Marxisme dan Vo Nguyen Giap

Print Friendly, PDF & Email

Foto: nbcnews.com


SIAPA tak kenal Perang Vietnam? Ini adalah salah satu konflik terpanjang di pertengahan abad ke-20 yang pasti tak akan dilupakan orang Amerika. Kisahnya sering diangkat justru untuk memberikan citra adikuasa, dari mulai layar lebar seperti First Blood hingga gim Call of Duty Black Ops.

Faktanya perang itu adalah Perang Indochina Kedua yang berlangsung sejak 1955 hingga 1975.

Perang pertama, yang barangkali jarang diingat dan tidak lebih populer, adalah perang antara tentara ekspedisi kolonial Perancis—yang berusaha merebut kembali wilayah kekuasannya sebelum Perang Dunia—melawan tentara Viet Minh yang baru saja merebut kemerdekaan dan berusaha mempertahankannya. Perang yang berlangsung kurang lebih delapan tahun ini diawali oleh Insiden Haiphong pada 23 November 1946, ketika kapal perang Perancis memborbardir kota pelabuhan tersebut; dan disudahi oleh kekalahan Perancis di Pertarungan Dien Bien Phu pada 7 Mei 1954.


Nama yang pasti diingat ketika membicarakan perjuangan kemerdekaan rakyat Vietnam adalah Ho Chi Minh. Namun, di balik Paman Ho, ada pula seorang ahli strategi militer terbaik di masanya yang semestinya juga dikenang: Ia bernama Vo Nguyen Giap, lahir di Provinsi Quang Binh pada 25 Agustus 1911 dari keluarga petani.

Pada usia 13, Giap mendapatkan kesempatan bersekolah di Quoc Hoc atau Akademi Nasional. Di sekolah ini dia adalah junior Ho Chi Minh dan Ngo Dinh Diem, yang kelak menjadi Presiden Vietnam Selatan. Ia telah bergabung dengan Partai Komunis Indochina pada 1931 sebelum lulus pada 1938 dari Universitas Nasional Indochina sebagai sarjana hukum dengan fokus kajian ekonomi-politik.

Di masa mudanya ia mengajar di sekolah dan diam-diam aktif di dunia aktivisme. Ia kerap menulis artikel di koran Tieng Dan dan koran sosialis bawah tanah berbahasa Perancis, Le Travail. Selain membaca karya-karya marxisme, ia pun membaca Sun Tzu, mempelajari tulisan Lawrence of Arabia dan mengagumi Napoleon Bonaparte.

Setelah Pakta Non Agresi antara Jerman dan Soviet pada 1940, pemerintah Perancis melarang Partai Komunis Indochina dan mengasingkan tokoh-tokoh pentingnya ke Cina. Di sinilah ia berjumpa dengan Ho Chi Minh dan mempelajari stratak Partai Komunis Cina.

Dalam Kongres Kedelapan Partai Komunis Indochina yang akhirnya membentuk Viet Minh, Giap ditugaskan untuk mengatur jaringan intelijen serta mengorganisir markas di bagian utara. Dari sinilah kiprahnya dalam dunia militer dimulai. Ketika Viet Minh bergerilya melawan tentara imperialis Jepang di Perang Dunia Kedua, ialah yang terlibat memobilisasi massa, berlatih perang, memberikan pendidikan politik dan bahkan diplomasi, hingga akhirnya Ho Chi Minh berhasil memproklamirkan Republik Demokratis Vietnam pada September 1945. Setelah kemerdekaan ia tetap membuktikan kualitas sebagai tentara jago dengan berhasil mengalahkan tentara Perancis di Dien Bien Phu, lalu dipercaya menjadi menteri pertahanan dan deputi perdana menteri Vietnam lebih dari 40 tahun.


Sampai sini mungkin sebagian dari kita berpikir ia memang jenius di bidang militer saja. Namun sebenarnya tak hanya itu. Giap juga seorang pemikir. Salah satu buku yang pernah ia tulis berjudul People’s War, People’s Army, diterbitkan pada 1961. Buku ini secara garis besar berisi tentang pengalaman rakyat Vietnam dalam Perang Indochina Pertama ditambah evaluasi serta analisis Giap tentangnya.

Namun yang terpenting dari semuanya ialah pembahasan soal pertempuran Dien Bien Phu. Dien Bien Phu merupakan kota di barat daya Vietnam. Bentuk geografisnya dataran luas yang dikelilingi perbukitan. Di sana terdapat sisa aset militer peninggalan Jepang.

Pada 1953, mengikuti perintah Jenderal Henri Navarre, pasukan Perancis memasuki wilayah tersebut lalu membangun pertahanan dengan maksud memotong gerakan pasukan Viet Minh yang sebelumnya telah menaklukan beberapa kota di utara dan menuju ke Laos. Dilengkapi 17 batalion prajurit ditambah artileri, kavaleri dan skuadron angkatan udara modern dari Amerika Serikat, operasi membangun benteng pertahanan ini didukung tanpa henti oleh bantuan logistik dan persenjataan lewat udara. Parit-parit, kawat berduri, puluhan artileri dan pesawat intai yang selalu berpatroli membuat Kolonel Christian de Castries merasa sangat yakin bahwa pasukan Viet Minh tidak mungkin mampu menembus pertahanannya.

Nyatanya ada kekeliruan fatal yang tak diprediksi oleh perwira-perwira Perancis. Selain tak menyadari kondisi geografis Dien Bien Phu yang berbentuk seperti mangkuk, selama ini mereka juga meremehkan kekuatan pasukan Viet Minh. Vo Nguyen Giap bersama puluhan ribu serdadu Viet Minh dengan kamuflase khas berhasil bergerak diam-diam mengelilingi kota tersebut. Menembus pelosok perbukitan, membuka jalur terjal secara manual, mengatur jalur suplai makanan dan yang paling menentukan yaitu menempatkan artileri-artileri hibahan Tentara Merah Cina ke tempat-tempat yang tak diduga oleh lawan.

Tengah hari 13 Maret 1954 Viet Minh memulai serangan ke pos paling utara pertahanan Perancis. Tembakan artileri bertubi-tubi ke Pos Beatrice dan keesokannya ke arah Pos Gabrielle seketika mengagetkan sekaligus mulai menjatuhkan moral pasukan Perancis. Mereka yang selama ini berburu berbalik diburu. Rencana serangan udara pun gagal karena Perancis tak menduga musuhnya memiliki senjata anti serangan udara. Lumpuhlah serangan udara menyisakan pertempuran sengit di darat. Hampir sebulan lebih pertarungan parit terjadi, juga hujan serangan artileri yang selama ini bersembunyi. Satu per satu pertahanan Perancis mulai dari Anne-Marie sampai Isabelle pun runtuh.

Pada 7 Mei 1954 pasukan Perancis yang terpojok akhirnya mengangkat bendera putih dan pasukan Giap mengibarkan bendera Viet Minh di benteng Perancis yang telah ditaklukan sebagai tanda kemenangan.


Keberhasilan pertarungan Dien Bien Phu, selain menjadi daya tawar yang kuat bagi Vietnam ketika berdiplomasi di Konferensi Jenewa pada 1954, juga menjadi bukti nyata bahwa ketika rakyat bangkit melawan maka segala bentuk kolonialisme bisa diusir. Kemenangan rakyat Vietnam ini merupakan keberhasilan pertama mereka sebelum 20 tahun kemudian berhasil mengusir sang dedengkot nekolim, Amerika Serikat.

Tentu ada beberapa aspek yang menjadi prasyarat kesuksesan selain teknik berperang apalagi sekadar heroisme saja. Hal-hal yang tak dibahas oleh para sejarawan inilah yang diceritakan oleh Vo Nguyen Giap dalam bukunya. Ia menyimpulkan beberapa faktor yang menurutnya paling menentukan.

Pertama, rakyat antusias dan bersatu membangun front persatuan melawan penjajahan karena peperangan ini menurutnya adalah perang yang dapat dibenarkan atau just war, yang tidak lain demi kemerdekaan. Faktor kedua, Tentara Rakyat Vietnam yang lahir dari rakyat pekerja, petani, pelajar dan intelektual selalu berada dalam garis haluan partai. Ketiga, karena kebijakan pemerintahan di bawah partai selalu dalam terang marxisme, yang karenanya menurut Giap tidak hanya mampu menganalisis bagaimana memenuhi kebutuhan rakyat sehari-hari, namun juga mencari solusi paling realistis dalam menyusun kebijakan di masa perang.

Sama seperti Ho Chi Minh, Giap adalah seorang yang mempelajari Marxisme, yang membuat setiap keputusan selalu didasarkan oleh prinsip materialisme dialektis historis. Pengaplikasian prinsip-prinsip Marxisme ke dalam praktik inilah pesan penting dari perang ini.

Giap menyadari bahwa kondisi objektif selalu dalam proses bergerak dan penuh dengan kontradiksi. Misalnya, ketika menyadari kekuatan pasukannya tak sebanding dengan pasukan Perancis setelah insiden Haiphong, ia lebih memilih mundur terlebih dahulu. Namun bukan untuk menyerah dan berhenti. Nyatanya ia tetap memobilisasi lewat cara persuasif dan edukatif kepada rakyat Vietnam di perdesaan. Sembari mengorganisir, ia pun tetap mencari informasi untuk mempelajari perkembangan stratak dan setiap jengkal pergerakan pasukan Perancis.

Di sinilah ia menemukan kontradiksi serta kelemahan musuhnya. Ia pun menganjurkan cara paling realistis dan efektif dalam konfrontasi, yaitu perang jangka panjang dengan metode gerilya. Sebab dalam perang gerilya, setiap perubahan adalah kesempatan menemukan kelemahan dan setiap kelemahan adalah peluang merebut kemenangan. Konsep perang gerilya pun tak selamanya diterapkan. Di Dien Bien Phu akhirnya ia memutuskan mesti menyerang secara besar-besaran dan langsung menusuk ke jantung pertahanan lawan. Sikap inilah yang berdasar dari pemahamannya tentang dialektika materialisme dan berhasil membuatnya lolos dari jebakan idealisme.

Ia pun paham betul bahwa sejarah umat manusia adalah soal proses pengorganisasian sumber daya alam untuk bertahan hidup—yang melahirkan kontradiksi antar kelas dalam masyarakat. Giap sadar betul bahwa peperangan jangka panjang ini tak mungkin dimenangkan hanya dengan ide-ide dan perut yang kelaparan. Di sisi lain ia pun paham mesti menyelesaikan kontradiksi antar kelas di masyarakat Vietnam. Oleh karena itu ia memperkuat garis belakangnya di perdesaan sebagai penyokong logistik dengan mendorong partai mengeluarkan kebijakan reforma agraria. Kebijakan ini mengembalikan tanah-tanah yang selama ini dikuasai tuan tanah feodal ke para petani yang selama ini mengolahnya. Lahan komunal ini dikelola mereka yang juga seorang pejuang gerilya dan hasilnya didistribusikan untuk mereka bahkan ke garis depan.

Bagi Giap, persatuan antara petani dan pekerja di dalam satu tujuan kemerdekaan inilah yang menjadi kunci keberhasilan mengusir pasukan kolonial Perancis. Inilah yang ia sebut dengan: Perang rakyat, tentara rakyat! Maka tak heran jika Viet Minh sanggup memenangkan Perang Indochina Pertama.

Giap memetik buah perjuangannya dengan menyaksikan Amerika Serikat angkat kaki dari Saigon pada 1975 dan kembalinya persatuan Vietnam yang dicita-citakan oleh Ho Chi Minh sejak lama. Menghabiskan masa tuanya aktif di partai dan menulis banyak buku soal perang, beliau mengembuskan nafas terakhir pada 4 Oktober 2013.

Lenin mengatakan bahwa tidak akan ada gerakan yang revolusioner tanpa teori yang revolusioner. Namun untuk mengetahui kebenaran teori, maka ia mesti diuji. Vo Nguyen Giap telah mengujinya dalam dunia kemiliteran dan berhasil meraih kemenangan. Giap mewariskan kita semua sebuah bukti bahwa Marxisme tak akan ke mana pun juga tanpa praktik nyata dan aksi.***


×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus