Ukuran Bagi Kritik Sastra Indonesia Dewasa Ini

Print Friendly, PDF & Email

Saya bukan seorang kritikus sastra. Saya seorang penyair. Terpisah dari berhasil-tidaknya sajak-sajak saya. Saya terima acara ini dari Panitia Simposium atas dasar pengertian bahwa juga seorang yang bukan kritikus sastra ada baiknya diberi kesempatan mengemukakan pandangannya mengenai kritik sastra. Ditambah lagi, dalam kedudukan saya sebagai Sekretaris Umum Sekretarian Pusat Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), saya kira ada kebutuhan dari simposium ini untuk mendengarkan pendapat seorang anggota pimpinan Lekra tentang kritik sastra berdasarkan pandangan kebudayaan untuk rakyat. Saya sendiri menganggap kesempatan ini berguna untuk mengemukakan pandangan seorang anggota pimpinan Lekra tentang kritik sastra.

Jadi, saya mengharap dicatat betul oleh saudara-saudara bahwa pandangan mengenai acara ini adalah pandangan saya perseorangan, bukan pandangan Lekra sebagai organisasi. Selanjutnya, saya berpendapat kesempatan ini mengintensifkan relasi antara kita sama kita yang begitu heterogen, bahkan terkadang linea recta berlawanan pikiran dan pandangan kesusastraannya. Ini mengurangi kalau tak dikatakan menghabiskan, pendapat-pendapat salah, kadang-kadang prasangka, antara kita semua. Meminjam istilah politik internasional, bukankah kita hidup dalam zaman gemuruh semboyan koeksistensi, atau istilah politik nasional, dalam zaman Bhineka Tunggal Ika?

Dalam hubungan inilah pada tempatnya saya mengatakan penghargaan kepada Panitia Simposium.

Akhir-akhir ini kita dipekakkan oleh perkataan krisis. Krisis ini dan krisis itu. Juga kesusastraan, ada yang mengatakan krisis, ada yang tidak—ini salah satu acara simposium Saudara-saudara tahun lalu. Sedikit menyimpang, saya herankan mengapa di samping krisis, tidak terlihat sesuatu yang tidak krisis, sesuatu yang bangun? Barangkali, apa boleh buat, perkataan krisis sudah menjadi mode, sesuatu yang bukan atau tidak krisis tidak masuk hitungan, didaulat saja, dimasukkan dalam lingkungan perkataan krisis atau dianggap sesuatu yang tidak wajar. Misalnya, kesusastraan yang tak krisis dianggap saja bukan kesusastraan. Semacam propaganda misalnya, seperti penamaan orang terhadap karangan penulis-penulis Lekra.

Maaf, saudara-saudara, ini agak menyimpang dari pokok acara. Begitulah, dalam hubungan ada dan tidak ada krisis inilah, menurut penjelasan Saudara ketua Panitia Simposium kepada saya, dianggap perlu adanya penjelasan ukuran kritik sastra dewasa ini.

Bila kita mengungkap kembali referat-referat simposium Saudara-saudara tahun lalu, maka dalam referat Saudara Pramoedya Ananta Toer terdapat kalimat-kalimat yang mengkritik kritik sastra atau para kritikus sastra. Berkata dia bahwa dia menolak apa yang disebutnya kritikus-kritikus musiman cap gua-hajar-lu” atau gua-jangan-dilupain”, yang dalam kritik-kritiknya hanya bicara tentang diri sendiri dan bukan tentang objek yang harus digarapnya. Untuk mereka ini sampai-sampai Saudara Pramoedya berikan nasihat percuma, atau segera menginsafi kewajiban kritikusnya, atau segera meninggalkan pekerjaannya yang tidak sehat itu.

Ukuran kritik sastra Saudara Pramoedya adalah kritik sastra berkewajiban mempermudah sampainya cita pengarang ke dalam hati masyarakat. Perlunakan kritik dengan sengaja tidak akan membawa kebaikan, bahkan merupakan biang keladi kesalahpahaman tentang pengarang dan karangannya.

Jadi, menurut Saudara Pramoedya, mempermudah tidak berarti memperlunak sampainya cita pengarang ke pembacanya.

Selanjutnya Saudara H.B. Jassin. Saya kenal dia sebagai tokoh kritik sastra. Dalam karangannya Selamat Tinggal Tahun 1952” di majalah Zenith (almarhum) No. 2 tahun 1953, menyampaikan beberapa bahan pikiran yang menurut saya berguna, baik untuk pengarang mapun kritikus sastra. H.B. Jassin mengkritik bahwa tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam ciptaan seni masih kurang diperhatikan seniman kita. Ini disebabkan tanggung jawab mereka pertama-tama ditujukan pada publik, yang kebanyakan dipergunakan sebagai topeng untuk memaksakan pendapat dan tanggapan yang tidak benar. Suatu seni yang rendah mutunya, berbentuk yang tidak mendukung isi, suatu bentuk yang kosong, atau bentuk yang diketahui isinya palsu. Sebab, hemat Jassin, suatu tanggung jawab yang sesuai dengan tanggung jawab kepada diri sendiri adalah satu tanggung jawab yang murni luar dan dalam.

Juga dikritiknya seniman yang tak kuat pribadinya dan lari dari kewajibannya terhadap masyarakat. Baginya justru soal-soal masyarakat inilah yang harus dihadapi seniman, diatur, dan diselesaikan.

Dalam hal inilah timbul ketegangan, konflik-konflik, yang mendapat penyelesaiannya dalam hasil-hasil ciptaan. Sebab, hasil kesusastraan yang berarti di mana ada pertikaian antara pengarang dan dunia sekelilingnya.

Redaktur-redaktur majalah dan suratkabar juga dikritiknya, yang menggampangkan orang jadi penyair dengan memuat sajak-sajak yang tidak ada keaslian sama sekali. Bertanya Jassin, sampai di mana perbendaharaan kata penyair dan pengarang sekarang? Bagaimana luas daerahnya, pengalaman, dan pengetahuannya yang diletakkan dalam hasilnya? Baginya, ternyata betapa miskin dalam jumlah ciptaan, perbendaharaan kata, pengalaman, dan pengetahuan penyair dan pengarang kita; kita tak bisa diharapkan menciptakan sesuatu yang monumental. Masyarakat Indonesia harus dibikin masak dengan hasil-hasil yang berat, hasil-hasil pengalaman yang sungguh, dikarang dengan penguasaan teknik dan studi keilmuan tentang estetika. Karena itu, menurut Jassin, sudah waktunya pengarang-pengarang kita dituntut pertanggungjawaban pengetahuan modern. Tak bisa lagi cuma tunggu ilham dari siliran angin lalu. Dia tak setuju pendapat bahwa seniman tak perlu punya perbendaharaan ilmu pengetahuan.

Jadi, satu ukuran kritik lagi. Yaitu pengarang perlu punya perbendaharaan ilmu pengetahuan. Ini akan lebih jelas lagi kalau dihubungkan dengan ucapan Jassin bahwa tidak semua aktivitas berarti kreativitas.

Kritiknya lagi terhadap dirinya sendiri, jadi terhadap kritikus sastra. Yaitu berdasarkan teori-teori yang dipelajarinya, menggolong-golongkan kesusastraan Indonesia dalam aliran-aliran dan gaya-gaya yang telah mempunyai sejarah di negeri-negeri yang telah maju kesusastraannya. Ukuran-ukuran tidak mendukung sepenuhnya isi apa yang diukurnya dan lebih merupakan impian keinginan bagaimana harusnya kesusastraan Indonesia.

Suatu kritik terhadap subjektivisme kritikus sastra.

Kritik ini Jassin kemukakan atas tujuan menyapu bersih mentalitas kotor, supaya diadakan koreksi diri. Bukan untuk membunuh tetapi menghidupsuburkan.

Dari sifat saya atas referat Saudara Pramoedya dan karangan Saudara H.B. Jassin bisa disimpulkan ukuran-ukuran kritik sastra sebagai berikut:

  1. Mempermudah, bukan memperlunak, sampainya cita pengarang.
  2. Adanya tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam suatu karangan. Dengan kalimat saya, adanya individualitas, hilangnya jarak antara subjek dan objek.
  3. Adanya konflik antara pengarang dan dunia sekelilingnya.
  4. Adanya dasar suatu cabang pengetahuan dalam objeknya.
  5. Adanya subjektivitas Indonesia dalam mengkritik hasil-hasil sastra Indonesia.

Dari apa yang saya bisa simpulkan untuk ukuran kritik sastra dari pikiran Pramoeda dan Jassin, secara kelakar lima pasal ini bisa juga saya katakan “pancasila ukuran kritik sastra”.

Saya harap Saudara-saudara bisa memaafkan saya karena agak panjang membawa Saudara-saudara ke sifat-sifat Pramoedya dan Jassin. Memang ini jauh dari orisinil. Hanya bagi saya, soalnya bukan orisinil atau tidak. Apa yang saya simpulkan dari pikiran Pramoedya dan Jassin itu dapat saya setujui sepenuhnya. Apa yang akan saya tambahkan untuk ukuran kritik sastra hanyalah merupakan atau peluasan atau variasi dari apa yang sudah saya simpulkan ini.

Berbicara tentang kesusastraan Indonesia dewasa ini, hemat saya, mayoritas adalah kesusastraan majalah. Artinya, hasil-hasil sastra yang terutama dipublikasi di majalah-majalah dan suratkabar-suratkabar. Sejalan dengan itu, para kritikus sastra juga berkewajiban melancarkan kritik kepada penerbit yang mempersulit terbitnya hasil-hasil sastra dalam bentuk buku; kepada redaksi majalah-majalah yang dengan kalimat Jassin menggampangkan sekali jadi penyair, semacam ada krisis penyair, memuat sajak-sajak yang tidak ada keasliannya sama sekali; kepada pengarang yang mengarang tanpa ada kepribadian, merenggutkan mereka dari semacam dunia impian bahwa adalah tidak semudah yang disangkakan untuk mengarang tanpa melalui proses pengalaman dan usaha pemilikan suatu pengetahuan.

Selanjutnya, hemat saya sebagai orang Lekra, yang perlu dicatat untuk kritik sastra adalah apa yang dinamakan, dalam istilah orang-orang Lekra, baik dalam karangan maupun kritik sastra, perjuangan terhadap formalisme.

Kalau saudara Jassin dalam karangannya menyatakan bahwa ukuran kita harus satu kebulatan usaha dan hasil untuk bisa menghargai suatu ciptaan sewajarnya, maka rumusan saya, harus adanya kebulatan antara bentuk dan isi dalam suatu karangan.

Formalisme adalah suatu paham kesusastraan yang membombardir bentuk menjadi seni, tanpa memusingkan isinya. Meskipun di dalam kesusastraan kita gejala formalisme belum kuat menampakkan diri, saya rasa ada baiknya untuk berteriak “Awas!” dari sekarang. Terutama untuk para kritikus sastra.

Sebagaimana Saudara-saudara ketahui, Lekra pertama-tama berorientasi pada kehidupan pergerakan. Pergerakan buruh dan tani. Soalnya sekarang, kita bisa tolak atau terima hasil-hasil kesenian yang bertemakan kehidupan pergerakan ini. Tapi, hendaknya sikap menolak atau menerima ini berdasarkan argumentasi, tidak atas apriorisme.

Pokok soalnya di sini adalah kenyataan atau pemalsuan kenyataan. Bagi saya, karangan yang mengandung kebenaran adalah suatu kriterium tertinggi. Dan karangan begini selamanya bersyarat hubungan pengarang dengan kenyataan. Kita berada dalam keadaan, waktu, di mana setiap manusia didesak untuk berhadap-hadapan dengan kenyataan. Dalam hal ini, pengarang mesti berdiri di depan. Kritik sastra berkewajiban membantu pengarang dalam kedudukan ini. Tugas pengarang jadinya menghubungkan sifat-sifat kenyataan ini kepada pembaca. Dalam pekerjaan inilah letak kesenian dan keagungan pengarang. Sebab, sifat pekerjaannya mendesakkan kemungkinan kepada pengarang untuk men-sarikan harapan dan ketakutan, derita dan kemenangan manusia.

Dengan lain perkataan, mengembangkan perasaan, mempertinggi keinginan-keinginan, serta memperkayanya dengan pikiran-pikiran baru. Karangan yang demikian harus memenuhi syarat-syarat ditemuinya pribadi pengarang, mengharukan (hal ini sangat subjektif) kepadatan setiap kata dan kalimat mengandung ide dan formulasi baru.

Dalam kritik sastra formalis, mudah sekali menghamburkan tuduhan propaganda atau politik terhadap karangan-karangan bertendens kenyataan ini. Sebaliknya, membisu terhadap propaganda formalis untuk memalsukan kenyataan. Sebab, seorang formalis sudah membeku dalam tafsiran bahwa arti propaganda adalah membongkar perimbangan-perimbangan masyarakat, menggambarkan kemenangan-kemenangan kaum buruh dan tani untuk memperbaiki kehidupannya. Sebaliknya, pemburengan perimbangan-perimbangan masyarakat dan pemutarbalikkan fakta-fakta bagi mereka, bukan suatu propaganda. Karena itu, kritik sastra bukan hanya bersyarakat pengetahuan-keahlian tentang suatu karangan yang dikritiknya, tapi juga pengetahuan tentang perimbangan masyarakat. Dengan begini formalisme dalam kritik sastra bisa dihindarkan.

Tidak formalis dalam kritik sastra adalah ukuran tambahan terhadap ukuran-ukuran yang tadi sudah saya sebutkan.

Jadi ada persamaan syarat-syarat untuk pengarang dan kritik sastra karena memang dua hal ini adalah satu. Syarat pertama bagi kritik sastra adalah pengakuan terhadap syarat-syarat untuk pengarang. Dan adalah spesifik kewajiban kritik sastra untuk menjaga terlaksana dan terpenuhinya syarat-syarat untuk pengarang dan karangannya.

Saudara Iramani, salah seorang pengarang Lekra, dalam karangannya kewajiban Kritik Seni” yang dimuat dalam brosur Lekra Menyambut Kongres Kebudayaan Bandung 6 s/d 11 Oktober 1951, mengajukan ukuran kritik untuk isi dan untuk bentuk, semua yang menentang kemunduran, membantu kemajuan, mengembangkan persatuan nasional, adalah baik. Semua yang antinasional, menentang ilmu pengetahuan, menentang kepentingan-kepentingan rakyat, harus dikritik sekeras-kerasnya. Ukuran ini bukan pembatasan yang sempit, sebaliknya lautan yang luas, tetapi bukannya tidak bermata air dan tak bermuara. Untuk bentuk dinyatakan bahwa semua yang secara artistik lebih baik, yang mengandung elemen-elemen keindahan yang lebih kuat, adalah lebih baik, bukan pembatasan yang sempit. Kritik seni harus membuka pintu selebar-lebarnya untuk aliran seni apa pun. Tetapi sedikit pun kritik seni tak boleh mengalah atau menyerah.

Kesimpulan Saudara Iramani, dua perpaduan ukuran inilah yang akan menentukan nilai keseluruhan suatu hasil ciptaan. Isi dan bentuk tak dapat dipisah-pisahkan. Ia harus satu, merupakan totalitas yang harmonis. Harmonis bagi perasaan dan kepentingan cita-cita rakyat. Dan kesenian kerakyatan tak lain adalah kesenian realis.

Sampai pada perkataan realis ini, maka tambah lagi ukuran kritik sastra, yaitu mencegah jangan sampai realisme disinonimkan dengan naturalisme pemotret, menurut istilah Gorki kesenian kenyataan” (art of facts). Menurut Saudara Iramani, realisme bukan hanya menunjukkan telunjuknya kepada inilah yang sekarang” tetapi juga menunjuk pada keakanan ke sana kita akan pergi”.

Kritik seni, juga kritik sastra, berkewajiban membimbing pembaca, pendengar, penonton, ya membimbing seluruh rakyat. Agar tiap-tiap individu, menurut ucapan Profesor Ladislav Stoll, menteri kebudayaan Cekoslowakia, mengikis habis kebanggaan borjuis yang mengatakan aku yang mempunyai”. Dan agar tiap-tiap individu tak hanya dapat mengatakan aku melihat, aku mendengar, aku mencium, aku meraba, aku merasa”, tapi juga aku bekerja, aku belajar, aku mengagumi, aku mencinta, aku berjuang untuk hari esok yang lebih bahagia.”

Terima kasih.

 

Pidato pada simposium Fakultas Sastra, Jakarta, Januari 1956. Dimuat dalam Zaman Baru, No. 3, Juni 1956. Diambil dari A.S. Dharta, Budi Setiyono (editor), Kepada Seniman Universal, Kumpulan Esai Sastra A.S. Dharta, 2010, Ultimus: Bandung.

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.