Edisi LKIP06

Print Friendly, PDF & Email

Daftar Isi Edisi Ini:

  1. Ideologi dan Kritik Sastra: Ketika Politik Jadi Panglima, 1920-1965
  2. Ukuran Bagi Kritik Sastra Indonesia Dewasa Ini
  3. Penjara dan Sejarah
  4. Berhimpun Berkarya dan Berhuni Bersama – Pengalaman Rakyat Brazil
  5. Puisi-Puisi Yoseph Yapi Taum
  6. Kamus Kecil Bangsa Indonesia
  7. Sekarang Kamu Mengerti
  8. Tiang Belum Runtuh

“Sastra Indonesia miskin tradisi kritik”, mungkin ini salah satu ratapan yang kerap kita dengar dalam dunia sastra Indonesia. Kalau pun ada, dewasa ini produksi kritik sastra sering kali tampak hanya beberapa kali pasang, tapi banyak surutnya. Padahal pada gelombang lain, karya-karya sastra banyak ditawarkan secara online mau pun offline: di toko buku. Beberapa judul berhasil merayu. Sebagian membuat kita ragu. Di antara perasaan itu penilaian atas isi sebuah karya terasa perlu.

Namun, apa benar tuduhan di atas? Dalam ‘rubrik teori’ edisi ini, Yovantra Arief ingin membuka diskusi tentang masa depan tradisi kritik sastra Indonesia dengan memaparkan secara ringkas sejarah kritik sastra di Indonesia sejak masa Balai Pustaka hingga era H. B. Jassin dalam tulisannya bertajuk  Ideologi dan Kritik Sastra: Ketika Politik Jadi Panglima, 1920-1965. Tidak lupa kami juga hadirkan sebuah tulisan lama dari A. S. Dharta yang bertajuk Ukuran Bagi Kritik Sastra Indonesia Dewasa Ini dalam ‘rubrik kliping’.

Seiring dengan tema edisi ini, kami pun mempersembahkan sebuah upaya kritik sastra dari David Tobing dalam ‘rubrik kritik’. Tulisannya yang bertajuk Penjara dan Sejarah: Catatan atas Pembacaan terhadap Puisi-Puisi dari Penjara Sabar Anantaguna adalah sebuah upaya pembacaan dan pernyataan posisi pembacaan atas buku kumpulan puisi S. Anantaguna Puisi-puisi dari Penjara. 

Selain ketiga tulisan tersebut yang sengaja dihadirkan untuk berusaha menjawab kekalutan hati kami di atas, pada ‘rubrik apresiasi’ kali ini kami pun menghadirkan beberapa puisi dari beberapa kawan. Indrawisudha dengan Tiang Belum Runtuh, Sonny H. Sayangbati dengan puisinya Sekarang Kamu Mengerti, puisi T. D. Ginting yang bertajuk ‘nakal’ Kamus Kecil Bangsa Indonesia (Edisi Revisi), serta dua puisi dari Yoseph Yapi Taum bertajuk Tak Ada Mimpi di Negeri Ini dan Ballada Mawar Putih semoga bisa membantu kita menyiangi realitas lantas menuai bulir-bulir nilai dari refleksi karya-karya tersebut.

Kemudian, Prathiwi berbagi dengan kita tentang proyek pembangunan rumah susun di Brazil yang sekiranya bisa menjadi inspirasi dan pembelajaran bagi kita seputar permasalahan pemukiman. Tulisan Prathiwi kami hadirkan dalam ‘rubrik coretan kawan’ dengan tajuk Berhimpun Berkarya dan Berhuni Bersama: Pengalaman Rakyat Brazil.

Selamat membaca dan majulah sastra Indonesia!

 

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus