Kredo dan Revolusi (1): ‘Aku Percaya kepada Allah’

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Improve Digital

 

MELALUI tulisan ini, saya hendak mengawali eksposisi berseri tentang Pengakuan Iman Rasuli (The Apostles’ Creed). Pembaca yang akrab dengan tradisi Kristen saya yakin tidak merasa asing dengan pengakuan ini. Hampir di setiap gereja yang pernah saya kunjungi, pengakuan ini dilafalkan bersama sambil berdiri dalam kebaktian-kebaktian Minggu. Memang jika dibandingkan dengan pengakuan-pengakuan iman lainnya, Pengakuan Iman Rasuli bisa dibilang merupakan pengakuan iman yang paling diterima secara universal dalam lintasan sejarah kekristenan. Uraian mengenainya juga telah berkembang dan beredar secara luas.

Yang akan membedakan eksposisi ini dengan paparan-paparan tentang Pengakuan Iman Rasuli yang umumnya beredar ialah bahwa kerangka teologi yang digunakan di sini direlasikan secara dialektis dengan Marxisme. Konsep tentang relasi dialektis teologi dengan Marxisme ini saya adopsi dari Walter Benjamin, yang konon tidak memilih untuk menggantikan teologi dengan Marxisme ataupun meleburkan keduanya, dan memutuskan untuk bergerak bolak-balik ke dua kutub ini, atau dengan kata lain, memposisikan diri seperti kepala Janus, dewa Romawi kuno berwajah ganda yang menghadap ke dua arah yang berkebalikan.[1]

Eksposisi ini saya mulai dengan uraian tentang paruh pertama baris terawal pengakuan iman ini: ‘Aku percaya kepada Allah.’

Percaya kepada Allah. Terdengar aneh rasanya jika seorang Marxis ikut melafalkan butir pengakuan ini. Baru empat kata disebut, kakinya sudah terantuk pada ‘batu sandungan’. Bukankah Marxisme bertumpu pada filsafat materialisme dan pada dasarnya berciri ateistik? Tidakkah kepercayaan pada sosok supranatural yang diyakini mengendalikan sejarah dan kehidupan di atas bumi itu mengaburkan analisis objektif atas kenyataan dan menjadi tabir yang menyelubungi penindasan dan eksploitasi—sehingga kita mungkin sering mendengar ungkapan, ‘Seandainya (di Indonesia) tidak ada agama, mungkin besok sudah terjadi revolusi.’

Sebelum pertanyaan-pertanyaan di atas buru-buru dijawab, perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa Allah yang disebut dalam pengakuan ini bukanlah suatu ide umum tentang keilahian. Ia tidak dapat disamakan begitu saja dengan definisi umum atau gagasan-gagasan populer yang beredar tentang sosok ilahi. Sebab Allah dalam pengakuan ini dirujuk secara partikular. Pengakuan Iman Rasuli tidak berhenti dengan klausa ‘Aku percaya kepada Allah’, tetapi berlanjut dengan deskripsi-deskripsi khusus tentang diri dan karya-Nya. Karena itu, sebelum kritik-kritik agama ala Feuerbach hingga Marx dilancarkan pada Allah yang partikular ini, seseorang harus memperhatikan terlebih dahulu kespesifikan karakter-Nya secara seksama.

Seperti apakah Allah yang dirujuk dalam Pengakuan Iman Rasuli? Struktur pengakuan ini sendiri menunjukkan acuan pada Allah Trinitas: Bapa-Anak-Roh Kudus.

Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa,

dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita,

Aku percaya kepada Roh Kudus,

 

Dalam sejarah resepsinya di Indonesia, ketegangan dengan tradisi monoteisme yang lebih dahulu berakar di bumi Nusantara telah mewarnai penerimaan terhadap ajaran tentang Trinitas. Yang teraktual dan paling keras dengungannya mungkin adalah gugatan Eggi Sudjana tentang ketaksebandingan konsep Trinitas dengan sila pertama Pancasila yang cukup memicu perdebatan publik.

Namun dalam relasinya dengan monoteisme Yahudi, sebenarnya Trinitas bisa dikategorikan sebagai ‘anak kandung yang sah’. Sebagaimana ditunjukkan oleh N.T. Wright dalam studinya tentang Yudaisme periode 160 SM-135 M, monoteisme Yahudi di masa-masa paling radikalnya itu justru tidak menunjukkan ketatnya penekanan pada ketunggalan pribadi Allah. Literatur teologi Yahudi di masa itu sarat dengan spekulasi tentang figur-figur Ilahi lain, tanpa diiringi dengan kekuatiran bahwa langkah ini bakal berkonflik dengan iman pada keesaan Allah.[2] Poin utama monoteisme Yahudi di masa itu, dalam pengamatan Wright, bukanlah tentang analisis numerik terhadap pribadi Allah, melainkan fungsinya sebagai doktrin perlawanan: “Monotheism, in short, was a fighting doctrine. It was what sustained the Maccabees in their successful battle against Antiochus Epiphanes. It was what sustained the great Rabbi Akiba in his unsuccessful fight against the emperor Hadrian.”[3] Monoteisme inilah roh di balik pemberontakan Makabe sekitar tahun 160 SM yang berhasil menggulingkan Antiokhus Epifanes dari Imperium Seleukus warisan Iskandar Agung, dan pemberontakan yang dipimpin oleh Bar-Kokhba dan Rabi Akiba tahun 135 M yang gagal memerdekakan penduduk Yudea dari Imperium Romawi. Keduanya mewakili ujung awal dan akhir periode yang tersebutkan di atas.

Alih-alih berfokus pada ketunggalan pribadi, monoteisme Yahudi yang menjadi akar dari gagasan tentang Trinitas lebih menekankan kespesifikan karakter dan roh dari Allah yang partikular, dengan output dari kepercayaan pada sosok ini antara lain adalah perlawanan Makabe dan Rabi Akiba terhadap imperium di zamannya masing-masing. Tidak heran, sebab iman terhadap Allah yang partikular ini sejak semula memang berciri demikian. Perkenalan pada Allah yang satu ini dalam Taurat menunjukkannya: ‘Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari Mesir, dari tempat perbudakan.’ (Kel. 20:1). Inilah Allah dari bangsa yang tadinya budak, lalu dibebaskan dari belenggunya lewat konfrontasi dengan imperium pada waktu itu! Dan tidak hanya membebaskan, Allah yang satu ini juga memanggil Israel, bangsa yang tadinya diperbudak itu, untuk membangun masyarakat baru dengan tatanan yang adil, tak seperti yang mereka alami di Mesir.

Teolog Barthian asal Belanda, Dick Boer, memetakan secara apik karya serta agenda spesifik sosok ini dengan tiga jenis intervensi, yang akan saya rangkumkan sekaligus tambahkan dalam paragraf-paragraf berikut ini.

Pertama, intervensi ideologis, di mana pemahaman bahwa keadaan di dunia ini harus diterima secara fatal sebagai nasib yang tak mungkin lagi diubah, dilucuti. Bangsa Israel tidak harus menerima nasibnya menjadi budak di tanah Mesir dengan kepasrahan atau ucapan syukur. Allah mendengar jeritan mereka, dan bukan hanya mengafirmasi penderitaan di sana lalu sekadar menenangkan atau menghibur, tetapi turut berbagian dalam proyek pembebasan dari keadaan itu. Siklus sejarah di mana sekelompok manusia tertentu menindas sekelompok lainnya lewat struktur juga ditolak keniscayaannya karena setelah pembebasan ada penataan masyarakat secara baru. Sejarah umat manusia adalah sejarah pertentangan kelas, tetapi tidak harus/niscaya selalu demikian.

Kedua, intervensi politik. Lewat konfrontasi Allah dan anak sulungnya, yaitu bangsa budak Israel, versus Firaun dan suksesor tatanan lama tersebut (anak-anak sulung Mesir). Tanpa intervensi politik, intervensi ideologis hanya akan berhenti pada level seruan moral-utopis layaknya para filsuf yang menurut Marx hanya menginterpretasikan dunia, padahal yang terpenting adalah mengubahnya. Tapi ternyata Allah yang satu ini tidak berhenti di sana.

Ketiga, intervensi ekonomi. Intervensi ideologis membangun kesadaran, intervensi politik membangun perlawanan, tapi tanpa intervensi ekonomi, keadaan lama akan dengan mudahnya berulang dalam rupa baru. Maka dalam masyarakat baru yang dibangun, tanah tidak boleh dijual bebas (Im. 25:23) dan ada ‘reforma agraria berkala’ lewat mekanisme tahun Sabat dan tahun Yobel (Im. 25:10) untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan struktur ke arah ketimpangan kepemilikan. Monopoli segelintir individu atas sumber daya alam dicegah sedari awal. Mengapa? Mungkin karena kesadaran bahwa relasi sosial pada dasarnya dikonstitusikan oleh relasi kepemilikan alat produksi.[4]

Inilah ciri spesifik dan partikular dari Allah yang dirujuk oleh monoteisme Yahudi. Allah yang mengintervensi ideologi yang dalam proses reproduksi sosial berfungsi untuk turut melanggengkan penindasan manusia oleh sesamanya lewat fabrikasi kesadaran palsu. Allah yang mengintervensi politik dengan konfrontasinya melawan penguasa lewat aliansi dengan kelas budak. Allah yang mengintervensi ekonomi lewat inisiatifnya perihal keadilan dalam hal penguasaan alat produksi.

Jika hendak dijangkarkan pada akar Yudaik-nya, maka Trinitas adalah ekspresi spesifik dari tradisi monoteisme ini dalam terang pengalaman gereja perdana seputar peristiwa Kristus. Allah yang membebaskan Israel dari Mesir di masa lalu dihayati secara kontemporer sebagai Allah yang karya-Nya menunjukkan pola trinitarian: Yesus yang disalib oleh kekaisaran Romawi tidak kalah oleh maut, melainkan bangkit mengalahkan kematian sehingga nyata bahwa Diri-Nya adalah Tuhan (kurios) yang sejati—bukan Kaisar Romawi yang diakui sebagai kurios dalam kekaisarannya; kurios yang bangkit ini memiliki relasi yang digambarkan secara metaforis dalam hubungan Bapa-Anak dengan Pencipta langit dan bumi, inisiator kebaruan yang radikal; dan karya Ilahi ini tidak berhenti pada kebangkitan Yesus, melainkan terus hidup lewat pekerjaan Roh Kudus dalam persekutuan orang percaya atau gereja, yang dipanggil untuk bersaksi bahwa Allah yang membebaskan Israel dari perbudakan di tanah Mesir itu kini bekerja secara baru. Tidak lagi dengan fokus pada pembangunan sosialisme agraris di satu negeri untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain, melainkan secara internasional ke seluruh penjuru bumi.

Inilah Allah yang diakui dalam Pengakuan Iman Rasuli dan dihayati dalam tradisi iman Kristen, sebagai turunan dari tradisi monoteisme-Yudaik. Adalah mungkin bahwa gaungnya beresonansi pula dalam tradisi-tradisi lain. Apakah Marxisme termasuk di antaranya? Pemikir-pemikir Marxis heterodoks seperti Ernst Bloch dan Walter Benjamin akan menjawab ‘ya’. Bagi keduanya, Marxisme merupakan bentuk sekuler dari mesianisme Yudeo-Kristen.[5] Dan sekalipun telah mengalami sekularisasi, teologi tetap eksis dan bernilai.

Dibanding Bloch, Benjamin melangkah lebih jauh dalam afirmasinya tentang kehadiran teologi dalam Marxisme. Dalam tesis-tesisnya tentang filsafat sejarah, teologi digambarkannya ibarat kurcaci yang bersembunyi di bawah meja dan menggerakkan boneka pemain catur yang lihai dalam mengalahkan lawan-lawannya. Boneka tersebut baginya merepresentasikan materialisme historis.

It is well-known that an automaton once existed, which was so constructed that it could counter any move of a chess-player with a counter-move, and thereby assure itself of victory in the match. A puppet in Turkish attire, water-pipe in mouth, sat before the chessboard, which rested on a broad table. Through a system of mirrors, the illusion was created that this table was transparent from all sides. In truth, a hunchbacked dwarf who was a master chess-player sat inside, controlling the hands of the puppet with strings. One can envision a corresponding object to this apparatus in philosophy. The puppet called “historical materialism” is always supposed to win. It can do this with no further ado against any opponent, so long as it employs the services of theology, which as everyone knows is small and ugly and must be kept out of sight.[6]

Seperti kurcaci bungkuk, teologi itu kecil, buruk dan tidak boleh terlihat, tapi menurut Benjamin, memegang peran penting.[7] Kalau Althusser menyebut filsafat sebagai perjuangan kelas di level teori,[8] maka teologi diilustrasikan oleh Benjamin sebagai perjuangan di bawah meja. Tidak dianggap, dihindari, namun sebenarnya beroperasi pada momen-momen krusial. Dalam kasus Benjamin tahun 1940 waktu On the Concept of History ditulis, teologi dipanggil untuk mengintervensi historisisme Hegelian yang mengambil rupa Stalinisme dan sosial-demokrasi (sosdem).

Bisa jadi, bukan hanya untuk kepentingan itu saja teologi memberikan layanannya. Mengapa Althusser yang gencar mempromosikan materialisme itu menganggap penting sebuah kategori teologis, yaitu kairos?[9] Mengapa Milan Machovec yang sampai matinya tetap ateis itu sampai menulis buku tentang Allah dan menganggapnya penting untuk pembangunan sosialisme?[10] Mengapa Anatoly Lunacharsky yang di Uni Soviet menjabat sebagai Commissar of Enlightenment pertama itu getol menyelidiki agama dan ngotot dengan proyek God-building-nya (bogostroitel’stvo)?[11]

Mungkin sebenarnya tidak terlalu aneh jika seorang Marxis ikut melafalkan penggalan pertama Pengakuan Iman Rasuli: ‘Aku percaya kepada Allah’.***

 

Daniel Sihombing adalah kandidat doktor bidang teologi dari Protestant Theological University, Netherlands. Anggota Kristen Hijau Malang. Sebagian kecil dari materi di sini pernah disampaikan dalam acara Diskusi Rabuan Gereja Komunitas Anugerah Reformed Baptis Salemba, 1 Juli 2015, yang bertema ‘Tauhid dan Trinitas dalam Kerukunan Beragama’.

 

———-

[1] Lih. Susan Buck-Morss, The Origin of Negative Dialectics: Theodor W. Adorno, Walter Benjamin, and the Frankfurt Institute, 1. Free Press paperback ed (New York: The Free Press, 1979), 141.

[2] N. T. Wright, Christian Origins and the Question of God, 1st North American ed (Minneapolis: Fortress Press, 1992), 257-9.

[3] N. T. Wright, What Saint Paul Really Said: Was Paul of Tarsus the Real Founder of Christianity? (Grand Rapids, Mich. : Cincinnati, Ohio: W.B. Eerdmans Pub. ; Forward Movement Publications, 1997), 69.

[4] Lih. Dick Boer, Deliverance from Slavery: Attempting a Biblical Theology in the Service of Liberation, Historical Materialism Book Series, VOLUME 110 (Leiden ; Boston: Brill, 2016), 59-63.

[5] Untuk uraian tentang mesianisme Benjamin dan Bloch, lihat Warren S. Goldstein, ‘Messianism and Marxism: Walter Benjamin and Ernst Bloch’s Dialectical Theories of Secularization,’ Critical Sociology 27, no. 2 (March 2001): 246-81.

[6] Walter Benjamin, On the Concept of History, https://www.marxists.org/reference/archive/benjamin/1940/history.htm (diakses pada 3 November 2018).

[7] Lih. Gold, Joshua Robert. ‘The Dwarf in the Machine: A Theological Figure and Its Sources.’ MLN 121, no. 5 (2006): 1220.

[8] Louis Althusser, G. M. Goshgarian, and Louis Althusser, How to Be a Marxist in Philosophy (London ; New York: Bloomsbury Academic, 2017), 143.

[9] Juan Dal Maso, ‘Reassessing the Legacy of Louis Althusser on His 100-Year Anniversary: An Interview with Warren Montag,’ http://www.leftvoice.org/Reassessing-the-Legacy-of-Louis-Althusser-on-His-100-Year-Anniversary-An-Interview-with-Warren?fbclid=IwAR3j5lEK6QW2TS1hq9nS703_pVgLVDpX52bJhX6ftHVDfjF-qriR9ZaVBLM (diakses pada 3 November 2018).

[10] Lih. ‘Milan Machovec: Philosopher who Introduced Communists to Christian-Marxist Dialogue,’ https://www.independent.co.uk/news/obituaries/milan-machovec-36239.html (diakses pada 3 November 2018).

[11] Analisis paling komprehensif dalam bahasa Inggris sejauh ini mengenai Lunacharsky dan agama ada di Roland Boer, ‘Religion and Socialism: A. V. Lunacharsky and the God-Builders,’ Political Theology 15, no. 2 (March 2014): 188–209.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus