Setelah Berlawan, Lalu?
ANALISA EKONOMI POLITIK APA yang paling menakutkan elite kapitalis ketika terjadi krisis kapitalisme? Bangkrut? Keuntungan yang mendadak lenyap? Perang? Ternyata bukan itu semua. Sejarah krisis kapitalisme menunjukkan,
ANALISA EKONOMI POLITIK APA yang paling menakutkan elite kapitalis ketika terjadi krisis kapitalisme? Bangkrut? Keuntungan yang mendadak lenyap? Perang? Ternyata bukan itu semua. Sejarah krisis kapitalisme menunjukkan,
Sebuah jurnal peer-reviewed baru – Jurnal IndoPROGRESS – mengundang naskah untuk edisi Juli 2014. Jurnal IndoPROGRESS (JIP) adalah jurnal pemikiran Marxis berbasis di Indonesia, peer-reviewed
KEPERCAYAAN bahwa liberalisme pasar bekerja otomatis, sebenarnya adalah mitos. Kenyataannya, liberalisasi pasar mustahil tanpa melibatkan kekuatan militer untuk mengawal agenda-agenda pasar neoliberal. Bagaimana menjelaskan keterkaitan
HARI JUMAT, 11 Maret 2011, tak ubahnya seperti hari biasa. Selepas menunaikan ibadah shalat Jumat, saya dan beberapa teman melanjutkan hari dengan makan siang. Saya

TERTANGGAL 28 sampai 30 Oktober 2013 ini, Gerakan Buruh Indonesia kembali akan melakukan mogok kerja nasional. Mogok kerja nasional ini merupakan bagian dari tuntutan rakyat pekerja Indonesia kepada Negara, untuk segera merealisasikan kenaikan upah minimum secara nasional sebesar 50 persen dan UMP DKI Jakarta sebesar Rp. 3,7 juta/bulan. Dalam koordinasi aliansi Konsolidasi Nasional Gerakan Buruh (KNGB), mogok nasional kali ini bisa dikatakan cukup istimewa, mengingat hal ini merupakan bagian dari upaya mengatasi batas-batas lama keserikatan yang selama ini menghambat realisasi persatuan kelas pekerja Indonesia. Fragmentasi kepentingan jangka pendek organisasi kelas pekerja yang diciptakan oleh relasi kompetisi kapitalisme, adalah sesuatu yang nyata bagi kelas pekerja Indonesia itu sendiri. Belum lagi artikulasi ideologis dari relasi kompetitif ini telah menyebabkan banyak elemen dalam kelas pekerja Indonesia mengidentifikasi dirinya bukan sebagai kelas pekerja, namun sebagai kelas sosial baru yang memiliki perbedaan diametral dengan identitas kelas pekerja Indonesia.
KUDETA istana telah terjadi di Paraguay. Sabtu, 23 Juni 2012, parlemen Paraguay menggulingkan Fernando Lugo, presiden yang terpilih secara demokratis. Parlemen yang didominasi oleh wakil-wakil
TIGA Oktober lalu, untuk pertama kalinya sejak penghancuran gerakan rakyat 1965/1966, kaum buruh Indonesia melakukan Mogok Nasional. Jutaan buruh tumpah-ruah ke jalan-jalan di berbagai daerah di Indonesia. Mogok Nasional ini merupakan bagian dari proyek Hostum (Hapus Outsourcing dan Tolak Upah Murah) yang digulirkan sejak Mei 2012. Dan sejak itu, mereka sudah melakukan aksi-aksi pengepungan pabrik untuk memaksa pengusaha mengubah status buruhnya yang outsourcing menjadi hubungan kerja langsung dengan perusahaannya. Dari wawancara Roni Febrianto, salah seorang pimpinan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), yang diterbitkan di situs Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), dilaporkan ada lebih dari 50.000 buruh outsourcing yang berhasil diubah statusnya menjadi hubungan kerja langsung dengan perusahaan. Adapun Mogok Nasional ini berdampak pada kerugian triliunan Rupiah di pihak kaum kapitalis.

HARI Kamis, 16 Juni 2015, parlemen Yunani memutuskan untuk meloloskan proposal yang diajukan Eurogroup untuk mengatasi krisis ekonomi mereka. Dengan 229 anggota parlemen menyetujui serta
Modus baru kekerasan muncul di Poso: warga berhadapan dengan aparat keamanan. Bentrok antara aparat kepolisian dan warga di Kelurahan Gebangrejo, Kota Poso (22-23/10/2006), mengakibatkan seorang
BELUM LAMA ini, kasus buruh migran mencuat kembali ke permukaan. Sumiati (23), seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), dianiaya secara
Sebuah Analisa Awal SEMENJAK SBY menjadi Presiden pada tahun 2004 sampai kemudian ditabalkan di kursi yang sama pada tahun 2009, setiap tahun hampir tidak pernah
TANPA bersentuhan dengan gerakan kiri atau orang kiri seperti saya, Si Mahasiswa A itu sudah berhasil membuat sebuah karya ilmiah yang kiri dengan baik. Bahkan, ketika membaca dan menuliskan tentang Revolusi Oktober, di dalam kepalanya sama sekali tak ada terpikirkan tentang demonstrasi buruh atau bahkan perkara penulisan kreatif untuk sebuah jurnal online progresif seperti ini. Menghadapi kasus demikian, apakah yang harus saya, atau Anda, lakukan? Membiarkan karya ilmiahnya tentang Revolusi Oktober yang cukup bagus itu teronggok tak berdaya di perpustakaan kampusnya ataukah kita minta saja padanya satu eksemplar dan kita bawa pulang untuk dibaca?
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.