1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 76

Paling Sering Dibaca

RIP PRD

Tak perlu memoncongkan moncong dan bersungut-sungut. SEBAIKNYA dimulai dari ini: ’30 tahun, delapan bulan, dan duapuluh dua hari kekuasaan Orde baru’—dengan lantang diucapkan Budiman Sudjatmiko,

Nak: Kenalilah Wiji Thukul

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)   NAK semalam ayah menonton film yang indah sekali: Istirahatlah Kata-kata. Berkisah penyair pemberani yang bernama Wiji Thukul. Pria kurus,

Gerakan Pembebasan Kristiani

Kredit ilustrasi: minhodigital.com   KONDISI kemiskinan, ketertekanan, ketertindasan, keterpincangan hidup, dan kondisi tidak baik lainnya merupakan ketidakberesan. Oleh agama-agama, kondisi demikian adalah akibat ulah manusia

Argumen Islam untuk Penghapusan Kekerasan Seksual

Kredit foto: The Independent (1) DALAM kitabnya, Al-Muwafaqat fi Ushul Asy-Syariah, Imam Abu Ishaq Asy-Syathibi menggariskan apa yang beliau sebut sebagai ‘tujuan-tujuan syariah’ (maqasid asy-syariah).

Y Wasi Gede Puraka: Universitas Tidak Lagi Menjadi Pusat Sains

SALAH satu modus ekspansi kapitalisme adalah melakukan apa yang disebut intensifikasi kapital. Proses intesifikasi ini dilakukan ke dalam sistem kapitalisme, dimana sektor-sektor yang sebelumnya dianggap sebagai barang publik kemudian dikomodifikasi dengan tujuan utama menumpuk profit tanpa batas. Misalnya, air dan udara yang sebelumnya gratis (karena dianggap bukan barang langka) kini telah diperjualbelikan, telah menjadi komoditi yang sangat menguntungkan.

Jembatan Bacem, Riwayatmu Kini, Sedari Sekarang, Perhatian Insani

Ketika kita sedang bicara tentang jembatan, dalam relasinya dengan sungai Bengawan Solo, kita perlu memahami kata tersebut dalam dua medan makna: sebagai jembatan material-sosial, yakni jembatan dalam arti konotatifnya sebagai monumen yang menghubungkan kegiatan sosial dari dua daratan yang dipisahkan oleh sungai, serta sebagai jembatan historis, yakni sebagai ruang tempat suatu peristiwa historis terjadi. Jembatan dalam kedua arti tersebut rupanya seringkali luput dari kesadaran kita. Mungkin, bagi kita yang tidak pernah secara langsung ada di Solo, tidak akan terkejut bahwa, ternyata (!), ada jembatan di atas Bengawan Solo; beberapa dari kita mungkin berasumsi begitu saja: pastilah ada jembatan untuk melintasi sungai itu, supaya kendaraan bermotor bisa melintasinya—karena merepotkan juga kalau kendaraan-kendaraan itu harus naik perahu getek seperti dalam lagu karangan Gesang. Bagi kita yang mengenal jembatan itu, atau bahkan cukup sering melintasinya, mungkin akan melihatnya sebagai sesuatu yang ada di luar sana, sesuatu yang sedari dulu ada di sana, begitu saja.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.