan hidup sayangnya bukan hanya dilakukan oleh bapak dan rekan saya saja, melainkan juga ratusan juta angkatan kerja usia produktif Indonesia. Minder dengan kenyataan bahwa 80% dari 192 juta pekerja Indonesia gaptek, sementara ia harus melaporkan kinerja positif dalam menghadapi tantangan Industri 4.0, seorang pejabat Kemnaker bersikeras, “mau tidak mau harus dilakukan upskilling atau reskilling terhadap pekerja dengan kualifikasi rendah ini.” Bukan hanya terpaksa, ratusan juta pekerja Indonesia dipaksa—”mau tidak mau”—harus bersusah payah mempelajari teknologi yang konon memudahkan hidup.

Harapan saya, pembaca sekalian bisa memahami hal yang hendak saya perkarakan di artikel ini: yaitu betapa kata “kemudahan” dan “hidup” dalam frasa “kemudahan hidup” itu teramat-sangat bias dan bermasalah: kemudahan menurut siapa? Hidupnya siapa? Dan bahkan, mengapa kita harus mengejar gagasan “kemudahan hidup” yang seperti itu? Tepat di sinilah kosmetika kemudahan hidup yang menyelubungi wacana teknologi mulai rontok, seraya menunjukkan bahwa ia bukanlah suatu hal yang universal. Lalu jika bukan universal, maka partikularitas mana/siapa yang dirujuknya? Dengan kata lain, apa yang membuat kita seolah tanpa ragu menyepakati bahwa memang benar kemajuan teknologi hari ini adalah untuk memudahkan kehidupan kita, seraya mengesampingkan kenyataan bahwa tidak semua kehidupan menjadi mudah dengan teknologi?

Pertanyaan ini tentu menuntut kajian riset yang panjang, namun di artikel ini saya hanya akan batasi pada satu poin saja, yaitu bahwa mempermasalahkan retorika kemudahan hidup yang dibawa dari narasi teknologis seperti cara di atas adalah cukup untuk mengarahkan perhatian kita akan karakter partikular dan bias dari teknologi—baik fitur material maupun narasi wacananya. Bias inilah yang memungkinkan apa yang saya sebut teknopolitik kemudahan hidup: perebutan akan penguasaan sumber strategis untuk mengarahkan perkembangan dan mengatur wacana dominan mengenai teknologi.

 

Teknopolitika 321

Untuk kepentingan riset, saya mencoba mengembangkan perangkat konseptual untuk membantu saya mengorek temuan-temuan. Di kesempatan lalu saya sudah menggariskan sedikit mengenai konsep otomasi kerja hidup (living labor automation) dan konsep ‘akumulasi primitif teknologis’ dan/atau ‘akumulasi melalui datafikasi’, sekarang kita akan memperbincangkan apa itu teknologi, khususnya dalam kaitannya dengan teknopolitik kemudahan hidup.

Ada empat (4) aspek yang bersama-sama menjelma dalam suatu artifak teknologi, entah itu korek api listrik atau pesawat stealth bomber, baik itu pager maupun Siri-nya Apple. Pertama: ia muncul karena sebuah problem yang konkret, spesifik dan—ini penting—subjektif. Artinya, problem ini adalah yang dihadapi seseorang dengan situasi jender, etnis, kelas, profesi dan golongan tertentu, dan di suatu situasi, kondisi dan masa tertentu, dengan kebutuhan, kepentingan dan aspirasi tertentu pula. Itulah mengapa saya katakan bahwa problem yang melatar-belakangi suatu teknologi itu sifatnya bias dan partikular. Problem seorang nelayan akan berbeda dengan problem pekerja kantoran, yang akhirnya membutuhkan solusi teknologis yang berbeda. Tiga aspek lainnya adalah: solusi teknosains, otonomisasi, dan otomasi; ketiganya akan dibahas di kesempatan berikutnya.

Problem adalah apa yang membuat hidup menjadi tidak mudah, karenanya solusi teknologis adalah mengangkat hal-hal yang membuat hidup ini menjadi tidak mudah, dan menjadikannya mudah, dan bahkan lebih mudah lagi, dan terus lebih mudah lagi sampai seterusnya. Problem dari berjalan kaki jarak jauh adalah kaki cepat lelah. Diciptakan kereta kuda untuk mengatasi problem ini, sehingga kaki tidak lelah. Tapi muncul problem lain, kuda pun bisa lelah. Alhasil diciptakanlah mobil. Lalu problem-problem teknis mobil bermunculan dan coba diselesaikan dengan perkembangan teknologi otomotif lainnya. Dan demikian seterusnya bisa Anda reka sendiri secara logis sampai diciptakan mobil tanpa supir yang dikendalikan oleh kecerdasan buatan (AI). Pelajaran pertamanya, problem teknologis selalu dimulai dari kesulitan konkret dan spesifik di lapangan.

Namun pertanyaan kemudian, bagaimana dengan orang yang tidak bermasalah dengan problem tersebut? Pertanyaan ini sendiri menunjukkan betapa upaya pemecahan problem memiliki dimensi urjensi yang berbeda-beda di setiap orang. Jadi, apa urjensi orang memecahkan problem dengan solusi teknologis? Apakah semudah retorika untuk lebih memudahkan hidup? Artinya, perlu motivasi tertentu untuk mendorong orang bersusah-payah mengupayakan kemudahan hidup dengan menciptakan teknologi. Apakah itu?

Sampai di sini, kita harus menengok sejarah teknologi itu sendiri. Dari penelitian yang saya lakukan sejauh ini (tentang historiografi revolusi teknologi), saya mengidentifikasi setidaknya tiga sektor tempat munculnya impuls penciptaan teknologi dengan dua motivasi fundamental yang melandasinya dan satu tujuan utama yang selalu dikejar. Sektor pertama adalah sektor militer; kedua adalah industri; dan ketiga adalah domestik/personal.[2] Sementara dari segi motivasi, hanya dua: yaitu menyakiti tubuh manusia dan mengekstrasi kerja dari tubuh manusia. Kesemuanya ini diarahkan hanya ke satu tujuan utama: efisiensi. Dengan demikian, rumus teknopolitika 321 adalah bahwa teknopolitik terjadi di tiga sektor (militer, industri, domestik), dengan dua motivasi (menyakiti dan mengekstrasi tubuh), demi satu tujuan (efisiensi).

 

Kredit ilustrator: Alit Ambara (Nobodycorp)

 

Militer dan Industri

Jika kita belajar mengenai Revolusi Urusan Militer (revolution in military affairs, RMA), kita belajar bagaimana bedil berevolusi sedemikian rupa menuju titik seefisien mungkin dalam membunuh musuh: suaranya yang semakin tidak terdengar, presisinya, tingkat mematikannya, dst.,[3] bahkan sampai rudal otonom yang bisa mengejar targetnya. Begitu pula dengan kereta perang yang berevolusi sampai tank perang dan pesawat Stealth Bomber (Northrop B-2);[4] atau dengan istilah ‘bom bersih’ (clean bomb) yang mengacu pada efisiensi tingkat tinggi dalam menghancurkan target dengan ekses radiasi yang tidak meluber kemana-mana.[5] Teknologi drone juga berada pada lajur efisiensi termutakhir dari teknologi pengintaian yang dahulu hanya menggunakan keker/teropong. Robot pembunuh otonom adalah edisi termutakhir dari impuls teknopolitik militer hari ini. Contoh ini bisa lebih panjang lagi tentunya. Jadi, frasa ‘kemudahan hidup’ di sektor ini berarti kemudahan dalam menghabisi tubuh manusia dari musuh-musuh yang mengancam kepentingan politik kita. Kelestarian dan supremasi kedaulatan negara adalah yang ingin dicapai dengan petualangan teknologi militer.

Lalu di dalam sektor industri, kita mengenal revolusi teknologi industri. Saat ini, jika membebek narasi dominan, kita berada pada periode revolusi industri keempat. Revolusi pertama ditandai dengan teknologi mesin uap; kedua dengan elektrifikasi dan lini perakitan di pabrik; ketiga dengan komputerisasi dan informasionalisasi proses-proses produksi, bisnis dan manajerial; sementara revolusi keempat ditandai dengan internetisasi dan otomasi dengan artificial intelligence. Karena berada di sektor industri, dan hampir pasti industri tersebut adalah bercorakkan kapitalis, maka satu-satunya tujuan mereka adalah mencari uang dan memperbesar marjin keuntungan—tentu saja tujuan ini menjelma dalam milyaran alibi seperti “melayani Anda,” “melestarikan alam,” “menghubungkan orang,” dst.

Terkait perkara teknologi, tujuan ini diterjemahkan ke dalam problem efisiensi produksi: yaitu bagaimana cara paling mudah, cepat, dan tepat dalam memproduksi komoditas dengan harga semurah mungkin. Satu variabel biaya yang bisa, dan memang selalu, ditekan adalah variabel biaya pekerja. Industri selalu membutuhkan artifak-artifak teknologi yang baru untuk terus mengatasi inefisiensi yang muncul dari pekerja: malas, menggerutu, cepat lelah, gampang sakit, emosi labil, banyak mau, dan hobi berserikat. Inefisiensi ini tentu berdampak buruk pada kurva keuntungan perusahaan. Tak pelak, industri selalu membutuhkan teknologi untuk mengganti dan menggeser pekerja ini: teknologi yang bisa bekerja tanpa lelah, siap sedia, presisi tinggi, stabilitas terjaga, tepat waktu, fokus pada satu tujuan yang terprogram, tetap bekerja sekalipun tanpa mandor, dan paling penting, tidak mungkin berserikat. Sektor industri ini bermacam-macam tentunya: mulai dari ekstraktif, agrikultur, manufaktur, komersial, jasa, kreatif, sampai finansial. Namun demikian, apapun sektor industrinya, arti kemudahan hidup yang dijanjikan teknologi industri cuma satu: semakin mudah dan murah memeras nilai kerja dari pekerja yang menjelma dalam nama alias ‘efisiensi’.

Sebelum ke sektor domestik/personal, sebenarnya kita bisa mengidentifikasi sektor lain, yaitu sektor publik yang dijalankan oleh pemerintah. Namun demikian, sektor ini sebenarnya tidak memiliki cukup kekhususan teknologis untuk bisa berdiri sendiri. Pasalnya, teknologi yang digunakannya adalah gabungan dari teknologi militer dan teknologi industri. Alasannya, karena negara berdaulat modern (versi Westphalia) selalu melihat rakyatnya sebagai entitas geografis untuk diatur/ditertibkan (dalam logika kedisiplinan militer) dan untuk diarahkan ke pabrik-pabrik dan kantor-kantor untuk diekstraksi tenaga kerjanya. Teknologi seperti lampu merah, rambu, mesin parkir, kamera pengintai, penyadapan, dst., selalu mengasumsikan manusia sebagai tidak beraturan yang mesti didisiplinkan.[6] Belum lagi dalam setting kepanikan kontra-teror, dihadapan teknologi anti-teror, seluruh warga dilihat sebagai berpotensi teroris. Setidaknya itu yang saya rasakan saat berkali-kali melewati pemeriksaan di bandara.

 

Sektor Domestik

Berbeda dengan dua sektor lainnya, sektor domestik menunjukkan wajah lain dari teknopolitik. Apabila di sektor militer dan industri efisiensi merupakan sarana untuk melestarikan kedaulatan dan mengakumulasi keuntungan, di sektor domestik efisiensi melayani tujuan lain. Tetap dalam motivasi menyakiti tubuh dan mengekstrak kerja dari tubuh, hanya saja keduanya muncul dalam bentuk yang umumnya terbalik: yaitu melindungi tubuh dari bahaya dan membebaskan tubuh dari kerja. Teknologi alarm, kamera pengintai rumah, pengunci tersentral, dan bahkan pagar listrik, untuk menyebut beberapa, merupakan teknologi yang diciptakan untuk melindungi diri dari bahaya eksternal. Meminjam diskusi Karl Marx tentang kerja tak-produktif, teknologi keamanan ini digunakan untuk “menjaga kehidupan” (maintenance of his life) dan untuk “pengamanan tenaga kerjanya” (securing of his labour).[7] Dikatakan tak-produktif karena kerja-kerja yang diteknologisasikan ini tidak berhubungan secara langsung dengan proses penciptaan nilai di tempat kerja. Namun tanpanya, maka tidak akan ada kerja penciptaan nilai di pabrik/kantor. Alhasil, hidup semakin mudah apabila kita semakin tidak perlu banyak turun tangan untuk membuat diri kita merasa aman dan tenteram.

Efisiensi teknologi di sektor domestik juga diartikan sebagai membebaskan tubuh dari kerja. Tidak hanya microwave bapak saya, melainkan seluruh artifak teknologis seperti lampu yang membebaskan kita dari susah-payah membakar api atau lampu petromak, sampai evolusi alat pel yang perlahan-lahan membebaskan kita dari ndelosor, lalu memeras, dan sekarang bahkan kita bisa hampir secara total terbebas dengan mesin pel AI. Televisi membebaskan kita dari jalan keluar (rumah, kota, negeri, dst.) untuk menonton hiburan. Kompor dan termos membebaskan kita dari kesusahan untuk menjaga suhu panas makanan dan minuman kita; dan sebaliknya untuk lemari es. Teknologi domestik tidak berhenti di konteks rumah tangga, ia bahkan masuk ke lini personal. Komputer dan Ponsel membebaskan kita, salah satunya, dari kerja merekam dan mengingat informasi. Jutaan piranti lunak dan aplikasi dikembangkan untuk memfasilitasi kerja-kerja pribadi kita dengan laptop dan gawai kita. Konsep smart home yang berbasis IoT (internet of things) berambisi membebaskan kita secara total dari kerja rumahan dan digantikan dengan kendali penuh di ponsel pintar. Dengan kata lain, semakin efisien teknologi yang mengepung sektor domestik, maka semakin kita terbebas dari kerja-kerja rumah tangga.

Teknologi di sektor domestik umumnya berkaitan dengan care (perhatian dan/atau perawatan) yang lebih terasosiasikan ke hal-hal yang sifatnya emosional atau afektif, bahkan intim.[8] Telepon, sedari awal ia masuk ke rumahan, ia memfasilitasi komunikasi antar anggota keluarga.[9] Begitu pula dengan teknologi yang memfasilitasi konsep-konsep sofa, ranjang, kursi, dst. Pendingin ruangan memberikan perasaan (kategori emosi) sejuk, segar dan nyaman. Belum lagi kalau kita berbicara teknologi-teknologi video permainan untuk refreshing, dan bahkan permainan seks seperti ini dan ini. Singkatnya, sektor domestik merupakan sektor di mana tubuh pekerja manusia dijaga, dirawat dan direproduksi. Semakin efisien suatu teknologi domestik, maka semakin terjaga kesinambungan dari tenaga kerja sang empunya teknologi.

 

Penutup

Gilles Deleuze, dalam ulasannya tentang pemikiran teknologis Foucault, mengatakan, “mesin itu sosial sebelum ia teknikal.”[10] Harapannya dengan membaca tulisan singkat ini pembaca bisa memahami maksud sang filsuf Prancis yang menginspirasi kajian kritis akan teknologi kontrol digital dan komputasional itu. Adalah aspek sosial, dalam kasus kali ini aspek sosial-politik, yang coba dilihat sebagai yang signifikan melatar-belakangi formulasi dan kreasi seluruh fitur teknikal suatu teknologi. Kerangka teknopolitik memfasilitasi kita untuk melihat problem teknologis yang terbiaskan secara sektoral dan motivasi. Di sini kita bisa melihat betapa teknopolitik di sektor berbeda juga memiliki implikasi terhadap makna yang berbeda terkait retorika ‘kemudahan hidup’: di militer, kemudahan hidup berarti semakin mudah dalam membunuh musuh untuk menjaga kedaulatan; di industri, kemudahan hidup berarti semakin mudah dalam mengekstraksi tenaga dan nilai kerja dari tubuh manusia pekerja demi akumulasi profit; di sektor domestik, kemudahan hidup berarti semakin terbebas dari kerja-kerja domestik.

Pada perkembangannya, memang, penetrasi teknologi ke kehidupan domestik tidak lepas dari kepentingan industrial. Begitu pula dengan perkembangan teknologi industri seringkali tidak terpisahkan dengan koneksinya dengan kepentingan-kepentingan militer. Belum lagi saat logika militerisme merembes masuk dalam teknologi domestik. Dengan kata lain, interkoneksi bahkan interpenetrasi ketiga sektor ini tentu saja ada dan nyata. Kita pun masih belum memperkarakan betapa janji teknologi domestik sama sekali teringkari: terbebasnya tubuh kita dari kerja rumahan karena teknologi hanyalah privilese orang-orang kaya. Teknologisasi kehidupan domestik, seringkali, berarti waktu kerja tambahan bagi ibu-ibu rumah tangga untuk bekerja di luar.[11] Bahkan, semakin efisien ponsel pintar kita tidak serta merta membuat pekerjaan kita semakin sedikit. Malah semakin banyak. Semakin canggih teknologi seolah-olah semakin banyak volume dan semakin luas cakupan kerja yang mengantri untuk kita kerjakan.

Persoalan-persoalan di atas akan dibahas di lain kesempatan. Namun demikian, untuk saat ini, apabila kita kembali ke problem bapak saya, rekan kerja saya, dan ratusan juta pekerja Indonesia yang terpaksa dan dipaksa untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknologisnya. Jika ditanya bagaimana mereka menjadi terpaksa dan dipaksa meng-upskil dan me-reskill diri mereka, maka kita bisa segera menjawab: karena mereka sedang berada dalam skema teknopolitik politik-militer dan industri-bisnis: sebagai warga negara, mereka dituntut untuk fungsional dan produktif di era teknologi digital; karenanya akusisi kompetensi digital adalah imperatif. Kita dituntut untuk bersusah payah demi kemudahan-kemudahan hidup yang dipetik oleh mereka. Tidak ada hal baru dari jawaban ini, saya yakin.

Namun demikian, dengan memahami persoalan di atas sebagai problem teknopolitik, kita bisa terhindarkan dari jurang keniscayaan teknologis (mis. ungkapan-ungkapan klasik seperti “sekarang zaman sudah maju,” “mau nggak mau kita harus update,” “perkembangan teknologi ‘kan tidak terelakkan,” dst.) yang melihat perkembangan teknologi seolah-olah di luar motif politik. Dengan mengembalikan unsur politis dari senarai kerumitan teknologi, kita bisa melihatnya sebagai suatu medan pertempuran kendali dan orientasi: problem siapa yang coba diatasi dengan perkembangan teknologi? Untuk motivasi apa? Dst. Artinya, takdir teknologis kita tidak harus seperti saat ini: bahwa kita harus terus menerus terpaksa/dipaksa untuk bukan hanya memutakhirkan skill dan keterampilan kita, bahkan harus terus menabung untuk terus memutakhirkan perangkat-perangkat teknologis kita yang semakin pendek usianya dan semakin cepat outdated.

Dalam teknopolitik dominan, kita dibuat untuk terus mengejar kemudahan hidup yang dijanjikan teknologi seolah ia memang adalah benar-benar kemudahan hidup untuk kita—yi. seperti dalam narasi teknologi domestik: kelestarian hidup dan pembebasan dari kerja rumahan. Namun kita tahu bahwa gagasan ‘kemudahan hidup’ tersebut ternyata bias kepentingan penguasaan politik dan akumulasi profit. Jika teknopolitik dominan adalah politik-militer dan bisnis-industri, maka adalah penting untuk kita bertanya, apa strategi teknopolitik kelas pekerja yang dapat menandingi kedua hegemoni teknopolitik tersebut?***

 

Penulis adalah peneliti di Koperasi Riset Purusha dan editor Jurnal IndoPROGRESS

 

———-

[1] Jika anda tidak menyadari guyonan ini, mungkin itu pertanda anda termasuk generasi old.

[2] Untuk alternatif sektor, lihat kajian Boston Consulting Group (2017), Global Spending on Robots Projected to Hit $87 Billion by 2025, yang membedakan ke dalam empat pasar, ketimbang sektor: militer, industry, komersial, dan personal. Saya tidak sekedar melihat teknologi sebagai komoditas, melainkan dalam relasinya dengan tubuh manusia pekerja-hidup. Karenanya, pembedaan berdasar pasar menjadi problematik bagi saya.

[3] Paul Hirst, War and Power in the Twenty-First Century: The State, Military Power and the International System (Polity, 2002)

[4] Paul Virilio, “My Kingdom for a Horse: The Revolutions of Speed,” Queen’s Quarterly, 108, 3, 2001.

[5] Toshihiro Higuchi, “‘Clean’ bombs: Nuclear technology and nuclear strategy in the 1950s,” Journal of Strategic Studies, 29, 1, 2006.

[6] Salah satu survey terbaik, lih. Grant Vetter, The Architecture of Control: A Contribution to the Critique of the Science of Apparatuses (Zero Books, 2012). Diskusi Giorgio Agamben mengenai kedaulatan biopolitik dan aparatus juga teramat penting dalam hal ini. Lih. Giorgio Agamben, “What Is an Apparatus?” and Other Essays (Stanford Uni Press, 2009).

[7] Karl Marx, MECW, vol. 34, hal. 87.

[8] Leopoldina Fortunati, “Robotization and the domestic sphere,” New Media & Society, OnlineFirst, 2017; Cynthia Cockburn, “Domestic technologies: Cinderella and the engineers,” Women’s Studies International Forum, 20, 3, May–June 1997.

[9] Leopoldina Fortunati, “ICTs and Immaterial Labor From a Feminist Perspective,” Journal of Communication Inquiry, 35, 4, 2011.

[10] Gilles Deleuze, Foucault (Univ. of Minnesota Press, 1986), h. 39.

[11] Ruth Schwartz Cowan, More Work for Mother: The Ironies of Household Technology from the Open Hearth to the Microwave (Basic Books, 1983).

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus