
Apa Kegunaan Mendasar Ilmu Sosial?
TULISAN kecil ini sengaja dimulai dari sebuah pertanyaan tentang kegunaan mendasar ilmu sosial (termasuk juga ilmu-ilmu keagamaan). Kenapa? Ada dua alasan yang ingin dikemukakan di

TULISAN kecil ini sengaja dimulai dari sebuah pertanyaan tentang kegunaan mendasar ilmu sosial (termasuk juga ilmu-ilmu keagamaan). Kenapa? Ada dua alasan yang ingin dikemukakan di
‘REVOLUSI bukan sebuah acara makan malam,’ begitu kata Mao Zedong. Dan Rakyat Mesir sekarang memahami benar pernyataan Mao ini. Revolusi Mesir memang bukan sesuatu yang menyenangkan bagi siapapun yang menginginkan kenyamanan, layaknya acara makan malam. Ketika banyak kalangan aktivis kini mengamini begitu saja pernyataan Emma Goldman mengenai ‘revolusi sebagai tempat kita menari,’[1] maka Rakyat Mesir mengambil jalan yang sungguh tidak nyaman dalam membangun revolusinya sendiri. Revolusi mereka bukan parade bersenang-senang di jalan, sambil meneriakkan slogan anti pemerintah dengan harapan bisa dengan tenang kembali ke kondisi rutin masing-masing di keesokan harinya. Revolusi Rakyat Mesir justru mengajukan problem revolusioner paling rumit untuk dijawab oleh siapapun yang menghendaki revolusi sekarang: ‘apa yang akan terjadi di esok pagi setelah mobilisasi popular ini usai?’

Tanpa banyak bacot pengantar seperti tulisan berstruktur akademik yang sering kita baca, saya langsung ke poinnya saja. Saya memilih untuk menerjemahkan tiga puisi remeh-temeh Rimbaud. Remeh-temeh karena ia tidak menggelorakan mitos dan legenda Rimbaud sebagai penyair muda yang memiliki kedalaman analitis sosial seperti puisi-puisinya dalam kumpulan Season of Hell dan Illumination (dua buku puisi paling terkenalnya). Remeh-temeh karena tema yang dibicarakan dalam tiga puisi ini bukan kebobrokan sistem industri, hedonisme seniman Eropa, neraka dunia, tetapi perempuan, cinta, eksplorasi seksual, dan kencan di hutan. Remeh-temeh karena ketiga puisi ini jarang disebut-sebut sebagai puisi bagus karena ditulis ‘penyair hebat’, tapi lebih sering disebut sebagai puisi bagus karena ditulis ‘bocah’. Dan terakhir, remeh-temeh karena nafsu dan impian masa muda memang selalu bersifat remeh-temeh. Tapi itulah anak muda sebenar-benarnya, bukan para mahasiswa pendemo kontemporer yang pada akhirnya cuma jadi alat politik oposisi, atau Rimbaud yang jadi legenda karena puisi-puisinya digelorakan semangat zaman ideologi antikolonial, imperialisme, dan kapitalisme klasik.

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum,
Resensi Buku Judul Buku: Alain Badiou dan Masa Depan Marxisme Pengarang: Martin Suryajaya Tebal Buku: xxi + 299 hal. Penerbit: Resist Book, Yogyakarta Edisi: Cetakan Pertama, Agustus 2011 BUKU KARANGAN

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) LEDAKAN bom di Surabaya pada 13 Mei 2018 membuka kembali ingatan 20 tahun lalu di Jakarta. Persis 13-14 Mei
KALAU Komunis tidak diberantas di Indonesia, ia akan menyebar, menindas dan meranggas siapa saja yang tak sepaham dengan ideologi mereka, seperti yang terjadi di Tiongkok dan Vietnam. Apakah kita rela Negara kita menjadi demikian? Ini adalah pernyataan yang dilontarkan oleh sejumlah pelajar Indonesia yang saya temui di London beberapa bulan yang lalu.
Jangan salah sangka terlebih dulu. Para pelajar ini kebanyakan telah sadar akan manipulasi Orde Baru, dan bahkan mengritik kekejaman Pemerintah ini. Tapi, mereka hanya ingin membayangkan apa yang mungkin terjadi: bila PKI dibiarkan tumbuh dan berkembang, kata para pelajar ini, merekalah yang akan menyembelih dan menyiksa orang-orang tak berhalauan kiri. Bila Pramoedya tidak dijebloskan ke bui, dia akan melanjutkan antipatinya pada karya-karya yang dipandangnya kurang mencerminkan ideologi sosialis, dan para penulis Manikebu lah yang dibungkam atau dikirim ke pulau Buru.
Pendahuluan: Apa itu Kapitalisme? PERTANYAAN mendasar yang tak terelakkan ketika kita hendak mengkaji sejarah kemunculan kapitalisme tak lain soal, apakah yang kita maksud dengan kapitalisme

Ketika kita sedang bicara tentang jembatan, dalam relasinya dengan sungai Bengawan Solo, kita perlu memahami kata tersebut dalam dua medan makna: sebagai jembatan material-sosial, yakni jembatan dalam arti konotatifnya sebagai monumen yang menghubungkan kegiatan sosial dari dua daratan yang dipisahkan oleh sungai, serta sebagai jembatan historis, yakni sebagai ruang tempat suatu peristiwa historis terjadi. Jembatan dalam kedua arti tersebut rupanya seringkali luput dari kesadaran kita. Mungkin, bagi kita yang tidak pernah secara langsung ada di Solo, tidak akan terkejut bahwa, ternyata (!), ada jembatan di atas Bengawan Solo; beberapa dari kita mungkin berasumsi begitu saja: pastilah ada jembatan untuk melintasi sungai itu, supaya kendaraan bermotor bisa melintasinya—karena merepotkan juga kalau kendaraan-kendaraan itu harus naik perahu getek seperti dalam lagu karangan Gesang. Bagi kita yang mengenal jembatan itu, atau bahkan cukup sering melintasinya, mungkin akan melihatnya sebagai sesuatu yang ada di luar sana, sesuatu yang sedari dulu ada di sana, begitu saja.

Saya wajib cemas mengingat Jokowi baru saja nge-prank kita dengan menaikkan kembali BPJS Kesehatan.

Dengan demikian, kita yang mempelajari Marxisme mesti belajar banyak dari sepenggal cerita dari negeri sakura tersebut, bahwa gerak dan perubahan merupakan sebuah kepastian karena jika kita tetap nyaman dengan dongeng heroik dan dogma, tentu saja kita akan tersapu zaman dalam kegamangan bagaikan ronin atau samurai tak bertuan.

Une minute. On nous a volé une minute. – Robert Linhart, L’Établi Satu menit. Mereka mencuri satu menit dari kita. – Novel Robert Linhart,
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.