
Mixtape: Song of the Women!
Dengar! KAWAN SAYA, KOMEDIAN stand up ternama Soleh Solihun, suatu hari pernah melempar lawakan mengenai feminisme. Lemparan tersebut kurang-lebih berbunyi, “Feminis itu perempuan yang mengalami

Dengar! KAWAN SAYA, KOMEDIAN stand up ternama Soleh Solihun, suatu hari pernah melempar lawakan mengenai feminisme. Lemparan tersebut kurang-lebih berbunyi, “Feminis itu perempuan yang mengalami

Oky Alex S. Kader Partai Rakyat Pekerja (PRP) Komite Kota Bengkulu Judul Buku: Di Balik Marx: Sosok dan Pemikiran Friedrich Engels Penulis: Dede Mulyanto
Ilustrasi oleh Alit Ambara DI TENGAH gencarnya fitnah, provokasi, dan aksi-aksi inkonstitusional yang dilakukan oleh TNI/Polri dan begundal-begundal sipilnya terhadap apa yang mereka sebut

SEJAK masa kampanye pemilihan Presiden tahun 2014 sampai sekarang, hampir tiga tahun menjalankan roda pemerintahan di Indonesia, Joko Widodo dan jajarannya sering dianggap sebagai rezim

Kredit ilustrasi: iLikeSticker.com APA dampak terburuk yang bisa terbayangkan dari baper—bawa-bawa perasaan? Tercederainya perkawanan? Kehilangan pekerjaan? Ataukah, seperti yang dialami Jay Gatsby, tokoh dalam

Kredit foto: www.mondobio.de Kawan-kawan, DALAM surat pertama ini, saya ingin bercerita tentang hubungan saling menguatkan antara kapitalisme dan rasisme, dengan contoh kasus Amerika Serikat
Bagi banyak kalangan, Revolusi Kebudayaan (the Great Proletarian Cultural Revolution/GPCR) yang dicanangkan Mao Zedong pada 16 Mei 1966, merupakan salah satu horor kemanusian terbesar di

Kredit ilustrasi: OTS Solutions SESUAI dengan pasal 20 yang terdapat pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perguruan tinggi berkewajiban menyelengarakan

Kredit ilustrasi: news.detik.com INNEKE Koesherawati: Saya mengenal namanya pertama kali di sebuah bioskop kumuh di daerah Shopping Center di Jogja. Ketika itu, saya ikut
Sengketa Siapa Yang lebih Melayu BERITA-berita “pertarungan” Indonesia-Malaysia kini bak tiada habisnya. Sepertinya, setiap sekian minggu akan muncul di berbagai media cetak dan elektronik Indonesia
Marulloh ingin anaknya punya usaha kecil sendiri. Dengan begitu sang anak bisa mandiri dan bantu keluarga. ‘Tapi cari modal susah. Harusnya pemerintah kasih kompensasi pada korban, supaya bisa jadi modal dagang,’ ujarnya dalam suatu kesempatan. Namun, Marulloh ingin kompensasi bukan sebagai sogokan. Karena itu, ketika para jendral yang bertanggungjawab atas pelanggaran HAM Tanjung Priok 1984, mengajukan tawaran berdamai dengan bahasa Islah, Marulloh dan sebagian korban Tanjung Priok lainnya menolak. Ia bersikukuh menuntut keadilan dan tanggung jawab negara. Ia, bersama dengan IKOHI, Kontras, dan para korban lainnya selama bertahun-tahun menuntut keadilan bagi korban. Keadilan bagi korban dan kompensasi memang satu paket yang tak boleh dipisahkan. Sayangnya, negara yang berdasarkan Pancasila ini, justru ingin memberikan kompensasi untuk meniadakan keadilan.

DARI tiga kata pada judul tulisan ini, kata ketigalah, tebakan saya, yang paling cepat mendapat rujukkan di kepala Anda. Sosok bertopi baret, mata menerawang jauh
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.