
Korporatokrasi: Negara Sebagai Pengabdi Perusahaan (Bagian I)
Ilustrasi: Jonpey Tulisan berseri ini pernah diterbitkan di terbitan Walhi dan didiskusikan di Walhi, dan juga sebagai catatan dan status Facebook penulis. Disusun di tengah

Ilustrasi: Jonpey Tulisan berseri ini pernah diterbitkan di terbitan Walhi dan didiskusikan di Walhi, dan juga sebagai catatan dan status Facebook penulis. Disusun di tengah
Ilustrasi gambar diambil dari wordpress.clarku.edu TAHUN 2015 lalu, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat ada 5 orang yang tewas, 39 orang menjadi korban penembakan, 124

BAGAIMANA memahami sepak terjang para jenderal penentang simposium 65, yang kemudian bikin gaduh dan bekerjasama dengan para ormas preman untuk menjalankan histeria anti-komunis? Dan mengapa
Kehidupan perempuan yang sanggup berdiri tegak menjulang di antara barisan para raksasa pemikir sosial demokratik yang didominasi laki-laki itu harus berakhir tragis. Setahun setelah revolusi Bolshevik yang dengan gemilang meledak di Rusia, rezim fasis Hitler menamatkan riwayatnya. Tengah malam, di bulan Januari 1919, setelah menjalani perburuan panjang, beserta Wilhelm Pieck dan Karl Liebknecht, — kawan-kawannya– ia ditangkap tentara Jerman. Dalam perjalanan ke penjara, mereka disiksa habis-habisan. Batok kepala Luxemburg dihantam dengan popor senjata, remuk. Belum selesai di situ, kepala perempuan yang sarat pikiran-pikiran radikal ini dihujani berpuluh-puluh peluru.

Muhammad Hafidh Ma’ruf, Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Indonesia dan anggota Serikat Mahasiswa Progresif (Semar) UI Mustahil memahami Marxisme atau menghadirkan gambaran komplet atasnya tanpa
PEMIKIRAN Bourdieu tentang selera sebagai putusan estetis cukup menarik. Dikatakan menarik, karena jika selama ini soal putusan estetis hanya lazim berdenyut dalam wacana filsafat (semisal,

SETIAP shalat 5 waktu dan shalat-shalat Sunnah, kita diwajibkan untuk membaca Surah Al-Fatihah. Karena ini ayat yang diamalkan setiap shalat, tentu saja sejak kecil kita

Milan Kundera kerap dituding mundur dari aktivitas politik dan mengabdikan hidup sekadar demi sastra. Dia memang menegaskan tidak akan menulis sastra yang memiliki komitmen politik. Tapi justru karena itulah kita perlu membaca lagi karyanya.

ABDUL Somad adalah seorang penceramah agama. Karena teknologi modern, dia mampu menjangkau pemirsa yang jauh lebih luas dan lebih banyak. Itu pulalah yang menjadi ukuran

DI PARO kedua 1920an, pasca pembantaian orang-orang komunis oleh Kuomintang, Mao Zedong tak cuma hijrah ke Hunan tapi juga melakukan semacam penelitian empiris. Mao melakukan

Kredit ilustrasi: business2community.com SEJUJURNYA, saya bingung terhadap kepanikan bahwa perkembangan disruptif dari revolusi teknologi digital, IoT (internet of things), algoritma, komputasi awan, AI (kecerdasan

KAMPUS, idealnya, merupakan tempat berkembangnya segala bentuk pengetahuan. Diskusi-diskusi kecil di sudut kampus, di dalam ruang kuliah, bahkan di kantin menjadi tempat dimana gagasan diadu
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.