Agenda Otomasi

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: business2community.com

 

SEJUJURNYA, saya bingung terhadap kepanikan bahwa perkembangan disruptif dari revolusi teknologi digital, IoT (internet of things), algoritma, komputasi awan, AI (kecerdasan artifisial) dan istilah lain yang – jujur saja – sering kita tidak tahu pasti artinya ini akan merebut pekerjaan kita. Ya, penting saya ulangi, “merebut pekerjaan kita.”

Kita pernah mendengar prediksi bahwa kita akan kehilangan 75% pekerjaan dalam 10 tahun. Pak Kepala Bappenas pun nebeng riset McKinsey dalam mengklaim bahwa sekitar 50 juta pekerjaan akan “hilang dalam beberapa waktu ke depan.” Apa saja pekerjaan yang hilang itu?—tanya saja ke sang penggembor-gembor disruption. Jokowi bahkan seolah minder dengan pakar dalam negeri sehingga harus repot-repot mendatangkan guru les dari Negeri Paman Sam dan Negeri Tirai Bambu untuk mengajarkan para pejabat eselon tentang revolusi industri 4.0. Tidak mau kalah, Menteri Tenaga Kerja juga giat menyuruh-nyuruh pekerja untuk les komputer. Tidak pemerintah, tidak pekerja: nampaknya banyak dari kita yang ketakutan teknologi merebut pekerjaan kita.

 

Merebut pekerjaan kita?

Bagi pemalas seperti saya yang “pekerjaan” impiannya adalah tidur, main game dan streaming film (serius, saya menjawab ini setiap kali saya terpaksa ikut psikotes), gagasan “teknologi merebut pekerjaan kita” ini punya makna yang teramat sangat positif. Betapa tidak: perkembangan teknologi menjanjikan saya untuk lepas dari relasi upah yang eksploitatif, untuk bebas dari tuntutan-tuntutan tak berujung dari atasan dan klien, untuk merdeka dari sikut-sikutan dan baper-baper-an di tempat kerja yang menyebalkan. Bahkan, apabila janji teknologi ini kelak dipenuhi, saya sudah menyiapkan daftar game-game dan filem-filem yang akan saya unduh, main dan tonton dari pagi sampai pagi sampai kiamat.

Utopia dunia tanpa kerja akibat revolusi teknologi ini memang (nampaknya) adalah utopia dalam artiannya yang paling tidak realistis. Bukannya mengurangi jam kerja, yang terjadi malah waktu untuk (cari) pacar makin berkurang karena bekerja terus. Ketimbang mempermudah, para pekerja malah semakin direpotkan untuk belajar lagi keribetan baru yang konon menjanjikan kemudahan hidup dan efisiensi kerja. Bukannya membebaskan dari relasi upahan dan relasi majikan, kita justru malah tersekap dalam kondisi kerja yang semakin tidak menentu. Dampak-dampak lainnya bisa dilihat, misalnya, di kertas posisi rekan-rekan SINDIKASI.

Tapi tunggu dulu! Jangan kita korting gagasan utopis ini!

Di satu sisi memang benar janji dunia tanpa kerja itu belum terjadi, namun bukankah pemaknaan-pemaknaan utopis saya di atas adalah suatu kemungkinan tersendiri dari dampak revolusi teknologi? Bukankah revolusi teknologi memiliki resonansi yang amat relevan dengan seruan lapuk yang kini semakin tanpa makna, yaitu bahwa “para pekerja tidak akan kehilangan apapun selain rantai-rantai yang membelenggunya”? Bukankah dengan teknologi memudahkan pekerjaan Anda, maka Anda yang tidak pemalas seperti saya menjadi memiliki lebih banyak waktu untuk membaca Marx, berdiskusi mengenai pengorganisasian ekonomi pasca-kapitalisme, dan mengonsolidasikan diri dalam serikat (yang revolusioner tentunya)? Sayangnya bukan kemungkinan ini yang seringkali muncul di pelataran publik, tidak sekalipun di publik yang ‘kritis nan progresif’.[1]

Jika akan ada makna bagi istilah ‘hegemoni’, bukankah kelumpuhan imajinasi kita sehingga tidak mampu membayangkan suatu kemungkinan teknologi yang membebaskan kita dari belenggu rantai kerja upahan ini adalah contoh kongkritnya? Persoalan bahwa hal itu belum dimungkinkan hari ini adalah satu hal, namun lain ceritanya kalau harus berebutan dengan mesin dan robot untuk ditundukkan dalam relasi kerja upahan dianggap sebagai sesuatu yang niscaya di era disrupsi digital ini!

