1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 75

Paling Sering Dibaca

Kembalinya Sosialisme di Cina Sekarang?

Kredit foto: New Straits Times   TEPAT pada 3 Mei 2018 kemarin, Partai Komunis Cina (PKC) memperingati 200 tahun kelahiran Karl Marx. Peringatan ini terbilang

Menjadi Eksil, Puisi Eksil, dan Indonesia: Wawancara dengan Agam Wispi

“Setelah tragedi 1965, ratusan orang yang sedang ditugaskan pemerintah Sukarno untuk sekolah, bekerja maupun melakukan lawatan dinas di luar negeri terhalang pulang. Paspor mereka dicabut dan akses komunikasi ke dalam negeri, bahkan untuk berhubungan dengan keluarga pun, diputus. Melalui wawancara dengan Agam Wispi, seorang penyair terkemuka, para pembaca diajak menelusuri sejarah tragedi ’65, bukan dari angka dan fakta-fakta besar, tetapi dari pengalaman pribadi yang sarat rasa dan asa. Bagaimana bentuk pencarian identitas sebagai “eksil” setelah tercerabut dari ‘akar’? Bagaimana pengalaman ini dituangkan dalam karya sastra, terutama “karya sastra eksil”, dan apa pengaruhnya dalam eksperimen bentuk dan isi? Juga, bagaimana imajinasi, frustrasi, dan harapan seorang eksil tentang “Indonesia”, “tanah air”, “masa lalu”, dan “kekinian”?”

RIP PRD

Tak perlu memoncongkan moncong dan bersungut-sungut. SEBAIKNYA dimulai dari ini: ’30 tahun, delapan bulan, dan duapuluh dua hari kekuasaan Orde baru’—dengan lantang diucapkan Budiman Sudjatmiko,

Perkawinan Anak dan Reproduksi Kapital

Kredit ilustrasi: The Conversation PADA tulisan saya sebelumnya bertajuk Keluarga versus Keluarga, tertanggal 20 Juni 2019, saya mengangkat topik tentang pertarungan memperebutkan wacana keluarga yang

Untuk Rosa Luxemburg, Untuk 150 Tahun Kelahirannya

“Rosa Luxemburg adalah seorang kosmopolit dari masa depan. Ia mengaku kerasan “di seluruh pojok dunia, di mana pun ada awan dan burung dan air mata manusia.” Ia penggila botani dan sangat mencintai hewan. Surat-surat Rosa ditulis oleh seorang perempuan yang memiliki kepekaan luar biasa, dengan jati dirinya yang tetap utuh di tengah sederet pengalaman pahit.”

Menelaah Prospek Hubungan Mahasiswa dan Buruh

Jika mahasiswa adalah ‘buruh masa-depan,’ maka sudah selayaknya gerakan mahasiswa saat ini mengambil posisi yang inheren dengan gerakan buruh. ‘Subjek’ mahasiswa saat ini, dalam relasi produksi kapitalisme kontemporer, adalah buruh-di-masa-depan; Ia harus mengidentifikasikan dirinya dengan melihat ‘buruh’ sebagai cermin -jika menggunakan terminologi Lacanian- dan menjadikan buruh sebagai penanda-utamanya. Subjek mahasiswa adalah subjek yang berkekurangan, dan ketika ia berhadapan dengan ganasnya alam kapitalisme, ia harus menutup lubang tersebut dengan hasratnya. ‘Hasrat’ tersebut kemudian melahirkan sistem penandaan -bahasa- yang dijangkarkan oleh sebuah penanda-utama tertentu. Jika logika ini dipakai, dengan menjadikan ‘buruh’ sebagai penanda-utama, seluruh bahasa gerakan mahasiswa akan berorientasi pada relasi produksi kapitalisme yang menyertakan buruh sebagai penanda utamanya, mengintegrasikan gerakannya dengan ‘gerakan buruh’ saat ini.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.