Mengapa Demokrasi Melahirkan Kudeta?
Setelah lebih dari satu dekade menjauhkan diri dari politik praktis, militer Thailand kembali beraksi. pada 19 September 2006, di bawah komando jenderal Sonthi Boonyaratglin, mereka
Setelah lebih dari satu dekade menjauhkan diri dari politik praktis, militer Thailand kembali beraksi. pada 19 September 2006, di bawah komando jenderal Sonthi Boonyaratglin, mereka

GELOMBANG skandal elit yang menggerogoti kepercayaan publik telah silih berganti mengguncang kekuasaan Jokowi, di saat belum genap enam bulan ia menjabat sebagai Presiden. Mulai dari

SERANGAN itu mengejutkan semua kalangan. Jalanan yang biasanya macet kini disibukkan oleh adegan laga. Beberapa orang memegang senjata dan polisi tampak kewalahan menghadapi. Foto seputar
JUDUL di atas menggambarkan kesulitan saya untuk memahami keseluruhan maksud Kawan Anom Astika dari tulisan yang berjudul Percaya Pada Massa: Aspek Demokratis Manifesto Komunis. Terlebih dalam kondisi tuntutan praktis yang sering mengejar seperti hantu, persoalan-persoalan datang silih berganti yang semuanya menanti jawaban segera. Selain kompleksitas persoalan yang bersifat obyektif, alasan lain kesulitan memahami adalah sangat kurangnya referensi bacaan saya terkait topik yang diulas. Dalam kekurangan yang nyaris fatal tersebut, coretan “rendah kalori” ini terhaturkan ke hadapan sidang pembaca. Beberapa hal bersifat konfirmasi atas apa yang dituliskan Kawan Anom, sedangkah beberapa lain merupakan sajian persoalan disertai pertanyaan dan atau kritik.

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) PESTA Pilkada DKI Jakarta, telah usai. Pemenangnya sudah ditentukan. Lalu apa yang tersisa? Kegembiraan, pesta, kesedihan, penyesalahan, dan rasa


Oky Alex S. Kader Partai Rakyat Pekerja (PRP) Komite Kota Bengkulu Judul Buku: Di Balik Marx: Sosok dan Pemikiran Friedrich Engels Penulis: Dede Mulyanto

Kredit foto: www.mondobio.de Kawan-kawan, DALAM surat pertama ini, saya ingin bercerita tentang hubungan saling menguatkan antara kapitalisme dan rasisme, dengan contoh kasus Amerika Serikat
Tanggapan atas kritik tentang Opera “Tan Malaka“ 1. KRITIK ini mungkin keras, mungkin cerdas, tapi memakai pendekatan konvensional seorang ideolog. Dalam pandangan kritik ini,
Apa yang ingin saya kemukakan di sini, baik Jokowi-Ahok dan Komnas HAM harus sama-sama menyadari bahwa ada persoalan struktural dan kultural yang begitu besar dan rumit yang mereka hadapi ketika hendak memperbaiki Jakarta dan penduduknya saat ini. Dalam kasus bantaran Waduk Pluit ini, mereka harus menempatkan HAM dalam konteks ini, bukan dengan merapal teks-teks HAM dari buku atau hukum-hukum positif yang ada. Hambatan struktural dan kultural ini merupakan warisan dari sistem pembangunan kapitalistik yang dilakukan oleh rezim Orba. Dalam model ini, Jakarta hanya merupakan salah satu bab darinya. Dengan demikian, jika keduanya, khususnya Jokowi-Ahok, tetap mengunakan model pembangunan lama yang ingin meniru ‘jalan menuju kemakmuran’ yang telah dicapai oleh negara-negara maju sekarang, maka keduanya pasti akan gagal. Atau, paling tidak, program Jakarta Baru mereka akan menelan ‘korban manusia’ yang sangat mahal.
GENERASI PINK-ORANYE Kami masih dangkal Generasi pink oranye, terbelalak oleh buku 500 halaman terbuai roman picisan. Cinderella dan pangeran berjubah besi larut dalam irama
DALAM upayanya menteorikan apa yang disebut ‘simptom,’ Lacan dikenal memiliki sedikitnya dua konsepsi besar tentang simptom: simptom sebagai penanda material yang memungkinkan analisis dan interpretasi
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.