
Kelaparan dan Pertunjukan Kuasa
KAMU MEMPERTUNJUKKAN KEKUASAAN di Kediri, Demak, Kudus, iya apa tidak! Kamu belajar perang buat beberapa hari dan boleh sadarkan pikiran dan ati di tempat tempat

KAMU MEMPERTUNJUKKAN KEKUASAAN di Kediri, Demak, Kudus, iya apa tidak! Kamu belajar perang buat beberapa hari dan boleh sadarkan pikiran dan ati di tempat tempat

Tanggapan atas Tanggapan Muh. Ardiansyah Laitte DALAM tradisi politik kiri, perdebatan mengenai posisi politik adalah perlu sekaligus penting. Perdebatan menjadi tidak terelakan sebagai arena untuk
Ilustrasi oleh Andreas Iswinarto PENGHUJUNG tahun 2015, jadi tanda pemerintahan Jokowi-JK telah melampaui masa setahun berkuasa sejak pelantikannya. Secara resmi, kantor kepresidenan menyebut dalam

GERAKAN rakyat sebagai respon terhadap peristiwa sosial, ekonomi, dan politik sekarang sudah semakin mudah dan cepat. Berkat kemajuan teknologi informasi, gerakan ini menjadi praktis; apapun,

“Sastra Indonesia miskin tradisi kritik”, mungkin ini salah satu ratapan yang kerap kita dengar dalam dunia sastra Indonesia. Kalau pun ada, dewasa ini produksi kritik sastra sering kali tampak hanya beberapa kali pasang, tapi banyak surutnya. Padahal pada gelombang lain, karya-karya sastra banyak ditawarkan secara online mau pun offline: di toko buku. Beberapa judul berhasil merayu. Sebagian membuat kita ragu. Di antara perasaan itu penilaian atas isi sebuah karya terasa perlu.
Namun, apa benar tuduhan di atas? Dalam ‘rubrik teori’ edisi ini, Yovantra Arief ingin membuka diskusi tentang masa depan tradisi kritik sastra Indonesia dengan memaparkan secara ringkas sejarah kritik sastra di Indonesia sejak masa Balai Pustaka hingga era H. B. Jassin dalam tulisannya bertajuk Ideologi dan Kritik Sastra: Ketika Politik Jadi Panglima, 1920-1965. Tidak lupa kami juga hadirkan sebuah tulisan lama dari A. S. Dharta yang bertajuk Ukuran Bagi Kritik Sastra Indonesia Dewasa Ini dalam ‘rubrik kliping’.
Saat Aku Pulang JALAN berbatu dalam sepi yang memuntahkan kantuk, mungkin tak akan ada lagi di desa ini. Desa yang untuk pertama kalinya merayakan tujuh
Mengantri membuat kita punya waktu menatap lekat kepiawaian Penjual Nasi Goreng. Bau enak semakin menusuk hidung setelah lima atau enam pembeli beres dilayaninya. Sebuah payung yang diikatkan pada gerobaknya berfungsi menangkis gerimis. Saya memperhatikannya. Pipinya cekung petanda hidup yang keras. Lengannya kurus ringkih. Di atas kepala kecil kurusnya bertenggerlah topi berwarna kuning kumal. Tulisan partai berlambang pohon beringin menghiasinya. Tangannya yang kurus sigap membolak-balik nasi di wajan, menghancurkan bawang, mencacah daun sawi, menyendok garam dan penyedap masakan. Dengan cekatan ia memecahkan dan mengaduk telor mentah, dan sejurus kemudian kulitnya dilempar ke plastik sampah yang menggantung pada stang gerobaknya.

Daftar Isi: Hegel yang Materialis Dialektis Apa yang Ada di Langit, di Bumi, dan Diantara Keduanya: Finansialisasi (Alam) sebagai Tahap Paling Maju dari Imperialisme

Kredit foto: cambiopolitico.com SEPTEMBER 2006. Havana, ibukota Kuba, tampak sibuk dari biasanya. Setiap pagi, bunyi sirene mobil polisi meraung-raung di jalanan kota. Saat itu,

Daftar Isi Edisi LKIP 15: Mundo Nuevo: Jejak CCF di Amerika Latin (Ronny Agustinus) Masih Muda Aja, Main Netral (Wawancara dengan Herry Sutresna) Pidato Soekarno di Kongres

ORASI Kepala Bappenas Andrinof Chaniago di FISIP UI tempo hari (02/02), merupakan tawaran yang, pertama-tama, sekurangnya patut diperhatikan. Mengusung tema “Pengarusutamaan Bidang Sosial dan Budaya
HARI-HARI ini, frasa yang paling sering didengung-dengungkan, terutama di kalangan pejabat birokrasi Partai Komunis Cina, adalah frasa “harmonious society/ héxié shèhuì” atau “masyarakat harmonis.” Frasa
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.