1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 227

Paling Sering Dibaca

Perdagangan Bebas & Derita Buruh

Persoalan buruh hari ini terkait erat dengan agenda perdagangan bebas. Apalagi Indonesia telah mengikatkan dirinya dengan perjanjian perdagangan bebas di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 1995, lantas menjadi bagian Integrasi Kawasan Ekonomi ASEAN pada 2003. Belum lagi perjanjian-perjanjian perdagangan bebas antara dua Negara (bilateral). Ini berarti, ke depan masalah perburuhan akan semakin kompleks, dan aksi-aksi buruh akan terus meningkat.

Bagi gerakan buruh, menyelesaikan persoalan buruh kemudian harus diletakan pada akar soal yang tepat. Buruh tak lagi hanya berhadapan dengan majikan sebagai individu, ataupun keberpihakan minus pemerintah. Buruh kini harus berhadapan dengan kapitalisme yang lebih luas, sistem perdagangan bebas. Oleh karena itu, tuntutan gerakan buruh hari ini tidak bisa lagi hanya sekedar menuntut pemenuhan hak-hak normatif. Tuntutan gerakan buruh sudah harus ditambah dengan tuntutan untuk menolak agenda perdagangan bebas dan segera mendesak pemerintah untuk membatalkan seluruh komitmen perdagangan bebas yang mereka setujui.

Lajja

Ini cermin yang bisa membuat wajah kita buruk. PADA hari kedua belas, Surajan bangkit dari ranjang. Ia menuju ke halaman, balik lagi ke dalam rumah,

Wajib Militer… Pentingkah?

Menguras Pundi-pundi demi Komponen Cadangan BEBERAPA waktu berselang, media massa di Indonesia ramai membincangkan soal wajib militer. Perbincangan itu mengemuka setelah pemerintah menyatakan akan mengajukan

Edisi LKIP 18

Ilustrasi oleh Timoteus Anggawan Kusno Daftar isi LKIP edisi 18: – Cornel Simandjuntak Cahaya, Datanglah!,sebuah kritik oleh Hersri Setiawan – Eulogi Untuk Seorang Pembangkang, sebuah

YES vs NO: Menyoal Referendum Thailand

HARI MINGGU lalu (7 Agustus), sekitar 50 juta pemilih terdaftar di Thailand, menuju tempat-tempat pemungutan suara. Untuk memastikan proses pengambilan suara berjalan lancar di 94

Membaca Lenin Di Luar Konteks

DALAM dua artikelnya terakhir, guna membela gagasan politik utopia yang diusungnya, Airlangga memberikan kritik keras terhadap konsep dan praktek politik Lenin yang dianggapnya anti-demokrasi. Airlangga bahkan berani menyimpulkan bahwa kemunculan rejim Stalin yang totalitarian, harus dilacak genealoginya pada Leninisme. Dan bagi Airlangga, watak anti-demokrasi Lenin itu paling jelas bisa dilihat pada karyanya What Is To Be Done (WITBD).

Kritik Airlangga terhadap Lenin ini bermasalah dalam dua hal yang saling berinteraksi: pertama, Leninisme menurutnya berakar pada WITBD yang ditulis Lenin pada 1902. WITBD sendiri adalah sebuah proposal politik pembangunan partai yang ditawarkan Lenin kepada gerakan sosial-demokrat Rusia yang saat itu terserak-serak; kedua, cara Airlangga membaca WITBD sangat eksklusif, karena (1) ia mengritik WITBD dengan meminjam tangan kedua (dari Leszek Kolakowski dan Samuel Walter); dan (2) teks WITBD dibacanya tanpa memperhatikan dimensi ruang dan waktu dimana teks itu lahir.

Pemerintah Gagal, Rakyat Menderita

Seratus tahun kebangkitan nasional yang kita peringati 20 Mei kemarin, seharusnya diisi dengan perayaan dan parade yang penuh sukacita. Namun, apa hendak dikata, menjelang seabad

LKIP Edisi 32

* Ilustrasi oleh Timoteus Anggawan Kusno Karya – Puisi-Puisi Himas Nur Karya – Puisi-Puisi Putu Alit Panca Nugraha Catatan Kawan – Kepikiran Dangdut (Koplo): Renungan

Ancaman Kekerasan Melalui Proyek Infrastruktur

Foto diambil dari jakartagreater.com   DALAM buku Membedah Tantangan Jokowi-JK, saya menulis bahwa pasangan ini mewarisi sebuah negara yang sangat buruk kondisinya. Tahun ketika Jokow-JK

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.