Kredo dan Revolusi (3): ‘Pencipta Langit dan Bumi’

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Katolisitas.org



BAGAIMANA seseorang bisa memaknai kredo tentang Allah sebagai ‘Pencipta Langit dan Bumi’ sebagai seorang Kristen sekaligus Marxis? Problematisasinya mungkin bisa dimulai dari kritik Louis Althusser atas pretensi total dari filsafat idealis yang dikaitkannya dengan penggagasan secara imajiner sosok Allah yang serba-maha, termasuk sedemikian mahakuasa sampai bisa menciptakan dunia dari ketiadaan dengan kuasa mutlak-Nya. Kritik ini dikemukakannya dalam pembahasan tentang abstraksi filosofis, yang disebut Althusser sebagai praktik yang biasa dilakukan oleh para filsuf idealis, mulai dari Plato, Descartes, Kant, Hegel, Leibniz, hingga Sartre, yang selalu membuat klaim-klaim yang sifatnya total atas kenyataan. Hasrat akan klaim-klaim total ini, menurut Althusser, menjadikan filsafat idealisme secara wajar memeluk ide tentang Allah yang serba-maha, guna menjustifikasi pretensi totalnya. Dan tentu saja, upaya menggambarkan kenyataan secara total tersebut tidak dapat dilepaskan dari proses pembentukan ideologi dari kelas penguasa untuk menaturalisasi kenyataan yang penuh dengan penindasan.[1]

Apakah kredo tentang Allah sebagai ‘Pencipta Langit dan Bumi’ termasuk dalam kategori di atas? Bisa jadi dalam resepsinya sepanjang sejarah gereja ia banyak difungsikan demikian. Bayangkan saja posisi gereja di Eropa Barat yang feodal pada abad pertengahan. Selain berkoalisi dengan tuan-tuan tanah, gereja juga tergolong institusi pemilik lahan garapan. Bisa ditebak fungsi ideologis seperti apa yang diperankan oleh pengajaran-pengajarannya pada umat yang mayoritasnya adalah para petani penggarap tanah yang dieksploitasi lewat sistem upeti. Gambaran tentang ke-maha-an Allah, yang antara lain coba ditanamkan di benak rakyat jelata lewat pembangunan katedral-katedral raksasa, seperti yang dipotretkan dengan apiknya dalam novel favorit Oprah Winfrey, Pillars of the Earth, sangat mungkin bersesuaian dengan penggambaran dari Althusser yang baru saja disebutkan di atas.

Sembari menyimpan catatan gelap tentang sejarah gereja di masa lampau dan menyadari bahwa sangatlah mungkin fungsi serupa masih terus diperankan hingga kini, ada baiknya kita mengingat bahwa dalam setiap penggambaran atas kenyataan yang melayani kepentingan kelas penguasa akan selalu terkandung kontradiksi yang berpotensi untuk membongkarnya. Hal ini dikarenakan oleh sifat pretensius dari penggambaran tersebut. Di satu sisi ia dimaksudkan untuk memperhalus gambaran atas kenyataan, namun kenyataan yang coba digambarkannya sama sekali tidak halus, melainkan kasar, kotor, dan bersimbah darah dalam proses pembentukannya. Ia berpretensi total, namun klaim totalnya akan selalu mengandung jejak-jejak perlawanan dari mereka yang ditaklukkan, ataupun dari masa lalunya sendiri. Terkhusus untuk penggunaan narasi Kristen demi kepentingan kelas penguasa, akan selalu terkandung potensi menyeruaknya kontradiksi dari jejak-jejak pemberontakan para budak di Mesir hingga penyaliban Yesus oleh kekaisaran Romawi dalam narasinya.

Dengan menjangkarkan proses interpretasi pada dua momen ini—exodus dan salib—narasi Kristen yang menarik minat kelas penguasa beserta barisan ideolog-nya untuk dijadikan instrumen legitimasi kekuasaan bisa direbut untuk kepentingan perjuangan kelas pekerja. Termasuk di antaranya ialah kredo tentang Allah Pencipta langit dan bumi yang telah diproblematisir di atas.

Konkretnya begini. Alih-alih membiarkan sifat abstrak dari sebutan ‘Allah Pencipta langit dan bumi’, kita konkret-kan siapa Allah yang dimaksud di sini: bukan Allahnya para filsuf idealis yang menghasrati perspektif total atas kenyataan, tetapi Allahnya budak-budak yang disebut Israel dan Bapa dari Yesus orang Nazaret yang disalibkan oleh imperium Romawi. Bukan Roh Absolut-nya Hegel, objek cogito-nya Descartes, atau idea sempurna-nya Plato, melainkan Allah yang berkoalisi dengan bangsa budak dan menyatakan Diri di Golgotha. Bukankah sifat konkret dalam penggambarannya tentang Allah ini juga yang memang menjadi ciri dari Pengakuan Iman Rasuli (sebagaimana saya tegaskan dalam tulisan pertama di seri ini)? Dengan menjangkarkan definisi ‘Allah’ pada karya menyejarah Kristus di bumi, yang lahir dari figur sejarah bernama Maria, menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati, dan dikuburkan, serta mengakui Allah yang sama sebagai Pencipta langit dan bumi, Pengakuan Iman Rasuli menarik benang merah antara iman yang berpusat pada Yesus yang tersalib dalam kekristenan mula-mula dengan imannya bangsa budak yang bernama Israel yang terdokumentasikan dalam Perjanjian Lama.

Klaim kesinambungan antara Allahnya Israel dengan Allah yang dikenal dalam Yesus Kristus, atau Allah Penebus dengan Allah Pencipta inilah yang menjadikan dua ajaran yang beredar di masa perkembangan kekristenan mula-mula, yaitu Marcionisme dan gnostisisme, ditolak. Marcionisme adalah ajaran yang menekankan diskontinuitas Allah Perjanjian Lama dengan Allah Perjanjian Baru. Menurut Marcion, sifat Allah Perjanjian Lama yang penuh dengan kemurkaan tak dapat diperdamaikan dengan Allah Perjanjian Baru yang Maha Pengasih dan Penyayang. Sementara gnostisisme—yang sempat populer di Indonesia pada awal tahun 2000-an seiring dengan kehebohan terkait novel Da Vinci Code, Injil Yudas,dan publikasi semacamnya—adalah ajaran yang mengidealkan pembebasan jiwa dari tubuh. Visi penebusannya bersifat eskapis: pembebasan dari jerat dunia material. Kedua ajaran ini secara otomatis didiskualifikasi oleh Pengakuan Iman Rasuli. Dengan menegaskan kontinuitas Allah Penebus dengan Allah Pencipta, Allahnya Israel dengan Allahnya jemaat Kristen mula-mula, Pengakuan Iman Rasuli menandaskan bahwa karakter dan intensi dari Allah yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati adalah sama dengan Allah yang membebaskan Israel dari Mesir. Penebusan berarti pembebasan, di bumi, di dunia materi, bukan di surga yang letaknya di atas awan, dan bukan pula mengambil rupa iming-iming pie in the sky. Penebusan juga berarti pemulihan atau pembaharuan ciptaan, bukan penghancuran bumi dan segala isinya karena dianggap sudah terlalu bercacat-cela untuk ditinggal ke surga.

Poin tentang penebusan sebagai pemulihan atau pembaharuan ciptaan ini nampak terang dalam Alkitab, mulai dari visi Yesaya tentang serigala dan domba yang tinggal bersebelahan hingga khotbah Petrus yang menobatkan banyak orang di Serambi Salomo.

Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. (Yes. 11:6-8) 

Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu. (Kis. 3:21)

Bahkan dalam sastra apokaliptiknya Alkitab seperti kitab Wahyu sekalipun, yang secara teologis paling bersikap kritis terhadap kebobrokan dunia, visi tentang kebaruan radikalnya tetap digambarkan dengan kategori-kategori dunia lama: langit, bumi, kota, pohon, daun, jalan, sungai, dan seterusnya (bdk. Why. 21). Yang menjadi pembeda hanyalah sifat kebaruannya.

Visi penebusan model ini pulalah yang agaknya memengaruhi imajinasi Walter Benjamin—yang besar dalam tradisi kitabnya Yudaisme—tentang sosialisme. Dalam tesis kesebelasnya tentang filsafat sejarah, Benjamin menunjukkan kecondongan pada haluan yang akhir-akhir ini sering disebut sebagai eco-Marxism. Kecondongan itu ditampakkan lewat keterpikatannya pada mimpi utopis Charles Fourier bahwa kerja kooperatif akan membantu kelahiran potensi-potensi yang terpendam di alam raya, alih-alih mengeksploitasinya.

According to Fourier, cooperative labor would increase efficiency to such an extent that four moons would illuminate the sky at night, the polar ice caps would recede, seawater would no longer taste salty, and beasts of prey would do man’s bidding. All this illustrates a kind of labour which, far from exploiting nature, would help her give birth to the creations that now lie dormant in her womb.[2] 

Mirip bukan fantasi Fourier ini dengan apa yang tergambar dalam teks Yesaya 11:6-8 yang telah disebutkan tadi? Keduanya mengandung visi tentang pemulihan ciptaan, termasuk antara manusia dengan makhluk-makhluk lainnya.

Rujukan pada mimpi Fourier ini diletakkan Benjamin dalam kritiknya atas gerakan sosial-demokrasi di Jerman pada masa itu di bawah pimpinan Josef Dietzgen. Gerakan ini disebutnya telah mengambil posisi yang konformistik, bukan hanya dalam taktik politiknya, tetapi juga lewat pengadopsian konsep kerja yang berciri positivistik dan teknokratis. Dietzgen sendiri disebut Benjamin memuja kerja, sembari mengabaikan kenyataan bahwa hasil kerja mereka akan selalu dicuri oleh kelas pemodal yang empunya alat produksi. Tak luput pula dari kritik Benjamin adalah Marxisme vulgar yang meyakini bahwa perkembangan teknologi akan dengan sendirinya menggiring sejarah pada kemenangan kelas pekerja. Baik perspektif sosdem maupun Marxisme vulgar dikritiknya karena sama-sama meninggalkan visi ‘perjanjian dengan alam’ yang ada pada utopia Fourier.

Dengan merujuk pada Fourier, Benjamin bukannya meninggalkan sosialisme ilmiah lalu mengambil langkah regresif dengan mengusulkan kelas buruh berbondong-bondong mempraktikkan strategi dan taktiknya sosialisme utopis. Angan-angannya tetaplah revolusi dan mesiasnya adalah kelas pekerja. Yang coba diusulkannya hanyalah pembaharuan materialisme historis lewat reapropriasi elemen-elemen utopis, yang sangat diwarnai oleh tradisi Yudaiknya. Visi pembaharuan ciptaan dalam Alkitab yang mewarnai tesis kesebelas tadi adalah sebuah contoh bagaimana analoginya tentang teologi sebagai kurcaci yang tersembunyi di bawah meja dan menggerakkan boneka pecatur yang adalah materialisme historis diterapkan.[3] Lewat jalur pemikiran ini, seorang Kristen yang mengaku percaya pada Allah Pencipta langit dan bumi bukan hanya dapat sekaligus memeluk Marxisme sebagai metode dan teori perubahan. Imannya yang seturut Pengakuan Iman Rasuli pun dapat turut berkontribusi dalam perjuangannya bersama kelas pekerja sedunia.***


Daniel Sihombing adalah anggota Victorian Socialists.

Artikel terkait dari Daniel Sihombing:

1. Kredo dan Revolusi (1): ‘Aku Percaya kepada Allah’

2. Kredo dan Revolusi (2): ‘Bapa yang Mahakuasa’

—————-


[1] Louis Althusser, Philosophy for Non-Philosophers, ch. 5.

[2] Michael Löwy, Fire Alarm, Thesis XI.

[3] Lihat tesis I.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus