
1965 Tahun Antariksa
1965 adalah angka bergema, tahun bergejolak dalam dunia yang bergerak. Ada perjalanan ke angkasa, perang, kudeta, bahkan pembantaian manusia

1965 adalah angka bergema, tahun bergejolak dalam dunia yang bergerak. Ada perjalanan ke angkasa, perang, kudeta, bahkan pembantaian manusia

RUU PPRT sangat penting untuk disahkan. Selama ini tak pernah ada produk hukum–termasuk hukum perburuhan–yang secara spesifik melindungi kepentingan mereka.

“Seorang pemburu berjalan meninggalkan tendanya ke Selatan sejauh 10 km, lalu berbelok dan berjalan ke arah Timur sejauh 10 km. Pada titik ini ia melihat

“Gereja berhadapan dengan situasi dilematis yang menguji komitmen keberpihakan gereja kepada kelas tertindas.”

Bahkan tanpa krisis pun kami para buruh dipaksa kalah.
SARAS Dewi, pendamping RW, menulis dalam blognya bahwa ketidakadilan yang dialami oleh RW, bahkan dalam proses penegakan hukum, mencerminkan bahwa ‘Kita masih hidup di dalam masyarakat yang phalogosentrik, logika, argumen dan hukumnya masih dikuasai oleh budaya partriarki [sic!)].’ Argumen ini berangkat dari asumsi bahwa sistem patriarki adalah sumber dari permasalahan kekerasan perempuan. Saya akan jelaskan bagaimana pandangan ini tidak cukup untuk menjelaskan permasalahan.

Kredit ilustrasi: Arah Juang DEBAT politik antara mereka yang mengusung posisi intervensi pemilu dengan yang mendukung posisi abstain (alias golput) dalam kelompok Kiri, sepertinya tengah

BAGAIMANA memahami sepak terjang para jenderal penentang simposium 65, yang kemudian bikin gaduh dan bekerjasama dengan para ormas preman untuk menjalankan histeria anti-komunis? Dan mengapa

Di Indonesia, jika Anda merekoleksi ingatan pada kebangkitan gerakan perempuan dekade 1980an sampai dengan dekade 1990an, tujuan keadilan gender sangat menguat pada kedua agenda perjuangan hak asasi manusia dan demokrasi. Itu sangat relevan ketika menghadapi otoritarianisme Orde Baru, dimana kaum perempuan mengalami berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia, dan tiadanya ruang demokrasi untuk mengartikulasikan kepentingan perempuan, bahkan untuk berorganisasi. Keadaan berubah ketika memasuki dekade 2000an, setelah masa yang disebut ‘reformasi politik,’ gerakan perempuan menguat di jalur demokrasi elektoral.

Ilustrasi: Jonpey APA impian saya setiap kali hari Sumpah Pemuda datang? Tidak, impian saya tidak muluk-muluk. Saya tidak memimpikan pecahnya revolusi pemuda, datangnya hari pengadilan

“Solidaritas buruh, lah, yang bikin kami bisa bertahan, walaupun kami sendiri enggak yakin ini bisa bertahan sampai kapan.”

Kredit foto: Tirto.id BELUM lama berselang, kita menyaksikan demonstrasi besar-besaran para mahasiswa di sejumlah wilayah di Indonesia. Secara historis, demonstrasi ini boleh dipandang sebagai demonstrasi
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.