
Anis Hidayah: Pemerintah SBY Anti Perlindungan Buruh Migran (Bag. 1)
Wawancara IndoPROGRESS dengan Anis Hidayah, Direktur Eksekutif Migrant Care. Membincangkan masalah-masalah buruh migran di Indonesia (bagian II).

Wawancara IndoPROGRESS dengan Anis Hidayah, Direktur Eksekutif Migrant Care. Membincangkan masalah-masalah buruh migran di Indonesia (bagian II).
SEBUAH kabar datang di sebuah sore yang murung, dari pelosok dusun Aramiah, Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur. Kamis, 6 September 2012. Seorang gadis berusia 16

SETELAH lebih dari tujuh tahun reformasi, tampak bahwa konsolidasi demokrasi belum menampakkan ujungnya. Dalam beberapa hal, malah terjadi gerak mundur ke masa rejim Orde Baru.
Modus baru kekerasan muncul di Poso: warga berhadapan dengan aparat keamanan. Bentrok antara aparat kepolisian dan warga di Kelurahan Gebangrejo, Kota Poso (22-23/10/2006), mengakibatkan seorang
Jonathan Moylan (24 tahun), membuat heboh Australia. Aktivis anti tambang ini membuat grup korporasi Whitehaven Coal, sebuah perusahaan tambang yang tengah berkembang pesat, turun sahamnya

Sukarno tak lain adalah seorang borjuis nasionalis liberal yang tak berkepentingan mendorong perjuangan kelas dan mewujudkan sosialisme. Demokrasi Terpimpin adalah bentuk konsolidasi otoritarianisme awal kekuatan politik nasionalis dan militer.

Ilustrasi: Konstituante.Net TULISAN INI merupakan lanjutan dari tulisan penulis yang berjudul Mereka yang Janggal: Para Pendeta Merah Indonesia dan kembali membahas salah satu tokoh yang disinggung

Mesin pertumbuhan kota lebih sering membuat warga biasa kalah.

Salah satu ilusi terbesar yang masih diidap oleh kalangan Kiri yang mendaku dirinya ‘revolusioner’ adalah masih adanya kepercayaan bahwa untuk melakukan intervensi politik, maka prakondisi
TANPA bersentuhan dengan gerakan kiri atau orang kiri seperti saya, Si Mahasiswa A itu sudah berhasil membuat sebuah karya ilmiah yang kiri dengan baik. Bahkan, ketika membaca dan menuliskan tentang Revolusi Oktober, di dalam kepalanya sama sekali tak ada terpikirkan tentang demonstrasi buruh atau bahkan perkara penulisan kreatif untuk sebuah jurnal online progresif seperti ini. Menghadapi kasus demikian, apakah yang harus saya, atau Anda, lakukan? Membiarkan karya ilmiahnya tentang Revolusi Oktober yang cukup bagus itu teronggok tak berdaya di perpustakaan kampusnya ataukah kita minta saja padanya satu eksemplar dan kita bawa pulang untuk dibaca?

Filantropi tak seharusnya jadi penopang utama penyediaan layanan publik. Itu semestinya sekadar pelengkap dari apa yang harus diberikan oleh negara.

Jika hukum adalah alat dominasi kelas kapitalis, mengapa tidak kita rebut dan menjadikannya senjata kelas pekerja?
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.