
Menjernihkan Manipulasi Kata Radikalisme
Kredit ilustrasi: Postrakyat KATA Radikalisme sedang mengalami deformasi luar biasa. Maknanya sudah bergeser jauh dari positif dan progressif menjadi sangat negatif dan reaksioner. Dalam konteks

Kredit ilustrasi: Postrakyat KATA Radikalisme sedang mengalami deformasi luar biasa. Maknanya sudah bergeser jauh dari positif dan progressif menjadi sangat negatif dan reaksioner. Dalam konteks
Tak perlu memoncongkan moncong dan bersungut-sungut. SEBAIKNYA dimulai dari ini: ’30 tahun, delapan bulan, dan duapuluh dua hari kekuasaan Orde baru’—dengan lantang diucapkan Budiman Sudjatmiko,

khirul Kalam, “Film Pendek ‘Tilik’, mungkin, menceritakan tentang kenyataan sehari-hari umat Islam Indonesia yang tetap mampu berghibah lepas di tengah himpitan hidup di desa. Namun, bagi anak muda Banjar yang merasakan hidup di tengah rumor kerusuhan Jumat Kelabu 23 Mei 1997 atau pekan-pekan mencekam setelah huru-hara Sampit, kenyataan itu adalah kenyataan tragis.
Tentang Bioekonomi dan Sensasi Keseharian MUNGKIN tidaklah terlalu berlebihan apabila dikatakan bahwa salah satu cara untuk bisa hidup bahagia hari-hari ini terangkum dengan baik oleh
Globalisasi pertama-tama dimungkinkan oleh teknologi; teknologi yang bersifat menentukan dan ditentukan oleh dirinya sendiri. Kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan teknologi memungkinkan dunia berada dalam satu kesatuan. Namun ketika teknologi dimanfaatkan sebagai modal dalam kerangka kapitalisme, maka segala kemungkinan baru yang terus dan terus ditawarkan oleh teknologi menjelma komoditas baru. Inilah mungkin kenapa relevan kritikan Manuel Castell kepada Luchan bahwa globalisasi tidak hanya menciptakan satu kampung global namun menciptakan sebuah jejaring laba-laba global; dunia tidak menjadi satu komoditas saja (sebuah tayangan televisi ditonton oleh semua orang di seluruh dunia) melainkan dunia menjadi berjuta-juta komoditas yang ditawarkan ke seluruh dunia (berjuta-juta tayangan televisi hadir di hadapan kita dan kita tinggal memilihnya).

* Ilustrasi oleh Timoteus Anggawa Kusno “Kita membutuhkan etika atau keyakinan, sesuatu yang akan membuat orang-orang pandir tertawa; namun kita tak butuh untuk percaya pada apa-apa lagi selain

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) KELAYAKAN Indonesia dalam menyandang identitas sebagai negara agraris kini tengah dalam ujian berat. Pertanyaan-pertanyaan dan keraguan-keraguan akan hal ini

Bila kapitalisme memiliki anak kesayangan berupa korporasi-korporasi, lalu apa yang dimiliki oleh proyek ekonomi politik sosialisme? GERAKAN koperasi masih menjadi ihwal minor dalam totalitas

Kredit ilustrasi: Caravan Magazine PERCAKAPAN politik kita selama ini, ada semacam bangkitnya insinuasi politik antara setiap orang. Saling menuding, saling klaim paling benar, hingga berimplikasi

Di Tano Batak, kehadiran Toba Pulp Lestari mengubah tanah dari basis hidup komunal menjadi medan akumulasi, sementara hukum dan adat bekerja sebagai perangkat seleksi yang menentukan siapa yang boleh tinggal dan siapa yang harus disingkirkan. Dari proses inilah lahir Subjek Kriminal, bukan sebagai pelaku kejahatan moral, melainkan sebagai posisi sosial yang dilekatkan pada mereka yang mengganggu ritme produksi kapital. Ketika identitas adat terfragmentasi oleh diferensiasi kelas, penjara dan kontrak menjadi dua wajah pendisiplinan yang sama, menegaskan bahwa dalam konflik agraria, kelas berbicara lebih keras daripada sekadar perkara asal-usul.

MENDEDAH Kartini dari sisi sosial dalam perjuangan emansipasi wanitanya, sudah begitu umum. Ini wajar karena berkat itulah, ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional dalam Kepres RI

Di bawah kepemimpinan partai ultra-kanan, warisan intelektual Lukács di Hongaria dibabat. Di belahan dunia lain, Lukács lebih dihormati dan dibaca secara luas dibanding sebelumnya karena bangkitnya minat terhadap sosialisme.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.