
Ketika Pelancong Menjadi Pembela HAM
Lewat buku ini pembaca dapat melihat bagaimana kerja aktivis HAM lebih dekat, juga bagaimana isu ini adalah persoalan global

Lewat buku ini pembaca dapat melihat bagaimana kerja aktivis HAM lebih dekat, juga bagaimana isu ini adalah persoalan global

“…Giap sadar betul bahwa peperangan jangka panjang ini tak mungkin dimenangkan hanya dengan ide-ide dan perut yang kelaparan.”

BAGAIMANA memahami sepak terjang para jenderal penentang simposium 65, yang kemudian bikin gaduh dan bekerjasama dengan para ormas preman untuk menjalankan histeria anti-komunis? Dan mengapa
Kehidupan perempuan yang sanggup berdiri tegak menjulang di antara barisan para raksasa pemikir sosial demokratik yang didominasi laki-laki itu harus berakhir tragis. Setahun setelah revolusi Bolshevik yang dengan gemilang meledak di Rusia, rezim fasis Hitler menamatkan riwayatnya. Tengah malam, di bulan Januari 1919, setelah menjalani perburuan panjang, beserta Wilhelm Pieck dan Karl Liebknecht, — kawan-kawannya– ia ditangkap tentara Jerman. Dalam perjalanan ke penjara, mereka disiksa habis-habisan. Batok kepala Luxemburg dihantam dengan popor senjata, remuk. Belum selesai di situ, kepala perempuan yang sarat pikiran-pikiran radikal ini dihujani berpuluh-puluh peluru.

Milan Kundera kerap dituding mundur dari aktivitas politik dan mengabdikan hidup sekadar demi sastra. Dia memang menegaskan tidak akan menulis sastra yang memiliki komitmen politik. Tapi justru karena itulah kita perlu membaca lagi karyanya.
PEMIKIRAN Bourdieu tentang selera sebagai putusan estetis cukup menarik. Dikatakan menarik, karena jika selama ini soal putusan estetis hanya lazim berdenyut dalam wacana filsafat (semisal,

Ilustrasi: Jonpey Tulisan berseri ini pernah diterbitkan di terbitan Walhi dan didiskusikan di Walhi, dan juga sebagai catatan dan status Facebook penulis. Disusun di tengah

Kapitalisme digital tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga bentuk baru keterasingan. Jika dalam kapitalisme klasik manusia terasing dari hasil kerjanya, maka dalam bentuk paling mutakhir ini ia tereksploitasi dan terasing dari pengalaman hidupnya sendiri.

Muhammad Hafidh Ma’ruf, Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Indonesia dan anggota Serikat Mahasiswa Progresif (Semar) UI Mustahil memahami Marxisme atau menghadirkan gambaran komplet atasnya tanpa

Pariwisata berdiri di atas fondasi ekonomi kapitalis, ditujukan untuk memaksimalkan keuntungan melalui komodifikasi dan penciptaan objek konsumsi. Pariwisata juga terikat dengan sistem privatisasi yang menjadi instrumen peminggiran sekaligus perampas sumber daya material kelas marginal.

REALITAS bekerja dengan penuh keanehan layaknya fiksi. Dalam pengalaman kita sekarang, misalnya, kita bisa melihat bagaimana pembangunan besar-besaran atas nama profit dan ‘revolusionarisasi alat-alat produksi’ berdampingan dengan kemiskinan akut dan deprivasi besar-besaran nilai-nilai kemanusiaan. Ketika apropriasi akumulatif untuk meningkatkan keuntungan kelas kapitalis, hal itu mensyaratkan pengurangan masif kualitas hidup mayoritas rakyat pekerja. Dalam ketegangan ini maka fiksi menjadi sangat operasional. Fiksi berfungsi sebagai perekat ideologis dalam rangka ‘rasionalisasi atas irasionalitas dari sistem yang irasional,’ yang berfungsi untuk memastikan bahwa sistem yang kontradiktif dan berlaku masih dapat berjalan sebagaimana biasanya. Di sini kita akan menemukan bagaimana fiksi, sekaligus karya-karya fiksi, justru menjadi pelayan ideologis dari status quo serta kekuasaan kapitalisme itu sendiri.

SETIAP shalat 5 waktu dan shalat-shalat Sunnah, kita diwajibkan untuk membaca Surah Al-Fatihah. Karena ini ayat yang diamalkan setiap shalat, tentu saja sejak kecil kita
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.