 

Mendudukan Perkara Otomasi[2]

Kawan Azhar Irfansyah gemar menekankan bahwa kita harus memisahkan teknologi ‘otomasi’ dan ‘digitalisasi’. Sementara beliau menggoreskan argumentasi di risetnya yang sedang berlangsung, saya sendiri berpendapat bahwa digitalisasi harus dilihat sebagai salah satu epos dari sejarah teknologi otomasi … lebih tepatnya lagi, teknologi otomasi kerja. Penting untuk menekankan aspek ‘kerja’ dan mengendorkan sedikit aspek ‘teknologi’. Pasalnya, penekanan yang teknosentris akan gagasan ‘revolusi industri’ akan membutakan kita dari aspek ‘kerja’ dan tentunya ‘pekerja’ dalam setiap eposnya.

Apabila kita reka ulang, maka ‘revolusi industri’ adalah proses otomasi kerja dengan teknologi yang terjadi secara luas di lanskap perindustrian. Setiap epos memiliki perbedaan paradigma teknosains yang melandasi pengembangan teknologinya masing-masing: mulai dari termodinamika (I), elektromagnetika (II), sibernetika (III), algoritma dan quantum (IV). Penulisan ulang sejarah revolusi industri dari perspektif kerja dan pekerja ini tentu saja mustahil dilakukan di kesempatan ini. Di tulisan ini saya ingin fokus pada apa makna dan implikasi dari ‘otomasi kerja’ sehingga ia secara konstan terus direvolusionerisasi sampai sekarang (dan sampai kapan pun).

Salah satu cara mendudukkan perkara otomasi secara historis adalah dengan melihat kaitannya dengan relasi kerja, khususnya antara pekerja dan pemodal/pemberi-kerja (baca: konsumen komoditas tenaga kerja).[3] Berikutnya, berhubung namanya revolusi industri dan bukan revolusi serikat pekerja, maka revolusi teknologi otomasi adalah selalu agenda dari para industrialis dan pemodal. Bukan pembaca IndoPROGRESS tentunya jika Anda tidak tahu bahwa sesaleh dan serelijius apapun sang pemodal berikut justifikasi-justifikasi bisnisnya, tetap saja akumulasi keuntungan dan modal adalah tujuannya.

Sebelum lebih lanjut, kita perlu jelas bahwa otomasi di sini memiliki peran untuk mewujudkan ‘efisiensi’ kerja. Otomasi akan mengefisienkan kerja, misalnya, saat awalnya dibutuhkan puluhan orang untuk menjaga sebuah supermarket, toko Amazon Go di Seattle kini hanya membutuhkan beberapa penjaga toko dan pengembang software saja. Seluruh aktivitas di toko ini semuanya dilayani oleh kecerdasan buatan (AI). Efisiensi kerja juga akan terjadi saat lini perakitan (assembly line) kerja-kerja manufaktur semakin banyak porsinya dikerjakan oleh robot. Jadi, apakah makna efisiensi yang dijanjikan teknologi otomasi ini?

Dengan tetap hirau mengenai agenda pemodal akan otomasi, maka tidak bisa dipungkiri bahwa efisiensi dalam konteks otomasi kerja erat kaitannya dengan pengurangan kewajiban pemodal akan tuntutan upah para pekerjanya. Tidak hanya itu, dengan otomasi, pemodal bisa mendapatkan hasil kerja—yang tadinya dilakukan dengan peluh pekerja—umumnya secara lebih cepat, lebih banyak dan lebih akurat. Bonus lainnya: mesin tidak kenal ‘malas’; mesin tidak akan menolak digantikan; dan mungkin yang terpenting bagi pemodal, mesin tidak akan membentuk serikat pekerja. Otomasi kerja meningkatkan efisiensi dalam hal menekan pembiayaan yang harus ditanggung sang pemodal di satu sisi, dan di sisi lain memaksimalkan keuntungan dan akumulasi modalnya.

Dari sini, kita bisa melihat lebih jauh lagi ‘makna’ dari otomasi. Dengan tetap berfokus pada bagaimana teknologi otomasi menggantikan, atau bahkan “merebut” kerja para manusia pekerja manual (dan dibuat menjadi otomatis), maka kita bisa melihat dengan jelas bahwa eksistensi teknologi otomasi adalah berhutang pada manusia pekerja manual. Teknologi otomasi memodel dan mengkodekan keterampilan kerja-kerja manual manusia, lalu meringkus dan memisahkannya dari tubuh hidup sang manusia dengan menjadikannya model-model teoritis. Model algoritmis jejaring saraf (artificial neural network, ANN), bahkan. Lalu kemudian ia diproses menjadi cetak biru teknologi. Berikutnya cetak biru ini dituangkan pada aras material yang kongkrit. Lahirlah mesin – yang pada gilirannya mengotomasi kerja dan menggantikan sang empunya kerja manual.

Itulah mengapa Marx menyebut mesin sebagai kerja mati (dead labor); mesin adalah hasil dari upaya membekukan dan mengkristalkan keterampilan-keterampilan dari para pekerja hidup (living labor) ke dalam bentuknya yang “mati.” Mati di sini bukan hanya karena ia dipisahkan dari inang hidupnya yang adalah sang pekerja; lebih dari itu, mati di sini adalah karena ia kehilangan kapasitas hidup-nya, yaitu untuk berkembang secara kreatif, secara kontingen, dan bahkan secara tidak sengaja. Bahkan AI yang konon sarat dengan algoritma mesin pembelajar (machine learning) pun masih belum mampu menandingi kapasitas kreativitas dan abstraksi otak anak lulusan ilmu sosial humaniora. (Tak pelak, Google harus mengakui bahwa mereka masih butuh kapasitas demikian, ketimbang keterampilan langganan ala STEM—science, technology, engineering, math.).

 

Mendudukkan Perkara Inovasi

Tapi kemudian apa yang dalam sejarahnya senantiasa membuat para pemodal untuk terus berlomba-lomba “berinovasi” dalam mengotomasi kerja, atau – karena sekarang kita sudah tahu makna aslinya – meringkus dan memisahkan kerja-hidup para manusia pekerja, dan kemudian memonopolinya? Apa yang membuat para pemodal tidak dapat untuk berpuas diri saja dan tidak “berinovasi” secara teknologis?

Menengok ke belakang ke sejarah panjang revolusi industri sejak yang Pertama, maka dapat kita lihat bahwa para pengusaha dihadapkan pada dua hal: kompetitifnya rivalitas antar-kapitalis di satu sisi dan keterbatasan sumber daya (alam dan manusia-pekerja) di sisi lain. (Saya akan sisihkan dulu problem sumber daya alam). Agar ia bisa kompetitif, maka ia perlu meningkatkan produktivitasnya. Apa daya sang manusia pekerja serba penuh keterbatasan – bisa jadi dari segi kuantitas namun jelas dari segi kualitas. Seorang manusia pekerja bisa sakit, lelah, malas, moody, dan yang paling parah ia bisa mogok, bahkan curang. Teknologi otomasi adalah “solusi” terbaik untuk mencoret hal-hal kemanusiawian ini dari pekerja: menjadikannya mesin-pekerja, yaitu kerja-mati. Semakin baik suatu teknologi, maka ia pun semakin efisien – dan hal ini juga berarti bahwa semakin banyak aspek-aspek kemanusiawian yang mampu ia coret dan atasi.

Contoh singkat: revolusi industri (mesin uap) pertama mampu mengatasi keterbatasan tubuh untuk bekerja lebih cepat, lebih lama dan lebih banyak lagi. Revolusi industri kedua bukan hanya melipatgandakan efek revolusi sebelumnya, ia juga mampu menekan biaya lebih baik dari segi sumber daya alam. Lainnya, revolusi kedua, dengan temuan lini perakitan (assembly line), mampu menyatukan dan menyeiramakan beragam jenis kerja menjadi “harmonis.” Revolusi ketiga, dengan komputerisasi, mampu mengatasi keterbatasan kapasitas kognitif (memproses, menghitung, dst.) dan memori (mengingat) manusia-pekerja. Revolusi keempat, dengan algoritma, mampu mengatasi keterbatasan manusia untuk menjaga akurasi saat dihadapkan dengan kerja-kerja rutin. Kemudian augmented intelligence bahkan disebut-sebut berpotensi mengatasi mortalitas tubuh manusia seraya mengawetkan kecerdasannya; sementara artificial intelligence digadang-gadang mampu secara total menggantikan keseluruhan kehadiran manusia mortal dengan makhluk (sintetik) lain dengan kecerdasan yang sama bahkan melebihi manusia.

Contoh-contoh ini bisa ditambahkan lebih lanjut lagi, namun tentu bukan pada kesempatan kali ini. Harapannya, setidaknya para pembaca sudah mendapatkan gambaran paradoksal betapa revolusi teknologi di satu sisi selalu adalah diarahkan terhadap (against) pekerja demi kepentingan maksimalisasi efisiensi kerja, namun di sisi lain ia secara eksistensial berhutang pada aspek kemanusiawian dan aspek kehidupan dari manusia-pekerja itu sendiri yang notabene adalah role model-nya.

Sampai di sini, apabila para pembaca sekalian masih bersepakat, maka kita bisa langsung tahu bahwa adalah sebuah kesalahan besar dan kebutaan sejarah yang teramat sangat apabila dikatakan bahwa dalam revolusi teknologi digital kali ini “para penggeraknya adalah orang-orang imajinatif yang bertemu matematika dan algoritma.” Penggerak revolusi digital, dan bahkan seluruh revolusi teknologi perindustrian di sepanjang sejarah adalah selalu para bos penghuni puncak piramida relasi upah. Namun mereka bukanlah subjek revolusionernya. Bukan juga “supercomputer, robot-robot cerdas (artificial intelligence/AI), smartphone, laptop, dan bahkan [yang] sudah ada di jam-jam tangan!” – karena subjek revolusionernya adalah selalu para pekerja hidup. Melalui relasi kerja-upahan para pekerja hidup dihisap tenaga kerjanya; melalui inovasi teknologi industri para pekerja hidup dihisap kreativitas dan keterampilan kerjanya. Pekerja-hidup adalah bahan bakar utama seluruh revolusi teknologi.

Akhir kata, dengan melihat asal usul seluruh revolusi industri yang ternyata adalah selalu berkaitan dengan kita, manusia-pekerja, maka bukankah menjadi penting bagi kita untuk memiliki agenda otomasi tandingan? Apapun agenda tersebut nantinya, bayangan saya, ia harus mampu merebut kembali seluruh, semua dan segala bentuk teknologi, mulai yang paling sederhana sampai paling kompleks, yang paling berguna sampai yang paling lelucon. Karena hanya kita, para pekerja, para tubuh-hidup asal muasal seluruh teknologi, yang paling berhak atas segala kemewahan hidup yang dijanjikan oleh revolusi teknologi.*** [HYP]

 

Penulis adalah peneliti di Koperasi Riset Purusha

 

———-

[1] Contoh buruknya adalah dari salah seorang Wakil Rakyat kita. Alasan disampaikan di bagian berikutnya.

[2] Bagian ini dan setelahnya diambil dari presentasi saya di berbagai kesempatan di Sindikasi, di Tirto.id, dan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI.

[3] Cara lainnya adalah dengan melihat “revolusi” teknologi otomasi sebagai upaya untuk senantiasa mengoreksi error internalnya, terutama saat ia berhadapan dengan anti-tesis eksternalnya (alam, manusia-pengguna, dst). Tentang ini di kesempatan lain.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus